Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KIRANA MENANGIS DI TOILET KAMPUS
Pagi itu, papan pengumuman digital menampilkan jadwal presentasi tengah proyek yang dimajukan lebih cepat dari rencana awal, membuat seisi kelompok panik karena harus menyiapkan materi dalam waktu yang lebih singkat dari perkiraan. Kirana berlari lari kecil menuju ruang diskusi, membawa laptop dan setumpuk catatan yang harus segera dia kompilasi bersama anggota lain.
"Kir, ini beneran dimajuin? Padahal kita baru separuh jalan," Nadia mengeluh begitu Kirana sampai, wajahnya terlihat panik.
"Iya, tadi aku baca pengumumannya, katanya ada perubahan jadwal dari kaprodi," jawab Kirana, ikut duduk dan membuka laptopnya dengan tergesa gesa.
Mereka mulai bekerja keras, mencoba merapikan semua bagian yang belum selesai dalam waktu singkat. Suasana tegang memenuhi ruangan, setiap orang sibuk dengan bagiannya masing masing, sesekali berdebat kecil soal detail yang harus disempurnakan.
"Kir, bagian finansial kamu belum lengkap nih, proyeksi tahun keempat sama kelima masih kosong," Aji menunjuk slide yang sedang dia susun, sedikit frustrasi.
"Aku tau, tapi aku belum sempet ngitung karena kemarin masih revisi bagian yang dikomen Pak Alden," Kirana menjelaskan, mencoba tetap tenang meski dalam hati dia juga mulai merasakan tekanan yang sama besarnya dengan yang lain.
"Ya tapi presentasinya besok lho, Kir," Aji menekankan, nadanya mulai terdengar tidak sabar.
"Aku ngerti, Aji, aku lagi usahain secepat mungkin," Kirana menjawab, mencoba menjaga kesabarannya meski tekanan yang dia rasakan mulai membuncah.
Mereka melanjutkan bekerja dalam diam, hanya suara ketikan keyboard yang mengisi ruangan. Tapi ketegangan yang terus menumpuk membuat suasana semakin tidak nyaman, setiap kesalahan kecil terasa lebih besar dari yang seharusnya karena tekanan waktu yang mendesak.
"Kir, ini rumus proyeksi kamu kayaknya salah deh," Bagas tiba tiba menunjuk salah satu bagian di layar Kirana, nadanya terdengar sedikit menyalahkan. "Coba diperiksa lagi."
Kirana memeriksa dengan cepat, dan menyadari memang ada kesalahan kecil dalam rumusnya, kesalahan yang mungkin terjadi karena dia terburu buru mengerjakannya semalam. "Iya, kamu bener, ada yang salah. Aku perbaiki sekarang."
"Untung ketauan sekarang, coba kalau pas presentasi baru ketauan," Bagas berkomentar, meski nadanya tidak dimaksudkan untuk menyakiti, tapi terasa lebih berat dari biasanya di tengah tekanan yang sudah menumpuk.
Kirana mengangguk, mencoba fokus memperbaiki kesalahan itu, tapi rasa lelah dan tekanan yang sudah menumpuk sejak pagi mulai terasa berat di pundaknya. Dia sudah tidur kurang dari lima jam semalam, mengejar deadline yang terus berubah ubah, dan sekarang harus menghadapi kritik dari teman temannya sendiri yang sama sama stres dengan situasi ini.
Menjelang siang, ketika sesi kerja kelompok istirahat sebentar untuk makan, Kirana memutuskan untuk pergi ke toilet, ingin sedikit menenangkan diri dari tekanan yang terus menumpuk sejak pagi. Dia mengunci pintu bilik toilet, duduk sejenak di tepi wastafel dalam bilik itu, mencoba mengatur napasnya yang terasa berat.
Air matanya mulai menetes tanpa dia sadari, campuran antara kelelahan fisik dan tekanan emosional yang sudah terlalu lama dia pendam. Bukan hanya soal proyek kelompok yang mendadak dipercepat, tapi juga soal situasi rumitnya dengan Alden, tentang Sarah yang akan datang akhir minggu ini, tentang ketidakpastian masa depan hubungan mereka yang belum juga mendapat kejelasan.
"Kenapa semuanya jadi seberat ini," bisiknya pelan, menyeka air mata yang terus mengalir meski dia berusaha menahannya.
Dia duduk di sana beberapa menit, membiarkan dirinya menangis dalam diam, melepaskan semua tekanan yang selama ini dia tahan sendirian. Ponselnya bergetar di dalam tasnya, tapi dia mengabaikannya, terlalu lelah untuk menjawab siapa pun saat ini.
Setelah beberapa saat, dia mendengar suara pintu toilet terbuka, diikuti langkah kaki yang mendekat ke bilik yang dia tempati.
"Kir? Kamu di dalam?" suara Tesa terdengar dari luar, khawatir.
Kirana buru buru menyeka wajahnya, mencoba menormalkan suaranya sebelum menjawab. "Iya, Tes, sebentar."
