NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bukan gadis lemah

Di sudut lain ibu kota Jakarta, di dalam kediaman megah keluarga Valerius yang berdiri kokoh dengan arsitektur ala istana Eropa klasik, suasana justru terasa begitu tegang dan mencekam. Kemewahan yang terpampang jelas di setiap sudut rumah ini sama sekali tidak membawa ketenangan bagi Zevanna.

Gadis berusia dua puluh dua tahun itu berdiri membisu di depan cermin besar setinggi langit-langit kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker, sebuah mahakarya dari perancang busana ternama yang dipesan khusus untuk acara penting malam ini.

Zevanna baru saja menyelesaikan kuliahnya sebulan yang lalu. Alih-alih merayakan kelulusannya secara sederhana dan hangat bersama teman-teman seperjuangannya, ia kini justru terperangkap di dalam rumah megah bak istana yang terasa tidak ubahnya seperti penjara berlapis emas.

Baru dua bulan berlalu sejak kehidupan Zevanna berubah total dan berbalik seratus delapan puluh derajat. Sang kakek, Tuan Danuel Valerius, pemimpin tertinggi dan pemegang kekuasaan absolut di keluarga Valerius, berhasil menemukan keberadaannya setelah pencarian panjang dan menguras energi yang memakan waktu belasan tahun.

Dulu, mendiang ibu Zevanna yang merupakan putri bungsu kesayangan Tuan Danuel, nekat pergi dan melangkah keluar dari rumah ini tanpa membawa sepersen pun uang demi memilih menikah dengan pria pilihannya, seorang pria sederhana yang hidup susah.

Zevanna kecil pun harus tumbuh dan melintasi masa child-hood yang keras di panti asuhan sederhana setelah kedua orang tuanya berpulang. Ketika Tuan Danuel akhirnya berhasil melacak keberadaannya dua bulan lalu, pria tua itu menangis hebat di depan Zevanna. Pria itu memeluknya erat-erat dan bersumpah di depan makam putrinya bahwa ia akan menebus semua masa penderitaan Zevanna dengan memanjakannya layaknya seorang putri mahkota yang berharga.

Namun, kepulangan Zevanna yang mendadak itu bagaikan petaka dan ancaman besar bagi anggota keluarga Valerius yang lain.

Braak!

Pintu kamar berbahan kayu jati tebal itu dihempaskan terbuka tanpa peringatan sama sekali, membentur dinding dengan suara keras. Keheningan kamar Zevanna seketika pecah berkeping-keping. Zevanna bahkan tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa gerangan manusia yang berani masuk tanpa sopan santun seperti itu. Aroma parfum menyengat yang berlebihan serta hawa permusuhan yang pekat sudah cukup menjadi penanda jelas.

Di sana berdiri Paman Bram, Bibi Melinda, serta putri tunggal mereka yang bernama Valerie. Sejak Zevanna pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, paman dan bibinya yang gila harta itu selalu memandang Zevanna dengan tatapan penuh dendam dan rasa tidak suka.

Bagi mereka, Zevanna hanyalah parasit dari masa lalu yang mendadak muncul untuk merebut remah-remah warisan keluarga. Semua fasilitas terbaik, perhatian mutlak dari Tuan Danuel, dan posisi terhormat dalam silsilah keluarga kini terancam beralih ke tangan seorang anak yang selalu mereka cap sebagai 'anak jalanan yang miskin dan tak berkelas'.

Zevanna berbalik dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejut apalagi ketakutan. Ia menatap Valerie yang berdiri di barisan paling depan dengan napas memburu dan mata yang memerah akibat rasa amarah yang meluap. Valerie malam ini juga mengenakan gaun malam yang luar biasa mewah bertabur kristal, namun riasan wajahnya yang tebal sama sekali tidak mampu menyembunyikan guratan rasa iri yang mendalam.

"Kau merasa sangat hebat sekarang, huh? Hanya karena kakek tua itu terus memanjakanmu dan memperlakukanmu seperti ratu?!" seru Valerie dengan nada melengking yang beracun, menunjuk tepat ke wajah Zevanna dengan jari telunjuknya yang gemetar.

Zevanna melipat kedua tangannya di dada, mempertahankan posisinya dengan dagu terangkat tinggi. Bertahun-tahun hidup mandiri dan menempa diri di lingkungan yang keras telah membentuk mentalnya menjadi sangat tangguh. Dia bukan gadis manja yang akan menangis tersedu-sedu hanya karena digertak atau diintimidasi. Di dalam dadanya mengalir keberanian murni yang ia warisi dari almarhumah ibunya.

