NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Pertengkaran Hebat

Matahari sore baru saja meredup ketika suara deru mesin mobil mewah Arka memasuki pekarangan rumah besar keluarga Pratama. Pria itu baru saja turun dari mobil dengan setelan jas kerja yang sedikit berantakan, mencerminkan kelelahan luar biasa setelah seharian bergelut dengan masalah korporasi di kantornya.

Begitu Arka melangkah masuk melalui pintu utama, pelayan rumah tampak mondar-mandir dengan wajah cemas. Sebelum Arka sempat melepas dasinya, Bi Inah bergegas mendekatinya dengan napas setengah memburu.

"Tuan... ada hal penting..." ucap Bi Inah ragu-ragu, mencoba menahan langkah majikannya.

Arka menghentikan langkahnya, menatap kepala pelayan itu dengan sebelah alis terangkat tajam. "Ada apa lagi, Bi Inah? Jangan bilang ada urusan sepele yang membuat keributan di rumah ini."

"Bukan masalah sepele, Tuan. Tadi siang... Nyonya Kirana pergi keluar rumah menggunakan sopir pribadi kita," lapor Bi Inah jujur, meski ia tahu risikonya. "Beliau meminta diantar ke salah satu toko perlengkapan bayi di pusat kota."

*Deg.*

Kalimat itu meluncur begitu saja, menghantam telinga Arka seperti sambaran petir di siang bolong.

Pria itu tertegun sesaat, lalu gelombang amarah yang pekat langsung mendidih di dalam dadanya. Sudut bibirnya terangkat dalam senyuman sinis yang menakutkan. Di tengah pikirannya yang sudah penat oleh masalah bisnis, informasi itu terdengar seperti puncak dari segala kepolosan dan kekonyolan yang selama ini melekat pada diri Kirana.

*Toko perlengkapan bayi?* batin Arka geram. Pria itu belum tahu sama sekali bahwa Kirana sedang mengandung anaknya. Yang ada di dalam kepala Arka saat itu hanyalah asumsi bahwa istrinya kembali berulah—memanfaatkan fasilitas rumah tangga dan meminta sopir pribadi mengantarnya hanya untuk membeli barang-barang tidak berguna, bermain peran, atau sekadar memuaskan sifat kekanak-kanakannya.

Tanpa membuang waktu, Arka melangkah lebar-lebar menuju kamar tamu di lantai bawah tempat Kirana tinggal.

*Brak!*

Pintu kamar itu didorong terbuka dengan kasar tanpa aba-aba.

Di dalam kamar, Kirana yang sedang duduk merapikan beberapa dokumen kecil di atas meja tersentak kaget. Ia mendongak, mendapati Arka berdiri di ambang pintu dengan dada naik turun menahan murka, tatapan matanya menyala tajam penuh amarah yang siap meledak.

"Arka...?" panggil Kirana lirih, sedikit terkejut dengan kedatangan suaminya yang mendadak agresif.

Arka melangkah masuk mendekati Kirana, mencengkeram tepi meja kerja wanita itu dengan kedua tangannya, memaksa Kirana menatap lurus ke dalam matanya.

"Jadi, kamu memanfaatkan sopir pribadi dan mobil keluarga hanya untuk pergi ke toko bayi?" suara Arka bergemerincing rendah, dingin, namun penuh tekanan emosi yang meluap-luap. "Apa yang sebenarnya merasuki pikiranmu, Kirana?!"

Kirana mengerjap, mencoba mempertahankan ketenangannya. Ia menatap wajah suaminya yang mengeras. "Aku punya keperluan penting ke sana, Mas. Aku tidak meminta uangmu, dan aku hanya—"

"Keperluan penting apa?!" potong Arka membentak keras, suaranya menggelegar memenuhi ruangan kecil itu.

Bentakan itu membuat jantung Kirana berdegup kencang, namun ia menahan diri untuk tidak menciut.