"Kir, Nadia bilang kamu keliatan aneh terus tiba tiba ke toilet nggak balik balik. Kamu nggak apa apa?" Tesa bertanya lagi, suaranya penuh kekhawatiran.
Kirana membuka pintu bilik, dan begitu Tesa melihat wajahnya yang masih basah dan matanya yang merah, sahabatnya itu langsung merangkulnya erat tanpa banyak bertanya lebih jauh.
"Kir, ada apa? Cerita dong," Tesa membimbingnya duduk di sofa kecil yang ada di sudut toilet, tetap merangkul bahunya dengan penuh perhatian.
"Aku capek banget, Tes," Kirana akhirnya pecah, air matanya kembali mengalir lebih deras. "Proyek kelompok makin berat, semua orang nuntut aku buat sempurna terus. Terus soal Pak Alden juga makin rumit, Sarah bakal dateng akhir minggu ini, dan aku nggak tau bakal jadi apa hubungan kami setelah itu."
Tesa mendengarkan dengan seksama, tidak menyela, hanya membiarkan Kirana melepaskan semua yang selama ini dia pendam sendirian. "Kir, kamu udah nanggung semua ini sendirian dari awal ya? Kenapa nggak cerita lebih sering ke aku?"
"Aku nggak mau ngerepotin kamu terus, Tes. Lagian ini kan situasi yang aku sendiri yang bikin, jadi aku juga yang harus tanggung jawab," jawab Kirana, suaranya masih bergetar.
"Kir, itu bukan cara kerja persahabatan," Tesa menegaskan, memegang kedua tangan Kirana erat. "Kita saling dukung, bukan cuma pas lagi seneng, tapi juga pas lagi susah kayak sekarang."
Kirana mengangguk, mencoba menenangkan diri dengan bantuan sahabatnya. "Makasih, Tes. Aku beneran butuh ini."
"Sekarang, soal proyek kelompok," Tesa melanjutkan, mencoba memberikan solusi praktis, "kamu udah kerja keras banget, Kir. Kalau ada bagian yang belum selesai, itu bukan cuma tanggung jawab kamu sendirian. Kamu koordinator, bukan berarti kamu harus ngerjain semuanya sendiri."
"Tapi kalau aku minta bantuan lebih, ntar dikira aku nggak kompeten," Kirana mengeluh, masih merasa terbebani dengan ekspektasi yang dia rasa harus dia penuhi sendirian.
"Justru koordinator yang baik itu yang tau kapan harus minta bantuan, bukan yang maksain diri sendiri sampe kayak gini," Tesa menjawab bijak, mengusap punggung Kirana pelan.
Setelah beberapa menit menenangkan diri, Kirana akhirnya berhasil mengatur napasnya, membersihkan wajahnya dengan air dingin dari wastafel sebelum kembali ke ruang diskusi. Tesa menemaninya sepanjang jalan, memberikan dukungan diam yang sangat dia butuhkan saat ini.
Begitu mereka sampai kembali di ruang diskusi, Kirana mendapati anggota kelompoknya masih sibuk bekerja, tapi suasana terlihat sedikit lebih tenang dari sebelum dia pergi.
"Kir, kamu nggak apa apa?" tanya Nadia begitu melihat Kirana masuk, wajahnya terlihat khawatir.
"Aku baik baik aja, Nad. Cuma butuh waktu sebentar buat tenangin diri," jawab Kirana, mencoba tersenyum meski masih terasa lelah.
"Maaf ya kalau tadi kita kedengeran maksa banget soal deadline," Bagas menghampiri, terlihat menyesal. "Kita juga panik, tapi seharusnya nggak nge-push kamu sampe kayak gini."
"Nggak apa apa, Gas, kalian juga stres kok, wajar," Kirana menjawab, menghargai permintaan maaf itu meski tetap merasa lelah secara fisik dan emosional.
"Gimana kalau kita bagi ulang tugas yang belum selesai? Biar kamu nggak nanggung semuanya sendirian," usul Nadia, mencoba mencari solusi yang lebih adil.
Mereka mulai membagi ulang pekerjaan yang tersisa, dengan Kirana akhirnya bersedia melepaskan sebagian tugasnya ke anggota lain yang menawarkan bantuan. Suasana kerja menjadi lebih kolaboratif setelah itu, meski tekanan waktu masih terasa nyata mengingat deadline presentasi besok.
Sepanjang sisa hari itu, Kirana terus bekerja bersama kelompoknya, tapi dengan beban yang terasa sedikit lebih ringan karena akhirnya dia mau membagi tanggung jawab dengan orang lain, bukan lagi mencoba menanggung semuanya sendirian seperti kebiasaannya selama ini.
Menjelang malam, ketika sesi kerja kelompok akhirnya selesai dan semua orang mulai pulang, Kirana merasa lelah secara fisik, tapi hatinya terasa sedikit lebih lega setelah melepaskan semua tekanan yang selama ini dia pendam sendirian, baik soal proyek kelompok maupun soal situasi rumitnya dengan Alden yang masih menggantung tanpa kejelasan pasti tentang apa yang akan terjadi ketika Sarah benar benar datang ke kota ini akhir minggu nanti.