NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH

Sabtu pagi, telepon dari salon pengantin menyelamatkanku dari percakapan yang belum ingin kuhadapi.

Binsar datang juga. Ia tiba sepuluh menit lebih awal, membawa tas kecil dan wajah yang sengaja dibuat biasa. Kami saling mengangguk seperti dua orang yang pernah bertengkar di angkot dan kebetulan turun di halte yang sama.

Aku ingin meminta maaf lagi. Kali ini tanpa kata kalau, tetapi Liza sudah menyerahkan alamat pekerjaan dan daftar pemeriksaan.

“Salon di Jalan Halat,” katanya. “Lampu berkedip setiap pengering rambut dinyalakan. Ada enam pelanggan untuk acara siang. Jangan menjanjikan apa pun sebelum lihat instalasi.”

“Aku hafal.”

“Kemarin kau juga hafal cara minta maaf.”

Fadli menyalakan motor. “Naik cepat, Lek. Sebelum konseling berubah jadi sidang.”

Salon itu bernama Mutiara Pengantin, menempati rumah toko sempit dua lantai. Dari pintu sudah tercium hairspray, bedak, dan kepanikan. Enam perempuan duduk berjajar dengan tingkat penyelesaian wajah yang berbeda. Satu sudah lengkap seperti hendak bertemu presiden. Satu lagi baru memiliki alis sebelah.

Pemilik salon, Kak Nita, menarik tanganku menuju panel. “Bang, lampu jangan sampai mati. Pengantin akad jam sebelas. Kalau gelap, keluarga bisa bilang salonku membawa sial.”

“Listrik tidak kenal sial, Kak. Biasanya kenal beban.”

“Apa pun namanya, jangan dimatikan.”

Di ruangan utama ada empat pengering rambut, dua catokan, satu pemanas air, pendingin ruangan, dispenser, kulkas kecil, dan ring light di setiap sudut. Semua berkumpul pada tiga terminal bertumpuk. Satu kabel gulung masih terikat rapi, tetapi sudah dipakai mengalirkan daya.

Aku menunjuk gulungan itu. “Ini harus dibuka penuh.”

Seorang perias menjawab, “Kalau dibuka, nanti panjang kali kabelnya.”

“Memang itu bakat kabel.”

Binsar menahan senyum. Aku memberinya alat ukur, lalu menyuruh mencatat beban peralatan satu per satu. Ia bekerja lebih pelan dari kemarin dan bertanya sebelum mencabut apa pun. Jarak di antara kami masih terasa, tetapi setidaknya tidak lagi berbentuk tuduhan.

Fadli berdiri dekat pintu sambil memegang kotak alat. Dua anak kecil mengira ia bagian dari salon dan meminta rambut mereka disemprot warna. Lima menit kemudian ujung rambut Fadli berkilau emas.

“Kenapa kau biarkan?” tanyaku.

“Promosi lintas usaha.”

“Kau ojek daring.”

“Makanya lintas kali.”

Aku memeriksa panel cabang. Pengamannya kecil, jalurnya tua, dan beberapa stopkontak dipakai melampaui kemampuan. Masalah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti MCB lebih besar. Kabel di dinding belum tentu sanggup menahan arusnya.

Kak Nita berdiri di belakangku. “Bisa hidup sampai siang, kan?”

“Bisa kalau pemakaian dibagi. Pengering dua saja bersamaan. Pemanas air dimatikan sementara. AC jangan paling dingin.”

“Enam kepala, Bang.”

“Kepalanya enam, listriknya tetap satu jalur.”

Ibu salah satu pengantin ikut mendekat. “Dulu salon di kampung saya pakai pengering banyak, aman saja.”

“Dulu rambut orang mungkin lebih patuh, Bu.”

Ia menatapku, tidak yakin sedang dihina atau tidak. Liza pasti akan mengatakan itu alasan mengapa aku tidak boleh menangani pelanggan sendirian.

Kami mulai membagi sambungan. Satu terminal harus dicabut karena bagian belakangnya sudah berubah cokelat. Aku meminta Binsar memutus terminal itu setelah memastikan peralatan yang terhubung.

“Yang ini?” tanyanya.

“Cek lagi.”

Ia mengikuti kabel sampai bawah meja rias. Dua pengering tersambung di sana, satu catokan, dan sebuah lampu cermin. Ia memberi tahu para perias agar mematikan alat terlebih dahulu.

Semua mengangguk. Tidak semuanya benar-benar mendengar.

