Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Rumah Di Tempat Baru
Setelah pintu tertutup rapat dan langkah kaki Max tidak lagi terdengar di koridor, Yeza perlahan merosot dan duduk di atas karpet ruang tamu. Ia memegangi kedua pipinya yang masih terasa sangat panas. Kejadian beberapa menit lalu terasa seperti mimpi yang luar biasa memalukan sekaligus mendebarkan.
"Bodohnya aku... bagaimana bisa aku refleks memeluknya seperti itu?" rutuk Yeza pada dirinya sendiri sambil menyembunyikan wajah di lututnya.
Untuk mengalihkan pikirannya yang mulai traveling ke mana-mana, Yeza buru-buru meraih ponsel di saku celananya. Ada satu hal penting yang harus ia lakukan sekarang untuk menenangkan hatinya: menghubungi ibunya.
Yeza mencari kontak sang ibu dan menekan tombol panggilan video. Tidak butuh waktu lama bagi panggilan itu untuk tersambung. Layar ponselnya langsung menampilkan wajah segar Bu Asih yang melambaikan tangan dengan latar belakang teras rumah mereka. Tampak sayup-sayup suara riuh tetangga sebelah yang sedang mengobrol.
"Halo, Assalamualaikum, Yeza sayang. Sudah sampai, Nduk?" tanya ibunya langsung dengan nada suara yang penuh kerinduan.
"Waalaikumsalam, Ibu. Iya, Yeza sudah sampai dari tadi," jawab Yeza, berusaha membuat suaranya terdengar senormal mungkin agar ibunya tidak menangkap sisa-sisa kegugupannya.
"Alhamdulillah. Bagaimana perjalanannya? Lancar? Apartemennya bagaimana, Nak?" berondong ibunya bertubi-tubi, khas seorang ibu yang khawatir sekaligus penasaran.
Yeza tersenyum lalu memutar kamera ponselnya untuk memperlihatkan sekeliling ruangan. "Lancar sekali, Bu. Kak Bram menyetirnya sangat aman. Dan Ibu lihat ini... apartemennya sangat luas dan indah. Ini ruang tengahnya, lalu di sana ada dapur yang bersih sekali. Kulkasnya bahkan sudah diisi penuh dengan makanan sehat oleh orang-orangnya Max."
Ibunya tampak berdecak kagum melihat kemewahan yang tertangkap di layar ponsel. "Masya Allah, bagus dan bersih sekali, Nduk. Nak Max benar-benar orang yang bertanggung jawab dan sangat baik ya. Kamu harus benar-benar menjaga kebersihan tempat itu, jangan sampai mengecewakan dia."
"Iya, Ibu. Pasti Yeza jaga dengan baik," ucap Yeza tulus. Ia kembali memutar kamera ke wajahnya sendiri. "Oh iya, Bu. Kamar tidur utama di sini besar sekali, jadi Yeza pakai kamar yang itu. Rasanya nyaman sekali."
Bu Asih tersenyum lega, matanya yang mirip dengan mata Yeza berbinar penuh rasa syukur. "Ibu ikut senang mendengarnya kalau kamu nyaman di sana. Di sini rumah juga aman, Nduk. Tadi sepulang mengajar, Ibu langsung disambut Bu RT dan ibu-ibu lain. Mereka semua titip salam buat kamu dan mendoakan agar pekerjaan barumu sukses."
"Syukurlah kalau Ibu tidak sendirian di rumah. Sampaikan terima kasih Yeza untuk ibu-ibu tetangga ya, Bu."
Mendengar suara ibunya dan keriuhan suasana rumah yang familiar perlahan-lahan membuat detak jantung Yeza yang tadinya riuh akibat pelukan spontan kepada Max mulai kembali normal. Lingkungan padat penduduk rumahnya yang selalu hangat seolah hadir di dalam unit apartemennya yang sunyi ini.
"Ya sudah, Yeza. Kamu pasti lelah setelah beres-beres barang. Istirahatlah dulu, makan bekal yang Ibu buatkan tadi ya. Jangan lupa shalat dan selalu berdoa," pesan ibunya sebelum mengakhiri panggilan.
