Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dengan napas yang tersendat dan tubuh yang masih bergetar, Alya akhirnya tak punya pilihan selain duduk di dalam mobil itu. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutuskan dirinya dari jalanan yang sunyi. Melalui kaca jendela, lampu-lampu kota tampak samar, menciptakan bayangan dingin di tengah malam yang kelam.
Keheningan memenuhi kabin. Hanya suara tarikan napas yang tidak teratur terdengar, seolah menjadi satu-satunya bukti bahwa keduanya masih berusaha menenangkan diri. Alya menunduk, sementara jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan.
Di sisi lain, pria itu menatapnya tanpa berkedip. Sorot matanya yang biasanya tegas kini dipenuhi kegelisahan. Kedua matanya memerah, menyimpan kecemasan dan ketakutan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tetapi bibirnya seakan kelu. Untuk sesaat, ia hanya bisa memandang Alya, seolah takut kehilangan dirinya jika lengah sedetik saja.
"Tolong aku..." suaranya nyaris tak terdengar, serak dan penuh tekanan, seakan ada beban besar yang sedang dipikulnya.
"Jangan dekati aku! Lepaskan sekarang juga!" pekik Alya dengan napas memburu. Ia terus meronta, kedua tangannya memukul dan mendorong pria itu sekuat tenaga.
Namun pria tersebut tetap berdiri tegak. Tubuhnya hanya sedikit bergeser meski menerima hantaman bertubi-tubi. Wajahnya terlihat tegang, rahangnya mengeras, sementara sorot matanya menyimpan gejolak yang sulit dijelaskan.
Seakan ada pertarungan hebat yang sedang berlangsung di dalam dirinya antara suara hati yang masih mencoba bertahan dan dorongan lain yang terus mendesaknya ke arah yang lebih kelam.
Saat Alya kembali mengangkat tangannya untuk menyerang, pria itu bereaksi tanpa berpikir. Dalam sekejap, ia menepis dan mendorong Alya menjauh dengan gerakan kasar yang tampak lahir dari luapan emosi yang sulit dikendalikan.
Alya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke samping dan jatuh membentur sisi kursi mobil. Bahunya menghantam sandaran pintu dengan cukup keras hingga menimbulkan rasa nyeri yang menjalar seketika.
Untuk beberapa detik, suasana di dalam mobil membeku. Alya menatap pria itu dengan napas tercekat, sementara pria tersebut tampak terdiam, seolah baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.
Napas Alya seolah terhenti. Tubuhnya membeku, tidak mampu bereaksi ketika pandangan mereka saling bertaut dalam ketegangan yang mencekam.
Tanpa peringatan, pria itu bertindak di luar kendali. Ia menarik Alya mendekat secara paksa, mengabaikan penolakan dan ketakutan yang terlihat jelas di wajahnya.
Dalam keadaan kacau dan dikuasai emosi, pria itu melepaskan kancing-kancing kemejanya dengan tergesa-gesa. Tangannya kemudian meraih pakaian Alya, membuat gadis itu semakin panik dan berusaha menjauh.
Alya hanya bisa menatapnya dengan mata penuh ketakutan, sementara suasana di dalam mobil terasa semakin menyesakkan.
Ciuman itu tak kunjung berhenti. Pria tersebut terus menekan Alya tanpa memberinya kesempatan untuk menjauh atau mengatur napas. Alya mulai kehabisan udara, dadanya naik turun dengan cepat.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia memukul dada pria itu berulang kali, berharap tindakannya bisa menyadarkan lelaki tersebut. Namun usahanya seolah tidak berarti.
Sesaat pria itu memutuskan kontak di antara mereka, tetapi hanya untuk menarik Alya lebih jauh ke kursi mobil. Tubuh Alya terdorong hingga berbaring, sementara pria itu masih dikuasai gejolak emosi yang semakin sulit dikendalikan.
Alya menoleh, berusaha menghindar dan mencari ruang untuk melepaskan diri, tetapi suasana di dalam mobil terasa semakin menekan dan mencekam.
