NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti Untuk Anak Kembar Sang CEO

Ibu Pengganti Untuk Anak Kembar Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: bbsya

Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
​Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
​Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak di Balik Persiapan

Suara tangisan di seberang telepon itu terasa begitu nyata, begitu menyakitkan, dan sekaligus mengerikan. Setiap isakan yang terdengar bagai palu godam yang menghantam seluruh dinding ketenangan yang baru saja Alya bangun bersama Adrian.

"Mama? Mama kenapa?" tanya Leon, menarik-narik ujung kaus Alya dengan wajah cemas. Mata bulat anak itu menatap ibunya dengan penuh kebingungan melihat wajah Alya yang mendadak sekuning layang-layang.

Alya tersentak. Ia segera menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Dengan tangan gemetar, ia mengusap kepala Leon.

"L-Leon... main di kamar Lulu dulu ya, Sayang? Mama ada telepon penting sebentar," ucap Alya berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar biasa saja, meski nadanya bergetar tidak keruan.

"Tapi robot Leon—"

"Iya, nanti Mama yang masukkan ke koper Papa. Sekarang Leon ke kamar Lulu dulu ya? Tolong jaga adik," potong Alya sedikit mendesak.

Melihat ekspresi ibunya yang tidak biasa, Leon akhirnya mengangguk patuh dan berjalan keluar kamar sambil menyeret langkah kakinya yang enggan. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Alya kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Elena... kamu benar-benar Elena?" tanya Alya dengan desisan rendah yang tertahan di tenggorokan. "Bagaimana bisa... Bagaimana bisa orang mati kembali lagi?"

"Aku tidak pernah mati, Alya! Ayahku... Ayahku yang merencanakan semuanya!" sahut suara di seberang sana dengan nada berbisik yang tergesa-gesa, seolah ia sedang bersembunyi dari seseorang. "Waktu kecelakaan itu, wajahku rusak parah karena benturan kaca. Ayahku menyuap pihak rumah sakit dan kepolisian untuk menyatakan aku tewas. Dia tahu, jika aku dinyatakan hidup dengan skandal perselingkuhan yang terbongkar, nama baik Anggoro Group akan hancur dan hak asuh anak-anak akan jatuh mutlak ke tangan Adrian."

Alya memegangi keningnya yang mendadak terasa pening luar biasa. "Lalu kenapa kamu baru muncul sekarang?! Setelah empat tahun?!"

"Karena selama ini aku dikurung, Alya! Aku ditaruh di sanatorium swasta di pinggiran Jenewa di bawah pengawasan ketat anak buah Ayah," tangis Elena pecah lagi, terdengar begitu putus asa. "Setiap hari aku diberi obat-obatan penenang. Aku baru bisa kabur dua minggu lalu setelah salah satu perawat yang merasa kasihan padaku membantu memalsukan dokumen kepulanganku ke Indonesia. Aku ingin melihat Leon dan Lulu... Aku merindukan anak-anakku, Alya!"

Mendengar nama Leon dan Lulu disebut oleh wanita yang melahirkan mereka, dada Alya terasa sesak oleh rasa sakit yang ganjil. Ada rasa bersalah yang mendalam, namun juga ada rasa takut yang luar biasa. Takut jika kebahagiaan yang baru saja ia rasakan bersama anak-anak itu harus direnggut paksa.

"Di mana kamu sekarang?" tanya Alya akhirnya, mencoba bersikap rasional di tengah badai kepanikan.

"Aku di sebuah hotel kecil di kawasan Jakarta Pusat. Tapi aku yakin anak buah Ayah sudah mulai melacak keberadaanku. Ayah ingin menangkapku kembali untuk dijadikan alat di pengadilan besok! Dia ingin menunjukkanku di depan hakim untuk membatalkan semua tuntutan Adrian dan merebut anak-anak!" jelas Elena cepat, napasnya terdengar memburu. "Alya, tolong aku. Jangan beri tahu Adrian dulu. Aku mohon..."

"Kenapa aku tidak boleh memberi tahu suamiku?!" cecar Alya menuntut penjelasan.

"Karena Adrian sangat membenciku! Jika dia tahu aku masih hidup, dia mungkin tidak akan membiarkanku mendekati anak-anak selamanya! Tolong, Alya... temui aku dulu sendirian. Aku hanya ingin bicara denganmu. Bagaimanapun juga, kamu adalah wanita yang menyelamatkan nyawa anak-anakku malam itu. Aku tahu kamu memiliki hati yang baik."

