NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##7

Di sebuah kawasan elite eksklusif Bel-Air, berdiri megah sebuah kediaman bernuansa gaya arsitektur Neoklasik modern yang mendominasi hamparan tanah berhektar-hektar.

Mansion keluarga Valerio-Desmon—sebuah mahakarya arsitektur yang melambangkan kekuasaan, dinasti properti, dan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya—pagi itu diselimuti oleh ketenangan yang elegan.

Namun, di dalam ruang tamu utama mansion yang dipenuhi ukiran marmer murni dan pilar-pilar tinggi menjulang, suasana terasa amat berbeda.

Marcus Victoria duduk kaku di atas sofa empuk berlapis kain sutra impor. Di sampingnya, Eleanor duduk menunduk dengan jemari yang saling bertaut erat di atas pangkuan.

Wajah kedua orang tua Lux itu dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang amat mendalam. Tidak ada lagi sisa-sisa kemarahan, gengsi elite, atau nada suara mengintimidasi seperti yang ditunjukkan Marcus saat mengepung Braxton di apotek dua hari lalu.

Di hadapan mereka, duduk pasangan penguasa dinasti Desmon: Austin Jaxon Desmon—yang akrab disapa AJ—dan istrinya, Zacheriyya Desmon.

AJ Desmon, seorang pria paruh baya berkharisma tinggi dengan potongan rambut rapi dan garis wajah tegas yang diwarisi sepenuhnya oleh Braxton, menyesap kopi hitamnya dengan ketenangan luar biasa.

Di sebelahnya, Zacheriyya tampil amat anggun dalam balutan gaun simpel berwarna pastel. Senyum tipis nan hangat terukir di wajah cantiknya, tidak memancarkan sedikit pun ancaman atau amarah yang tadinya sangat ditakuti oleh Marcus.

Marcus memajukan tubuhnya sedikit, menarik napas panjang yang terasa begitu berat sebelum akhirnya membuka suara.

"Austin... Nyonya Zacheriyya..." suara Marcus terdengar rendah, dipenuhi kerendahan hati yang amat sangat. "Aku berdiri dan duduk di sini hari ini bukan untuk menuntut atau membawa amarah. Kedatanganku bersama istriku adalah untuk menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya... dari lubuk hatiku yang paling dalam."

AJ meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan denting halus. Ia menatap Marcus dengan tenang, memberi gestur agar sahabat lamanya di dunia bisnis itu melanjutkan perkataannya.

Marcus menelan ludah yang terasa pahit. Penyesalan yang membakar dadanya sejak pagi tadi membuat suaranya terdengar sedikit bergetar.

"Pagi hari ini, tepat pukul enam pagi..." lanjut Marcus, jarinya bergetar pelan di atas paha. "Pihak manajemen puncak dari klinik spesialis tempat Putriku melakukan pemeriksaan medis dua hari lalu menelponku secara pribadi. Direktur utama mereka menyampaikan permohonan maaf yang amat sangat atas kelalaian fatal yang dilakukan oleh staf laboratorium mereka."

Eleanor mengusap sudut matanya dengan saputangan, menahan isak tangis penyesalan yang kembali menyeruak saat mendengarkan penjelasan suaminya.

"Sampel urine milik putriku, Lux... ternyata tertukar secara tidak sengaja dengan sampel milik pasien lain yang memang sedang hamil," ungkap Marcus dengan suara berat, dipenuhi rasa malu atas tindakan gegabahnya. "Hasil analisis hormon hCG yang tinggi itu sama sekali bukan milik Lux. Putriku... dia benar-benar bersih. Dia tidak pernah hamil."

Ruangan itu mendadak hening sejenak.

Marcus menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan AJ dan Zacheriyya—sebuah pemandangan yang amat langka bagi seorang taipan bisnis papan atas seperti Marcus Victoria.

"Tindakan gegabahku... emosi buta sebagai seorang ayah yang ketakutan akan reputasi dan masa depan putrinya... telah membuatku mengambil keputusan yang amat fatal," aku Marcus penuh penyesalan. "Aku tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut. Aku langsung menyeret putriku, dan yang paling parah, aku telah melimpahkan tuduhan ini secara tidak adil pada putra kalian, Braxton. Aku memaksa mereka berdua menandatangani dokumen pernikahan darurat malam itu juga. Aku telah merugikan banyak pihak, terutama keluarga kalian."