Air mata perlahan mengalir di pipi Alya. Dadanya terasa sesak oleh rasa takut, kecewa, dan kebingungan yang bercampur menjadi satu. Jantungnya berdegup begitu keras hingga seolah ingin keluar dari rongga dada.
Di detik itu, dunia yang selama ini dikenalnya terasa runtuh. Harapan yang selama ini ia genggam seakan hancur dalam sekejap, meninggalkan kehampaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Alya memejamkan mata rapat, berusaha menahan tangis yang semakin tak terbendung. Tubuhnya gemetar, sementara perasaannya tenggelam dalam luka yang terasa begitu dalam.
"Tolong..." jerit hatinya dalam diam. "Siapa saja... bantu aku..."
Doa itu hanya bergema di dalam benaknya, begitu lemah hingga nyaris tenggelam di tengah ketakutan yang menguasainya.
Sementara itu, pria di hadapannya bergerak dengan lambat namun pasti. Tatapannya sulit dibaca, membuat Alya semakin diliputi kecemasan. Satu per satu lapisan pakaian yang masih melekat pada tubuh mereka terlepas, meninggalkan suasana yang terasa semakin menyesakkan.
Alya memalingkan wajahnya. Air mata terus mengalir tanpa henti, sementara perasaannya dipenuhi ketakutan dan keputusasaan yang semakin dalam. Ia hanya bisa berharap ada sesuatu yang menghentikan semua ini sebelum segalanya terlambat.
"Tolong..." jerit hatinya dalam diam. "Siapa saja... bantu aku..."
Doa itu hanya bergema di dalam benaknya, begitu lemah hingga nyaris tenggelam di tengah ketakutan yang menguasainya.
Sementara itu, pria di hadapannya bergerak dengan lambat namun pasti. Tatapannya sulit dibaca, membuat Alya semakin diliputi kecemasan. Satu per satu lapisan pakaian yang masih melekat pada tubuh mereka terlepas, meninggalkan suasana yang terasa semakin menyesakkan.
Alya memalingkan wajahnya. Air mata terus mengalir tanpa henti, sementara perasaannya dipenuhi ketakutan dan keputusasaan yang semakin dalam. Ia hanya bisa berharap ada sesuatu yang menghentikan semua ini sebelum segalanya terlambat.
Tanpa mengucapkan apa pun, pria itu bertindak mengikuti gejolak emosi yang telah lama membuncah di dalam dirinya. Dalam satu gerakan yang tegas dan sulit dihentikan, jarak di antara mereka lenyap begitu saja.
Tubuh Alya bergetar hebat. Ia membeku di tempatnya, seolah kehilangan kemampuan untuk melawan maupun bersuara. Pandangannya kosong menatap langit-langit mobil, sementara pikirannya dipenuhi kekacauan yang tak mampu ia pahami.
Rasa nyeri bercampur dengan keterpaksaan dan ketakutan yang menyesakkan dada. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa hancur perlahan, meninggalkan luka yang begitu dalam hingga kata-kata pun tak sanggup menggambarkannya.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa remuk seketika, seperti benteng yang selama ini berdiri kokoh namun runtuh akibat hantaman yang tak mampu ditahannya lagi.
Alya hanya terdiam. Tak ada tenaga untuk melawan, tak ada kata yang sanggup keluar dari bibirnya. Air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi wajahnya dan membawa serta kepedihan yang terasa begitu dalam. Setiap tetesnya seolah menjadi saksi atas luka yang perlahan mengoyak hatinya.
"Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?" bisiknya dalam hati, suaranya tenggelam di antara isak yang berusaha ditahannya.
"Apa salahku sampai hidup terasa begitu kejam?" pikirnya dengan dada yang semakin sesak. "Mengapa begitu banyak orang memilih menyakiti daripada memahami? Mengapa setiap langkah yang kuambil selalu berujung pada luka?"
