NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2.Arti angka.

Begitu sampai di dalam kamar, Ivy segera menutup dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia bersandar di balik pintu, bahunya terkulai lemas, dan pandangannya terus terangkat ke atas, menatap angka yang melayang samar tepat di atas kepalanya. Angka itu masih terlihat jelas, menyala redup namun tidak pernah hilang: 30:20:01, seolah jam yang terus berdetak tanpa henti, menghitung mundur setiap detik yang tersisa untuknya.

Ivy berjalan perlahan menuju cermin besar yang tergantung di dinding, lalu berdiri tepat di hadapannya. Ia mengamati bayangan dirinya sendiri, dan lagi-lagi angka itu tetap terlihat jelas, mengambang di atas ubun-ubunnya.

“Apa ini sebenarnya?” gumamnya pelan, matanya menyipit mencoba memahami apa yang dilihatnya. “Kenapa hanya aku yang bisa melihatnya? Bibi Nora, para pelayan, bahkan orang lain tadi tidak menyadarinya sedikit pun. Apakah ini efek dari penyakitku? Atau ini hanya halusinasi saja?”

Ia mencoba mengibaskan tangannya di depan angka itu, mencoba meniupnya seolah itu hanya asap, bahkan mencoba menyentuhnya dengan ujung jari. Namun tangannya hanya menembus ruang kosong, angka itu tetap berada di tempatnya, berjalan terus tanpa terganggu sedikit pun. Setelah merasa lelah mencoba memahaminya, Ivy menghela napas panjang dan memutuskan untuk mengabaikannya untuk sementara.

Ia berjalan menuju ranjang empuknya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi telentang. Matanya masih terpejam, pikirannya kacau antara vonis dokter, perlakuan orang tuanya, dan pengkhianatan yang baru saja didengarnya dari balik pintu ruang keluarga. Perlahan, rasa lelah yang luar biasa menyelimuti seluruh tubuhnya, dan tanpa sadar matanya terpejam lelap, terhanyut ke dalam alam mimpi.

Namun tidurnya tidak tenang. Di dalam mimpinya, ia melihat Oliv berdiri di depannya sambil tersenyum miring yang penuh kemenangan. Di belakang Oliv terlihat sosok ayah, ibu, dan Brian berdiri berdampingan seolah menjadi satu keluarga yang sempurna.

“Kau lihat, Ivy?” suara Oliv terdengar lantang dan mengejek, “Sejak awal kau hanya pengganggu. Sekarang kau akan pergi selamanya, dan pada akhirnya semuanya akan menjadi milikku. Kasih sayang Ayah dan Mama, kedudukan di keluarga ini, bahkan calon suamimu itu—semuanya akan menjadi hakku sepenuhnya. Kau tidak akan meninggalkan apa-apa selain kenangan yang akan segera mereka lupakan.”

Mendengar kata-kata itu, dada Ivy terasa sesak hingga sulit bernapas. Ia ingin berteriak, ingin membantah, namun suaranya terasa tercekat di tenggorokan dan tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun.

Tiba-tiba, ia terbangun dengan kaget, duduk tegak sambil terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, jantungnya berdegup kencang seolah baru saja berlari sejauh kilometer. Cahaya lampu malam yang redup masih menyala, dan jam dinding menunjukkan pukul dua lewat seperempat dini hari.

Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, Ivy menyadari satu hal yaitu selama ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia memaksakan tubuhnya yang masih lemah untuk terlihat kuat, sempurna, dan tak kalah dari siapa pun hanya demi mendapatkan pengakuan. Ia menahan rasa sakit, menahan lelah, dan mengubur segala keinginannya hanya agar terlihat layak menjadi putri keluarga Dermawan yang kaya raya dan terhormat.

“Kenapa aku harus hidup seperti ini?” bisiknya pada diri sendiri.

