NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Basecamp Baru

Malam yang sarat akan intrik kuliner dan manipulasi rasa gaib telah berlalu, namun sisa-sisa ketegangan romantis di gang sempit Tambora masih membekas jelas di dalam benak Citra Kirana dan Nadia Anastasia. Begitu Arya Prasetya mengantarkan kedua wanita kasta tertinggi Jakarta tersebut kembali ke mobil mewah mereka masing-masing dengan kawalan ketat Bang Jay dan Dedi, sebuah genderang perang dingin yang baru resmi ditabuh secara senyap. Tidak ada kata pamit yang bertele-tele di antara Citra dan Nadia malam itu; yang ada hanyalah saling lempar pandangan tajam, sebuah sinyal bahwa fajar berikutnya akan menjadi saksi dari pertempuran taktik terbesar yang pernah melanda pangkalan ojek online Tambora.

Pukul 04.30 WIB. Azan subuh baru saja berkumandang, memecah kesunyian Jakarta Barat yang masih diselimuti kabut tipis sisa polusi semalam. Di saat sebagian besar warga Tambora masih meringkuk di dalam sarung mereka, pangkalan ojol di ujung gang arteri yang biasanya hanya berupa tanah kosong dengan atap seng berkarat mendadak diguncang oleh sebuah pemandangan yang tidak masuk akal.

Suara raungan mesin truk-truk kontainer besar dan deretan mobil MPV hitam mewah berlogo korporat memecah keheningan fajar. Bang Jay, yang baru saja melangkah keluar dari rumah kontrakannya dengan sarung melingkar di leher dan mata yang masih setengah mengantuk karena berniat membuka warkop pangkalan lebih awal, langsung melongo hingga sandal jepit suatunya hampir terlepas.

"Eh.. Buset... ini ada penggerebekan intel atau syuting film Hollywood?!" gumam Bang Jay, mengucek matanya berulang kali.

Di depan matanya, puluhan pekerja berseragam proyek rapi dengan rompi neon bertuliskan Grand Indonesia Property Development & Asset Management telah turun dari truk. Di bawah komando seorang pria paruh baya berkacamata yang mengenakan kemeja safari necis—yang tak lain adalah Direktur Operasional Aset Korporat kepercayaan Citra Kirana—mereka mulai menurunkan material-material konstruksi modern tingkat tinggi. Sasis baja ringan, dinding panel modular kedap suara, lantai parkir berpaving blok premium, hingga unit pendingin udara (AC) inverter berkapasitas besar diturunkan dengan ritme kerja yang sangat presisi layaknya pasukan militer.

"Selamat pagi, Pak. Apakah Anda yang bernama Bapak Jayadi, selaku kepala suku pengelola pangkalan ojek online di sini?" tanya sang Direktur Operasional, melangkah maju sambil menyodorkan sebuah dokumen tebal bersampul kulit hitam eksklusif dengan logo emas.

"I-iya, bener, den... eh, bos. Saya Bang Jay. Ini ada urusan apa ya? Pangkalan kami kena gusur buat bikin jalan tol, ya? Tolong jangan digusur, bos, ini tempat kami cari sesuap nasi buat anak bini," sahut Bang Jay dengan suara bergetar, badannya mendadak lemas memikirkan nasib tempat nongkrongnya bersama Arya dan Dedi.

Sang Direktur langsung tersenyum ramah, menjabat tangan Bang Jay yang kasar dengan sangat hormat. "Oh, sama sekali bukan penggusuran, Pak Jay. Justru sebaliknya. Atas perintah langsung dari Ibu Citra Kirana, CEO Grand Indonesia Group, mulai subuh ini juga, pangkalan ojol Tambora resmi diambil alih di bawah program revitalisasi CSR kilat skala prioritas utama. Kami memiliki waktu tepat tiga jam sebelum pukul delapan pagi untuk merombak total area ini menjadi Basecamp Ojol Premium Integrated Smart Shelter pertama di Indonesia. Seluruh biaya pembangunan, perawatan, hingga tagihan listrik AC seumur hidup akan ditanggung sepenuhnya oleh anggaran internal manajemen kami."

