Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.
Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.
"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.
Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Dan Penawaran Berbahaya
Ruangan berpendingin udara itu mendadak terasa begitu panas. Tatapan Arsen yang terkunci rapat pada bibirnya membuat Aluna merasa terhipnotis sekaligus terjepit dalam situasi yang tak menguntungkan. Lingkaran tangan kokoh di pinggangnya bertambah erat, seolah memberikan ketegasan bahwa ia tak akan dilepaskan sebelum memenuhi permintaan sang majikan muda.
"Coba katakan. Panggil namaku," ulangi Arsen sekali lagi, lebih lembut namun sarat akan perintah mutlak.
Aluna menelan ludah dengan susah payah. Lidahnya terasa begitu kelu untuk menyebut nama pria yang posisinya sangat tinggi di atasnya itu tanpa embel-embel penghormatan. Namun, jarak wajah mereka yang kian menipis membuatnya tak punya pilihan lain selain menyerah.
"A-Arsen..." bisik Aluna akhirnya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, hampir tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.
Mendengar namanya disebut langsung dari bibir mungil Aluna tanpa sekat formalitas, tatapan mata Arsen seketika berubah pekat. Rasa puas yang luar biasa mendadak menjalar di dadanya. Senyum miring yang sedari tadi terukir kini bertransformasi menjadi tatapan penuh gairah dan kepemilikan.
"Pintar," puji Arsen rendah.
Tanpa memberikan jeda bagi Aluna untuk bernapas lega, Arsen memajukan wajahnya dan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Aluna. Ciuman itu tidak lagi ragu-ragu seperti sebelumnya. Arsen menyesapnya dengan lembut namun menuntut, memabukkan Aluna yang hanya bisa pasrah dalam kungkungan pria itu.
Kedua tangan Aluna yang berada di dada bidang Arsen tadinya berniat mendorong, namun kekuatan di jemarinya seolah menguap begitu saja. Kain kemeja Arsen justru tercengkeram erat oleh jemari Aluna yang gemetar, menahan tubuhnya sendiri agar tidak sepenuhnya melayang dalam sensasi yang membakar seluruh persendiannya.
Arsen melepas ciuman itu perlahan, membiarkan dahi mereka saling bertumpu. Napasnya memburu halus, menyapu kulit wajah Aluna yang merona merah padam dan terasa panas. Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu, mengamati bibir yang baru saja ia resapi dengan penuh gairah.
"Kamu mahir sekali," ucap Arsen rendah, suara baritonnya yang serak menyiratkan ketakjuban sekaligus rasa penasaran yang mendalam. Arsen mengelus pipi Aluna dengan ibu jarinya, lalu bertanya dengan tatapan menyelidik, "Apakah di desamu kamu pernah berciuman?"
Pertanyaan yang begitu pribadi itu membuat Aluna terkejut. Tubuhnya sempat menegang di pangkuan Arsen. Dengan rasa ragu yang membakar dadanya, Aluna menundukkan pandangan, tak berani menatap langsung mata sang majikan.
"I-iya..." jawab Aluna pelan, suaranya cicit bergetar. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan dengan jujur, "Saya pernah berpacaran dan berciuman... Tapi, lebih dari itu tidak pernah," tegas Aluna cepat, seolah ingin memastikan Arsen tidak berpikiran buruk tentang dirinya.
Mendengar pengakuan jujur itu, ada kilatan emosi asing yang mendadak membakar dada Arsen—campuran antara rasa cemburu pada masa lalu gadis itu dan kepuasan karena mengetahui Aluna belum pernah disentuh lebih jauh oleh pria mana pun.
Arsen mengepalkan tangannya sejenak di pinggang Aluna, menarik tubuh sintal itu hingga semakin menempel rapat pada dada bidangnya. Tatapannya mendadak menggebu-gebu, dipenuhi oleh keinginan mendalam yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"Ayo lakukan denganku," ucap Arsen dengan suara berat yang dipenuhi bisikan godaan, memperjelas batas berbahaya yang siap ia terjang bersama pelayan pribadinya itu.
Kalimat yang baru saja keluar dari bibir Arsen laksana sambaran petir yang seketika mengembalikan seluruh kesadaran Aluna. Wajahnya yang semula merona merah kini memucat karena terkejut. "Lakukan denganku"—dua kata itu terdengar begitu berbahaya di telinganya.
Dengan sisa-sisa tenaga dan keberanian yang dimilikinya, Aluna mengumpulkan kekuatan. Ia mendorong dada bidang Arsen dengan keras dan melepaskan diri dari paha berotot pria itu.
"M-maaf, Den Arsen! Saya... saya harus kembali ke bawah untuk membereskan rumah!" pangkas Aluna terbata-bata.
Tanpa menunggu balasan atau izin dari sang majikan, Aluna berbalik dan berlari cepat keluar dari kamar megah itu. Langkah kakinya terdengar terburu-buru menyusuri koridor lantai dua, meluncur turun melewati tangga jati seolah-olah sedang dikejar oleh bahaya besar.
Di dalam kamar, Arsen tidak beranjak dari sofanya. Ia menatap pintu kamarnya yang masih terbuka lebar dengan kekehan rendah yang lolos dari tenggorokannya. Suara tawa baritonnya terdengar begitu seksi dan renyah di dalam ruangan yang sunyi.
Arsen menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memijat pelan pelipisnya sembari tersenyum miring. Ia sangat puas melihat kepanikan dan kepolosan pelayan pribadinya itu. Menakut-nakuti Aluna dan melihat reaksi lucunya mendadak menjadi hiburan paling menarik baginya di rumah yang sepi ini.
Namun, di balik kekehan puasnya, Arsen mengelus bibirnya sendiri yang masih menyisa aroma dan rasa dari bibir Aluna. Ia tahu, gertakan dan godaannya tadi bukan sekadar main-main semata. Seminggu ke depan baru saja dimulai, dan permainan ini akan semakin menarik.