Ia turun dari ranjang, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya. Di bagian paling bawah, tersimpan rapi sebuah tas kain sederhana yang dibawanya saat pertama kali datang ke kota. Ia membuka tas itu dengan hati-hati, lalu mengeluarkan satu bingkai foto usang yang terawat baik. Di dalamnya terlihat sosok kakek dan neneknya tersenyum lebar, duduk di teras rumah sederhana di desa tempat ia dibesarkan.

Melihat wajah mereka, benteng pertahanan hati Ivy pun runtuh seketika. Ia memeluk foto itu erat-erat di dadanya, lalu menangis sekuat tenaga, meluapkan segala rasa sakit, kecewa, lelah, dan ketakutan yang selama ini ia pendam sendirian.

“Kakek… Nenek… Mengapa nasibku harus seperti ini?” isaknya tergugu. “Di sini aku hidup bagai burung dalam sangkar emas. Aku harus bicara dengan bahasa yang sopan, berjalan dengan sikap yang anggun, mempelajari bisnis dan tata krama, melakukan apa saja yang diinginkan Ayah dan Mama. Tapi tidak ada satu pun yang menanyakan apa yang sebenarnya aku inginkan.”

Ia mengusap air matanya yang terus mengalir, suaranya semakin lirih namun penuh penyesalan. “Aku lupa… aku lupa apa yang dulu ingin aku lakukan. Aku ingin seperti Nenek, mengobati orang-orang yang sakit tanpa memandang kaya atau miskin, hidup sederhana namun penuh makna. Aku ingin membantu orang lain, bukan hanya duduk di ruang rapat membahas angka-angka keuntungan. Tapi demi diterima di keluarga ini, aku mengubur semua impian itu begitu saja hingga aku sendiri hampir lupa akan keberadaannya.”

Setelah puas meluapkan segala perasaannya, Ivy berdiri dan berjalan kembali ke depan cermin. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, lalu mengangkat pandangannya ke atas kepalanya. Angka yang tadi masih menunjukkan 30 hari, kini sudah berubah menjadi 29 hari. Detik terus berjalan, waktu terus berkurang tanpa bisa dihentikan.

Seketika itu juga, sebuah keputusan bulat terbentuk di dalam hatinya.

“Jadi begini maksudnya… angka itu menunjukkan sisa umurku. Setiap detik yang berlalu, semakin mendekatkan aku pada akhir,” gumamnya perlahan, namun kali ini tidak ada lagi rasa panik yang berlebihan.

Ia menatap tajam ke arah bayangan dirinya sendiri, matanya mulai bersinar kembali dengan tekad yang baru.

“Kalau hanya tersisa waktu sesingkat ini, untuk apa aku terus memaksakan diri menjadi orang yang bukan diriku? Untuk apa tetap berjuang mendapatkan tempat di hati orang-orang yang bahkan tidak benar-benar mengenal siapa diriku sebenarnya?”

Ivy menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah melepaskan segala beban yang selama ini membebani bahunya.

“Selama hidupku, aku selalu berusaha menjadi baik, mengalah, dan mengikuti aturan mereka. Tapi kali ini… kali ini aku akan bersikap egois untuk pertama kalinya. Dalam waktu yang tersisa ini, aku tidak akan hidup untuk siapa pun lagi. Aku akan hidup untuk diriku sendiri, melakukan apa yang aku inginkan, menjadi apa yang aku inginkan, dan tidak ada lagi yang bisa menghentikanku. Biarlah mereka melihatku sesuka hati, karena sebentar lagi aku akan pergi, dan aku tidak akan menyesali satu detik pun yang telah berlalu.”

Dengan senyum yang tulus dan tenang untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ivy memegang foto kakek dan neneknya kembali, lalu berbaring di atas ranjang dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia tahu perjalanan ke depannya tidak akan mudah, namun setidaknya sekarang ia memiliki tujuan yang jelas yaitu menghabiskan sisa waktunya dengan cara yang membuat hatinya damai.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!