Air mata kembali mengalir saat pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepalanya. Namun tak satu pun memberikan jawaban, hanya meninggalkan rasa hampa dan kesedihan yang semakin dalam.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benak Alya, tak henti-hentinya menghantui pikirannya. Di sela isak yang tertahan, air matanya mengalir tanpa jeda, membasahi pipi yang sudah pucat oleh rasa takut dan putus asa.
Sementara itu, pria tersebut seolah tenggelam dalam gejolak emosinya sendiri. Ia tampak mengabaikan tangisan yang terdengar lirih maupun luka batin yang semakin dalam terukir di hati Alya. Bagi Alya, setiap detik yang berlalu terasa begitu panjang, dipenuhi rasa sakit dan kehancuran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Setiap detik yang berlalu terasa begitu menyiksa, seakan menjadi beban yang terus menekan tubuh dan batinnya sekaligus. Alya mengepalkan tangan dan menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha bertahan di tengah rasa perih yang semakin sulit ditahannya.
Namun sekeras apa pun ia mencoba tegar, batas kemampuannya perlahan runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali jatuh, sementara seluruh pertahanannya seolah hancur sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, ia tak lagi memiliki tenaga untuk melawan rasa sakit dan keputusasaan yang menguasai dirinya.
"Berhenti... tolong..." suaranya hanya berupa bisikan rapuh yang nyaris tenggelam sebelum sempat terdengar.
Namun tak ada jawaban. Tak ada tangan yang datang menolong. Tak ada siapa pun yang menghentikan semua itu.
Ketika semuanya berakhir, keheningan yang tersisa terasa jauh lebih menyakitkan daripada keributan sebelumnya. Alya terbaring tanpa bergerak, tubuhnya terasa berat dan kehilangan tenaga. Pandangannya kosong menembus kaca mobil yang mulai tertutup embun, seolah jiwanya masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Ia bahkan tak mampu menangis lagi. Air matanya seakan telah habis bersama harapan dan rasa aman yang selama ini diyakininya. Tubuhnya terasa dingin, sementara pakaian yang kusut dan rasa nyeri yang tertinggal hanyalah bagian kecil dari luka yang harus ditanggungnya.
Karena yang paling menyakitkan bukanlah apa yang tampak dari luar, melainkan retakan yang terbentuk jauh di dalam hatinya. Luka itu tak terlihat oleh mata, tetapi meninggalkan bekas yang terasa hingga ke relung jiwanya yang paling dalam.
"Masih adakah alasan untuk aku terus melangkah?" batinnya lirih.
Ia ingin menjerit sekuat tenaga, meluapkan seluruh rasa sakit dan ketidakadilan yang menyesakkan dadanya. Namun yang keluar hanyalah napas yang tersendat-sendat. Perasaannya terasa hancur, seolah harga dirinya telah diremukkan tanpa sisa. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa kejamnya dunia bisa memperlakukan seseorang.
Di sisi lain, pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Matanya terpejam, napasnya terdengar berat namun perlahan mulai teratur. Bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka, sementara celana panjang yang telah dikenakannya kembali menutupi tubuhnya yang pucat.
Wajahnya tampak tenang. Terlalu tenang. Seolah tidak ada peristiwa yang baru saja mengubah hidup seseorang. Tak lama kemudian, kesadarannya tenggelam dalam tidur, meninggalkan Alya sendirian dengan luka dan kehampaan yang masih bergema di dalam dirinya.
Di sampingnya, Alya duduk membisu dengan tatapan yang kehilangan arah. Matanya tampak basah, menahan air mata yang terus menggenang. Di dalam dadanya, amarah dan kepedihan bergejolak, meninggalkan luka yang terasa begitu dalam dan sulit dihapus.
Pria yang berada di dekatnya memiliki penampilan yang nyaris sempurna. Tubuhnya tinggi dan proporsional, dengan kulit yang cerah serta wajah yang tegas. Garis hidungnya tampak lurus, alisnya terbentuk rapi, dan bulu matanya yang lentik semakin mempertegas parasnya yang menawan.