"Jaga bicaramu dan tolong turunkan jarimu sebelum aku sendiri yang menurunkannya dengan cara yang tidak menyenangkan," jawab Zevanna. Suaranya terdengar begitu tenang, namun memiliki tekanan tajam yang membuat suasana makin dingin. "Aku tidak pernah meminta Kakek untuk memanjakanku. Jadi, jika kau punya masalah dengan hal itu, silakan protes langsung pada Kakek, bukan berteriak-teriak seperti orang yang tidak punya pendidikan di dalam kamarku."

"Kau benar-benar anak yang tidak tahu diri!" Bibi Melinda ikut menimpali, melangkah maju ke samping putrinya dengan tangan terlipat angkuh di dada, menatap Zevanna dari atas ke bawah dengan pandangan menghina. "Jangan pernah berlagak suci dan terhormat di depan kami, Zevanna! Papa itu sudah tua dan keputusannya mulai kabur. Beliau hanya kasihan melihat anak pembawa sial sepertimu terlantar di luar sana. Ingat posisimu di rumah ini! Kau hanyalah anak dari seorang perempuan pelarian yang kabur dari rumah demi pria miskin!"

Tangan Zevanna yang terlipat di dada seketika mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Menghina mendiang ibunya adalah garis merah yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun di dunia ini. Sinar matanya yang semula tenang seketika berubah menjadi setajam belati, menusuk langsung ke manik mata bibinya.

Zevanna melangkah maju beberapa tindak, memperpendek jarak di antara mereka. Aura berani dan menantang terpancar begitu kuat dari tubuhnya, membuat Bibi Melinda secara tidak sadar mundur setengah langkah karena terintimidasi.

"Setidaknya ibuku pergi dari rumah terkutuk ini dengan memegang teguh kehormatan dan cintanya, Bibi," balas Zevanna dengan nada rendah yang bergetar penuh penekanan. "Beliau memilih hidup sederhana daripada harus tinggal bersama orang-orang bermuka dua seperti kalian. Bukankah justru jauh lebih menyedihkan melihat kalian berdua? Tinggal di istana ini bertahun-tahun layaknya parasit, menjilat kaki Kakek setiap hari demi mendapatkan harta, sementara di belakangnya kalian mengutuk agar beliau cepat tiada? Siapa sebenarnya yang tidak tahu diri di sini?"

"Kau benar-benar kurang ajar!" Valerie yang sudah kehilangan kendali atas emosinya melangkah maju dengan cepat, tangan kanannya terangkat tinggi di udara, siap melayangkan tamparan keras ke wajah cantik Zevanna.

Namun, Zevanna jauh lebih sigap dan tenang. Sebelum telapak tangan Valerie sempat menyentuh kulit wajahnya, Zevanna menangkap pergelangan tangan sepupunya itu di udara dengan cengkeraman yang sangat kuat dan kokoh. Valerie memekik kesakitan saat merasakan cengkeraman tangan Zevanna yang begitu menjepit.

Zevanna menarik pergelangan tangan Valerie mendekat, memaksa tubuh sepupunya itu membungkuk sedikit ke arahnya. Dengan wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja, Zevanna berbisik lirih namun penuh ancaman tajam di telinga Valerie.

"Jangan pernah coba-coba menyentuhku atau menghina ibuku lagi. Aku bukan ibuku yang memilih diam dan mengalah. Jika kau berani melakukan hal ini lagi, aku pastikan malam ini juga aku akan mengadu pada Kakek bahwa kau mencoba mencelakakan aku. Kau tahu betul siapa yang lebih didengar dan dipercaya Kakek saat ini, bukan? Sekali saja aku membuka mulut, Kakek tidak akan ragu untuk memotong seluruh anggaran belanja bulananmu dan mengusir kalian dari rumah ini."

Zevanna kemudian menghempaskan tangan Valerie dengan kasar hingga gadis manja itu limbung dan hampir jatuh jika tidak segera ditangkap oleh ibunya.

Valerie memegang pergelangan tangannya yang memerah, napasnya memburu karena kombinasi rasa sakit fisik dan harga dirinya yang hancur berkeping-keping.

"Mami! Lihat dia! Dia benar-benar keterlaluan!" adu Valerie dengan mata berkaca-kaca menahan rasa marah dan malu yang meledak-ledak.

Melinda menunjuk Zevanna dengan wajah memerah padam karena murka. "Kau... kau akan menyesali ucapanmu ini, Zevanna! Jangan pernah berpikir karena Tuan Danuel ada di pihakmu, kau bisa berkuasa sesukamu di sini. Kami akan memastikan kau didepak dari rumah ini secepatnya!"

"Aku akan dengan senang hati menunggu saat itu tiba, Bibi. Tapi sebelum hari itu benar-benar datang, sebaiknya kalian segera keluar dari kamarku sebelum aku memanggil pengawal untuk menyeret kalian keluar," sahut Zevanna dingin, berbalik kembali menghadap cermin besarnya tanpa memedulikan keberadaan mereka lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!