Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11: Kebangkitan Awakener Pertama
Malam itu, Arga menyadari bahwa dirinya hanya memiliki dua kemungkinan. Ketika botol kaca berisi ramuan itu menyentuh bibirnya, ia akan terlahir kembali sebagai manusia yang mampu mengubah takdir, atau mati bahkan sebelum kiamat benar-benar dimulai. Tidak ada jalan ketiga, tidak ada kesempatan kedua, dan tidak ada lagi waktu untuk menyesali pilihan.
Cahaya kebiruan di dalam botol berpendar lembut, memantulkan bayangan wajahnya yang tampak jauh lebih tua dibanding usianya. Di balik pantulan itu, ia seolah kembali melihat atap gedung tempat dirinya meregang nyawa, mendengar jeritan Sari yang gagal ia selamatkan, dan merasakan dinginnya tangan kematian yang pernah mencengkeram dadanya. Semua kenangan itu tidak lagi membangkitkan keraguan, melainkan berubah menjadi tekad yang ditempa oleh sepuluh tahun hidup di neraka.
Arga menarik napas panjang. Tatapannya tetap tenang, dipenuhi keyakinan yang telah diasah oleh penderitaan tanpa akhir. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangkat botol itu dan meneguk seluruh isinya hingga tetes terakhir.
Gluk...
Gluk...
Gluk...
Cairan itu terasa dingin saat melewati tenggorokannya, hampir seperti air biasa. Tidak ada ledakan energi, tidak pula sensasi panas yang langsung membakar tubuhnya. Selama beberapa detik pertama, kamar kos tetap diselimuti keheningan. Hanya dengung kipas angin tua yang berputar lambat di langit-langit menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
"Hanya itu?"
Arga mengernyit tipis. Namun sebelum pikirannya selesai membentuk pertanyaan, jantungnya tiba-tiba menghantam dadanya dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dum!
Satu hentakan mengguncang tubuhnya.
Disusul hentakan kedua.
Dum!
Lalu yang ketiga.
Dum!
Seluruh tubuhnya langsung menegang. Pembuluh darah di kedua lengannya memancarkan cahaya kebiruan yang perlahan merambat seperti aliran sungai di bawah kulit, menjalar menuju dada, leher, hingga wajahnya.
"Hnggh..."
Erangan tertahan lolos dari bibirnya. Suhu tubuhnya melonjak begitu cepat hingga setiap embusan napas berubah menjadi uap tipis, sementara keringat membanjiri dahinya hanya dalam hitungan detik dan membasahi pakaian yang dikenakannya.
Retak...
Suara itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri.
Kemudian terdengar lagi.
Krak...
Krak...
Tulang-tulangnya bergeser, bukan karena patah, melainkan seolah dipaksa berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat. Arga langsung jatuh berlutut di lantai, mencengkeram ubin hingga ruas-ruas jarinya memutih. Setiap helaan napas terasa seperti menghirup bara api yang membakar paru-parunya dari dalam.
Gelombang rasa sakit berikutnya datang tanpa belas kasihan.
Brak!
Tubuhnya terlempar ke samping ketika otot-otot di punggung berkontraksi hebat. Seluruh serat otot seolah dicabik satu per satu sebelum dirajut kembali menggunakan benang api yang tak kasatmata.
"Aaarrgh!"
Jeritannya menggema memenuhi kamar kos yang sempit. Namun tidak ada seorang pun yang datang mengetuk pintu. Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa, sementara di dalam ruangan kecil itu seorang manusia sedang bertaruh melawan takdirnya sendiri.
Rasa sakit yang menyerangnya begitu besar hingga sulit digambarkan dengan kata-kata. Seolah jutaan jarum menusuk setiap sel tubuhnya secara bersamaan, sementara palu raksasa menghancurkan seluruh tulang-belulangnya berkali-kali. Anehnya, di sela-sela erangan yang memenuhi ruangan, Arga justru tertawa pelan.
"Heh..."
Tawanya terdengar serak.
"Lebih ringan..."
"...daripada ramuan mereka."
Ingatannya kembali pada laboratorium Organisasi Hitam. Ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana para subjek eksperimen menjerit sambil tubuh mereka meledak dari dalam akibat metode sinkronisasi yang dipaksakan. Dibandingkan penderitaan itu, resep asli yang ditemukan para penyintas jauh lebih manusiawi. Rasa sakit ini masih bisa ditahan.
