NovelToon NovelToon
Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Salsabila mbil

Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Wang chunniang sebenarnya sudah mendengar suara berisik itu sejak tadi. Namun, ia mengira itu hanya seekor anak anjing. Ia berencana membuka pintu untuk melihat lebih jelas, dan jika memang tidak ada pemiliknya, ia berniat memelihara nya sebagai teman bermain A Bao.

Namun saat ini, mahluk kecil hitam legam seperti bola batu bara itu sedang menggigit ujung baju A Bao dan menariknya kuat-kuat keluar. Kedua telinganya tegak berdiri, sementara ekor kecilnya terselip diantara kedua kaki belakang. Wang chunniang tertegun sejenak, lalu dengan cepat mencubit tengkuk mahluk itu dan mengangkatnya.

"Anak serigala? Kenapa bisa ada anak serigala di depan pintu rumah kita?" Wang chunniang menatap mahluk itu dengan curiga, lalu beralih menatap Zhao Heng dan berbisik, "Suamiku, kau tidak..."

Zhao Heng menggeleng"Apa ini yang tadi pagi?"

Zhao Xuan mendekat untuk melihat. Begitu melihat anak serigala itu menyeringai memamerkan gigi, ia langsung mengangguk yakin, "benar, ini anak serigala yang dipanggil A Bao tadi pagi."

Dicengkeram tengkuknya oleh Wang chunniang, anak serigala itu jelas tidak senang. Ia berusaha mendekat ke arah A Bao.

"Apa dia mencari ku Karena ada perlu? Apa dia minta tolong padaku?" A Bao menggaruk kuncir kecil di kepalanya. " tadi sepertinya dia ingin membawaku ke suatu tempat! "

"Mungkin ada serigala yang terluka, hanya itu yang satu-satunya kemungkinan" ucap Wang chunniang dan Zhao Heng hampir bersamaan.

Lima belas menit kemudian,

A Bao melihat seekor induk serigala terbaring di semak-semak. Kaki belakangnya terjepit perangkap besi besar, dan darah berceceran disekitarnya.

" Ibu,darah yang tercecer ini berwarna hitam. "Zhao Xuan mengeluarkan Huozhezi (alat pemantik api kuno) untuk menerangi darah di rerumputan.

" Keracunan. Kita harus menggali beberapa tanaman obat, kalau terlambat tidak akan sempat lagi."

A Bao paling jago mencari tanaman obat. Ia mengajak Zhao Xuan menggali tanah. Anak serigala itu terus mengekor di belakang A Bao . Melihat A Bao menggali tanah, ia pun ikut menggunakan kedua cakar depannya untuk menggali. Berusaha membantu menemukan sesuatu di dalamnya.

Setelah selesai mengobati dan membalut luka di kaki belakang induk serigala, waktu sudah berlalu lebih dari satu jam. Langit sudah gelap gulita, dan hutan pun menjadi sangat gelap.

"Sudah selesai, lukanya sudah di balut, tidak ada masalah lagi. cepatlah kembali." ucap Wang chunniang pada induk dan anak serigala yang masih diam ditempat.

Namun, pasangan induk dan anak itu tetap tidak beranjak. Si anak serigala bahkan berlarian mengelilingi induknya.

A Bao yang berada di gendongan punggung Zhao Heng, sudah sangat mengantuk hingga matanya sulit dibuka. Ia melambaikan tangan mungilnya dengan asal-asalan, lalu tertidur pulas di punggung ayahnya.

Akhirnya, Zhao Heng membuat suara siulan dengan tangannya, barulah induk dan anak serigala itu perlahan menghilang ke dalam kegelapan malam.

***

Keesokkan paginya, saat Wang chunniang pergi membeli tahu, ia melihat sekumpulan orang berkumpul di depan rumah mereka sambil membicarakan sesuatu dengan antusias.

Begitu ia keluar, orang-orang itu menatapnya dengan sekilas, lalu kembali melanjutkan obrolan mereka.

Melihat Wang chunniang berjalan, menuju penjual tahu, ibu goudan yang berada di tengah kerumunan melambai dengan semangat, "chunniang, chunniang, cepat sini dengar! Tempat tinggalmu ini, kelak akan jadi tanah yang membawa keberuntungan."

Wang chunniang sebenarnya tidak pernah tertarik dengan gosip semacam ini. Awalnya ia tidak ingin mendengarkan, namun tiba-tiba teringat bahwa informasi tentang Ah Xiang yang melahirkan tiga orang anak juga di dapatnya dari gosip ibu goudan. Karena mereka akan tinggal disini untuk waktu yang lama, ada baiknya mengetahui lebih banyak informasi.

Jadi akhirnya, ia mengubah arah langkahnya dan menghampiri kerumunan itu.

"Eh chunniang, kau masih ingat orang yang menjual rumah ini padamu dulu? "nyonya Jiang, si penjual minyak wijen, bertanya pada Wang chunniang.

Wang chunniang mengangguk," ingat, seorang wanita muda, dia juga membawa seorang anak berusia sekitar dua atau tiga tahun."

