Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Lucas memejamkan mata sesaat.
Lalu berkata dengan mantap,
"Tunggu aku."
"Aku sudah di luar."
"Aku akan membawamu keluar."
Suara alat hidrolik bergema di koridor lantai paling atas.
KRAAKK...!
Besi tebal yang mengunci pintu gudang mulai melengkung.
Dua orang bodyguard elit Laurent mendorong alat pembuka dengan seluruh tenaga mereka.
"Sedikit lagi!"
"Tekan terus!"
BRAKKK!
Engsel pintu akhirnya patah.
Pintu besi yang berat itu terbuka dengan suara menggelegar.
Belum sempat siapa pun bereaksi...
Lucas sudah lebih dulu berlari masuk.
"Alyssa!"
Suaranya menggema memenuhi gudang yang gelap.
Tidak ada jawaban.
Hanya gema suaranya sendiri yang memantul di antara rak-rak besi yang menjulang tinggi.
Lucas terus berlari.
Sepatunya menghantam lantai beton.
"Alyssa!"
"Di mana kau?!"
Adrian dan beberapa bodyguard menyebar ke berbagai arah.
"Periksa sisi timur!"
"Gudang belakang!"
"Cek setiap lorong!"
"Pastikan tidak ada orang lain!"
Senter mulai dinyalakan.
Sorot cahaya menyapu setiap sudut ruangan.
Gudang itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Rak-rak besi yang tinggi membuat jarak pandang menjadi terbatas.
Lucas terus memanggil.
"Alyssa!"
"Jawab aku!"
Detik demi detik terasa sangat panjang.
Dadanya dipenuhi kecemasan yang semakin besar.
"Tolong..."
"Jangan sampai terlambat..."
Tiba-tiba...
Di ujung lorong paling belakang...
Salah seorang bodyguard berteriak.
"Tuan!"
"Di sini!"
Lucas langsung berlari secepat mungkin.
Ketika melewati rak terakhir...
Ia langsung melihatnya.
Di dekat pintu darurat yang terkunci...
Alyssa duduk bersandar di dinding.
Wajahnya sangat pucat.
Bibirnya mengering.
Rambut panjangnya berantakan.
Tangannya masih menggenggam ponsel yang tadi diberikan Lucas.
Matanya yang mulai sayu perlahan terangkat.
Begitu melihat Lucas...
Senyuman kecil muncul di bibirnya.
Senyuman yang sangat lemah.
"...Lucas..."
Suara itu hampir tidak terdengar.
Namun cukup membuat langkah Lucas semakin cepat.
Ia langsung berlutut di hadapan Alyssa.
"Alyssa!"
"Aku di sini."
"Kau dengar aku?"
Alyssa mengangguk sangat pelan.
"Aku..."
"...tahu..."
"...kau pasti datang..."
Kalimat itu membuat dada Lucas terasa sesak.
Ia menggenggam tangan Alyssa yang dingin.
"Maaf."
"Aku terlambat."
Alyssa mencoba tersenyum lagi.
"Tidak..."
"...kau..."
"...datang..."
Matanya mulai kehilangan fokus.
"Alyssa."
"Jangan tutup matamu."
"Alyssa."
Lalu...
Kepala Alyssa perlahan terkulai ke samping.
Tubuhnya kehilangan tenaga.
Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
"Bruk."
"Alyssa!"
Lucas langsung menangkap tubuhnya sebelum benar-benar roboh.
Tidak ada jawaban.
Hanya napas yang sangat lemah.
Suasana gudang yang tadi dipenuhi suara langkah kaki mendadak menjadi sunyi.
Tak seorang pun berbicara.
Semua bodyguard memandang ke arah Lucas.
Mereka belum pernah melihat ekspresi seperti itu.
Biasanya Lucas selalu tenang.
Selalu dingin.
Namun kali ini...
Tatapan matanya dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.
Lucas segera mengangkat tubuh Alyssa ke dalam gendongannya.
Tubuh gadis itu terasa begitu ringan.
Terlalu ringan.
Seolah seluruh tenaganya telah habis.
Lucas berkata dengan suara tegas,
"Keluar."
"Sekarang."
Semua orang langsung bergerak.
Koridor segera dikosongkan.
Lucas berlari keluar gudang sambil menggendong Alyssa.
Adrian membuka jalan.
"Semua minggir!"
"Lift khusus!"
"Cepat!"
Para karyawan yang belum pulang terkejut melihat pemandangan itu.
"Itu..."
"Nona Alyssa?"
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa beliau tidak sadar?"
"Tuan Direktur menggendongnya..."
Belum pernah ada yang melihat Lucas berlari di dalam gedung.
Biasanya ia selalu berjalan tenang.
Kini...
Ia berlari tanpa memedulikan siapa pun.
Pintu lift terbuka.
Lucas masuk lebih dulu.
Adrian segera menekan tombol lantai dasar.
Lift bergerak turun.
Di dalam lift...
Lucas terus memeriksa napas Alyssa.
"Alyssa."
"Dengar suaraku."
"Sebentar lagi kita keluar."
Namun Alyssa tetap tidak sadarkan diri.
Pintu lift terbuka.
Begitu sampai di lobi...
Seluruh petugas keamanan langsung berdiri.
"Siapkan mobil!"
"Tuan akan keluar!"
Konvoi segera bergerak.
Pintu sedan antipeluru dibuka.
Lucas masuk sambil tetap memangku Alyssa.
"Ke mansion."