Alya terdiam. Pikirannya berperang dengan hebat. Logikanya berteriak agar ia segera menghubungi Adrian atau Malik, namun naluri kemanusiaannya—dan sisa ingatan bahwa Elena adalah ibu kandung dari anak-anak yang kini ia sayangi—membuatnya ragu.

"Baik," ucap Alya lirih. "Kirimkan alamat hotelnya padaku. Aku akan datang."

"Terima kasih, Alya... Terima kasih banyak..."

Sambungan telepon terputus. Detik berikutnya, sebuah pesan singkat berisi alamat sebuah hotel melati di kawasan Menteng masuk ke ponsel Alya.

Alya tidak langsung pergi. Ia berdiri di tengah kamar selama beberapa menit, menatap pantulan dirinya di cermin lemari pakaian. Ia tahu tindakan ini sangat berisiko. Ia baru saja berjanji pada Adrian untuk saling percaya dan tidak menyembunyikan apa pun, namun ia juga tahu bahwa jika Adrian mengetahui hal ini secara mendadak, amarah pria itu bisa memicu kekacauan besar yang justru akan membahayakan rencana pernikahan mereka di Bali.

"Bik Sum," panggil Alya saat turun ke lantai bawah.

"Iya, Nyonya?" sahut Bik Sum yang sedang merapikan ruang makan.

"Saya ada keperluan mendesak keluar sebentar. Tolong jaga anak-anak ya. Jika Adrian pulang sebelum saya kembali, katakan saja saya sedang pergi ke butik untuk memeriksa detail akhir gaun," bohong Alya, hatinya terasa sangat berat saat harus mengucapkan kebohongan itu.

"Baik, Nyonya. Hati-hati di jalan."

Dengan menggunakan taksi daring, Alya menuju ke alamat yang dikirimkan oleh Elena. Sepanjang jalan, jantungnya berdegup kencang bagai tabuhan drum. Tangannya terus mengepal erat di atas pangkuan.

Hotel yang dituju adalah sebuah bangunan tua berlantai tiga yang tampak agak kusam di sudut jalan sempit Menteng. Alya melangkah masuk dengan kacamata hitam dan syal yang menutupi sebagian wajahnya, mencoba menghindari perhatian orang sekitar.

Ia menaiki tangga manual menuju lantai dua dan berhenti di depan kamar nomor 204. Dengan tangan gemetar, Alya mengetuk pintu kayu yang catnya sudah mulai mengelupas itu.

Tok... Tok... Tok...

Keheningan sempat merayap beberapa detik sebelum pintu perlahan terbuka.

Alya menahan napasnya. Wanita yang berdiri di ambang pintu itu mengenakan sweater rajut longgar berwarna abu-abu dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai berantakan. Wajahnya... sebagian sisi kanan wajahnya dihiasi oleh bekas luka parut yang cukup panjang dari pelipis hingga ke rahang, sisa dari kecelakaan mengerikan empat tahun lalu. Namun, sisa-sisa garis kecantikan seorang Elena Anggoro masih terlihat jelas di sisi kiri wajahnya.

"Alya..." bisik Elena, matanya yang sembap langsung berkaca-kaca begitu melihat sosok wanita yang berdiri di depannya.

"Elena..." sahut Alya, suaranya nyaris tidak keluar.

Elena segera menarik tangan Alya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan rapat. Ruangan hotel itu sangat sederhana, hanya berisi satu ranjang single, sebuah televisi tabung tua, dan beberapa botol air mineral di atas meja kecil.

"Terima kasih sudah mau datang," ucap Elena, menuntun Alya untuk duduk di satu-satunya kursi kayu di ruangan itu, sementara ia sendiri duduk di tepi ranjang. "Aku tahu ini sangat gila bagimu."

"Kenapa kamu melakukan ini, Elena?" tanya Alya langsung pada intinya, matanya menatap bekas luka di wajah wanita itu dengan rasa iba yang tidak bisa ia sembunyikan. "Jika kamu merindukan anak-anakmu, kenapa kamu harus menyembunyikannya dari Adrian? Dia berhak tahu bahwa ibu dari anak-anaknya masih hidup."

Elena tersenyum getir, menyeka air mata yang mulai meleleh di pipinya. "Kamu tidak tahu bagaimana dinginnya Adrian jika sudah membenci seseorang, Alya. Bagi Adrian, aku adalah wanita yang telah mengkhianatinya, mempermalukannya di depan publik, dan hampir membunuh anak-anaknya karena kebodohanku malam itu. Jika dia tahu aku masih hidup, dia pasti akan menjauhkan Leon dan Lulu ke ujung dunia agar aku tidak bisa melihat mereka lagi."