Bang Jay terpaku, mulutnya menganga lebar seperti pintu gerbang pelabuhan. "Ha? Smart Shelter? Pakai AC? Gratis seumur hidup?!"

Belum sempat Bang Jay mencerna seluruh kalimat ajaib tersebut, dari arah belakang truk kontainer korporat, sebuah mobil Mercedes-Benz Sprinter hitam lainnya berhenti dengan anggun. Pintu geser otomatisnya terbuka, dan turunlah seorang wanita muda berambut pendek dengan pakaian kerja modis yang memancarkan aura agensi kreatif kelas atas. Ia adalah asisten pribadi utama Nadia Anastasia, yang di belakangnya diikuti oleh tiga orang pria berjas rapi yang membawa koper-koper titanium serta beberapa tabung pembungkus dokumen arsitektur kreatif.

"Permisi, pihak Grand Indonesia," interupsi asisten Nadia dengan nada suara yang tegas namun sangat elegan, langsung memotong pembicaraan. "Saya di sini mewakili Nona Nadia Anastasia. Sesuai dengan kesepakatan koordinasi tak resmi semalam, pengerjaan renovasi fisik luar ruang boleh dilakukan oleh tim korporat Anda, tetapi untuk aspek pengembangan ekosistem internal, masa depan sumber daya manusia, dan kesejahteraan keluarga inti pangkalan Tambora adalah otoritas eksklusif dari yayasan kreatif Nona Nadia. Kami tidak akan membiarkan Anda memonopoli seluruh akses informasi."

Mendengar perdebatan kasta atas di depan matanya yang masih belekan, Bang Jay hanya bisa menepuk dahinya sendiri. “Ya Gusti... ini dua cewek kaya yang semalam diajak si Arya makan soto tangkar Pak Haji Yusuf beneran bukan orang sembarangan! Yang satu kirim pasukan kuli bangunan kelas elit buat bikin pangkalan jadi kayak lobi hotel bintang lima, yang satu lagi kirim agen model internasional subuh-subuh! Ini si Arya khodamnya apaan sih sampai bisa bikin dua dewi Jakarta perang taktik kayak begini?!”

Asisten Nadia langsung berbalik menghadap Bang Jay, membuka salah satu koper titanium yang di dalamnya berisi tumpukan map sertifikat berlogo International Creative Academy dan kartu asuransi kesehatan premium berwarna hitam metalik.

"Pak Jay, tolong dengarkan saya baik-baik," ujar asisten Nadia dengan senyum profesional yang sangat menawan. "Nona Nadia sangat peduli dengan masa depan keluarga besar pangkalan ini. Detik ini juga, saya membawa Surat Keputusan Beasiswa Penuh Seumur Hidup untuk anak-anak dan keponakan dari seluruh driver ojol yang terdaftar resmi di pangkalan Tambora. Siapa pun anak driver di sini yang memiliki minat di bidang seni, desain, mode, atau teknologi, akan dibiayai kuliahnya sampai ke luar negeri jika perlu. Dan untuk Anda sendiri, Pak Jay, serta Dedi dan anggota lainnya, ini adalah kartu Exclusive Black Diamond Health Insurance. Anda semua bebas berobat di rumah sakit internasional mana pun di seluruh Asia secara gratis jika encok, asam urat, atau kelelahan melanda akibat narik ojol. Seluruh premi bulanan sudah dilunasi oleh Nona Nadia sampai akhir hayat Anda."

Bang Jay menerima tumpukan dokumen dan kartu hitam mengkilap tersebut dengan tangan yang gemetar hebat. Air mata haru mendadak meleleh di pipinya yang keriput. "Be-beasiswa kuliah... Asuransi kesehatan premium... Ya Allah, ini beneran? Anak saya yang bontot yang pengen banget kuliah desain komunikasi visual akhirnya bisa sekolah tinggi? Nona Nadia... Neng geulis yang semalam bibirnya bengkak seksi gara-gara makan sambal ketoprak itu beneran malaikat tanpa sayap!"

