Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Dekret Perjodohan Paksa
Suara bising dari ribuan pedang latihan yang saling beradu di lapangan tengah Perguruan Batu Hitam sama sekali tidak bisa menembus tebalnya dinding batu Aula Penjara Kuil Tinggi. Tempat tinggal para tetua kolot ini sengaja dibangun terasing di puncak bukit tertinggi, dikelilingi kabut kelabu yang tidak pernah hilang dan sisa-sisa hujan merkuri yang lengket. Di sinilah, di tengah ruangan yang sunyi dan dingin, berkuasa seorang pria tua bernama Gendo Kuil Tinggi. Dialah kepala pendeta yang dihormati sekaligus ditakuti karena sifatnya yang sangat kolot terhadap kemurnian silsilah darah klan Shinto.
Sore itu, suasana di dalam aula terasa sangat mencekam. Gendo berdiri tegak di balik meja batu altar, mengenakan jubah hitam tebal dengan sulaman perak kuno yang sudah mulai pudar warnanya. Wajahnya yang keriput tampak kaku tanpa ekspresi, mirip seperti topeng kayu yang mati. Sepasang matanya yang tajam menatap kosong ke arah jendela kecil, memikirkan bagaimana pergerakan orang-orang Sektor Delapan di bawah sana. Belakangan ini, Tetua Kaelen dan Renka semakin hari semakin sombong karena mendapat bantuan senjata mesin dan kepingan emas dari Kekaisaran Vorash. Bagi Gendo, modernisasi yang dibawa kelompok pengkhianat itu tidak lebih dari sekadar polusi yang mengotori kesucian tradisi leluhur.
Di samping kanan Gendo, berdiri putri tunggalnya, Sayuri. Remaja perempuan berumur empat belas tahun itu memiliki paras yang sangat cantik, berkulit putih bersih dengan sepasang mata biru jernih yang menawan. Namun sayang, di balik kecantikannya, Sayuri tumbuh menjadi sosok yang sangat angkuh, egois, dan sedingin es. Sejak kecil, kepalanya sudah dijejali doktrin kasta oleh ayahnya, membuat dia memandang rendah siapa pun yang berada di luar garis darah bangsawan Kuil Tinggi. Tangan kanannya yang lentur sedang memutar-mutar sebuah belati perak kecil untuk upacara tradisional dengan gerakan bosan, memotong udara kosong di sekelilingnya.
"Orang-orang Sektor Delapan sudah melangkah terlalu jauh, Sayuri," ucap Gendo Kuil Tinggi. Suaranya berat, serak, dan bergaung pelan memenuhi ruangan tanpa perlu berteriak. Dia meletakkan kedua telapak tangannya yang kasar di atas meja batu altar. "Kaelen dan Renka sudah menjual harga diri klan kita demi mendapatkan mesin-mesin besi dari luar angkasa. Mereka sengaja membesarkan Ren agar anak itu bisa naik takhta dan menyerahkan seluruh pasukan Kuadran Utara kepada bangsa mesin."
Sayuri melayangkan senyum tipis yang penuh dengan rasa meremehkan. Dia membusungkan dadanya yang dibalut gaun sutra putih mewah bersulam bintang perak. "Mereka hanya sekumpulan orang penakut yang berlindung di balik baju besi kotor, Ayah," desis Sayuri dengan nada suara yang terdengar ketus dan tajam. "Ren boleh saja pamer kecepatan di lapangan latihan, tapi di mataku, dia tidak lebih dari seonggok rongsokan logam yang tidak punya hak untuk duduk di kursi pemimpin tertinggi kita."
"Kau benar, Anakku. Karena itulah, aku sudah mengambil keputusan mutlak hari ini untuk mengunci pergerakan mereka," sahut Gendo. Senyum licik mendadak muncul di wajah tuanya yang kaku. Dia mengambil sebuah gulungan dokumen kulit kuno yang disegel dengan cap darah kerajaan. "Aturan kuno klan kita menyatakan bahwa hak waris pertama yang sah secara silsilah darah tradisional tetap berada di tangan Ryuken, putra tertua mendiang Raja Juro Shinto. Sore ini, aku selaku kepala pendeta secara resmi mengeluarkan perintah perjodohan paksa antara dirimu dan Ryuken!"
TANG!