"Jangan mempermalukan diri sendiri dengan tingkah konyol seperti itu!" lanjut Arka dengan nada penuh cemooh. "Belum cukupkah semua fasilitas yang saya berikan? Kamu mau bermain-main jadi ibu rumah tangga? Mau membeli pernak-pernik bayi yang tidak ada gunanya? Kamu ini benar-benar wanita manja yang tidak tahu malu!"

Kata-kata itu menghujam ulu hati Kirana. Darahnya mendidih, namun rasa sakit itu justru membangkitkan keberanian yang selama ini terpendam. Kirana perlahan berdiri dari kursinya, menegakkan tubuhnya, dan menatap Arka tepat di dalam manik mata hitam pria itu tanpa rasa takut.

"Aku tidak sedang bermain-main, Mas," jawab Kirana dengan suara yang sangat dingin dan tegas.

"Lalu apa namanya kalau bukan bermain-main?!" Arka balas membentak lebih keras, hilang kesabarannya melihat sikap tenang Kirana yang dianggapnya sebagai bentuk pembangkangan. "Kamu tidak bisa mandiri! Keluar rumah sedikit saja harus diantar sopir, belanja hal-hal tidak penting, dan hidup bergantung sepenuhnya pada fasilitas yang kamu benci tapi nikmati! Kapan kamu mau belajar dewasa, Kirana?! Kapan kamu berhenti menjadi beban dan belajar mandiri seperti orang dewasa pada umumnya?!"

Bagi Arka, bentakan itu adalah teguran keras agar istrinya sadar diri.

Namun bagi Kirana, kalimat itu adalah batas akhir dari segalanya. Arka menuduhnya manja, menuduhnya menjadi beban, dan mencaci maki tujuannya pergi ke toko bayi—tempat di mana ia sebenarnya sedang mempersiapkan perlengkapan kecil untuk darah daging Arka sendiri. Rahasia besar tentang kehamilannya mendesak di tenggorokan Kirana, ingin sekali ia lemparkan ke muka suaminya saat itu juga untuk membungkam mulut arogan itu.

*Apakah aku harus mengatakannya sekarang?* batin Kirana bergejolak. *Apakah aku harus bilang kalau aku sedang mengandung anaknya, agar pria ini berhenti menginjak-injak harga diriku?*

Namun, melihat sorot mata Arka yang dipenuhi kemarahan dan prasangka buruk, Kirana mengurungkan niatnya. Menjelaskan kehamilan di tengah amarah membabi buta seperti ini hanya akan membuat Arka menganggap anak mereka sebagai alat manipulasi atau jebakan. Harga diri Kirana menolak untuk melakukan itu.

Kirana menarik napas panjang, menelan seluruh rasa sakit dan air mata yang mendesak keluar. Topeng ketenangannya terpasang sempurna, jauh lebih dingin dari es.

"Sudah selesai marahnya, Tuan Pratama?" tanya Kirana dengan suara datar yang sangat tenang, begitu kontras dengan kemarahan Arka.

Arka tertegun sejenak. Napasnya masih memburu, namun nada bicara Kirana yang tidak membalas berteriak membuat emosinya sedikit tertahan di udara.

"Kalau kamu sudah selesai mencaci makiku dan menyebutku wanita manja yang tidak mandiri," lanjut Kirana sambil menatap lurus mata suaminya tanpa gentar, "kamu boleh keluar dari kamar ini. Aku tidak butuh izinmu untuk pergi ke mana pun, dan aku akan buktikan bahwa aku bisa hidup mandiri jauh melampaui bayanganmu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Kirana berbalik badan begitu saja, meninggalkan Arka berdiri mematung di tengah ruangan dengan amarah yang mendadak menggantung tanpa pelampiasan.

Arka menatap punggung istrinya dengan perasaan yang bercampur aduk—antara jengkel, heran, dan sebuah sensasi asing yang mencengkeram dadanya. Ada sesuatu yang telah hilang dari diri Kirana, sesuatu yang membuat bentakan dan kemarahannya tidak lagi mampu menyentuh atau meruntuhkan pertahanan wanita itu.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!