"Sekarang."
"Hubungi dokter keluarga."
"Perintahkan dia menunggu di mansion."
Sopir menjawab cepat.
"Baik, Tuan."
Konvoi melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.
Suara sirene pengawal mulai terdengar.
Mobil-mobil lain memberi jalan.
Di sepanjang perjalanan...
Lucas terus memegang tangan Alyssa.
Tangannya masih sedingin es.
Ia berkata pelan,
"Kau sudah selamat."
"Tidak akan ada yang mengurungmu lagi."
"Aku janji."
Sekitar empat puluh menit kemudian...
Konvoi memasuki halaman Mansion Laurent.
Para pelayan yang melihat iring-iringan itu langsung panik.
"Pintu utama!"
"Cepat!"
Maria berlari keluar.
"Tuan!"
Lucas turun tanpa menjawab.
Ia langsung menggendong Alyssa masuk ke dalam mansion.
"Dokter?"
"Sudah menunggu."
"Di ruang tamu."
Lucas langsung menuju ruang pemeriksaan.
Di sisi lain...
Leonardo yang sedang belajar bersama guru privatnya mendengar keributan.
Ia berlari ke koridor.
"Daddy pulang?"
Namun begitu melihat Lucas menggendong Alyssa yang tidak sadarkan diri...
Langkah kecilnya langsung terhenti.
Wajah bocah itu berubah.
"Kak Alyssa..."
"Ada apa?"
Ia melihat wajah Alyssa yang sangat pucat.
Tangannya terkulai.
Leonardo langsung menoleh kepada ayahnya.
"Daddy!"
"Kenapa Kak Alyssa tidur?"
Lucas berhenti sebentar.
Ia mengusap kepala putranya.
"Nanti Daddy jelaskan."
Lalu ia kembali berjalan cepat.
Leonardo tetap berdiri mematung.
Dadanya terasa tidak nyaman.
Selama ini...
Ia memang sering menjahili Alyssa.
Bahkan pernah memarahinya karena menganggap ayahnya terluka akibat menolong Alyssa.
Namun melihat Alyssa seperti itu...
Entah kenapa...
Hatinya ikut sakit.
Pelayan muda bernama Ranty datang menghampiri.
"Tuan kecil."
Leonardo menoleh.
"Kenapa Kak Alyssa?"
Ranty berjongkok agar sejajar dengannya.
"Nona Alyssa sedang sakit."
"Parah?"
Ranty tersenyum lembut.
"Dokter sedang memeriksanya."
Leonardo menunduk.
"Aku..."
"...kemarin masih marah sama Kak Alyssa."
Ranty mengusap rambutnya.
"Itu tidak apa-apa."
"Tapi..."
"Aku tidak mau Kak Alyssa sakit."
Ranty tersenyum.
"Nona Alyssa pasti senang kalau mendengar itu."
Leonardo menggenggam dinosaurus kecilnya.
"Daddy kelihatan sedih."
Ranty ikut melirik ke arah ruang pemeriksaan.
"Iya."
"Tuan sangat mengkhawatirkannya."
Leonardo terdiam.
Untuk pertama kalinya...
Ia berharap Alyssa segera membuka mata.
Di ruang pemeriksaan.
Dokter keluarga Laurent sedang memeriksa Alyssa dengan teliti.
Lucas berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
Tangannya masih mengepal.
Beberapa menit terasa begitu lama.
Akhirnya dokter melepas stetoskopnya.
Lucas langsung bertanya,
"Bagaimana keadaannya?"
Dokter menarik napas lega.
"Syukurlah."
"Tidak ada cedera serius."
Lucas tetap menunggu.
"Tapi..."
Beliau melanjutkan,
"Nona Alyssa hampir mengalami kekurangan oksigen."
Lucas mengernyit.
"Bagaimana bisa?"
"Gudang tempat beliau terjebak memiliki ventilasi yang sangat terbatas."
"Apalagi dalam keadaan pintu tertutup selama berjam-jam."
Dokter melirik hasil pemeriksaan.
"Selain itu..."
"Beliau mengalami dehidrasi cukup parah."
"Tidak makan."
"Tidak minum."
"Dan kemungkinan besar mengalami stres berat."
Lucas menundukkan kepala sejenak.
Dokter berkata lagi,
"Kalau saja ditemukan satu atau dua jam lebih lambat..."
Beliau berhenti.
Lucas mengangkat wajah.
"Lanjutkan."
Dokter berbicara jujur.
"Keadaannya bisa jauh lebih berbahaya."
Ruangan mendadak sunyi.
Lucas memejamkan mata sesaat.
Bayangan Alyssa yang tersenyum lemah di dalam gudang kembali terlintas.
"Aku tahu... kau pasti datang..."
Kalimat itu terus terngiang di telinganya.
Dokter kembali berkata,
"Untung Tuan menemukannya tepat waktu."
"Setelah mendapat cairan infus dan istirahat, kemungkinan besar kondisinya akan membaik."
Lucas mengangguk pelan.
"Terima kasih, Dok."
Dokter tersenyum tipis.
"Beliau hanya perlu banyak istirahat."
"Dan..."
"Hindari kejadian seperti ini terulang."
Lucas menatap Alyssa yang masih tertidur dengan wajah pucat.
Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh ketegasan.
"Itu tidak akan terjadi lagi."
Di luar kamar, Adrian berdiri dengan wajah yang sama seriusnya.
Sementara di tempat lain...