"Dan itu belum semuanya, Pak Jay," sahut Direktur Aset utusan Citra Kirana, tidak mau kalah dalam merebut poin loyalitas. Ia menjentikkan jarinya ke arah sekelompok pekerja lainnya. "Mari kita lihat ke arah Warkop Mbak Sri. Mulai pagi ini, bangunan kayu lapuk itu ditiup habis oleh tim kami."

Mbak Sri, yang baru saja datang dari arah pasar dengan membawa kantong plastik berisi tempe dan sayuran, langsung menjerit histeris begitu melihat warkop tripleks miliknya sedang dibongkar dengan kecepatan luar biasa oleh para pekerja profesional. "Ya ampun! Warung saya jangan dihancurin, pak! Saya mau jualan apa kalau warung saya roboh?!"

Asisten Nadia dengan sigap merangkul pundak Mbak Sri, menenangkannya dengan kelembutan seorang profesional. "Ibu Sri, harap tenang. Warung Anda tidak dihancurin untuk dimusnahkan, melainkan untuk ditingkatkan derajatnya menjadi Warkop Kuliner Nusantara Premium. Sambil tim Grand Indonesia membangun struktur bangunannya menggunakan tembok bata ringan yang bersih, higienis, dan modern, saya di sini membawa dokumen dari Nona Nadia Anastasia. Ini adalah program Beasiswa Global Culinary Art untuk anak sulung Ibu Sri yang kabarnya ingin sekali masuk sekolah tata boga. Mulai bulan depan, dia akan disekolahkan di akademi kuliner terbaik dengan seluruh biaya ditanggung penuh. Dan untuk Ibu Sri sendiri, kami sudah memesan set peralatan dapur lengkap, kompor gas tanam anti-meledak, serta kulkas dua pintu paling ergonomis buatan Jerman yang akan dikirim langsung ke warkop baru Anda pagi ini."

Direktur utusan Citra langsung menimpali dengan nada protektif, "Dan seluruh suplai bahan baku warkop Ibu Sri—mulai dari berkarung-karung beras kualitas premium, bertoples-toples kopi hitam arabika terbaik, gula murni, hingga mi instan berbagai varian rasa—akan dikirim secara rutin oleh truk logistik Grand Indonesia setiap minggu secara gratis. Ibu Sri tetap boleh berjualan, tetapi khusus untuk Arya Prasetya dan seluruh abang ojol pangkalan Tambora, semua makanan dan minuman di warkop ini digratiskan selamanya! Kami yang akan membayar seluruh omset harian Ibu Sri berdasarkan sistem aplikasi kasir digital yang sudah kami pasang."

Mbak Sri langsung terduduk lemas di atas aspal gang, bukan karena sedih, melainkan karena syok mendadak menerima rezeki nomplok yang nilainya ratusan juta rupiah hanya dalam waktu satu kedipan mata subuh hari. "Gusti Allah... anak saya kuliah tata boga... kulkas dua pintu dari Jerman... sembako gratis... Ini si Arya habis nemu batu mustika ular di mana sih sampai bisa mendatangkan kemakmuran segila ini buat kampung Tambora?!"

Di tengah hiruk-pikuk revolusi fisik dan finansial pangkalan tersebut, Bang Jay dan Dedi (yang baru saja datang dengan motor Supra-nya dan langsung ikut melongo di samping Bang Jay) segera ditarik oleh kedua perwakilan dewi tersebut ke area taktis yang agak sepi di balik pohon beringin pangkalan.

"Nah, Pak Jay, Mas Dedi, Ibu Sri," ucap Direktur utusan Citra sambil memperbaiki letak kacamatanya, matanya memancarkan kilatan penuh misi rahasia. "Kami sudah memberikan seluruh komitmen kemakmuran ini sesuai dengan instruksi atasan kami masing-masing. Sekarang, saatnya Anda semua memenuhi bagian dari kesepakatan diam-diam ini. Kami membutuhkan seluruh Basis Data Memori Massa tentang Arya Prasetya."

