"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Skenario di Balik Pintu Kamar
Bab 2: Skenario di Balik Pintu Kamar
Malam harinya, rumah mewah berlantai dua di kawasan elit itu terasa begitu sunyi. Setelah ketegangan di dapur siang tadi, Adrian benar-benar mengabaikan Hana. Janji untuk menghabiskan waktu berdua di ruang kerja atas menguap begitu saja. Adrian pulang larut dengan alasan harus menemani Ibu Broto dan teman-teman arisannya makan malam lanjutan, lalu langsung mendengkur di sisi ranjang tanpa menyentuh Hana sedikit pun.
Hana terbangun pukul lima pagi dengan tubuh yang terasa luar biasa lelah. Rasa mual yang aneh mendadak bergejolak di dadanya. Ia bergegas berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening ke dalam wastafel. Kepalanya berdenyut nyeri, dan seluruh sendi tubuhnya terasa lemas.
Apakah aku terlalu kelelahan? pikir Hana sembari membasuh wajahnya yang pucat di cermin. Kulitnya memang terlihat kusam, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Ucapan Adrian siang kemarin kembali terngiang, menyisakan rasa perih yang teramat sangat. 'Apalagi kalau penampilanmu masih bau asap seperti ini.'
Hana menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk. Ia harus kuat. Hari ini ada audit keuangan bulanan untuk Cabang Dua dan Cabang Tiga. Hana tidak boleh lengah karena dialah yang memegang seluruh sistem arus kas masuk dan keluar.
Setelah mandi dan memoleskan bedak tipis agar tidak terlihat terlalu layu, Hana turun ke lantai bawah. Di meja makan, Ibu Broto sudah duduk dengan anggun sembari menyesap teh melati. Begitu melihat Hana melangkah turun, wanita paruh baya itu langsung meletakkan cangkirnya dengan dentingan yang sengaja dikeraskan.
"Bagus ya, jam segini baru turun," sindir Ibu Broto, matanya melirik tajam ke arah Hana. "Suami mau berangkat kerja itu disiapkan sarapannya, Hana. Jangan cuma tahu beres. Kamu itu sekarang sudah jadi istri orang kaya, tapi kelakuan masih seperti anak kost yang malas bangun pagi!"
Hana menarik napas dalam, mencoba menekan egonya demi kedamaian rumah. "Maaf, Ibu. Tadi Hana agak mual di kamar mandi, jadi agak terlambat turun. Sarapan untuk Mas Adrian sudah Hana siapkan di dapur, tinggal dihangatkan."
"Mual? Halah, paling cuma alasan karena malas!" ketus Ibu Broto. "Lagipula, hari ini kamu tidak usah ke restoran. Adrian yang akan pergi sendiri membawa berkas keuangan."
Hana tersentak. "Tapi Ibu, hari ini jadwal audit keuangan bulanan. Selama ini Hana yang selalu memeriksa pembukuan bersama akuntan kita. Mas Adrian kurang paham detail potongan vendor daging di Cabang Tiga."
Tepat saat itu, Adrian turun dari tangga dengan setelan jas rapi bernuansa abu-abu gelap, terlihat sangat maskulin dan berwibawa. Bau parfum mahalnya langsung memenuhi ruangan. Ia mendengar kalimat terakhir Hana dan langsung menyela dengan nada suara yang datar, dingin, dan tanpa senyuman.
"Tidak perlu, Han. Kali ini biar aku yang pegang audisinya sendiri," ujar Adrian sembari duduk di kursi utama meja makan. Ia bahkan tidak menatap mata Hana, melainkan sibuk memeriksa ponsel pintarnya.
"Tapi, Mas—"
"Hana! Kamu tidak dengar kata suamimu?!" Ibu Broto memotong dengan bentakan melengking. "Adrian itu lulusan manajemen bisnis! Kamu itu cuma pintar masak di dapur, jangan sok tahu soal audit dan angka besar! Lagipula, Ibu lihat belakangan ini kamu terlalu dominan di restoran. Di mana-mana, laki-laki itu kepala keluarga. Malu Adrian kalau semua pegawai tahu kalau keuangan saja harus disetujui oleh istrinya dulu. Kamu mau bikin suamimu kelihatan bodoh di depan bawahannya, hah?!"
Hana mengepalkan tangannya di bawah meja. Dadanya sesak mendengarkan untaian kalimat manipulatif dari mertuanya. Ia kembali menatap Adrian, mencari pembelaan, mencari sisa-sisa pria yang dulu selalu menggenggam tangannya erat saat mereka dikejar-kejar petugas ketertiban di jalanan.
"Mas... apa kamu juga berpikir begitu?" tanya Hana, suaranya bergetar menahan tangis.
Adrian akhirnya meletakkan ponselnya, menatap Hana dengan pandangan mata yang tidak lagi hangat, melainkan penuh dengan rasa risih dan kalkulasi. "Han, apa yang dikatakan Ibu ada benarnya. Ini demi kebaikan nama baik kita juga. Akhir-akhir ini, investor dari luar mulai melirik tiga cabang kita untuk dikembangkan menjadi sistem franchise. Mereka butuh melihat aku sebagai figur tunggal yang memegang kendali penuh agar mereka percaya pada stabilitas perusahaan. Kalau kamu terus ikut campur di depan umum, struktur kepemimpinan kita terlihat tidak profesional."
Adrian menghela napas, lalu menambahkan dengan nada meremehkan yang disamarkan sebagai perhatian, "Kamu di rumah saja hari ini. Istirahat. Berbenah diri. Lihat wajahmu, pucat dan kusam begitu. Bagaimana kalau rekan bisnisku tiba-tiba datang ke restoran dan melihatmu dalam kondisi berantakan seperti ini? Aku yang tidak enak, Han."
