Comedy - Romance - Fantasy.
Tidak untuk anak-anak karena banyak konflik kerajaan.
Putri Becca Malcon, mendapatkan kesempatan hidup yang kedua, setelah sebelumnya mendapatkan hukuman mati oleh tunangannya sendiri, yaitu Pangeran Mahkota Ebert Oswald. Karena di fitnah telah menyakiti wanita kesayangan sang putra mahkota.
Jiwanya kembali ke masa lalu, saat dia memenangkan sayembara yang di adakan oleh Keluarga Kerajaan Oswald, dan sebelum dia mengucapkan keinginannya melamar Pangeran Ebert.
Di tengah kebimbangan antara takut akan kematian dan juga tidak mau menghancurkan harga diri keluarganya, Becca justru terpesona dengan ketampanan sang raja hingga tanpa sadar mengucapkan sebuah kalimat di hadapan ayah mertuanya.
“Sebagai hadiah, saya ingin.. Melamar Yang Mulia Raja Basilio Oswald.”
Dan saat Becca tersadar, dirinya tidak bisa mundur lagi saat sang ayah mertua atau Raja Basilio justru tersenyum miring, serta menyetujui lamaran itu bahkan berniat menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Teh beracun 2
Suasana makan pagi itu sedikit berantakan saat salah satu orang di sana, jatuh dari kursinya. Semua menoleh ke arah sumber suara, Fern sedikit berteriak histeris, saat putrinya terjatuh dari kursi dan kejang-kejang.
Sementara Becca menatap dengan raut wajah bingung, Raja Basilio memandang datar tanpa ada ekspresi apapun, Pangeran Ebert menampilkan ekspresi sedikit simpati kilas, tapi setelah itu menatap datar juga Pangeran Aldert secara sembunyi-sembunyi tersenyum miring seakan puas dengan apa yang terjadi di sana.
Dan tentu saja, dia tahu apa yang terjadi sebelum acara minum teh di pagi hari.
Flashback.
Saat semua pelayan repot mempersiapkan beberapa camilan dan gelas minuman. Ada salah satu pelayan yang sibuk mengurus bagian tehnya, dan pelayan lainnya yang telah selesai menaruh beberapa camilan, pergi ke dapur untuk meraih roti lainnya.
Lalu muncul Valia di sana, dia mengamati beberapa gelas yang sudah tersusun dengan rapi, dan dirinya sudah tahu susunan gelas yang akan dihidangkan.
“Ehm, bisa kau ambilkan aku gelas kosong ??” Ujar Valia dengan sopan pada seorang pelayan yang berada di ruangan itu sendiri.
“Tentu nona, biar saya ambilkan di dapur.” Ujar pelayan itu sopan, lalu pergi meninggalkan Valia sendirian di sana.
Melihat suasana yang sepi, Valia mengeluarkan sebuah botol kecil berisikan ramuan beracun yang berbahaya, dan meneteskannya pada gelas yang dia tahu, bagian untuk sang ratu.
Tanpa Valia sadari, Pangeran Ebert mengamati pergerakannya dari kejauhan. Sang putra mahkota membulatkan matanya, “Apa yang dia lakukan ??” Bisik sang pangeran dengan rendah, dia berniat untuk melabrak Valia, tapi sebuah tangan menahannya.
Pangeran Ebert menoleh melihat Pangeran Aldert yang ternyata juga mengamati pemandangan itu, dia menempelkan jarinya pada mulutnya.
“Ssttt.. Kakak jangan lakukan apapun sekarang, biarkan tikus itu merasa senang dengan rencananya dulu.” Ujar Pangeran Aldert dengan senyuman liciknya, melirik ke arah Valia, membuat kakaknya juga mengikuti gerakan mata adiknya.
Setelah Valia menutup dan menyembunyikan botol ramuan itu, sang pelayan datang membawakan dua gelas kosong kepada Valia. Barulah perempuan itu pergi dari sana, sambil membawa gelas kosong itu.
Setelah itu, Pangeran Aldert dan Pangeran Ebert keluar dari persembunyian mereka, dan menemui sang pelayan yang sedang melakukan pekerjaannya.
“Bi, apakah pekerjaanmu masih lama ??”
Pelayan itu menoleh dan membungkukkan badannya, “Sudah Pangeran Aldert, saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya. Ada yang bisa saya bantu ??”
Pangeran Aldert tersenyum senang, “Aku hanya ingin meminta bantuanmu, jika nanti Keluarga Jenderal Orson ingin mengambil minuman, katakan pada mereka, untuk mengambil gelas di ujung kanan meja, karena ada ramuan kesehatan khusus yang akan mereka minum.”
“Tentu Pangeran Aldert.”
“Oh iya, jika mereka bertanya, katakan saja kalau itu memang bagian khusus untuk mereka. Tapi jangan katakan apapun mengenai ramuan kesehatan itu, karena aku takut menyinggung mereka.” Ujar Pangeran Aldert dengan nada memelas, sang pelayan tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
“Baik Pangeran.”
“Baguslah, oh iya, tolong ambilkan beberapa camilan tambahan kesini, aku rasa di meja bagian kiri masih terlihat kosong.”
“Baik Pangeran, akan saya ambilkan. Saya permisi.” Ujar sang pelayan dengan sopan lalu meninggalkan mereka.
Perkataan adiknya, membuat sang pangeran mahkota terbingung, “Apa kau yakin ?? Mengucapkan dusta seperti ini, di wilayah Kerajaan ??”