Asisten Nadia ikut mendekat, membuka sebuah alat perekam suara digital kelas profesional. "Betul sekali. Nona Nadia dan Ibu Citra membutuhkan informasi yang sangat spesifik, akurat, dan mendalam. Kami ingin tahu segalanya tentang Arya. Apa makanan kesukaannya selain soto tangkar? Apa kebiasaan uniknya saat dia sedang lelah? Apa ketakutan terbesarnya dalam hidup? Dan yang paling penting... siapa saja nama wanita, baik teman sekolah, mantan pacar, atau cinta monyet masa lalunya, yang pernah membuat hati seorang Arya Prasetya bergetar atau baper? Kami butuh data itu sekarang untuk keperluan pemetaan strategi jangka panjang."

Bang Jay dan Dedi saling berpandangan selama beberapa detik. Di dalam hati mereka, rasa kesetiaan kepada Arya sempat bergejolak, namun melihat sertifikat beasiswa kuliah anak mereka, kartu asuransi kesehatan premium hitam, dan jaminan warkop gratis seumur hidup yang ada di tangan mereka, benteng rahasia itu seketika runtuh tanpa perlu sanksi sosial. Lagi pula, mereka tahu bahwa kedua wanita cantik ini sama sekali tidak berniat jahat kepada Arya; mereka justru sedang berlomba-lomba untuk memberikan kasih sayang terbaik dengan cara yang paling ekstrem yang pernah ada dalam sejarah ibu kota.

"Aduh, kalau soal si Arya mah... saya tahu dari dia masih pakai celana moci yang sering melorot, bos!" kata Bang Jay penuh semangat, langsung membuka keran informasinya tanpa ragu sedikit pun. "Si Arya itu, biar tampangnya kayak aktor drama Korea yang bikin cewek-cewek komplek elit pada jerit-jerit, sebenernya hatinya itu sensitif banget kayak pantat bayi. Dia itu paling gak bisa lihat orang tua kesusahan. Kalau makanan kesukaan, dia itu tergila-gila sama sambal goreng ati buatan ibunya, tapi kalau jajan di luar, dia paling doyan makan bakso urat yang kuahnya pedas gurih di dekat pasar loak. Kebiasaan uniknya kalau lagi lelah habis narik seharian? Dia pasti bakal duduk di pojokan warkop Mbak Sri sambil mainin kunci motor Supra-nya diputar-putar di jari telunjuk, terus pandangannya lurus ke depan sambil dengerin lagu-lagu lawas tahun 90-an dari ponsel tuanya."

Asisten Nadia dengan tekun mencatat setiap detail di tablet digitalnya, sementara alat perekam menangkap setiap frekuensi suara Bang Jay. "Menarik... Kebiasaan taktil memutar kunci motor dan preferensi musik retro. Lalu, bagaimana dengan daftar wanita di masa lalunya? Ini poin yang paling krusial bagi Nona Nadia."

Dedi langsung menyikut lengan Bang Jay, mengambil alih pembicaraan dengan ekspresi wajah layaknya informan intelijen pangkalan yang sangat kompeten. "Nah, kalau soal urusan asmara, si Arya itu sebenernya jomblo legendaris, bos! Dia itu terlalu sadar diri sama kondisi ekonominya dulu. Tapi kalau ditanya soal yang pernah bikin dia baper setengah mati sampai gak bisa tidur tiga hari tiga malam, dulu waktu zaman SMA ada satu cewek namanya Nayla. Nayla itu anak juragan toko kelontong terbesar di pasar Tambora. Si Arya dulu sering bantuin angkat kardus mie instan di tokonya cuma buat bisa curi-curi pandang sama si Nayla. Tapi ya gitu, gak pernah berani nembak karena merasa cuma anak ojol tua. Akhirnya si Nayla pindah kuliah ke Bandung dan kabarnya sekarang sudah kerja jadi arsitek di SCBD. Sampai sekarang, kalau si Arya lewat di depan bekas toko kelontong itu yang sekarang sudah tutup, matanya pasti agak melamun sedikit."