"Itu Songhua. Suami Songhua pergi masuk tentara, tapi setelah pergi tidak ada kabar lagi. Tiga tahun lalu Songhua menjual rumah ini padamu, lalu membawa anaknya pergi mencari suaminya. Dan kau tahu apa yang terjadi? Kemarin suamiku bertemu dengan kepala desa jiao, kayanya sekarang suami Songhua sudah menjadi jenderal. Bahkan tuan hakim kabupaten kita pun sudah mendengarnya. "nyonya Jiang bercerita dengan air liur muncrat kemana-mana, "chunniang, kalian tinggallah baik-baik disini, siapa tahu kelak Ah Xuan juga bisa jadi jendral."

" Ah, nyonya Jiang, ini kan rumah orang, bukan makam leluhur. Tapi, aku mewakili xuan'er mengucapkan terima kasih pada doa nyonya, "Wang chunniang tertawa renyah, lalu berbalik pergi membeli tahu.

" Eh chunniang, jangan tertawa dulu. Kau lupa dengan bibit buah berry di kebun buahmu itu? Nanti kalau kau melihatnya, kau pasti akan menangis."nyonya Jiang melihat Wang chunniang yang blak-blakan, ia menggelengkan kepala," chunniang ini terlalu ceroboh. Kalau ayah ah Xuan tidak segera bangkit, cepat atau lambat dia tidak akan bisa mempertahankan chunniang. Kulihat kepala desa jiao cukup baik kepada Wang chunniang, lagi pula dia sudah tidak punya istri.. "

Bagi Wang chunniang, apakah bibit buah berry itu bisa hidup atau tidak, ia sebenarnya juga sangat penasaran. Bagaimana pun juga, hidup di desa bergantung sepenuhnya pada hasil panen tanaman atau buah-buahan. Jika bibit buah berry itu mati, berarti kebun buah itu hampir bisa dikatakan tidak akan bisa berguna lagi.

Maka, setelah sarapan, Wang chunniang sekeluarga bergegas menuju lereng bukit setengah berlari. A Bao yang pagi ini sudah berlari sambil membawa kantong pasir, kini tertidur pulas di punggung Zhao Heng Karena kelelahan, air liur nya membasahi punggung Zhao Heng.

Saat ia bangun, mereka sudah sampai di kebun buah.

A Bao mengucek matanya, dengan setengah sadar ia bertanya pada Zhao Heng, "ayah, apa tanamannya hidup?"

Zhao Heng tidak bisa melihat, jadi ia tidak bisa menjawab pertanyaan si kecil.

"A Bao! A Bao! Hidup! Tanaman nya hidup!" di depan sana Wang chunniang sudah melompat kegirangan.

Lalu, Zhao Heng merasakan si bayi gemuk meluncur turun dari punggungnya. Dan dipandangannya yang gelap, ia tak tahu bahwa putranya yang biasa bersikap dewasa sebelum waktunya, kini juga iku melompat-lompat kegirangan bersama ibu dan adiknya.

Zhao Heng yang berdiri diam disana tampak sangat kontras dengan keriuhan itu.

"Ibu, bagaimana kalau nanti ada yang merusak bibit buah berry ini lagi?" baru melompat dua kali, Zhao Xuan sudah mulai khawatir lagi.

"tenang saja, hari ini ibu akan kembali untuk memberikan pelajaran pada orang itu. Perhitungan soal membakar kebun buah kita belum lunas." dalam Kamus hidup Wang chunniang, tidak ada kata, "menelan penghinaan."

Berita di desa menyebar secepat angin. Baru saja Wang chunniang sekeluarga sampai di rumah, kabar tentang bibit buah berry yang hidup sudah menyebar luas.

Harga jual buah berry setiap tahun tidak jauh berbeda, berkisar di angka tiga puluh keping uang tembaga per kati. Banyak keluarga yang bisa mendapatkan penghasilan lumayan hanya dengan memetik buah berry liar. Namun karena keluarga Zhao sudah berhasil membudidayakan nya, Jika nanti berhasil berbuah,maka... Jumlah dan kecepatan penjualan mereka akan jauh melebihi orang lain.

Memikirkan hal ini, banyak orang mulai merasa gelisah.

Wang chunniang masuk ke halaman sambil bersenandung riang. Ia berencana memasak hidangan besar siang ini untuk merayakan kabar gembira tersebut.

"aaaaa.." baru saja ia berjalan ke kandang ayam hendak memotong seekor ayam, ia dikejutkan oleh teriakan A Bao yang tiba-tiba.

"Nak ada apa?" tanya Wang chunniang sambil menatap si bayi gemuk yang sedang berjongkok di samping kebun sayur kecil.

"Ibu! Rumput mata harimau (Hujing Cao) sudah bertunas! Mata ayah akan segera sembuh!"

1
lin sya
aku suka karakter a bao peka trhdp tanaman dan tanah yg subur atau tdk, dan brsyukur a bao berada dkt kluarga angkat yg tulus, msih penasaran identitas a bao, 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!