Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 5
Sepanjang perjalanan, tak ada lagi kata yang terucap. Vino fokus mengemudi, sementara memorinya berulang kali menayangkan betapa teganya dia meninggalkan Kiara semalam, hanya karena telfon rengekan Shela yang mengaku takut petir dan ingin membeli es krim. Betapa dungunya aku, maki Vino berulang kali dalam hati. Sedangkan kini Kiara hanya bersandar di kursi dan memejamkan matanya. Dia sebenarnya demam karena semalam kehujanan dan kedinginan di bawah guyuran hujan lebih dari tiga jam. Namun dia memaksakan diri untuk ke kantor karena hari ini ada meeting.
Namun yang lebih membuatnya drop semalam bukan kerena menahan dingin, tapi menahan sakit dan sesak di dada saat melihat tunangannya malah lebih memilih menemani sepupunya yang katanya ketakutan karena ada petir tapi malah jalan-jalan dan tertawa bersama dengan Vino. Bahkan tunangannya itu tak melihat dia yang memeluk tubuhnya sendiri di halte kedingingan sambil menunggu kendaran online dan juga derek dari bengkel untuk membawa motornya.
Tiba di depan rumah Kiara, Vino mematikan mesin mobil. Kiara bergerak hendak membuka pintu, namun gerakan tangannya terhenti saat mendengar suara Vino yang kembali bergetar.
"Aku tahu, permintaan maaf seribu kali pun nggak akan langsung menghapus rasa sakit hati kamu, Ra," kata Vino, memberanikan diri menatap wajah samping Kiara.
"Tapi aku bersumpah demi apa pun... Aku sangat mencintai kamu. Aku tak mau kehilangan kamu. Kita sudah sama-sama selama ini, dan bahkan kita akan menikah. Maafkan aku karena akhir-akhir ini waktuku tersita oleh Shela. Tapi aku janji setelah ini aku akan kembali lebih memprioritaskan kamu lagi..."
Vino mengambil ponselnya, mengusap layarnya, lalu menyodorkannya ke arah Kiara. Di sana terpampang daftar kontak terpaut nama Shela yang sudah diblokir, begitu pula seluruh akun media sosialnya. Kiara hanya melirik sekilas tanpa mau berkomentar. Entahlah, dia tak begitu yakin dengan yang di lakukan Vino. Namun dia berusaha percaya dengan kesungguhan Vino apalagi melihat keadaannya yang terlihat kusut.
"Aku udah minta HRD memproses pemindahan divisinya besok pagi. Kalau dia nekat mendekat lagi di kantor, aku tak ragu memecatnya atau memintanya keluar dari kantor. Dia bukan lagi tanggung jawabku. Tanggung jawabku, masa depanku, dan prioritas utamaku cuma kamu, Kiara."
Kiara menatap layar ponsel itu lama, lalu perlahan menoleh menatap mata Vino. Dia melihat kelelahan, penyesalan mendalam, dan ketakutan nyata akan kehilangan dari manik mata tunangannya. Tidak ada lagi sisa-sisa pria pasif yang selalu membela sepupunya atas nama 'rasa kasihan'.
"Kamu tahu apa yang paling bikin aku sakit hati semalam, Vin?" tanya Kiara dengan suara pelan namun menancap tajam.
"Bukan cuma soal kamu pergi ninggalin aku di tengah hujan. Tapi fakta bahwa kamu selalu nempatin aku di urutan kedua, seolah-olah posisi aku sebagai calon istri kamu itu gak ada harganya dibanding rengekan sepupu kamu yang selalu menjadi prioritas,"
"Tiga bulan aku selalu mengalah saat kamu bilang Shela ini dan itu, bahkan kau merasa menjadi orang ketiga di antara kamu dan dia. Walau memang status dia sepupu kamu, tapi maaf menurut aku kalian terlalu berlebihan. Jika memang kamu belum bisa menjadikan aku sebagai prioritas kamu, lebih baik kita pikirkan ulang rencana pernikahan kita. Mumpung baru rencana dan belum terlanjur menikah. Maaf aku bukan wanita pemaaf dan memiliki hati seluas samudra untuk berbagi perhatian dan waktu suamiku kelak dengan sepupu wanitanya!" Vino menggeleng cepat saat mendengar ucapan Kiara.
"Tidak Kiara, jangan bicara seperti itu. Aku minta maaf, Ra... Aku sangat mencintai kamu, Kiara. Sumpah demi apapun di hati aku hanya ada kamu, Shela hanya sepupu yang... Aku salah, aku benar-benar blind spot soal itu..." air mata Vino kembali menetes, menahan sesak.
"Aku juga mencintai kamu, Vino, " Kiara menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi aku gak mau masuk ke dalam pernikahan di mana aku harus terus mengalah dan merasa terasingkan. Aku butuh kepastian dan ketegasan kalau pria yang akan menjadi suamiku adalah pria yang punya ketegasan."
"Aku janji, Ra. Aku buktikan," potong Vino cepat, memegang jemari Kiara yang panas. Dan seketika membuat Vino kaget dan refleks memegang kening Kiara walau Kiara mencoba melepaskan tangan Vino.
"Kamu demam, Kiara... Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sakit?"
Kiara memalingkan wajahnya ke arah jendela, menepis pelan tangan Vino yang masih menempel di keningnya. Sentuhan hangat itu justru terasa menyengat di kulitnya yang sedang membara.
"Nggak apa-apa," jawab Kiara pendek, suaranya makin parau dan serak. "Cuma cape aja."
"Gimana bisa 'nggak apa-apa' kalau badan kamu sepanas ini, Ra?!" nada suara Vino meninggi, bukan karena marah pada Kiara, melainkan panik dan muak pada dirinya sendiri.
Bayangan Kiara yang semalam berdiri sendirian di halte menggigil menembus derasnya hujan petir selama tiga jam sementara motornya mogok, menghantam dadanya seperti hantaman keras. Sementara di saat yang sama, dia justru sibuk tertawa dan memanjakan Shela yang hanya merengek ingin es krim. Rasanya Vino ingin menampar dirinya sendiri saat itu juga atas ketidakpekaannya yang keterlaluan.
Tanpa membuang waktu lagi, Vino kembali memutar kunci kontak dan menyalakan mesin mobil.
"Mau ke mana, Vin? Aku mau masuk ke rumah," protes Kiara pelan, memegang kepalanya yang mulai berdenyut makin hebat.
"Kita ke klinik atau rumah sakit sekarang. Kamu harus diperiksa dokter, Kiara," tegas Vino, suaranya gemetar menahan rasa bersalah yang teramat sangat. Tangannya yang memegang kendali steering wheel tampak ikut bergetar.
"Nggak usah, Vino. Di rumah ada obat demam. Aku cuma butuh istirahat..."
"Nggak, Ra! Tolong nurut sama aku sekali ini aja," potong Vino dengan mata yang kembali merebak basah.
"Aku yang udah bikin kamu kayak gini. Aku yang ninggalin kamu kedinginan semalam cuma demi hal bodoh yang nggak berguna. Tolong biarkan aku ngurusin kamu malam ini. Tolong, Kiara..."
Melihat raut penyesalan yang membakar wajah Vino dan mendengar nada keputusasaan dari pria itu, Kiara akhirnya tak lagi memiliki tenaga untuk membantah. Dia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bersandar makin dalam pada kursi mobil. Rasa lelah yang sangat mendalam melingkupi seluruh jiwanya.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,