Direktur utusan Citra Kirana langsung mencatat nama "Nayla - Arsitek SCBD" di dalam dokumen internalnya dengan tanda bintang merah tebal—sebuah entitas target kompetisi baru yang harus diwaspadai secara taktis oleh manajemen Citra Kirana.

"Apakah ada yang lain? Bagaimana dengan ketakutan terbesarnya?" tanya sang Direktur lagi.

Mbak Sri yang sudah mulai tenang ikut menimpali sambil tersenyum lebar, "Ketakutan terbesar si Arya itu cuma satu, pak, neng... Dia paling takut kalau ibunya sakit atau sedih. Si Arya itu berbakti banget sama ibunya. Kalau ibunya sudah batuk sedikit saja di rumah, dia bisa langsung batalkan semua orderan ojol hari itu juga, terus lari pulang buat kerokin ibunya atau belikan obat. Jadi kalau mau bikin hati si Arya luluh total, kuncinya bukan di si Arya, tapi buatlah ibunya tersenyum dan merasa dihargai. Itu jalur pintas paling ampuh kalau mau menangin hatinya si Arya."

Mendengar petunjuk emas dari Mbak Sri, baik perwakilan Citra Kirana maupun perwakilan Nadia Anastasia langsung saling melirik tajam. Mereka berdua tahu bahwa mereka baru saja mendapatkan informasi intelijen tingkat tinggi yang nilainya jauh lebih berharga daripada seluruh modal renovasi pangkalan subuh ini. Strategi perang dingin mereka kini resmi bergeser ke fase berikutnya: operasi pendekatan terhadap Ibu kandung Arya Prasetya!

Tepat pukul 07.30 WIB, proses konstruksi kilat modular berteknologi tinggi itu selesai seutuhnya dengan tingkat presisi yang luar biasa sempurna. Pangkalan ojol Tambora yang tadinya kumuh kini telah bertransformasi total menjadi sebuah bangunan shelter minimalis modern berstruktur baja ringan dengan dinding kaca tempered transparan yang elegan. Di bagian dalamnya, embusan angin dari dua unit AC inverter terasa begitu sejuk dan nyaman, menerpa deretan kursi refleksi kulit premium berwarna hitam yang berjejer rapi. Di sudut ruangan, terdapat stasiun pengisian daya ponsel nirkabel (wireless charging) berkecepatan tinggi serta dispenser air minum pintar.

Warkop Mbak Sri pun kini berdiri dengan megah di samping shelter. Dinding papannya telah diganti dengan struktur semen ekspos bergaya industrial estetis, namun papan nama kayu bertuliskan "Warkop Barokah Mbak Sri" tetap dipertahankan atas perintah Citra agar tidak kehilangan esensi historisnya. Di dalam warkop, sebuah kulkas dua pintu besar bermerek Jerman terisi penuh dengan berbagai minuman segar, berdampingan dengan set peralatan masak dapur modern yang mengkilap.

Para pekerja proyek dan perwakilan agensi kreatif segera membereskan seluruh peralatan mereka, lalu masuk kembali ke dalam armada kendaraan mewah mereka dan melaju pergi meninggalkan gang Tambora secepat kedatangan mereka, menyisakan Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri yang berdiri terpaku di depan mahakarya kemakmuran subuh tersebut bagaikan orang yang baru bangun dari mimpi magis.

Pukul 07.45 WIB. Arya Prasetya melangkah keluar dari rumah kontrakannya yang terletak beberapa puluh meter dari pangkalan. Ia telah mengenakan seragam ojol hijau-peraknya yang bersih, dengan helm premiumnya yang tersampir di lengan kanan. Wajah tampannya tampak segar setelah mandi pagi, siap untuk memulai petualangan mencari nafkah harian demi mengumpulkan poin dan mempertahankan ulasan Bintang 5 sistemnya.