Bagi orang lain, ia mungkin terlihat seperti sosok yang dikagumi banyak orang. Namun di mata Alya, semua kesempurnaan itu terasa kosong. Penampilan yang memikat tak mampu menghapus bayangan pahit yang kini memenuhi pikirannya.
Namun bagi Alya, semua kelebihan itu tidak memiliki arti sedikit pun. Yang terlihat olehnya hanyalah sosok yang telah meninggalkan luka mendalam dalam hidupnya. Sosok yang membuat rasa aman dan kepercayaannya hancur dalam satu malam.
Dengan tangan yang masih bergetar, Alya merapikan pakaiannya yang kusut dan robek. Setiap sobekan pada kain itu seakan menjadi pengingat bisu atas peristiwa yang ingin dilupakannya, tetapi terus menghantui pikirannya.
Ia menarik napas panjang yang terasa berat, lalu meraih gagang pintu mobil. Dengan gerakan perlahan, ia membukanya dan melangkah keluar. Kakinya terasa lemah, hampir kehilangan keseimbangan, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk berjalan.
Tubuh Alya merosot perlahan hingga terduduk di tanah. Punggungnya bersandar pada badan mobil yang dingin, sementara seluruh tenaganya seolah telah terkuras habis. Air mata mengalir tanpa henti di pipinya, jatuh dalam diam tanpa suara tangis yang keras. Hanya sesekali terdengar isak tertahan yang membuat dadanya terasa semakin sesak.
Segalanya terasa begitu berat. Malam yang sunyi seakan menelan dirinya seorang diri, sementara beban di hatinya terasa semakin menekan dari waktu ke waktu. Ia menundukkan kepala, berusaha mengatur napas yang masih bergetar.
Lalu, di tengah kekacauan pikirannya, sebuah ingatan tiba-tiba muncul. Sesuatu yang hampir terlupakan.
Kantong belanjaan.
Matanya berkedip pelan. Benda itu kembali terlintas di benaknya, membawa kesadaran yang perlahan menariknya keluar dari lamunan dan kepedihan yang sejak tadi menguasai dirinya.
Dengan tenaga yang tersisa, Alya memaksa dirinya untuk bangkit. Kakinya terasa berat saat melangkah perlahan menyusuri jalan yang tadi dilewatinya. Malam masih sunyi, hanya ditemani angin dingin dan cahaya redup yang menerangi sebagian jalan.
Di tengah debu dan barang-barang yang tercecer, pandangannya tertuju pada beberapa bungkus mi instan yang berserakan di tanah. Ia terdiam sesaat sebelum berjongkok dengan susah payah.
Satu demi satu benda itu dipungutnya. Jemarinya masih bergetar, sementara air mata yang belum mengering terus membasahi wajahnya. Meski pandangannya kabur, ia tetap mengumpulkan semuanya dengan hati-hati, seolah berpegang pada satu-satunya hal yang masih bisa dilakukannya di tengah kekacauan yang baru saja menghantam hidupnya.
Alya terus melangkah menjauhi mobil itu, meninggalkan sosok yang masih terdiam di dalamnya. Ia tidak tahu apakah pria itu benar-benar tertidur atau sekadar memilih mengabaikan semua yang telah terjadi. Yang pasti, Alya tidak ingin menoleh lagi.
Langkahnya terasa berat dan tidak stabil. Tubuhnya bergerak seperti mengikuti naluri semata, sementara pikirannya masih terombang-ambing oleh kejadian yang baru saja dilaluinya. Setiap langkah terasa asing, seakan ia berjalan tanpa benar-benar mengetahui tujuan yang hendak dituju.
Angin malam berembus dingin, menyentuh kulitnya yang menggigil. Namun hawa itu tak seberapa dibandingkan dengan kehampaan yang memenuhi hatinya. Ada rasa dingin yang jauh lebih dalam, yang tak berasal dari udara, melainkan dari luka yang terus menganga di dalam dirinya.
