NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Namanya Anya. Dia anak dari dirman dan narti. Anya mempunyai dua saudara laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bernama aryan, dan perempuan bernama revi. Anya adalah anak bungsu dari 3 saudara. Karna tuntutan kerja dikantor pusat. Akhirnya dia ditugaskan ke tempat lain, di Kantor cabang.

"Jaga diri baik-baik ya, Nak. Jangan lupa makan teratur," ucap Narti sambil menggenggam tangan Anya.

Dirman menepuk bahu putri bungsunya. "Bapak bangga sama kau. Kerja yang baik, tapi jangan maksakan diri."

Aryan dan Revi juga ikut mengantar. Mereka berusaha menyembunyikan rasa sedih dengan candaan, agar suasana tidak semakin berat.

"Kalo pulang nanti, jangan lupa bawain oleh-oleh," kata Aryan sambil tersenyum.

Revi memeluk adiknya erat. "Kalo ada apa-apa, cerita ya. Jangan dipendam sendiri."

Anya hanya mengangguk. Ia tersenyum menanggapi ucapan keluarganya. Anya paham, selama ini dia tidak pernah pisah dengan keluarganya. Karna tuntutan kerja, akhirnya dia harus di pindahkan tempat lain.

Mobil yang jemput Anya akhirnya datang juga. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum walau hatinya sakit harus berpisah dengan keluarganya. Perjalanan menuju kos hanya sekitar 7 jam. Selama perjalanan, Anya lebih banyak terdiam sambil memandangi pemandangan di balik jendela mobil. Hamparan sawah, perbukitan, dan deretan rumah perlahan berganti menjadi jalan-jalan yang lebih ramai, lebih kota. Sesekali ponselnya berbunyi. Ternyata ibunya mengirim pesan.

"Kalo sudah sampai kabari Ibu, ya. Jangan lupa makan."

Anya tersenyum kecil. Ia membalas singkat "Iya, Bu. Nanti Anya kabarin."

Menjelang sore, mobil akhirnya memasuki kawasan tempat kantor cabang berada. Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan dengan pertokoan baru. Suasananya tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sepi.

Sopir kemudian menghentikan mobil di depan sebuah rumah kos yang sudah dipesankan oleh pihak kantor."Sudah sampai, Mbak," ucap sopir sambil membantu menurunkan koper.

Anya mengucapkan terima kasih, lalu memandangi bangunan dua lantai di hadapannya. Cat dindingnya mulai memudar, namun masih terlihat bersih dan terawat. Di halaman depan terdapat pohon mangga yang cukup besar, menaungi sebagian atap rumah.

Tak lama kemudian, seorang ibu paruh baya keluar dari dalam rumah."Kamu Anya, ya? Saya Bu Mimi , pemilik kos ini," sapanya ramah.

"Iya, Bu." Kata Anya

"Kamarmu di lantai dua, paling ujung. Semoga betah tinggal di sini." kata Bu Mimi sambil menyerahkan kunci kos."kalo butuhkan sesuatu kabari aja ya."

Anya mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia masuk ke lantai atas tempat yang di tunjuk kan Bu mimi. Tempanya lumayan. Setelah membereskan barang-barangnya, ia duduk di tepi tempat tidur. Kamar itu tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman. Ada sebuah lemari kayu, meja belajar, kipas angin, dan sebuah jendela yang menghadap ke halaman belakang. Sebelum magrib, Anya menelepon kedua orang tuanya untuk mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat.

Narti merasa sedikit lega setelah mendengar suara putri bungsunya."Yang penting jaga kesehatan ya, Nak. Kalo ada apa-apa langsung telepon."

"Iya, Bu. Di sini juga kelihatannya nyaman kok."

Malam pertama Anya tidur cukup nyenyak karena kelelahan setelah perjalanan jauh. kantor cabang menjadi awal babak baru dalam kehidupan Anya. Kota yang baru, lingkungan yang berbeda, serta rekan kerja yang belum dikenalnya membuatnya harus belajar beradaptasi. Pada hari-hari pertama, rasa rindu kepada keluarga sering datang, terutama saat malam tiba. Ia terbiasa mendengar suara ibunya memanggil dari dapur atau melihat ayahnya duduk santai di teras rumah sepulang kerja.

Namun setiap kali rasa rindu itu muncul, Anya mengingat pesan kedua orang tuanya untuk tetap semangat. Ia mulai menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Keramahan dan ketekunannya membuat rekan-rekan kerja mudah menerimanya. Sedikit demi sedikit, Anya merasa lebih nyaman di tempat barunya.