Namun, begitu Arya berjalan mendekati tikungan pangkalan, langkah kakinya mendadak terkunci rapat di atas semen trotoar. Matanya melebar sempurna, dan mulutnya terbuka lebar hingga ia hampir menjatuhkan helm premium di tangannya.

Arya mengerjapkan matanya berkali-kali, melihat ke arah bangunan shelter kaca modern ber-AC yang berdiri megah di tempat yang seharusnya menjadi pangkalan kumuhnya. Ia melihat Bang Jay yang sedang duduk bersandar santai di atas kursi refleksi kulit premium di dalam ruangan kaca sambil memegang secangkir kopi arabika, sementara Dedi sedang mengisi daya ponselnya di stasiun wireless charging dengan wajah penuh kemenangan sosial. Di sebelahnya, Mbak Sri sedang mengelap permukaan meja warkop barunya yang terbuat dari marmer sintetis dengan senyum sumringah yang tidak pernah putus.

"Gusti... ini gua yang salah jalan masuk ke dimensi paralel, atau sistem gua lagi ngelakuin pembaruan peta secara masal?!" jerit Arya di dalam hatinya, monolog batinnya berputar liar dengan kecepatan ekstrem. “Ini pangkalan ojol Tambora kenapa mendadak berubah wujud jadi kayak ruang tunggu bandara kelas First Class begini?! Terus itu si Bang Jay gaya duduknya kenapa udah mirip kayak komisaris utama bank swasta nasional yang lagi nunggu laporan dividen?! Ini pasti kelakuan dua dewi ajaib itu semalam! Waduh... taruhan nyawa ini namanya, sistem! Kalau pangkalan ojol di gang sempit bentukannya se-estetik ini, bisa-bisa seluruh driver ojol se-Jakarta Barat pada demo minta pindah pangkalan ke sini semua!”

Arya melangkah masuk ke dalam shelter kaca dengan ragu-ragu, merasakan sensasi hawa dingin AC yang langsung menyelimuti tubuhnya yang berbalut jaket ojol.

"Bang Jay... Dedi... Mbak Sri..." bisik Arya dengan suara bergetar, menatap ketiga orang terdekatnya itu dengan pandangan menuntut penjelasan. "Ini... ini semua maksudnya apaan?! Siapa yang bertanggung jawab atas fenomena gaib arsitektur subuh-subuh begini?!"

Bang Jay menurunkan cangkir kopinya perlahan, menatap Arya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa takzim, haru, sekaligus rasa terima kasih yang teramat sangat mendalam. Ia bangkit dari kursi kulitnya, melangkah maju, lalu menepuk pundak Arya dengan tangan yang bergetar penuh emosi.

"Arya, Mas Bro... lu bener-bener pembawa berkah buat pangkalan ini," ujar Bang Jay dengan suara baritonnya yang mendadak serak karena menahan tangis haru. "Subuh tadi, pasukan dari dua neng geulis pelanggan VIP lu yang semalam... Neng Citra sama Neng Nadia... mereka datang ke sini bawa pasukan kontainer. Mereka merombak total tempat ini murni karena mereka gak mau lu sama kami semua kepanasan dan kesusahan saat nyari nafkah. Bukan cuma pangkalan yang dibikin mewah begini, Ya... Anak gua... anak si Dedi... dapet beasiswa kuliah penuh sampai lulus seumur hidup dari Nona Nadia! Kami semua juga dikasih kartu asuransi kesehatan paling mahal biar gak bingung kalau sakit! Warkop Mbak Sri disuplai sembako gratis selamanya oleh perusahaan Nona Citra, khusus buat lu dan anak-anak pangkalan di sini, semuanya digratisin selamanya!"

Dedi ikut bangkit, matanya berkaca-kaca menatap Arya. "Bener, Ya. Kami gak pernah nyangka kalau profesi ojol kayak kami bisa dihargai setinggi ini sama orang-orang kasta elit jakarta. Dan semua rezeki luar biasa ini datang lewat jalur lu, Arya. Lu bener-bener penyelamat masa depan keluarga kami."