Eleanor menyambung dengan suara tebal menahan tangis. "Kami sungguh meminta maaf, Nyonya Zacheriyya, Tuan AJ... Lux terus menjerit malam itu mengatakan ia tidak hamil dan tidak pernah disentuh pria mana pun. Tapi kami... kami orang tua yang bodoh yang melimpahkan rasa takut kami pada anak-anak. Braxton terseret ke dalam kekacauan ini semata-mata karena kesalahpahaman raksasa dan sikap impulsif suami saya."

Marcus dan Eleanor bersiap menerima ledakan amarah, makian, atau ancaman tuntutan hukum dari keluarga Desmon.

Mengikat seorang penerus dinasti kaya seperti Braxton ke dalam pernikahan paksa atas dasar diagnosis medis palsu adalah sebuah pelanggaran hukum dan pemicu perang antarkeluarga yang amat besar.

Namun, rekayasa reaksi yang mereka tunggu sama sekali tidak terjadi.

Detik berikutnya, sebuah suara terkekeh pelan memecah keheningan ruang tamu tersebut.

Zacheriyya Desmon menutup mulutnya dengan jemari yang terhias cincin berlian, terkekeh hangat seraya menatap suaminya, AJ, yang juga ikut menyunggingkan senyum lebar yang sarat akan arti.

Marcus dan Eleanor tertegun. Mereka mendongak, menatap pasangan suami istri di hadapan mereka dengan pandangan tak percaya dan penuh kebingungan.

"Ooh tuhan, Tuan Marcus... Nyonya Eleanor..." panggil Zacheriyya dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan. "Tolong angkat kepala kalian. Tidak ada yang perlu dimaafkan hingga se-dramatis ini."

Marcus mengerutkan keningnya, benar-benar kehilangan arah. "Nyonya Zacheriyya? Tapi... Braxton telah kami paksa menikah atas tuduhan palsu. Kami telah mengekang kebebasan putra Anda—"

"Marcus, dengarkan aku," potong AJ Desmon dengan suara beratnya yang mantap namun penuh keramahan. "Kau bilang Braxton mengaku di depan mata dan kepalamu sendiri malam itu bahwa dia yang bertanggung jawab atas 'kehamilan' Lux, bukan?"

Marcus mengangguk pelan. "Ya. Dialah yang memotong teriakan Lux dan mengaku sebagai ayahnya. Itulah yang membuatku semakin yakin dan mengunci keputusan malam itu."

Zacheriyya tertawa kecil lagi, menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa maklum. "Itu dia poin utamanya, Marcus! Kau tidak tahu bagaimana tabiat putra kami yang satu itu."

Zacheriyya memiringkan tubuhnya, menatap Eleanor dengan binar mata yang penuh keterusterangan. "Braxton adalah anak laki-laki yang sangat nakal, narsis, dan terkadang berpikir dengan dorongan nekat yang tidak masuk akal. Jika Braxton mengaku malam itu bahwa dia yang bertanggung jawab... itu artinya putraku memang sudah meniduri putri cantikmu!"

Deg.

Marcus dan Eleanor membeku di tempat.

"Maksud... maksud Anda?" tanya Eleanor terbata-bata.

"Anak itu penakut jika menyangkut hal yang tidak pernah ia lakukan," jelas AJ seraya terkekeh tipis, menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Jika Braxton sama sekali tidak pernah menyentuh Lux, dia akan memanjat jendela SUV-mu atau bertarung mati-matian dengan para pengawalmu untuk melarikan diri. Tapi dia mengiyakannya! Dia mengaku! Itu artinya mereka berdua memang sudah menjalin hubungan intim di belakang kita, hanya saja takdir baik masih melindungi Lux sehingga dia belum benar-benar hamil!"

AJ memamerkan raut wajah bangga yang terselubung humor khas seorang ayah.

"Anak nakal itu... dia diam-diam berhasil mendapatkan putri tunggal keluarga Victoria yang terkenal berani. Braxton tidak dirugikan sama sekali, Marcus! Justru dia yang diuntungkan dalam situasi ini!"

Zacheriyya mengangguk setuju, tersenyum lebar. "Kami sama sekali tidak marah atau kecewa atas pernikahan rahasia ini. Malah sebaliknya, kami merasa sangat lega dan senang! Lux adalah gadis yang luar biasa, cantik, dan memiliki karakter yang kuat. Kami sudah lama mengenal keluarga kalian. Menikahkan Braxton dengan Lux adalah sebuah berkah, meski caranya sedikit... liar dan tidak konvensional."