Pangeran Aldert tersenyum misterius, “Bisa di katakan begitu, karena kita menghadapi tikus kak, jadi kita harus cerdik dan licik seperti ular.”
Pangeran Aldert meraih gelas untuk ratu yang sudah tercemar, lalu menuangkannya di gelas kosong yang memang sudah dia sembunyikan dari balik pakaiannya. Lalu dia menaruh gelas berisi racun itu, persis di sebelah kanan meja, memastikan jika racun itu akan kembali ke pemilik asalnya.
Dan untuk gelas milik ratu dia tukar dengan gelas baru yang mirip, di berikan teh khusus yang di sediakan jika memang raja atau ratu ingin teh tambahan, tapi sebelum menaruhnya ke meja, Pangeran Aldert malah mengeluarkan sebotol ramuan berbeda.
“Apa itu ??” Pangeran Ebert menatap bingung saat adiknya menuangkan sebuah ramuan ke gelas untuk ratu.
“Ini adalah ramuan kesehatan yang cocok untuk Bibi Becca. Dan ramuan ini, akan membuat rahimnya kuat dan sehat. Serta menyuburkan kandungan bibi~”
“Hah ??”
Pangeran Aldert terkekeh, “Aku tidak sabar menginginkan adik sekarang, tapi aku juga harus memastikan.. Tempat tumbuh calon adikku, harus sehat dan kuat.” Ujar Pangeran Aldert menaruh gelas itu di sebelah gelas ayahnya.
Pangeran Ebert menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
“Oh iya kak..”
“Hmm ??”
Pangeran Aldert menyeringai licik, dan menempelkan jarinya di bibirnya, “Jangan katakan pada siapapun, ini akan menjadi rahasia kita berdua.”
Pangeran Ebert menganggukkan kepalanya, mengetahui rencana licik adiknya itu.
Flashback off
Pangeran Ebert sengaja memberikan ekspresi sedikit bingung dan simpatik di matanya.
“Pelayan, panggilkan tabib khusus, dan tolong antarkan Valia ke ruang pemeriksaan.” Ujar Pangeran Ebert mengangkat suaranya, membuat para pelayan menganggukkan kepalanya, mereka kemudian menolong Valia yang masih dalam kondisi kejang-kejang, sementara Fern dan Jenderal Orson akhirnya mengikuti putri mereka yang di bawa oleh para pelayan.
Meninggalkan Raja Basilio dan Ratu Becca yang terdiam seakan masih mencerna apa yang sedang terjadi di depan mereka.
“Err... Apakah dia akan baik-baik saja ??” Tanya Ratu Becca membuka suaranya dengan ragu, apalagi dia melihat Valia kejang-kejang seperti orang yang terkena epilepsi.
“Jangan khawatir bibi, ada tabib khusus kerajaan yang cukup cerdik. Jadi Valia masih bisa di selamatkan.” Ujar Pangeran Aldert dengan santainya, sambil mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Pangeran Ebert juga langsung duduk di kursinya dan kembali menikmati makanan seperti tidak terjadi apapun di sana, membuat Ratu Becca semakin bingung dengan perilaku kedua anak tirinya itu.
“Sudahlah sayang, jangan di pikirkan mereka, lanjutkan saja makanmu jangan sampai kau kelaparan, apalagi setelah ini kita masih banyak acara.” Ujar Raja Basilio membuka suaranya, sembari mengelus rambut istrinya.
Becca menganggukkan kepalanya dan akhirnya kembali menikmati makanan di depannya, membuat Pangeran Aldert dan Pangeran Ebert sempat mencuri pandang ke arah ibu tiri mereka, dengan pikiran yang berbeda.
Pangeran Aldert tersenyum puas, mengetahui Becca sudah meminum ramuan untuk menyuburkan dan menguatkan rahimnya.
Sementara Pangeran Ebert malah berpikiran yang lain, dia melihat ayahnya jauh lebih tinggi daripada Becca, pikiran nakalnya mulai membayangkan bagaimana jadinya ibu tiri mereka yang pendek itu tertimbun oleh badan besar dan tegap ayah mereka di atas kasur.
Pangeran Ebert mengedipkan matanya beberapa kali, bayangan tubuh mungil yang di timpa badan sebesar gapura, membuatnya ingin tertawa sebenarnya, tapi dia mencoba untuk menahannya.
“Pfftt...” Pangeran Ebert berusaha menahan dirinya sendiri.
Adiknya sempat mendengarkan itu, dan menoleh menatap kakaknya dengan raut wajah heran, tapi sang kakak hanya menggelengkan pelan.
“Maaf, aku mengingat hal lucu. Jangan di pikirkan.” Ujar sang Pangeran Ebert dengan nada rendah tapi terlihat wajahnya masih menahan diri akibat imajinasi nakal itu.
❤️👑❤️👑❤️👑❤️👑❤️
Ya ampun, Pangeran Aldert malah ngajarin kakaknya yang enggak-enggak. Eh sadar gak sih, hubungan Pangeran Aldert dan Pangeran Ebert mulai membaik, udah kaya kakak dan adik, enggak seperti awal chapter 😌😌
Kayanya pengaruh Becca berpengaruh banget ya, buat hubungan di keluarga Kerajaan Varilia 😌😌
gapapa publish aja cerita baru pasti aku baca semua 😍😍😍🔥🔥🔥
gak papah lah klo masih seawet muda brad pitt🤣🤣🤣
latar kerajaaan bgini makin seru thor, berasa ky di novel2 terjemahaan. 😄
semangat thor😄