Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elnara
Hari itu berlalu begitu cepat. Sejak identitas asli Naya dipublikasikan, banyak orang mulai mencari akun media sosial gadis itu untuk diikuti. Namun, ternyata tidak semudah itu. Naya memang terbiasa menggunakan nama samaran di semua akun media sosialnya. Berbeda dengan Elnara yang menggunakan nama aslinya. Meski begitu, karena berita itu terus beredar, Elnara memilih menonaktifkan sementara akun media sosialnya agar tidak ikut terseret ke dalam kehebohan yang sedang terjadi.
Sementara itu, papinya kembali mendatangi sekolah tersebut. Sayangnya, ada beberapa kejanggalan yang ia temukan dari informasi yang didapatkan. Kepala sekolah mengatakan bahwa CCTV saat kejadian diretas dan seluruh rekamannya dihapus hingga tidak menyisakan bukti apa pun.
Tentu saja papinya tidak menerima begitu saja penjelasan tersebut. Rasanya ia ingin langsung menempuh jalur hukum, tetapi sayangnya belum ada bukti atau pernyataan yang cukup kuat untuk mendukung langkah itu. Jika dipaksakan, justru bisa berbalik menjadi tuntutan terhadap dirinya.
Cara paling efektif saat ini adalah masuk ke lingkungan sekolah tersebut dan mencari bukti secara diam-diam.
Dan Nara menyetujuinya.
Pagi itu, keluarga Valenzia sedang sarapan bersama. Meja makan hanya diisi oleh Nara, kedua orang tuanya, dan oma. Sementara opanya sudah kembali ke London untuk melanjutkan urusan bisnisnya.
"Papi, mobil sama motorku kapan sampainya ke sini? Kok lama banget sih?" tanya Nara sambil menyantap nasi goreng kesukaannya.
Jujur saja, ia sangat merindukan masakan Indonesia. Tidak peduli sudah berapa lama tinggal di London, makanan khas Indonesia tetap menjadi favoritnya.
"Papi perkirakan siang nanti sampai. Kamu sabar dulu ya," jawab papinya.
"Tapi motor sport itu jangan dipakai balapan ya, Nara. Mami nggak suka kamu balap-balapan," timpal maminya.
Nara langsung terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Aku nggak pernah balapan, loh, Mi," ujarnya berbohong.
Padahal di London, ia cukup sering mengikuti kompetisi balap. Bukan karena mengincar hadiahnya, melainkan untuk melatih kemampuan sekaligus membuktikan dirinya kepada banyak orang. Selama ini ia selalu punya cara untuk berbohong kepada oma. Biasanya ia akan bilang sedang menginap di rumah teman, padahal kenyataannya ia pergi balapan dan baru pulang keesokan harinya.
Sekarang situasinya berbeda. Tinggal bersama mami dan papi membuatnya harus mencari alasan baru jika suatu hari nanti ingin ikut balapan lagi.
Siang harinya, akhirnya dua barang kesayangannya tiba juga.
"AAAAA! KITTY! SNOWY!" teriak gadis itu sambil berlari keluar rumah begitu melihat mobil pink dan motor sport pink miliknya sudah sampai.
"I miss you so much, baby!" lanjutnya heboh.
Ia langsung memeluk mobil dan motornya bergantian, lalu mencium keduanya seolah sedang melepas rindu kepada sahabat lama.
"Gimana perjalanannya ke sini, sayang? Lancar nggak?" lanjutnya lagi sambil memeriksa ke segala arah, memastikan tidak ada lecet sedikit pun pada kendaraan kesayangannya.
Beberapa bodyguard yang melihat pemandangan itu hanya bisa saling pandang sambil menahan tawa.
"Siang, Nona Muda. Mobil dan motor sport Anda sudah kami antarkan dengan selamat," ucap seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan pakaian serba hitam.
"Oke, thank you, Bodyguard," jawab Nara santai sebelum kembali sibuk memeriksa mobil dan motornya.
Hari ini gadis itu memang sedang bersemangat. Besok adalah hari pertamanya bersekolah di sekolah tempat sang kembaran selama ini belajar. Seminggu penuh berada di rumah membuatnya benar-benar bosan. Karena itu, ia memutuskan untuk keluar menikmati hari bersama mobil kesayangannya.
Nara segera bersiap. Ia mengenakan celana jeans hitam, kaus polos, dan jaket crop top kulit favoritnya. Penampilan serba hitam itu membuat aura bad girl dalam dirinya semakin terasa.
Setelah memastikan semuanya siap, ia berjalan keluar rumah sambil membawa kunci mobil di tangannya. Senyum tipis terukir di wajahnya ketika melihat mobil pink kesayangannya terparkir rapi di halaman.
Tanpa menunggu lama, ia membuka pintu mobil, masuk ke dalam, lalu menyalakan mesin kendaraan itu. Suara mesin yang familiar membuat senyumnya semakin lebar.
"Akhirnya jalan juga kita, Kitty."
Dan beberapa detik kemudian, mobil itu melaju meninggalkan rumah keluarga Valenzia.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan Jakarta di sore hari. Nara tersenyum senang sambil menikmati pemandangan di balik kaca mobilnya. Akhirnya, ia bisa menikmati waktunya di Jakarta tanpa harus berdiam diri di rumah.