Meski terpisah jarak, hubungan mereka tidak pernah renggang. Hampir setiap malam, Anya menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan keluarganya. Mereka saling bercerita tentang kegiatan masing-masing, tertawa bersama, bahkan saling menguatkan ketika ada masalah.

Bagi Narti dan Dirman, melihat senyum Anya melalui layar ponsel sudah cukup mengobati rasa rindu. Mereka percaya bahwa suatu hari nanti semua pengorbanan ini akan membuahkan hasil yang indah. Sementara bagi Anya, sejauh apa pun ia melangkah, rumah akan selalu menjadi tempat yang ingin ia pulang.

Keesokan paginya, suara alarm ponsel membangunkan Anya tepat pukul lima. Ia membuka mata perlahan, masih sedikit asing dengan langit-langit kamar kos yang baru. Selama beberapa detik, ia terdiam sebelum akhirnya mengingat bahwa mulai hari itu ia akan bekerja di kantor cabang. Anya segera bangun, merapikan tempat tidur, lalu bersiap-siap. Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerja, ia turun ke lantai bawah.

Di halaman depan, Bu Mimi sedang menyapu halaman."Selamat pagi, Anya. Tidurnya nyenyak?" tanyanya sambil tersenyum.

"Alhamdulillah, nyenyak, Bu." kata Anya

"Mau berangkat kerja, ya?" tanya Bu mimi

"Iya, Bu. Hari ini hari pertama saya di kantor cabang."

Bu Mimi mengangguk. "Semoga lancar. Sarapan dulu, ya. Di meja ada teh hangat sama roti."

Anya tersenyum penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Bu."

Setelah sarapan, Anya berpamitan lalu berjalan menuju kantor yang letaknya tidak terlalu jauh dari kos. Udara pagi masih sejuk. Beberapa pedagang mulai buka lapak, kendaraan lalu lalang mengawali aktivitas hari itu.

Tak sampai 5 menit, Anya tiba di depan gedung kantor cabang. Bangunannya tidak sebesar kantor pusat, tapi terlihat rapi dan nyaman. Anya menarik napas pelan sebelum melangkah masuk.

Di bagian resepsionis, seorang petugas menyambut ramah."Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?"

"Selamat pagi. Saya Anya, pegawai yang dipindahkan dari kantor pusat."

"Oh baik, Mbak Anya. Silakan tunggu sebentar. Saya hubungi Pak Arif dulu."

Tak lama, seorang pria sekitar empat puluh tahun menghampiri. "Selamat pagi. Saya Arif, kepala kantor cabang."

Anya berdiri. "Selamat pagi, Pak."

"Selamat datang. Semoga betah kerja di sini ya."

"Terima kasih, Pak."

Pak Arif mengajak Anya berkeliling. Ia memperkenalkan tiap ruangan. menjelaskan tugas yang akan jadi tanggung awab Anya. Setelah itu, Pak Arif membawa Anya ke ruang kerja. "Teman-teman," panggilnya. Semua menoleh. "Mulai hari ini kita kedatangan rekan baru. Namanya Anya. Saya harap kita bisa kerja sama dengan baik."

Beberapa pegawai langsung menyambut.

"Selamat datang, Mbak Anya. Semoga betah di sini."

Anya membalas dengan senyum hangat. "Terima kasih. Mohon bimbingannya."

Di antara mereka, perhatian Anya tertuju pada seorang perempuan di meja dekat jendela. Perempuan itu menghampiri sambil tersenyum. "Hai, aku Serra," sapanya.

"Anya," balas Anya.

"Kalau ada yang belum tahu, tanya aja ya. Kebetulan meja kita bersebelahan."

"Terima kasih, Serra."

Perkenalan singkat itu bikin Anya sedikit lebih tenang. Sepanjang hari ia diisi dengan penjelasan sistem kerja, pengenalan dokumen, dan penyesuaian lingkungan baru. Meski masih banyak yang harus dipelajari, Anya mencatat semua dengan teliti.

Menjelang istirahat, Serra mengajaknya makan siang."Ayo makan. Di dekat kantor ada warung enak."

"Boleh."

Mereka ke warung sederhana yang cukup ramai. Selama makan, Serra banyak cerita tentang suasana kantor, kebiasaan pegawai, sampai tempat nongkrong di kota itu. Tanpa terasa, rasa canggung Anya perlahan hilang.

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!