Saat Binsar mencabut terminal, separuh salon padam. Lampu cermin mati, satu ring light hilang, dan pengering berhenti di tengah suara. Pengantin dengan sanggul setengah jadi menjerit seolah pernikahannya dibatalkan oleh PLN.

“Rambutku!”

“Rambutnya masih ada, Kak,” kata Fadli.

“Diam kau!”

Kak Nita memegang kepalanya. Para perias berbicara bersamaan. Ibu pengantin menuduh kami sengaja mematikan listrik. Binsar berdiri kaku dengan steker di tangan.

“Sudah kubilang jangan mati!” Kak Nita membentak.

Aku hampir membela diri dengan suara lebih keras. Lalu kulihat wajah Binsar. Kemarin aku menuduh sebelum tahu. Hari ini semua orang sedang melakukan hal yang sama kepadanya.

“Saya yang suruh terminal itu dicabut,” kataku. “Lampu padam karena jalurnya memang bertumpuk. Kami pindahkan sementara.”

Binsar menoleh kepadaku. Hanya sebentar, tetapi cukup.

Kami menarik kabel sementara dari jalur yang lebih aman. Fadli dipaksa memegang lampu ponsel di atas kepala pengantin selama dua puluh menit. Tangannya mulai gemetar.

“Turunkan sedikit,” kata perias.

“Kalau turun lagi, yang terang cuma hidungnya.”

“Jangan komentar.”

“Tangan saya komentar sendiri, Kak.”

Pengantin yang lampunya padam meminta cermin kecil. Setelah melihat sanggulnya masih berdiri, ia berhenti menjerit dan mulai mengatur semua orang seperti komandan. Ia menyuruh dua sepupunya mematikan catokan, meminta AC dinaikkan suhunya, lalu mengumumkan bahwa siapa pun yang menyalakan pemanas air sebelum akad akan dicoret dari foto keluarga.

Perubahan itu membantu. Beban turun dan tegangan menjadi lebih stabil. Aku menjelaskan kepada Kak Nita bahwa terminal hangus bukan sekadar barang jelek, melainkan tanda panas berulang. Kalau hanya mengganti pengaman dengan ukuran lebih besar, kabel dalam dinding bisa terbakar tanpa memutus listrik tepat waktu.

Kak Nita mengangguk cepat. “Setelah acara, perbaiki permanen.”

“Kami buat pemeriksaan lengkap dulu.”

Kak Nita menatap enam kepala yang sedang dikerjakan, lalu terminal hangus di tanganku. Untuk pertama kalinya sejak kami datang, ia tidak meminta jalan tercepat. Ia meminta daftar apa saja yang harus diganti setelah acara.

“Berapa biayanya?”

Aku hampir menyebut angka dari kepala. Binsar melirikku, lalu menunjuk formulir di kotak alat. Aku mengambilnya. “Kami survei dan tulis rinci. Tidak asal tebak.”

Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi sudut mulut Binsar bergerak sedikit. Mungkin itu caranya mengakui aku baru saja belajar satu hal.

Di antara bau hairspray dan makian ibu pengantin, aku mengganti terminal rusak, membuka kabel gulung, lalu membagi penggunaan alat. Binsar menempel label pada dua stopkontak: PENGERING MAKSIMAL DUA dan JANGAN PAKAI PEMANAS BERSAMA AC.

Kak Nita membaca label kedua. “Kalau lupa?”

“Nanti listrik mengingatkan,” jawab Binsar.

Aku menatapnya. “Jawabanmu mulai berguna.”

“Dari dulu. Kelen saja lambat sadar.”

Lampu kembali stabil. Para perias melanjutkan pekerjaan. Sanggul yang terhenti akhirnya selesai, walau pengantinnya masih menatap kami seperti menghafal wajah untuk laporan polisi.

Saat kami membereskan alat, sebuah mobil berhenti di depan salon. Rani turun dengan ring light kecil dan ponsel yang sudah merekam. Rupanya ia hendak membuat siaran langsung tentang persiapan pengantin lokal.

“Bang Jepot!” katanya ceria ke kamera. “Kebetulan kali. Ada apa di dalam?”

“Tidak ada yang perlu disiarkan.”

Kalimatku terlambat. Salah satu pengering rambut di meja belakang mengeluarkan suara batuk, lalu menyemburkan asap putih ke arah cermin.

Pengantin menjerit lagi. Rani memutar kamera. Di layar ponselnya, tulisan LIVE menyala merah.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!