Arga menggigit bibirnya hingga darah mengalir. Ia tahu bahwa dirinya tidak boleh kehilangan kesadaran. Selama proses evolusi berlangsung, kehendak manusia adalah jangkar terakhir yang menjaga jiwa agar tidak hanyut bersama energi kristal. Banyak penyintas pada kehidupan sebelumnya gagal bukan karena tubuh mereka lemah, melainkan karena semangat mereka runtuh lebih dahulu.
"Aku..."
Napasnya memburu.
"...tidak akan kalah."
Waktu perlahan kehilangan maknanya. Menit demi menit berlalu diiringi jeritan yang sesekali kembali memenuhi ruangan. Tulang Arga menjadi lebih padat, otot-ototnya tersusun semakin rapat, sementara organ-organ dalam tubuhnya mengalami penyempurnaan yang bahkan tidak mampu dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern.
Hum...
Cahaya kebiruan kini memenuhi seluruh kamar. Udara di sekelilingnya ikut bergetar halus seolah sedang merespons perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya. Hampir satu jam kemudian, getaran itu perlahan mereda. Pembuluh darah yang semula bersinar kembali ke warna normal, napasnya yang sempat memburu menjadi teratur, dan rasa sakit yang membakar setiap inci tubuhnya lenyap seolah tidak pernah ada.
Keheningan kembali menguasai ruangan. Arga perlahan membuka mata, tetapi hal pertama yang ia sadari bukanlah perubahan pada tubuhnya, melainkan perubahan pada indranya. Detak jam dinding yang sebelumnya terdengar samar kini menggema begitu jelas, seolah berada tepat di samping telinganya.
Tik...
Tik...
Tik...
Ia bahkan mampu mendengar suara tetesan air dari keran kamar mandi yang belum tertutup rapat.
Plik...
Plik...
Plik...
Arga perlahan bangkit berdiri. Seluruh tubuhnya terasa seringan kapas, tetapi di balik rasa ringan itu tersembunyi kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengepalkan tangan perlahan dan merasakan otot-otot di lengannya mengencang tanpa perlu mengeluarkan usaha.
"Berhasil..."
Ia mengangkat kedua telapak tangannya ke depan wajah. Tidak ada luka, tidak ada bekas rasa sakit, tetapi ia memahami satu kenyataan yang tidak dapat disangkal.
Ia bukan lagi manusia biasa.
Untuk memastikan perubahan itu, Arga berjalan menuju meja kayu di sudut kamar. Dengan satu tangan saja ia menggenggam sisi meja tersebut, lalu mengangkatnya perlahan. Benda yang biasanya membutuhkan tenaga kedua tangan kini terasa tidak lebih berat daripada tas sekolah. Senyum tipis pun muncul di wajahnya.
Ia kemudian mengambil sebuah koin logam dan melemparkannya ke udara.
Ting!
Koin itu berputar cepat di udara, tetapi mata Arga mampu mengikuti setiap putarannya dengan jelas. Bahkan goresan-goresan kecil pada permukaan logam terlihat begitu nyata sebelum benda itu kembali jatuh ke telapak tangannya.
"Refleksku..."
Ia mengembuskan napas pelan.
"...berhasil meningkat."
Namun perubahan terbesar ternyata belum berhenti sampai di sana. Ketika tanpa sadar memanggil Ruang Dimensi, kesadarannya kembali memasuki hamparan putih tak berbatas yang selama ini menjadi tempat penyimpanan seluruh barang miliknya.
Begitu tiba di sana, Arga langsung terdiam. Jika sebelumnya ruang itu hanya seluas sebuah gudang kecil, kini cakrawalanya membentang begitu jauh hingga nyaris tak terlihat ujungnya. Tumpukan logistik, senjata, dan perlengkapan yang dahulu memenuhi sebagian besar ruang kini tampak tidak lebih dari setitik debu di tengah padang putih yang luas.
"Ruangnya..."
"...bertambah."
Ia berjalan semakin jauh, puluhan meter tanpa henti. Namun batas ruang tersebut tetap tidak terlihat. Saat itulah sensasi aneh muncul dari dalam dadanya. Bukan suara, bukan pula cahaya, melainkan gelombang halus yang menjalar keluar dari tubuhnya ke segala arah.
Hum...