Belati perak kecil di tangan Sayuri mendadak terlepas, jatuh membentur lantai batu hingga mengeluarkan suara dentangan keras yang memecah kesunyian ruangan. Seluruh dinding keangkuhan, kesombongan, dan harga diri tinggi yang ia rawat sejak kecil mendadak hancur berantakan. Wajah cantiknya langsung berubah pucat pasi, seketika disusul oleh air mata frustrasi yang mengalir deras membasahi pipinya. Dia benar-benar terkejut dan tidak bisa menerima keputusan gila ayahnya.
"Ayah... kau pasti sedang bercanda!" jerit Sayuri tersedu-sedu. Suaranya yang merdu kini pecah, dipenuhi rasa frustrasi yang luar biasa mendalam. Dia meremas ujung gaun sutranya hingga jemarinya memutih menahan marah. "Kau ingin mengunci masa depanku pada takdir busuk seorang budak pembersih kasta terendah?! Ryuken itu hanya seekor cacing cacat yang hidupnya dibuang di dalam gudang kayu lapuk Sektor Belakang! Dia miskin, tubuhnya lemah, dan bahkan tidak bisa menahan beratnya tanah Akuma tanpa memuntahkan darah! Menikah dengan makhluk menjijikkan seperti itu adalah penghinaan terbesar bagi kehormatan Kuil Tinggi kita!"
Gendo Kuil Tinggi tidak peduli dengan jerit tangis atau keputusasaan putri tunggalnya. Tatapan matanya tetap sedingin es, kaku, dan penuh dengan watak kejam seorang pemimpin yang menolak dibantah oleh emosi remaja. Dia melangkah maju, berdiri tegap tepat di hadapan Sayuri seperti dinding jeruji besi yang menutup seluruh celah kebebasannya.
"Diam, Sayuri! Kau tidak punya hak untuk menangisi urusan asmara di dalam ruangan suci ini!" bentak Gendo. Suaranya yang berat seketika membuat nyala lilin di sekeliling altar bergoyang kaku. "Pernikahan politik ini sama sekali bukan karena aku kasihan pada anak cacat Juro Shinto itu! Dengarkan baik-baik, Ryuken hanyalah sebilah perisai dan tameng aturan adat yang sengaja kumanfaatkan untuk menjegal langkah Tetua Kaelen! Dengan mengunci dirimu pada darah sah Ryuken, kita bisa membatalkan seluruh perjanjian dagang mereka bersama Kekaisaran Vorash secara sah!"
Gendo mencengkeram erat gulungan perintah di tangannya, lalu berbalik menatap keluar jendela melihat badai hujan merkuri yang kembali mengganas. "Aku tidak peduli jika kau membenci kelemahan fisik Ryuken seumur hidupmu. Aku juga tidak peduli jika kau meludahi wajahnya atau pakaian hitamnya yang kotor penuh debu jalanan setiap hari. Tugasmu hanya satu: jalankan ritual pengikatan darah minggu depan, pasang wajah paling dingin di depan altar, dan biarkan seluruh perguruan tahu bahwa kau sudah resmi menjadi alat politik untuk mengubur ambisi keserakahan Sektor Delapan!"
Sayuri langsung jatuh terduduk di atas lantai altar yang dingin. Dia meremas kedua pergelangan tangannya sendiri dengan perasaan yang sangat hancur. Gengsi kasta bangsawannya lebur menjadi abu, menyadari bahwa dirinya hanyalah sebutir bidak catur yang di tumbal kan oleh ayah kandungnya demi kekuasaan. Di dalam lubuk hatinya yang terluka, rasa benci yang sangat mendalam mulai tumbuh subur terhadap nama Ryuken. Dia bersumpah di dalam batin tidak akan pernah sudi membiarkan tubuh indahnya disentuh sedikit pun oleh makhluk cacat yang ia benci itu.
Sayuri sama sekali tidak pernah tahu, bahwa jauh di masa depan, setelah pertempuran besar selesai dan seluruh kekuatan dewa milik Ryuken hilang kembali menjadi nol, putri emas yang angkuh ini justru akan menangis histeris, memeluk erat tubuh suaminya yang sekarat, dan rela menyerahkan seluruh nyawanya demi melindungi tubuh lemah Ryuken dari kehancuran semesta.