NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 24: Menatap dari Balik Kaca Gelap

Satu minggu setelah pengusiran dari rumah besar mereka, Kirana kini menjalani kehidupan barunya di sebuah kamar kos berukuran tiga kali empat meter di kawasan padat penduduk di pinggiran Jakarta. Kamar itu terasa sangat pengap, dengan dinding semen yang mulai berjamur dan suara bising kendaraan bermotor dari gang sempit di luar yang tak pernah berhenti terdengar.

Ibu Ratna hanya bisa berbaring di atas kasur busa tipis di lantai, mengeluhkan sakit kepalanya yang tak kunjung sembuh, sementara Riko sibuk mencari lowongan pekerjaan paruh waktu di internet menggunakan ponsel tuanya yang layarnya sudah retak seribu.

Kirana berdiri di depan cermin kecil yang menggantung di dekat pintu kamar mandi. Dia menyisir rambutnya, mencoba merapikan penampilannya sebelum berangkat kerja. Ya, Kirana kini bekerja sebagai staf administrasi biasa di sebuah toko distributor sembako kecil dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar sewa kos dan makan harian mereka bertiga.

Selesai bersiap, Kirana berjalan kaki menuju halte busway terdekat. Di tengah perjalanan, pandangannya mendadak terkunci pada sebuah papan reklame digital raksasa (videotron) yang terpasang di perempatan jalan protokol.

Di layar besar itu, wajah tampan Aldi Pratama terpampang dengan sangat jelas. Aldi mengenakan setelan jas formal rancangan desainer Italia, berdiri di podium dalam acara International Economic Forum. Dia sedang menerima penghargaan sebagai "Young CEO of the Year" tingkat Asia Tenggara. Senyumnya tampak begitu menawan, berwibawa, dan memancarkan karisma seorang pemimpin global yang dikagumi oleh jutaan orang.

Kirana menghentikan langkah kakinya di trotoar. Dia menatap layar digital itu tanpa berkedip, mengabaikan lalu lalang pejalan kaki yang menyenggol bahunya. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa dibendung.

“Mas... kamu hebat sekali di sana,” bisik Kirana dalam hati, dadanya terasa sesak oleh kerinduan dan penyesalan yang tak akan pernah menemukan ujungnya. “Dulu, senyum itu selalu ada untukku setiap pagi di meja makan kecil kita. Dulu, tangan yang memegang piala emas itu adalah tangan yang selalu menggenggam tanganku saat aku ketakutan... Kenapa aku bisa sebodoh itu melepaskanmu?”

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce berwarna hitam legam dengan kaca yang sangat gelap melintas perlahan di jalan raya, tepat di depan posisi Kirana berdiri karena tertahan lampu merah.

Jantung Kirana berdegup kencang ketika kaca mobil bagian belakang perlahan diturunkan beberapa sentimeter. Dari celah kaca yang terbuka itu, Kirana bisa melihat dengan sangat jelas sosok Aldi sedang duduk di kursi penumpang yang nyaman, sedang membaca beberapa dokumen di tabletnya sambil mendengarkan penjelasan dari Edi yang duduk di depannya.

"Mas Aldi!" teriak Kirana secara refleks. Dia berlari mendekati pembatas jalan trotoar, melambaikan tangannya dengan histeris. "Mas Aldi! Ini aku, Kirana! Mas!"

Mendengar suara teriakan yang familier, Aldi menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia menolehkan wajahnya ke arah jendela, menatap lurus ke arah trotoar tempat Kirana sedang berdiri dengan pakaian kerjanya yang sederhana dan wajah yang sembap oleh air mata.

Pandangan mata mereka bertemu selama tiga detik. Namun, tidak ada keterkejutan, tidak ada amarah, dan tidak ada kerinduan di dalam mata hitam Aldi. Tatapan mata pria itu benar-benar datar, dingin, dan kosong—seolah-olah dia hanya sedang melihat seonggok sampah atau orang asing yang tak sengaja berteriak di jalanan kota yang sibuk.

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Kaca mobil Rolls-Royce itu dinaikkan kembali hingga menutup rapat, memutus pandangan di antara mereka. Mobil mewah itu melesat cepat, membelah jalanan ibu kota dan menghilang di balik tikungan, meninggalkan Kirana yang jatuh berlutut di atas trotoar semen yang keras, menangis tersedu-sedu di tengah deru klakson kendaraan yang bersahut-sahutan.

Aldi Pratama telah benar-benar melangkah jauh ke depan, meninggalkan Kirana dan masa lalunya di dalam kubangan penyesalan yang abadi, membuktikan bahwa racun gengsi yang dulu dipelihara Kirana kini telah berubah menjadi senjata yang membunuh seluruh kebahagiaan hidupnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!