Marcus dan Eleanor menatap pasangan Desmon itu dengan perasaan campur aduk—antara lega yang tak terhingga dan takjub akan respons luar biasa santai dari keluarga elite ini. Batu besar yang sejak pagi menekan dada Marcus mendadak terangkat sepenuhnya.

"Kalian... benar-benar tidak keberatan?" tanya Marcus memastikan, suaranya masih menyisakan rasa tak percaya.

"Sama sekali tidak," tegas AJ. "Pernikahan itu sah secara hukum dan keagamaan, bukan? Biarkan saja. Itu adalah konsekuensi dari tindakan mereka berdua. Braxton harus belajar menjadi pria dewasa dan bertanggung jawab atas wanita yang sudah diikatnya."

Namun, raut wajah Zacheriyya perlahan berubah sedikit serius. Senyum hangatnya masih ada, namun kini terpancar nada keprihatinan dan pertimbangan mendalam dari seorang ibu.

"Tapi, Tuan... Nyonya Eleanor..." panggil Zacheriyya pelan. "Kami memiliki satu permintaan khusus terkait pernikahan ini."

Marcus langsung menatap Zephyr dengan kesiapan penuh. "Katakan, Nyonya Zacheriyya. Apa pun itu, kami akan memenuhinya."

Zacheriyya mendesah pelan, merapatkan jemarinya. "Bisakah pernikahan antara Braxton dan Lux ini dirahasiakan dari publik dan lingkaran sosial kita untuk sementara waktu?"

Marcus dan Eleanor saling pandang sejenak sebelum kembali menatap Zacheriyya. "Merahasiakannya? Tentu saja kami bisa. Tapi, boleh kami tahu alasannya?"

Zacheriyya mengangguk lembut. "Ada beberapa alasan keluarga yang sangat krusial. Pertama, kakak perempuan Braxton—Baxeena—saat ini belum menikah. Di dalam tradisi dan norma keluarga besar kami, agak kurang elok jika adik laki-laki melangkahi kakak perempuannya untuk menikah terlebih dahulu, apalagi tanpa pesta perayaan."

"Di samping itu," potong AJ menimpali, "saudara kembar Braxton juga saat ini masih fokus dalam masa studinya. Dan yang paling penting: mengingat usia Braxton dan Lux yang masih sangat muda—mereka berdua baru berusia sembilan belas tahun dan baru akan memulai hari pertama perkuliahan mereka di universitas beberapa hari lagi."

Zacheriyya menatap Eleanor dengan pandangan memohon yang amat rasional. "Jika berita pernikahan ini tersebar ke media atau kampus sekarang, fokus belajar mereka akan hancur total oleh kejaran wartawan dan rumor liar. Biarkan mereka berdua menjalani masa-masa kuliah mereka dengan tenang terlebih dahulu. Biarkan mereka saling mengenal satu sama lain tanpa tekanan dari publik."

Marcus menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. "Aku sangat setuju dengan pertimbangan Anda, Nyonya Zacheriyya. Itu adalah keputusan yang amat bijaksana. Lagipula, Lux sendiri semalam menjerit meminta agar pernikahan ini tidak dipublikasikan."

"Baguslah kalau begitu," ucap AJ tersenyum puas, mengangkat cangkir kopinya kembali. "Maka ini menjadi rahasia di antara kedua keluarga kita. Biarkan anak-anak muda itu menyelesaikan perdebatan mereka sendiri di Penthouse. Suatu saat, jika waktunya sudah tepat—saat mereka sudah siap dan Baxeena sudah menemukan jodohnya—kita akan menggelar pesta pernikahan termewah di Los Angeles untuk Braxton dan Lux."

Eleanor akhirnya menyunggingkan senyum leganya yang pertama sejak dua hari lalu. "Terima kasih banyak, Nyonya Zacheriyya... AJ... Kebijaksanaan kalian benar-benar menyelamatkan kami."

...****************...

Sementara itu, jauh dari kedamaian dan kesepakatan hangat di mansion Valerio-Desmon...