"Jalan-jalan di Jakarta not bad lah ya. Sebelas dua belas sama di London," ujarnya sambil terkekeh kecil.
Tangannya santai berada di atas setir, sementara lagu favoritnya mengalun pelan dari speaker mobil. Perjalanan itu terasa menyenangkan sampai akhirnya ia tiba di sebuah sekolah mewah yang berdiri megah di tengah perkotaan.
Gedung lima lantai itu menjulang tinggi dengan desain modern yang mengingatkannya pada sekolah-sekolah elite di drama Korea. Area sekolahnya sangat luas, lengkap dengan taman yang tertata rapi dan bangunan utama yang terlihat begitu elegan.
Nara sampai mengangguk pelan melihatnya.
Menurutnya, arsitektur sekolah itu pantas mendapatkan lima bintang.
Di bagian depan bangunan terpampang nama sekolah tersebut dengan huruf besar.
"GIS (Global International School)."
Senyum smirk kecil langsung menghiasi wajahnya.
"Oh, jadi gue besok sekolah di sini," gumamnya.
Karena hari itu hari Minggu, suasana sekolah tampak sepi. Tidak ada murid maupun guru yang terlihat berkeliaran.
Nara menatap bangunan itu beberapa saat sebelum menyandarkan tubuhnya ke mobil.
"Oke, tunggu gue ya sampai besok. Akan gue guncangkan dunia," ujarnya penuh percaya diri.
Setelah puas melihat sekolah yang akan menjadi tempat barunya, Nara kembali melajukan mobilnya.
Tidak jauh dari sekolah itu, matanya langsung tertuju pada sebuah kafe mewah yang berdiri di pinggir jalan. Bangunannya terlihat elegan dengan dominasi kaca besar yang memperlihatkan suasana hangat di dalamnya.
"Anjir, penasaran banget gue sama makanan di dalam," ujarnya.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung membelokkan mobil dan memarkirkannya di area parkir kafe.
Begitu turun dari mobil, beberapa orang yang berada di sekitar sana langsung menoleh ke arahnya.
Bukan hanya karena mobil pink yang mencolok, tetapi juga karena penampilan Nara yang memang sulit untuk diabaikan.
"Anjir, cakep bener..."
"Ini ada masalah apa ya di bumi sampai ada bidadari turun dari surga?"
"Eh, tapi kayak mirip seseorang deh."
"Loh, itu Naya nggak sih?"
Begitulah bisikan-bisikan yang masuk ke telinga Nara.
Awalnya ia tidak peduli jika orang-orang membicarakan dirinya sebagai Nara. Namun, entah kenapa telinganya langsung sensitif setiap kali mendengar nama Naya disebut.
Langkahnya yang semula santai langsung terhenti.
Ia menoleh ke arah dua gadis yang sedang berbisik tidak jauh darinya.
"Eh, kalau ngomongin gue tuh kecilin suara lo. Masih kedengeran sama gue!" sewotnya.
Setelah mengatakan itu, Nara langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam kafe tanpa menunggu respons mereka.
Sementara itu, dua gadis tadi hanya bisa membeku di tempat dengan mata membulat sempurna.
"Anjir..."
"Dia denger..."
Sesampainya di dalam, ternyata suasana kafe itu memiliki vibes Eropa modern yang elegan. Dominasi warna krem, lampu gantung mewah, dan dekorasi minimalis membuat tempat itu terlihat mahal. Jujur saja, Nara sedikit takjub melihatnya, tetapi ekspresi wajahnya tetap datar seolah semua itu hal biasa.
Ia berjalan menuju order counter untuk memesan.
"Selamat sore, Kak. Selamat datang di Kafe Adinata. Apakah ada menu yang ingin Kakak pesan?" ucap seorang counter staff dengan ramah.
"Gue mau caffe latte satu aja," balas Nara.
Setelah melakukan pembayaran, ia kemudian diantar ke sebuah meja yang posisinya sangat strategis di dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat suasana jalanan di luar dengan jelas.
Saat sedang sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba terdengar suara beberapa cewek yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Mau tidak mau, matanya sesekali melirik ke arah mereka.
"Sumpah ya, gue juga kaget sih kalau Naya ternyata berasal dari Valenzia."
"Bener lagi. Untung gue nggak ikutan jahat sama dia."
"Eh, tapi kok bisa secepat itu ya Naya keluar dari rumah sakit? Bukannya..."
"Bundir? Mungkin alibi dia kali. Ingin menghilang sejenak dengan alasan dia bundir."
"Iya kali ya. Jahat nggak sih? Padahal yang bermasalah dia sama siswa petinggi, kok nama sekolah jadi ikut tercoreng juga ya?"
"Gatau juga sih. Tapi kayaknya setelah orang-orang tahu siapa dia sebenarnya, nggak banyak lagi deh yang berani macam-macam sama dia. Nggak tahu tuh trio itu."
Nara tidak memedulikan obrolan mereka. Baginya itu bukan sesuatu yang perlu dilayani.
