Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Raungan mesin memenuhi arena balap liar di pinggiran kota. Malam itu, puluhan orang berdiri mengelilingi lintasan dadakan yang diterangi lampu kendaraan. Sorak-sorai bercampur asap knalpot menciptakan suasana yang bising dan kacau.
Di tengah kerumunan, seorang pria berdiri dengan kedua tangan di dalam saku jaket hitamnya. Tatapannya datar. Tidak ada senyum dan juga raut kegembiraan. Padahal barusan ia memenangkan taruhan bernilai ratusan juta rupiah.
"Bara menang lagi!"
"Gilaaa! Tiga kali berturut-turut!"
"Orang ini monster!"
Beberapa orang berteriak penuh kagum, namun Bara Adikara sama sekali tidak peduli. Baginya, uang hanyalah angka. Kemenangan hanyalah rutinitas, dan kehidupan, tidak lebih dari permainan panjang yang membosankan.
"Bar, minum yuk sama yang lain," ucap Angel sambil tersenyum manis. Ia adalah sahabat dekat Barra yang bahkan dipercayai Bara untuk mengatur jadwal balapannya atau hal lain, karena saat ini Bara memang tengah mempersiapkan sesuatu yang sangat besar.
"Gue nggak pengen minum. Lo aja yang minum. Traktir anak-anak juga. Atau mungkin Lo mau sesuatu, beli aja!" ucap Barra sambil menyentuh layar ponselnya. Tak lama kemudian, uang masuk ke rekening Angel. Jumlahnya cukup besar. Sangat lebih dari cukup untuk bersenang-senang dan shoping.
"Thanks Bar!!" seru Angel senang, ia tiba-tiba memeluk Bara, tapi dengan cepat Bara menahan tubuh gadis berpenampilan seksi itu.
"Udah sana ... nggak usah peluk-peluk. Gue kepanasan."
"Iiihhhh pelit," rengek Angel, tapi kemudian gadis itu pergi dan Bara kembali sendiri.
Tak lama setelahnya, seorang pria bertubuh besar menghampirinya sambil membawa sebuah kunci kamar hotel.
"Hadiahnya udah masuk kan?"
"Hmm .... " jawab Barra singkat.
"Good, sekarang saatnya Lo merilekskan pikiran. Pijet sambil menikmati yang ssshhhh ... ahhhh .... " ucap Mike sambil tertawa lepas.
Tanpa banyak bicara lagi Bara meraih kunci kamar hotel yang Mike sodorkan lalu pergi. Beberapa gadis lain berusaha mendekat, berharap mendapat perhatian dari Bara, namun pria itu berjalan begitu saja menuju mobil sport hitam miliknya.
Langkahnya tenang dan dingin. Seolah dunia tidak layak mendapatkan lebih dari satu tatapan darinya.
Tak sampai setengah jam perjalanan, Bara sudah tiba di hotel, dan begitu tiba di sana, seseorang sudah menyambutnya. Cantik dan wangi. Kaki jenjangnya bahkan sangat menggoda. Tak hanya satu, tapi dua wanita.
Begitu Barra masuk dan pintu kembali tertutup rapat, kedua wanita itu langsung berjalan berlenggak lenggok ke arahnya. Meski dengan gerakan menggoda, semuanya masih normal.
Mereka melepas satu persatu pakaian Bara. Menampakkan guratan otot dan perut sixpack yang membuat wanita manapun akan meneguk saliva saat melihatnya. Kini tubuh kekar dan berotot itu hanya berbalut boxer tipis yang membuatnya semakin tampak sempurna.
Akan tetapi saat salah satu dari wanita itu mulai menggoda dengan mengusap perut bawahnya, tangan kokoh Bara langsung menahan.
"No kiss ... no sex ... fokus sama pekerjaan kalian atau balikin bayaran kalian," ucap Barra tegas diikuti tatapan mata dingin, membuat kedua wanita itu saling pandang, tapi tak ada yang berani melawan.
Bara bukannya tak tergoda, tapi ada sesuatu yang menahannya hingga semua itu akhirnya terasa hambar dan sama sekali tak bisa membangkitkan gairahnya.
Kini kedua matanya mulai terpejam saat tangan-tangan lembut itu mengurut tubuhnya. Suasana kamar yang tenang dan aroma terapi yang lembut membuat Barra mulai mengantuk, tapi notifikasi pesan dari ponselnya membuat kedua matanya kembali terbuka lebar.