Jalan yang dilaluinya tampak lengang dan nyaris tanpa kehidupan. Hanya suara langkahnya yang terdengar pelan, bercampur dengan napas yang sesekali bergetar. Cahaya begitu minim, membuat jalanan di depannya tampak samar dan sepi, seolah malam menelan segala sesuatu ke dalam kesunyian yang panjang.
Tak ada siapa pun di jalan itu. Hanya Alya yang berjalan seorang diri, ditemani kepedihan yang masih membebani setiap langkahnya. Dunia di sekelilingnya terasa begitu jauh, seolah terpisah oleh dinding kesunyian yang tak kasatmata.
Beberapa saat kemudian, ia tiba di ujung sebuah gang sempit yang diapit deretan rumah penduduk. Biasanya, tempat itu dipenuhi suara kehidupan tawa anak-anak yang bermain, obrolan para tetangga, atau aroma masakan yang menguar dari dapur-dapur sederhana.
Namun malam ini semuanya terasa berbeda. Gang itu tampak lengang, nyaris tanpa suara. Jendela-jendela tertutup rapat, sementara lampu-lampu rumah memancarkan cahaya redup yang membuat suasana semakin muram.
Alya melangkah perlahan di tengah keheningan tersebut. Rasanya seolah malam ikut menahan napas, membiarkan kesedihan yang selama ini tertahan menemukan ruang untuk hadir tanpa gangguan. Di bawah langit yang gelap, ia berjalan membawa beban yang tak terlihat, tetapi terasa begitu berat di dalam hatinya.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa begitu panjang, Alya akhirnya tiba di depan rumah sederhana yang telah lama menjadi tempatnya pulang. Dengan gerakan pelan, ia mendorong pintu kayu yang sudah lapuk dimakan usia.
Pintu itu mengeluarkan bunyi berderit pelan saat terbuka, memecah keheningan malam yang menyelimuti sekelilingnya. Ruangan di dalam tampak remang-remang dan sunyi, seolah ikut merasakan beban yang dibawanya pulang.
Alya melangkah masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tenaga yang tersisa seakan habis saat kakinya melewati ambang pintu. Ia kemudian membiarkan tubuhnya merosot ke salah satu sudut ruangan, bersandar lemah pada dinding yang dingin.
Di sana, ia hanya terdiam. Tak ada tangis yang meledak, tak ada keluhan yang terucap. Hanya kelelahan, kesedihan, dan kehampaan yang memenuhi setiap sudut hatinya.
Di sudut ruangan yang remang dan nyaris tak tersentuh cahaya, Alya meringkuk sendirian. Kedua lututnya ditarik ke dada, sementara tubuhnya bergetar pelan di tengah kesunyian yang menyesakkan.
Pertahanan yang selama ini berusaha dipertahankannya akhirnya runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahan mengalir semakin deras, diiringi isak tangis yang tak lagi mampu dibendung. Suara tangis itu memenuhi ruangan kecil tersebut, menjadi saksi dari luka yang tak sanggup lagi disembunyikannya.
Alya menundukkan kepala dan melingkarkan kedua lengannya erat-erat di tubuhnya sendiri. Seolah dengan cara itu ia bisa menemukan sedikit kehangatan dan rasa aman yang telah hilang. Dalam kesendiriannya, pelukan itu menjadi satu-satunya tempat berlindung yang masih dimilikinya, ketika dunia terasa begitu jauh dan tak lagi ramah.
"Mengapa hidupku selalu seperti ini?" batinnya lirih di sela tangis yang tak kunjung reda.
"Sampai kapan aku harus terus menanggung semua rasa sakit ini?"
Alya memejamkan mata, sementara kenangan-kenangan lama kembali bermunculan satu per satu. Hidup seolah tak pernah benar-benar memberinya kesempatan untuk bernapas dengan tenang. Setiap kali ia mencoba bangkit, selalu ada luka baru yang datang menghampiri.