Tak lama kemudian, tiga pelanggan baru memasuki kafe.
Kimberly menatap ke sekeliling ruangan hingga matanya menangkap sosok seorang gadis yang sedang duduk di dekat jendela. Ia menyipitkan mata, memastikan apa yang dilihatnya benar.
Begitu yakin, mulutnya langsung membentuk huruf O karena terkejut.
Ia menepuk bahu temannya dan menunjuk ke arah gadis tersebut.
Nessa yang sejak tadi sibuk menatap layar ponselnya langsung merasa terganggu.
"Apa sih?" gerutunya kesal.
"Itu liat. Si cupu nggak sih?" ujar Kimberly, atau yang biasa dipanggil Kimly.
Nessa pun menoleh.
Dan benar saja.
Gadis yang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya itu adalah Nara, meskipun mereka mengira gadis itu adalah Naya.
Setelah Cassandra yang biasa dipanggil Sandra selesai memesan, mereka bertiga langsung berjalan menjauh dari counter.
"Kita ke sana. Tuh si cupu," ucap Nessa.
Sandra ikut melihat ke arah yang ditunjuk dan senyum smirk langsung muncul di bibirnya.
"Let's go."
Mereka bertiga pun berjalan menuju meja Nara.
"Cupu, ini lo?" ucap Sandra dengan nada mengejek.
Nara yang sedang bermain ponsel perlahan mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang baru datang itu.
"Wow, setelah lo bongkar identitas lo, sekarang penampilan lo berubah drastis gitu ya?" ejek Sandra lagi.
"Lo kira gue percaya lo berasal dari Valenzia?"
Sandra menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Lo siapa?" tanya Nara dingin.
Mendengar itu, ketiga gadis tersebut langsung terkekeh mengejek.
"Hahaha, liat guys. Setelah bikin drama bunuh diri sekarang dia pura-pura lupa sama kita," ujar Sandra.
"Hello, bitch. Lo kira gue percaya sama sandiwara lo?" lanjutnya.
Sandra bahkan mendorong bahu Nara dengan jijik.
"Barang KW ya? Lo kira gue percaya lo berasal dari Valenzia? Bisa aja lo nge-hack website resmi keluarga itu, kan? Atau jangan-jangan lo nyogok pakai tubuh lo supaya bisa booming?"
Kalimat terakhir itu sukses membuat kesabaran Nara habis.
"MAKSUD LO APAAN, NJING?! NGOMONGIN GUE KAYAK GITU, BANGSAT!"
Teriakan Nara membuat seluruh isi kafe langsung menoleh ke arah mereka.
Tanpa pikir panjang, Nara mendorong Sandra cukup kuat hingga gadis itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Wow, santai dong. Lo udah berani ngelawan gue, hah?" ujar Sandra sewot.
"Kalau iya emang kenapa, hah? Lo siapa sampai gue harus setakut itu sama lo?" balas Nara.
"Oh, cari mati si cupu ini. Yuk, girls, lawan!"
Sandra langsung maju dan menarik rambut Nara dengan kuat sambil melayangkan tangannya untuk menampar.
Namun refleks Nara jauh lebih cepat.
Ia menahan pergelangan tangan Sandra sebelum tamparan itu mengenai wajahnya, lalu memutar tangan gadis itu ke belakang.
"AWWW! SAKIT, ANJIR!" teriak Sandra kesakitan.
Kimly dan Nessa yang melihat itu langsung ikut maju.
Namun Nara bergerak lebih dulu.
Ia berbalik dan melayangkan tendangan ke arah salah satu dari mereka hingga gadis itu terdorong dan kepalanya menoleh ke samping.
Sementara Sandra langsung dilempar begitu saja hingga jatuh terduduk di lantai.
Seluruh pengunjung kafe kini benar-benar terdiam.
Tidak ada yang menyangka gadis yang selama ini dikenal lemah dan selalu menjadi korban ternyata bisa melawan seperti itu.
Nara berjalan mendekati Sandra yang masih meringis kesakitan.
Ia mencengkeram pipi gadis itu dengan kuat hingga Sandra memekik.
"Lo kira sekarang gue nggak bisa lawan lo, hah?" ucap Nara dingin.
"Sehebat apa sih lo sampai gue harus takut lagi?"
Nara menatap tajam tepat ke mata Sandra.
"Dan lo harus ingat. Gue sekarang bukan lagi yang kayak dulu."
Setelah mengatakan itu, Nara melepaskan cengkeramannya lalu berdiri.
Tanpa peduli pada tatapan semua orang di dalam kafe, ia mengambil ponsel dan tasnya, kemudian berjalan pergi begitu saja.
Sementara Sandra, Kimly, dan Nessa masih membeku karena syok.
Mereka bahkan belum sempat memahami apa yang baru saja terjadi.
Di sisi lain ruangan, tanpa Nara sadari, ada seorang cowok yang sejak tadi memperhatikan seluruh kejadian itu dari meja paling belakang.
Tatapannya terus mengikuti punggung gadis tersebut yang semakin menjauh menuju pintu keluar.
Berbagai pertanyaan langsung memenuhi kepalanya.
"Siapa dia?"