Mendengar seluruh penjelasan tersebut, Arya Prasetya seketika terdiam seribu bahasa. Ada rasa hangat, haru, sekaligus kepanikan taktis yang luar biasa besar yang bercampur aduk di dalam dadanya. Ia tahu persis bahwa seluruh kemakmuran instan yang diterima oleh keluarga pangkalannya adalah bentuk manifestasi dari persaingan perang dingin antara Citra Kirana dan Nadia Anastasia untuk memenangkan hatinya. Kedua wanita itu tidak lagi bergerak secara frontal menyerang dirinya, melainkan menggunakan taktik memeluk seluruh ekosistem sosial di sekelilingnya dengan selimut kesejahteraan yang tidak mungkin bisa ditolak oleh siapa pun.

Tepat pada saat atmosfer di dalam shelter kaca modern itu dipenuhi oleh keheningan emosional yang mendalam, ponsel gaib di dalam saku jaket Arya kembali bergetar dengan frekuensi halus yang memancarkan pendar cahaya keemasan tersembunyi.

TING-TONG!

[NOTIFIKASI SISTEM: EVALUASI DAMPAK SOSIAL KULINER SAKRAL SELESAI!]

Sistem mendeteksi bahwa efek dari "Kecap Manis Pengikat Jiwa" dan "Sambal Rawit Penggetar Ego" telah berhasil memicu terjadinya Blitzkrieg Kemakmuran Sosial Tingkat Eksponensial dari kedua target VIP (Citra Kirana & Nadia Anastasia).

Indikator Loyalitas Ekosistem:

Loyalitas Bang Jay terhadap Driver: 200% (Sertifikat Informasi Masa Lalu Terbuka)

Loyalitas Dedi terhadap Driver: 200% (Data Target Pesaing "Nayla" Bocor ke Pihak Luar)

Loyalitas Mbak Sri terhadap Driver: 200% (Akses Strategis Pendekatan Ibu Kandung Terbuka)

Peringatan Sistem: Kedua dewi ibu kota kini telah memiliki seluruh data memori masa kecil dan titik lemah psikologis Driver. Operasi pendekatan terhadap Ibu kandung Driver akan segera diluncurkan oleh kedua pihak dalam waktu kurang dari 24 jam. Bersiaplah untuk menavigasi fluktuasi asmara tingkat tinggi yang melibatkan restu keluarga inti!

Arya hanya bisa mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit shelter kaca yang bersih mengkilap dengan senyum pasrah yang sangat menawan di bibirnya. Ia tahu bahwa hidupnya sebagai driver ojol biasa dari Tambora telah berakhir sepenuhnya subuh ini. Mulai detik ini, ia berada di tengah-tengah pusaran takdir baru yang jauh lebih dahsyat, di mana setiap kayuhan gas motor Supra Fit-nya akan menentukan arah pertempuran asmara dan kemakmuran dua dinasti terbesar di Jakarta.

"Ya sudah kalau begitu," kata Arya akhirnya, membetulkan letak helm premiumnya dengan gerakan yang sangat mantap dan penuh wibawa maskulin yang alami. "Bang Jay, Dedi... karena pangkalannya sudah nyaman dan pakai AC, jangan sampai kalian malah malas-malasan narik penumpang. Gua jalan duluan, mau cari orderan pertama hari ini. Mari kita lihat, kejutan apa lagi yang bakal dikirim sama sistem dan dua dewi itu di aspal Jakarta hari ini."

Dengan langkah kaki yang tegap dan penuh keyakinan seorang pria sejati, Arya melangkah keluar dari shelter kaca modern, menaiki motor Supra Fit-nya yang mesinnya langsung menderu halus berkat modifikasi gaib sistem, siap membelah jalanan ibu kota yang kini tidak akan pernah sama lagi untuknya.

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!