Kesadarannya terus meluas. Ia merasakan keberadaan sesuatu beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri. Bukan manusia, bukan benda mati, melainkan titik-titik energi kecil yang berdenyut perlahan.
"Kristal..."
gumamnya.
Satu titik muncul.
Kemudian titik kedua.
Ketiga.
Keempat.
Puluhan denyut energi samar tersebar di berbagai penjuru Jakarta. Sebagian sangat kecil, sebagian lain nyaris menghilang. Namun jauh di arah timur, muncul satu denyut energi yang begitu besar hingga membuat Ruang Dimensi ikut bergetar.
Hum...
Hum...
Hum...
Arga langsung membuka mata.
"Sektor-9..."
Ia mengenali arah tersebut. Energi sebesar itu hanya mungkin berasal dari gudang penyimpanan puluhan kristal eksperimen yang pernah dilihatnya beberapa hari sebelumnya. Namun yang jauh lebih mengejutkan adalah kemampuan baru yang baru saja ia sadari.
Sensor Dimensi.
Kemampuan itu tidak pernah dimiliki Ruang Dimensi pada kehidupan sebelumnya. Setidaknya, Arga tidak pernah mendengar ada Awakener yang mampu merasakan keberadaan kristal dari jarak sejauh itu.
"Jadi..."
Tatapannya berubah semakin serius.
"Ruang Dimensi ikut berevolusi bersamaku."
Untuk pertama kalinya, Arga mulai curiga bahwa kemampuan yang ia miliki bukan sekadar Ruang Dimensi biasa. Kemungkinan besar ia membawa sesuatu yang bahkan belum pernah lahir pada garis waktu sebelumnya, sesuatu yang dapat mengubah seluruh keseimbangan kekuatan di masa depan.
Menjelang dini hari, rasa penasaran akhirnya mengalahkan kelelahan. Arga meninggalkan kamar kos menuju lokasi infeksi terdekat yang belum sempat dibersihkan. Ia ingin mengetahui seberapa besar perubahan yang telah terjadi pada tubuhnya setelah menjadi Awakener.
Lorong bangunan kosong itu sunyi. Namun bahkan sebelum membuka pintu ruang arsip, Sensor Dimensi telah menangkap satu denyut energi lemah yang tersembunyi di baliknya. Arga langsung mengetahui apa yang sedang menunggu.
Zombie Tier 1.
Ia membuka pintu perlahan.
Kreeek...
Zombie itu mengangkat kepalanya.
"Graaah!"
Belum sempat makhluk itu melangkah, tubuh Arga telah lebih dahulu bergerak.
Tap!
Satu langkah.
Sret!
Parang melintas.
Buk.
Tubuh zombie langsung roboh. Seluruh pertarungan berakhir bahkan sebelum geraman kedua sempat keluar dari mulut makhluk tersebut.
Arga memandangi mayat itu selama beberapa detik. Dahulu ia membutuhkan strategi, kesabaran, dan pengalaman untuk menghadapi lawan seperti itu. Kini ia bahkan belum mengeluarkan separuh kekuatannya.
Saat hendak meninggalkan ruangan, Sensor Dimensi kembali berdenyut. Namun kali ini sensasinya berbeda. Yang ia rasakan bukan energi kristal, bukan pula keberadaan zombie, melainkan denyut hangat yang terasa asing dan bergerak perlahan beberapa kilometer dari tempatnya berdiri.
"Itu..."
Arga memejamkan mata.
"Energi manusia?"
Pada saat yang sama, jauh di dalam kompleks bawah tanah Sektor-9, pria berjubah hitam yang pernah bertarung dengannya perlahan membuka mata dari posisi bermeditasi.
Hum...
Udara di sekelilingnya ikut bergetar pelan. Ia memalingkan wajah ke arah kota Jakarta seolah mampu menembus puluhan meter beton yang memisahkannya dari dunia luar. Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya.
"Jadi..."
Suara pria itu tetap tenang.
"...akhirnya lahir juga."
Di kejauhan, Arga perlahan membuka matanya kembali. Meski tidak mengetahui siapa yang sedang memandang ke arahnya, ia dapat merasakan bahwa denyut energi asing itu juga telah menemukan dirinya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, kedua pemburu tersebut saling menyadari keberadaan satu sama lain.
Dan pada saat itulah, perburuan yang sesungguhnya akhirnya dimulai.