Kata-kata itu bagai belati yang menghujam tepat di jantung Hana. Rikuh. Tidak enak. Berantakan. Itulah kata-kata yang sekarang keluar dari mulut suaminya sendiri untuk menggambarkan dirinya yang telah memberikan seluruh masa mudanya demi kesuksesan pria itu.
"Baiklah kalau itu maumu, Mas," ucap Hana lirih. Ia berbalik, berjalan kembali ke lantai atas dengan langkah kaki yang terasa begitu berat. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar tawa puas Ibu Broto dan gumaman Adrian yang kembali acuh.
Siang harinya, rumah besar itu terasa seperti penjara yang mewah bagi Hana. Tanpa aktivitas di restoran, Hana merasa kehilangan separuh dari jiwanya. Rasa mual di perutnya kembali datang, kali ini disertai pusing yang amat sangat hingga membuatnya harus berbaring di kamar.
Ketika jam menunjukkan pukul dua siang, Hana memutuskan untuk turun ke lantai bawah demi mengambil air hangat. Namun, langkah kakinya terhenti di undakan tangga tengah ketika mendengar suara Ibu Broto yang sedang berbicara serius dengan seseorang di ruang tamu.
"Pokoknya, kamu harus pastikan Adrian memegang semua dokumen legalitas itu, Yan," suara Ibu Broto terdengar berbisik namun penuh penekanan.
Hana menahan napas, menyembunyikan tubuhnya di balik pilar tangga. Di ruang tamu, ternyata Adrian sudah pulang lebih cepat dari jadwal audit, duduk berhadapan dengan ibunya dengan beberapa lembar dokumen di atas meja kaca.
"Semua sudah aman, Bu," jawab Adrian dengan nada santai, bersandar pada sofa. "Akuntan sudah memindahkan hak otorisasi rekening utama Cabang Dua dan Tiga ke atas namaku penuh. Hana tidak akan bisa mengaksesnya lagi dari laptop rumah tanpa persetujuanku."
Ibu Broto terkekeh puas. "Bagus! Begitu dong jadi laki-laki! Harus pegang kendali. Jangan mau disetir sama perempuan kampung seperti dia. Dulu waktu susah saja kita butuh resepnya, sekarang setelah punya tiga cabang besar, posisi dia harus perlahan digeser. Biarkan dia jadi ibu rumah tangga seutuhnya yang tidak punya taring. Kalau dia tidak punya uang, dia tidak akan bisa macam-macam dan akan selalu tunduk pada kita."
Adrian terdiam sejenak, menatap dokumen di tangannya. "Tapi Bu, bagaimana dengan resep inti untuk menu baru bulan depan? Para koki lama hanya mau menerima racikan bumbu langsung dari tangan Hana. Mereka sangat loyal pada Hana."
"Itu urusan gampang, Adrian! Nanti kita paksa dia menuliskan seluruh takaran dan formula resepnya di atas kertas dengan alasan demi dokumentasi perusahaan. Setelah semua resep ada di tanganmu, Hana sudah tidak ada gunanya lagi di restoran. Dia tinggal duduk manis di rumah, mengurus rumah, dan tidak usah banyak tingkah," ujar Ibu Broto dengan senyuman licik yang mengerikan.
Air mata Hana menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa hancur sekaligus amarah yang membakar dada. Pria yang tidur di sisinya setiap malam, pria yang baru saja ia beri kepatuhan mutlak, ternyata sedang menyusun strategi bersama ibunya untuk merampok seluruh jerih payahnya dari belakang. Mereka ingin menguras habis bakatnya, mengambil alih tiga cabang rumah makannya, lalu membuangnya menjadi pajangan rumah tangga yang tak berdaya.
Hana meremas dadanya yang terasa sangat ngilu. Tega kamu, Mas... Tega sekali kalian melakukan ini padaku, jerit Hana dalam hati.
Namun, sebelum Hana sempat menenangkan diri atau melangkah maju untuk melabrak mereka, rasa pusing yang teramat sangat mendadak menyerang kepalanya dengan hebat. Pandangannya berputar, ulu hatinya bergejolak hebat, dan rasa sakit yang tajam menusuk bagian bawah perutnya.
"Ah..." Hana mengerang pelan, tangannya kehilangan pegangan pada pilar tangga. Tubuhnya limbung dan langsung terjatuh, berguling ke bawah undakan tangga dengan suara dentuman yang cukup keras.
"Astaga! Suara apa itu?!" seru Ibu Broto dari ruang tamu.
Adrian segera berdiri dan berlari ke arah sumber suara. Matanya terbelalak lebar ketika melihat Hana sudah tergeletak pingsan di lantai bawah tangga, dengan wajah seputih kertas dan seuntai darah segar yang perlahan mengalir di sela-sela kakinya, menodai lantai marmer yang putih bersih.
"Hana!" teriak Adrian, mendadak panik melihat kondisi istrinya.
Di tengah kesadarannya yang perlahan menipis dan pandangan yang menggelap, Hana sempat melihat wajah panik Adrian yang mendekat. Namun di belakang Adrian, Ibu Broto hanya berdiri dengan pandangan mata yang dingin, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Bersamaan dengan kegelapan yang merenggut kesadarannya, Hana menyadari satu hal dalam kepasrahannya: badai dalam hidupnya baru saja dimulai, dan nyawanya serta rahasia besar di dalam rahimnya kini berada di ujung tanduk.