Ia datang ke kota ini bukan untuk mengejar kemewahan atau menggapai cita-cita yang tinggi. Kepergiannya lebih menyerupai pelarian dari tempat yang seharusnya menjadi rumah. Tempat yang seharusnya menghadirkan rasa aman, tetapi justru menyisakan ketakutan dan kesedihan.
Sejak kecil, ia tumbuh di tengah perlakuan yang membuatnya merasa tidak berharga. Kata-kata kasar, tuntutan yang tak pernah ada habisnya, dan hari-hari yang dijalani tanpa kehangatan membuatnya terbiasa memikul beban sendirian.
Dalam kesunyian malam yang pekat, Alya membiarkan dirinya larut dalam tangis yang tak kunjung usai. Ia menangisi begitu banyak hal kehilangan yang tak pernah ia minta, kenangan pahit yang terus membayangi langkahnya, dan masa depan yang kini terasa kabur di hadapannya.
Isaknya masih bergetar dari waktu ke waktu. Tubuhnya meringkuk semakin rapat, kedua lengannya memeluk lutut dengan erat seolah berusaha menahan seluruh kepedihan agar tidak meluap dan menghancurkannya lebih jauh.
Perutnya sebenarnya telah lama kosong. Sesekali terdengar bunyi lirih dari rasa lapar yang meminta perhatian. Namun saat itu, kebutuhan tersebut terasa begitu jauh. Luka yang memenuhi hatinya jauh lebih mendominasi dibandingkan rasa lapar yang menggerogoti tubuhnya.
Bungkusan mi instan yang susah payah dikumpulkannya hanya tergeletak di sudut ruangan tanpa tersentuh. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk sekadar memandangnya.
Sedikit demi sedikit, segala sesuatu di sekelilingnya terasa semakin jauh dan samar. Ruangan kecil itu tenggelam dalam keheningan yang dingin, sementara air mata terus mengalir di wajahnya yang kusam oleh debu dan kelelahan.
Dadanya terasa begitu sesak. Setiap tarikan napas seperti harus diperjuangkan, seolah beban yang dipikul hatinya telah memenuhi seluruh ruang di dalam dirinya. Ia hanya bisa menunduk, membiarkan malam memeluk kesedihannya yang tak berkesudahan.
Sedikit demi sedikit, tangis Alya mereda. Bukan karena rasa sakitnya berkurang, melainkan karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah untuk terus bertahan. Kelopak matanya terasa semakin berat, sementara kesadarannya perlahan memudar di tengah keheningan malam.
Sedikit demi sedikit, tangis Alya mereda. Bukan karena rasa sakitnya berkurang, melainkan karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah untuk terus bertahan. Kelopak matanya terasa semakin berat, sementara kesadarannya perlahan memudar di tengah keheningan malam.
Pada akhirnya, rasa lelah mengambil alih segalanya. Alya tertidur bukan karena menemukan ketenangan, melainkan karena tubuhnya tak lagi sanggup menanggung beban yang menghimpitnya sejak tadi.
Ia terlelap dalam posisi yang sama, duduk meringkuk di sudut ruangan sempit itu dengan kedua lengan masih melingkari lututnya. Cahaya yang redup dan dinding-dinding tua di sekelilingnya membuat tempat itu terasa semakin sunyi.
Di luar, angin malam berembus pelan, menimbulkan suara lirih yang sesekali menyelinap melalui celah-celah bangunan. Hanya suara itulah yang menemaninya saat ia tenggelam ke dalam tidur yang gelisah, membawa serta bayang-bayang ketakutan dan kenangan yang belum sempat ia lepaskan.
*****
Di belahan kota yang lain, saat malam semakin larut dan sebagian besar orang telah terbuai dalam tidur, sebuah rumah besar masih berdiri megah di bawah cahaya lampu yang terang.