Ternyata pesan itu datang dari Mike.
[Bar, gue baru dapet kabar. Malam ini, putri Nyonya Selina pulang dari luar negeri.]
Tanpa permisi Barra langsung bangkit.
"Ada apa Mas? apa pijatannya nggak enak?" tanya wanita yang semula mengurut tubuhnya.
"Nggak ada hubungannya sama itu. Tugas kalian selesai. Pergi sana!"
Kalimat itu kembali membuat wanita-wanita tukang pijat ketakutan. Dengan kecewa mereka segera mengemasi barang-barang dan keluar.
Kini Barra berduri di balkon. Kepulan asap rokok masih terus mengelilinginya. Angin malam menerpa rambut hitamnya. Mata gelapnya menyipit perlahan.
"Jadi akhirnya dia datang."
Pemuda itu menelan ludah. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Bara. Andrea Willona. Putri satu-satunya Selina. Wanita yang telah menghancurkan keluarga Bara. Wanita yang merebut ayahnya. Wanita yang membuat ibunya meninggal dalam kesedihan, dan sekarang anaknya datang.
Bara tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
"Aku pulang."
Rumah Adikara berdiri megah di atas tanah luas di kawasan elit kota. Bangunan tiga lantai itu terlihat seperti istana. Orang-orang mengira rumah itu milik keluarga bahagia yang sukses. Mereka tidak tahu bahwa rumah tersebut dibangun oleh seorang wanita yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.
Ibu Bara. Pemilik sah semua yang ada di sana. Setidaknya dulu.
Mobil Bara memasuki halaman. Gerbang besi terbuka perlahan. Ia turun tanpa menunggu siapa pun. Lampu rumah masih menyala terang. Saat memasuki ruang tamu, suara tawa langsung terdengar.
Ayahnya dan Selina. Bara tidak menghentikan langkah. Tidak juga menyapa. Seolah dua orang itu hanyalah furnitur mahal yang kebetulan berada di ruangan yang sama.
"Bara."
Suara berat sang ayah menghentikannya. Bara menoleh.
"Ada apa?"
"Kau baru pulang?"
"Hm."
Jawaban singkat. Selalu singkat. Wajah ayahnya langsung berubah tidak senang.
"Kau tidak bisa bicara lebih sopan?"
Bara hanya mengangkat bahu. Lalu kembali berjalan.
"Bara!"
Pria itu berdiri, namun Selina segera menahan lengannya.
"Sudahlah, Mas."
Bara tersenyum kecil tanpa menoleh. Senyum kemenangan. Ia tahu. Ayahnya selalu kalah saat berhadapan dengan Selina, dan itu membuatnya semakin muak.
Sesampainya di kamar, Bara langsung menutup pintu. Ruangan itu berbeda dari bagian rumah lainnya. Tidak banyak dekorasi. Tidak banyak warna. Hanya foto seorang wanita yang tersimpan rapi di atas meja. Ibunya.
Bara menatap foto itu cukup lama. Rahangnya mengeras.
"Aku belum lupa."
Suara rendahnya terdengar lirih.
"Mereka masih menikmati semua milik Ibu."
Matanya berubah dingin.
"Tapi tidak lama lagi."
Ia membuka laci meja. Di dalamnya terdapat map berisi dokumen-dokumen, sertifikat, salinan kepemilikan saham, laporan keuangan, dan berbagai data yang sudah ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
Semua demi satu tujuan. Mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik ibunya. Lalu menghancurkan mereka. Satu per satu.
Keesokan paginya. Bara turun ke ruang makan. Seperti biasa. Suasana terasa tidak nyaman. Ayahnya melihat ponsel. Selina sibuk mengatur pelayan, namun ada satu wajah baru di sana.
Seorang gadis duduk diam di ujung meja. Rambutnya hitam panjang. Wajah cantiknya tanpa riasan berlebihan. Kemeja putihnya cukup sederhana. Tidak mencolok, dan tidak ada kesan sombong. Tidak seperti bayangan Bara selama ini.
Gadis itu mendongak ketika mendengar langkah kaki. Mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Bara mengerutkan dahi.
Andrea Willona. Jadi ini orangnya?