Di dalam Penthouse mewah di lantai paling atas gedung pencakar langit Downtown LA, atmosfer kehidupan dua anak muda yang terikat rahasia itu justru terasa bagaikan medan perang yang siap meledak kapan saja.

Jam di dinding menunjukkan pukul dua siang.

Lux keluar dari kamarnya dengan langkah kaki menghentak. Ia telah berganti pakaian—kini mengenakan celana cargo hitam longgar dan kaos polos bertuliskan logo band rock, namun tatonya masih terlihat jelas di area lengan. Wajahnya dipenuhi tekad bulat.

Ia membawa ponselnya di tangan kanan, berjalan lurus menuju ruang tamu. Pikirannya sudah mantap: ia akan menghubungi ayahnya detik ini juga. Ia sudah tidak tahan lagi hidup satu atap dengan Braxton yang terus-menerus memancing emosinya dengan kelakuan narsis konyolnya.

Namun, baru saja Lux menekan tombol panggilan ke nomor ayahnya, langkah kakinya terhenti di tengah ruang tamu.

Braxton sedang duduk santai di atas sofa kulit hitam. Pria itu sudah rapi dengan kemeja denim yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mahal dan otot lengannya yang kokoh.

Di atas meja kaca di depannya, tergeletak ponsel milik Braxton yang layarnya menyala, menampilkan sebuah dokumen elektronik yang baru saja dikirimkan.

Braxton tidak mendongak saat Lux mendekat, namun senyum miring yang amat familiar terukir di bibirnya.

"Simpan ponselmu, Lux," ucap Braxton santai, suaranya terdengar begitu tenang hingga membuat Lux mendadak curiga.

Lux mengerutkan keningnya, mematikan sambungan panggilan sebelum terhubung. "Apa maksudmu, Brengsek? Aku baru saja mau menelpon ayahku untuk mengakhiri lelucon ini!"

Braxton akhirnya mendongak. Matanya yang berwarna cokelat hangat menatap Lux dengan binar jenaka yang penuh kemenangan. Ia meraih ponselnya, memutar layarnya menuju ke arah Lux.

"Ayahmu baru saja mengirimkan pesan ke ponselku lima menit yang lalu," ujar Braxton santai. "Termasuk salinan pernyataan dari pihak rumah sakit tempat kau tes urine dua hari lalu."

Lux membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyambar ponsel Braxton dari meja, membaca pesan singkat dan dokumen lampiran di layarnya dengan cepat.

Matanya membelalak lebar saat membaca isi surat permohonan maaf resmi dari rumah sakit tersebut.

...Dengan ini kami memohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian staf laboratorium kami yang menyebabkan tertukarnya sampel urine atas nama Lux Victoria dengan pasien kehamilan lain...

"Tertukar...?" bisik Lux, suaranya tercekat di tenggorokan.

Rasa lega yang amat luar biasa mendadak menyerbu dadanya, membuktikan bahwa logikanya selama ini seratus persen benar. Ia tidak hamil! Ia tidak pernah terseret skandal medis gila itu! Nama baiknya bersih!

"Aku tahu! Sudah kukatakan dari awal!" seru Lux histeris, melemparkan ponsel Braxton kembali ke sofa. Wajahnya yang sembap mendadak berseri-seri penuh kemenangan. "Hasil tes itu salah! Aku tidak hamil! Dokter brengsek itu salah besar!"

Lux tertawa hambar, mengusap dadanya yang lega. "Sempurna! Ini artinya pernikahan konyol kita batal! Aku akan menelpon ayahku sekarang agar pengacaranya membatalkan berkas pernikahan ini detik ini juga!"

Lux kembali menyalakan ponselnya dengan cepat.

Namun, sebelum jemarinya sempat menekan layar, sebuah tangan kekar bergerak cepat menyambar ponsel Lux dari genggamannya.

SRET!

"Hei! Kembalikan ponselku!" amuk Lux, mencoba merebut ponselnya kembali.

Braxton berdiri dari sofa, memanfaatkan tinggi tubuhnya yang menjulang untuk menjauhkan ponsel Lux dari jangkauan gadis itu. Senyum miring di wajah Braxton semakin lebar, terpancar ketenangan yang amat mengintimidasi.

"Buka pesan selanjutnya dari ayahmu di ponselku, Lux," bisik Braxton santai, sebelah tangannya menahan bahu Lux agar tidak terus meloncat merebut ponsel.