Bangunan itu memancarkan kemewahan dari setiap sudutnya. Lantai marmer yang berkilau memantulkan cahaya dengan sempurna, sementara lampu kristal berukuran besar menggantung anggun di tengah ruangan, menghadirkan kesan elegan dan berkelas. Perabotan mahal tertata rapi, memperlihatkan selera tinggi pemiliknya.
Namun, di balik kemegahan dan kemewahan rumah itu, tersimpan kegelisahan yang tak mudah disembunyikan. Seorang wanita paruh baya tampak berjalan bolak-balik di ruang keluarga dengan langkah yang gelisah.
Usianya mungkin telah melewati setengah abad, tetapi pesonanya masih terlihat jelas. Wajahnya terawat dengan baik, sikapnya anggun, dan pembawaannya memancarkan wibawa yang membuatnya tampak berkelas. Setiap gerakannya menunjukkan sosok yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang nyaman dan terpandang.
Akan tetapi, malam itu semua ketenangan yang biasanya melekat padanya seakan menghilang. Kerutan tipis di dahinya dan tatapan yang terus mengarah ke pintu utama memperlihatkan kecemasan yang semakin sulit ia sembunyikan. Sesekali ia menghela napas panjang, seolah berusaha menenangkan pikirannya sendiri, tetapi kegelisahan itu terus kembali menghantuinya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya pria yang duduk di sofa itu sambil memperhatikan istrinya dengan seksama. "Sejak tadi kamu tidak bisa diam."
Sorot matanya dipenuhi kekhawatiran. Ia telah beberapa kali melihat sang istri berjalan bolak-balik di ruangan yang sama, seolah sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Pria itu adalah Zayan Wirajaya, sosok yang dikenal luas sebagai pengusaha sukses dan pemimpin sebuah perusahaan besar. Ketegasan serta wibawanya membuat namanya disegani banyak orang. Namun di hadapan keluarganya, ia hanyalah seorang suami yang sedang mencemaskan keadaan istrinya.
Mendengar pertanyaan itu, wanita tersebut menghentikan langkahnya. Ia menarik napas pelan sebelum mengalihkan pandangan ke arah suaminya. Ada keraguan dan kegelisahan yang masih jelas terlihat di wajahnya, seakan ada sesuatu yang terus membebani pikirannya sejak tadi malam.
"Mas, Arkan masih belum pulang juga." ujar wanita itu dengan suara pelan. Meski berusaha terdengar tenang, nada cemas yang terselip di setiap katanya begitu jelas terdengar.
Wanita itu adalah Salsabila Wirajaya. Di mata banyak orang, ia dikenal sebagai istri seorang pengusaha ternama yang hidup dalam kemewahan. Namun malam itu, semua status dan kemewahan tersebut seolah tidak berarti. Ia hanya seorang ibu yang sedang diliputi kekhawatiran terhadap anaknya.
Jarum jam di dinding terus bergerak, menunjukkan waktu yang semakin mendekati dini hari. Rumah besar yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Setiap menit yang berlalu membuat kegelisahan di hati Salsabila semakin bertambah.
Tak ada satu pun pesan yang masuk. Telepon yang berkali-kali dicoba juga tidak pernah tersambung. Setiap usaha untuk menghubungi putra mereka berakhir dengan kesunyian yang sama, membuat kegelisahan di hati Salsabila semakin sulit dikendalikan.
Berbagai kemungkinan mulai bermunculan di benaknya. Semakin ia berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk itu, semakin kuat bayangan tersebut menghantuinya. Sebagai seorang ibu, hatinya tidak bisa berhenti merasa khawatir.
Di tengah rumah yang dipenuhi cahaya dan kemewahan, suasana justru terasa mencekam. Tidak ada percakapan yang benar-benar mampu mengusir kecemasan yang menggantung di udara. Hanya ada penantian yang semakin panjang dari menit ke menit.
Mereka terus menunggu.
Menunggu kepulangan Arkan Wirajaya, putra sulung yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga. Namun hingga dini hari berganti pagi, sosok yang mereka nantikan masih belum juga menampakkan diri ataupun memberikan kabar.