"Iya, Ibu. Ibu juga jangan capek-capek ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, sayang."
Layar ponsel itu menggelap. Yeza mengembuskan napas panjang dengan senyum yang merekah. Setidaknya, satu tanggung jawabnya hari ini sudah selesai. Ia menatap koper alat makeup pemberian Max yang masih terbuka di lantai.
Mengingat kembali tatapan mata Max sebelum pria itu pergi terburu-buru, Yeza menggigit bibir bawahnya. Lembaran baru ini ternyata tidak hanya membawa perubahan pada kariernya, tetapi juga mulai mengusik bagian terdalam dari hatinya.
Setelah panggilan video dengan ibunya berakhir, Yeza meletakkan ponselnya di atas meja marmer. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan pelukan spontannya dengan Max yang masih sesekali melintas di pikiran.
"Fokus, Yeza. Kamu di sini untuk bekerja," gumamnya mengingatkan diri sendiri.
Ia kemudian berlutut di depan koper hitam pemberian Max, dengan sangat hati-hati memindahkan sisa peralatan makeup baru yang super mewah itu ke laci meja rias di kamar utamanya. Setelah memastikan semua sudut kamarnya rapi dan tidak ada lagi barang yang berserakan, perut Yeza tiba-tiba berbunyi pelan. Rasa lapar mulai melilit lambungnya setelah beberapa jam menguras tenaga untuk pindahan dan beres-beres.
Yeza berjalan kembali ke dapur dan membuka pintu kulkas dua pintu yang besar itu. Sekali lagi, ia dibuat takjub dengan isinya yang sangat melimpah. Selain sayuran dan buah-buahan segar, ada berbagai macam produk olahan susu, daging potong, hingga camilan premium.
Jemari Yeza bergerak menelusuri rak kulkas dan mengambil sebungkus sosis sapi berkualitas premium. Sejak dulu, Yeza memang memiliki kebiasaan unik: ia sangat jarang mengonsumsi nasi jika hari sudah beranjak malam. Selain untuk menjaga berat badan dan bentuk badannya agar tetap ideal sebagai seorang pembuat konten kecantikan, makan makanan berat di malam hari sering kali membuatnya mengantuk berlebihan dan merasa begah saat bangun subuh.
"Goreng sosis saja sepertinya sudah cukup untuk mengganjal perut," ujarnya pelan.
Yeza menyalakan kompor induksi yang modern di dapur tersebut. Dengan cekatan, ia menuangkan sedikit minyak zaitun ke atas wajan anti lengket, lalu memasukkan beberapa buah sosis yang telah ia kerat-kerat ujungnya. Suara desisan minyak yang beradu dengan daging langsung memenuhi dapur yang sunyi itu, berbaur dengan aroma gurih yang menggugah selera.
Hanya butuh waktu beberapa menit sampai sosis-sosis itu matang dengan warna cokelat keemasan yang sempurna. Yeza menatanya di atas piring porselen putih, lalu menambahkan sedikit saus sambal di pinggirnya.
Ia membawa piring tersebut ke area meja makan yang menghadap langsung ke jendela kaca besar. Sembari mengunyah sosisnya perlahan, mata Yeza menatap lurus ke luar jendela. Dari lantai sepuluh ini, pemandangan kota Jakarta di malam hari terlihat begitu hidup namun terasa sangat jauh dan sunyi dari tempatnya duduk. Kontras sekali dengan rumah lamanya di kawasan padat penduduk yang jam segini biasanya masih riuh oleh suara motor atau obrolan tetangga di pos ronda.
Di tengah keheningan itu, pandangan Yeza tanpa sadar melirik ke arah dinding sebelah barat—dinding pembatas yang langsung menghubungkan unitnya dengan unit milik Maxemilian.
Apakah Max juga sedang makan malam saat ini? Atau dia masih sibuk menghafal naskahnya? Pikir Yeza dalam hati, kembali merasakan sedikit debaran aneh yang mulai menjalar di dadanya.