NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Pria Mencurigakan

Hari semakin sore, beranjak malam. Nara menepikan motornya saat ia tiba di jembatan dekat pintu masuk desanya. Pemandangan petang di sini menakjubkan, sinar matahari jingga bercampur keunguan tampak sangat menawan, belum lagi arus air yang mengalir di bawah sana terdengar menenangkan.

Mata Nara terpejam menikmati suasana, tempat ini selalu menjadi tempat terbaik di kala hatinya sedang resah dan gundah. Dan jika merindukan bapaknya, ia juga akan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat ini. Karena bapaknya lah yang pertama kali mengajaknya ke sini untuk melihat matahari terbenam.

Angin berhembus lembut, menebarkan anak rambut Nara yang dicepolnya asal. Ia menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Suasana terasa menenangkan. Namun, itu tidak tertahan lama. Tubuh Nara tiba-tiba menegang, matanya melebar. Dan dengan refleks ia menarik tangan seseorang yang memegang bahunya lalu memelintir dengan gerakan lincah.

"Argghhhhh ... sakit-sakit, lepasss ...!" rintih orang itu yang sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini.

"Eh, mau ngapain?! Mau copet? Mau jahatin saya?!" Nara menekankan tangannya membuat orang itu semakin merintis kesakitan.

"Siapa yang mau copet, apalagi jahatin kamu. Saya ini mau tanya alamat," beritahunya.

"Hah! Bohong, saya tidak percaya," ucap Nara masih mengunci orang itu, siapa yang akan percaya dengan ucapannya karena penampilannya yang begitu awutan, rambut gondrong, celana levis robek di bagian lutut, kaos melar yang ditutupi oleh jaket kulit hitam.

"Oh, astaga! Saya beneran mau tanya alamat seseorang kenalan, karena saya baru pertama kali ke sini. Kamu tahu Pak Bagja yang urus kebun teh? Nah, itu kenalan saya. Saya mau ketemu beliau, nomor hp-nya tidak aktif dan tidak bisa di hubungi," jelas orang itu yang tak lain adalah Sagara. Ia tiba di Desa Bukit Tinggi lima belas menit yang lalu, dan mencoba menghubungi nomor Pak Bagja yang bertanggung jawab mengurus kebun tehnya.

Mendengar nama Bagja di sebut, Nara segera melepaskan cekalannya pada pria itu. Siapa yang tidak mengenal Pak Bagja yang setahunya pemilik tunggal kebun teh terluas di desa, semua warga desa mengenalnya. Pria ramah nan dermawan, tetapi tidak ingin dipanggil juragan. Sungguh rendah hati.

"Maaf, maaf, saya tidak sengaja. Saya kira kamu mau copet atau preman yang suka ganggu gadis desa. Soalnya penampilan kamu kaya berandal, aura tukang palaknya kua—" Nara mengulum bibirnya yang keceplosan. Ia pun mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

Sagara mengimbas lengannya, rasa sakitnya masih terasa. "Gila! Mana ada tidak sengaja kalau sakitnya kaya begini," ujar pria itu sinis, masih fokus dengan lengannya. Tidak melihat wajah gadis itu yang semakin meringis, merasa bersalah.

"Ya maaf, saya akui saya memang sengaja, tapi 'kan itu refleks. Dan siapa suruh pegang bahu orang tiba-tiba, saya tadi kaget!" balas Nara, tidak ingin disalahkan sepenuhnya.

"Saya tadi sudah panggil, nyapa, tapi kamunya yang tidak nyahut—" Sagara membulatkan mata, mundur selangkah tak kala bertukar pandang dengan Nara. Melihat baik-baik penampilan gadis yang memelintirnya dari atas ke bawah. "Shittt! Penampilannya aja kaya cupu, aslinya bar-bar, ya," ujar pria itu, berkata seenak jidatnya tampa disaring-saring.

Nara mengernyit, melihat penampilannya sendiri. Ia memang mengenakan celana kulot lebar, kaos melar dengan luaran jaket kedodoran. Kacamata bulatnya yang tebal, dengar rambut yang ia cepol asal.

Mulut gadis itu membulat, menyadari penampilannya yang ternyata dilihat dan dinilai oleh orang lain sebagai penampilannya yang cupu. Ia benar-benar baru menyadarinya. Selama ini, asalkan pakaiannya nyaman. Maka, ia tidak terlalu peduli dengan hal lain.

Deg!