Lux mendesis marah, menyambar kembali ponsel Braxton di atas sofa. Ia menggeser layar ke bawah, membaca pesan lanjutan dari Ayahnya yang dikirimkan ke Braxton:

'Braxton, Daddy baru saja selesai bertemu dengan orang tuamu. Kami semua telah sepakat bahwa pernikahan kalian tetap SAH secara hukum dan keagamaan. Mengingat apa yang sudah terjadi, kalian berdua akan tetap tinggal bersama di Penthouse. Namun, atas permintaan ibumu, Zephyr, PERNIKAHAN INI HARUS DIRAHASIAKAN dari publik, dan universitas demi menjaga nama baik keluarga, kakakmu Baxeena yang belum menikah, dan studi kalian berdua. Jaga Putriku baik-baik.'

Mata abu-abu Lux bergetar hebat saat membaca baris demi baris pesan tersebut. Dunianya yang baru saja terang benderang mendadak kembali runtuh menghantam bumi dengan kekuatan berlipat ganda.

"Apa... apa-apaan ini?!" jerit Lux, suaranya pecah dipenuhi rasa tak percaya yang amat sangat. "Ini gila! Hasil tesnya salah! Aku tidak hamil! Kenapa pernikahan ini tetap disahkan?! Kenapa orang tuamu justru menyetujuinya?!"

Lux menatap Braxton dengan pandangan menuntut yang liar. "Apa yang kau katakan pada orang tuamu, Hah?! Kenapa mereka bisa setuju?!"

Braxton terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati Lux, mengambil ponselnya sendiri dari tangan gadis itu lalu memasukkannya ke dalam saku.

"Aku tidak mengatakan apa-apa," jawab Braxton santai, menundukkan kepalanya sedikit untuk menyamakan pandangan mata mereka. "Orang tuaku dan orang tua mu mungkin berkesimpulan—karena aku mengaku bertanggung jawab malam itu... itu artinya aku memang sudah tidur denganmu."

Deg.

Wajah Lux mendadak pucat pasi, lalu berubah menjadi merah padam akibat amarah yang membakar hingga ke ubun-ubun.

"Kau... kau pria Bajingan!" amuk Lux, melayangkan pukulan keras ke dada Braxton.

BUGH! BUGH!

Braxton membiarkan pukulan-pukulan itu menghantam dadanya tanpa meringis sedikit pun. Ia justru tersenyum semakin lebar, menikmati kefrustrasian murni yang memancar dari wanita di depannya.

"Dan soal permintaan merahasiakan pernikahan..." lanjut Braxton dengan nada mengejek yang manis, "keinginanmu terkabul, Nyonya Desmon. Orang tuaku sendiri yang meminta agar pernikahan kita dirahasiakan dari universitas. Kau senang sekarang?"

"Senang katamu?!" seru Lux, dadanya naik turun memburu napas. "Pernikahan ini seharusnya BATAL! Kenapa aku harus tetap terikat dengan pria tidak tahu malu sepertimu?!"

Braxton memangkas jarak di antara mereka, melangkah maju hingga tubuh Lux terdesak ke tepi sofa. Ia menatap Lux dengan sepasang mata cokelatnya yang berkilat tajam—sebuah tatapan penuh dominasi yang mengunci seluruh pergerakan Lux.

"Karena keputusan sudah dibuat oleh kedua keluarga kita, Lux," bisik Braxton dengan suara berat yang menggetarkan udara di antara mereka. "Kau tidak hamil, tapi kau tetap istriku. Kita akan tetap tinggal di Penthouse ini, dan kita akan berpura-pura menjadi mahasiswa biasa yang tidak saling kenal di California University mulai minggu depan."

Braxton menyunggingkan senyum miring gilanya yang paling menawan, menatap bibir Lux sejenak sebelum kembali mengunci matanya.

"Selamat datang di babak baru pernikahan rahasia kita, Istriku," bisik Braxton penuh nada kemenangan.

Lux mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Braxton dengan kebencian murni yang siap meledakkan Penthouse itu kapan saja.

Pernikahan ini ternyata tidak berakhir dengan terbongkarnya kebenaran medis—sebaliknya, kebenaran itu justru mengunci mereka berdua dalam sebuah takdir rahasia yang jauh lebih rumit, liar, dan penuh marabahaya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mohon maaf kak reader, nama Mommy Braxton Typo 🙏🏻

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!