"Tapi melarikan diri dan bersembunyi seperti ini juga bukan solusi!" tegas Alya, suaranya naik satu oktav. "Tuan Anggoro sedang mengincar pilar-pilar bisnis Adrian menggunakan namamu! Jika kamu muncul secara tiba-tiba di depan publik, itu hanya akan memicu perang baru yang lebih mengerikan!"

"Aku tahu! Karena itu aku menemuimu!" Elena tiba-tiba berlutut di depan Alya, menggenggam kedua tangan Alya dengan sangat erat, memohon dengan tatapan yang penuh keputusasaan. "Alya, aku tidak ingin merusak pernikahanmu dengan Adrian. Aku juga tidak ingin merebut hak asuh anak-anak dari kalian. Aku tahu aku bukan ibu yang baik... aku hampir membunuh mereka malam itu karena keegoisanku."

Napas Elena tersengal-sengal oleh tangisnya sendiri. "Aku hanya ingin satu hal... izinkan aku melihat mereka dari jauh. Izinkan aku memeluk mereka sekali saja sebelum aku pergi jauh dari Indonesia untuk selamanya. Aku mohon, Alya... hanya sekali saja."

Melihat penderitaan dan penyesalan yang begitu nyata dari wanita di hadapannya, pertahanan hati Alya runtuh. Di balik semua kesalahan masa lalu Elena, wanita ini tetaplah seorang ibu yang merindukan belahan jiwanya. Jiwa keibuan di dalam diri Alya tidak tega untuk menolak permohonan yang begitu tulus itu.

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Elena?" tanya Alya pelan, air matanya sendiri mulai menetes. "Bagaimana jika ini hanya taktik pamanmu atau pamanmu... maksud saya, Tuan Anggoro, untuk menjebak kami?"

"Demi Tuhan, Alya, aku tidak bekerja sama dengan Ayah!" seru Elena histeris. "Ayahku adalah monster! Dia yang mengurungku di Swiss selama empat tahun ini agar aku tidak bisa bersaksi atau merusak reputasi perusahaannya! Aku membencinya lebih dari apa pun di dunia ini!"

Sebelum Alya sempat menjawab, terdengar suara keributan dari arah luar koridor hotel. Suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar mendekat ke arah kamar 204.

"Sial! Mereka sudah menemukan tempat ini!" bisik Elena panik, wajahnya berubah pucat pasi. Ia langsung berdiri dan menarik Alya menjauh dari pintu.

BRAAAKK!!!

Pintu kamar hotel itu didobrak kasar dari luar. Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam langsung merangsek masuk, disusul oleh sesosok wanita yang sangat familier dengan senyum sinisnya yang mengerikan.

Tiffany Anggoro.

"Wah, wah... lihat reuni mengharukan dua ibu di kamar hotel kumuh ini," cibir Tiffany, melangkah masuk dengan santai sambil menepuk-nepuk debu dari gaun mahalnya. "Sepupuku tercinta, Elena... kamu benar-benar merepotkan karena harus kabur dari Swiss. Dan kamu, Alya... terima kasih karena sudah membantu kami melacak keberadaan sepupuku ini dengan sangat mudah."

Alya langsung berdiri di depan Elena, mencoba melindungi wanita itu di belakang punggungnya. "Tiffany! Apa yang kamu lakukan di sini?!"

"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk memenangkan permainan, Nyonya Vasillo," sahut Tiffany dingin, matanya beralih menatap Elena yang menggigil ketakutan di belakang Alya. "Elena, Ayah sudah sangat merindukanmu. Pengadilan besok akan sangat membutuhkan kehadiranmu sebagai saksi kunci untuk merebut Leon dan Lulu kembali ke pangkuan Keluarga Anggoro. Mari kita pulang."

"Tidak! Aku tidak mau kembali pada Ayah!" teriak Elena histeris, mencengkeram erat bahu Alya.

"Bawa mereka berdua," perintah Tiffany dingin kepada kedua pengawalnya. "Kita tidak boleh membiarkan Adrian tahu tentang hal ini sampai sidang besok dimulai."

Salah satu pengawal bertubuh tegap langsung maju, meraih lengan Alya dengan kasar. Alya mencoba memberontak, namun tenaga pria itu jauh lebih kuat. Di tengah kepanikan dan jeritan Elena yang membumbung di dalam kamar sempit itu, Alya hanya bisa meraba saku celananya secara diam-diam, mencoba menekan tombol panggil cepat di ponselnya yang mengarah langsung ke satu nama: Adrian.

1
Rian Moontero
mampiiirr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!