Ingatan Nara kembali kepada dua bulan lalu, pada perkataan seseorang yang menjadi pelabuhan hatinya.

Buka mata mu untuk melihat realita. Kamu tidak pantas untukku yang terlalu bersinar ini. Penampilanmu tidak pantas untuk bersanding denganku. Baiknya kita sudahi saja hubungan ini, aku juga tidak tahan dengan orang kolot seperti mu!

"Woyy, heyyy ... lah, jadi patung dia!" Sagara melambaikan tangan di depan wajah gadis itu yang tengah melamun. Ia ingin mengguncang bahunya untuk menyadarkan, tetapi urung mengingat lengannya baru saja dipelintir. Ia tidak ingin mendapatkan pelintiran untuk kedua kalinya. "Eh perempuan, cewek, mbak, nengg ...! Kesambet ni pasti, mana dekat jembatan, mau gelap lagi." Sagara mengusap tengkuknya.

Dengan mengambil satu langkah ke belakang, mengambil ancang-ancang, pria itu menyentil dahi Nara untuk menyadarkan.

"Awuuhh!" rintih Nara mengusap dahinya. "Sakittt!" pekiknya, menatap tajam pada Sagara yang kini tengah cengengesan.

"Sengaja, tapi terpaksa. Saya panggil kamu dari tadi, tapi tidak nyahut-nyahut. Lagi mikirin hutang, ya? Atau mikiran cicilan barang?" tebak pria itu dengan nada sinis.

Nara mendengus, tatapan semakin menusuk. Tidak ingin menanggapi orang asing nan aneh, ia pun berjalan menuju motor maticnya. Menjalankan mesin roda dua itu, meninggalkan Sagara yang meneriakinya.

"Eii, ei ... berhenti, jangan dulu pergi. Sekedarnya kasih tahu dulu di mana alamat Pak Bagja, woyyyy ...!" percuma, teriakan Sagara tidak ditanggapi oleh Nara. Menoleh pun, gadis itu tidak. "Sialan," umpat pria itu, menendang batu.

Tinggg!!!

Bunyi itu menggema tak kala batu itu beradu dengan pembatas besi jembatan. Membuat sang empu yang menendang terlonjak kaget sendiri.

Sagara segera menghampiri motor besar hitam metaliknya, menyalakan mesin dan mengikuti jalur gadis itu yang sepertinya akan menuju ke pemukiman warga.

Nara tiba di rumahnya. Ibunya terlihat menunggu di bale-bale bawah pohon mangga halaman depan rumah. "Kok lama? Padahal mini marketnya ndak terlalu jauh dari sini." Ratna berdiri, menyambut kedatangan anaknya yang pulang dari mini market untuk membeli kebutuhan kamar mandi mereka.

"Iya, maaf, Bu. Tadi Nara singgah dulu di jembatan dekat pembatas desa," jelas gadis itu.

Ibunya mengangguk, mengajak anaknya untuk masuk. Hari sudah hampir magrib, tetapi langkahnya urung tak kala melihat seseorang berhenti di depan rumahnya.

"Bu," panggil Nara melihat ibunya yang diam saja.

"Assalamualaikum," sapa orang itu melepaskan helem, ia menggerakkan kepalanya yang membuat rambut panjang sebahunya terkibas mengikuti gerakan. Kemudian jari-jarinya yang kokoh, menyisir rambutnya ke belakang untuk merapikan.

Mata Ratna membulat, melihat ketampanan pria muda di depannya. "Ehh, waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu, Aden?"

"Aduh, jangan panggil Aden, Bu. Jadi nggak enak saya, panggil saja Sagara, Saga atau Gara. Nyamannya Ibu aja," ujar pemuda itu yang memang adalah Sagara, mengikuti Nara sampai ke rumahnya.

Ratna mengulum senyum melihat kesopanan pemuda di depannya, ia mengangguk. "Jadi, Nak Saga. Ada yang bisa Ibu bantu?" Ratna mengulangi pertanyaannya. Ia yang tengah berdiri dengan tenang segera ditarik anaknya.

"Kamu! Ngapai kamu ke sini?" Nara membawa ibunya ke belakang punggungnya, tampang pria di depannya masih sangat mencurigakan. Ia harus tetap berhati-hati, apalagi pria ini sampai mengikutinya ke rumah.

***

Bersambung ...

Si Sagara tebar pesona banget 😒 sampai Bu Ratna kesemsem 🤣

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!