NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Jalan sama shiro

Langit mulai berubah jingga ketika Keiko dan Kyo menuruni tangga batu, meninggalkan kuil. Suasana yang sejak pagi ramai kini kembali lengang. Beberapa warga masih terlihat membereskan tikar dan cangkir teh, sementara Paman berdiri di depan aula, melambaikan tangan kepada setiap orang yang hendak pulang.

"Terima kasih banyak sudah membantu hari ini," seru Paman.

Perjalanan pulang berlangsung santai. Sesekali mereka mengobrol tentang barang-barang tua yang ditemukan di gudang, sesekali mereka hanya terdiam, menikmati semilir angin sore yang bertiup dari pegunungan.

Saat melewati persimpangan menuju rumahnya, Keiko menoleh ke belakang. Shiro tidak terlihat.

"Hm..."

Kyo ikut menoleh sekilas. "Mungkin dia masih di kuil."

"Bisa jadi," sahut Keiko dengan senyum kecil. "Atau... mungkin sedang rapat dengan geng kucingnya."

Kyo langsung tertawa. "Kalau ketuanya dia, rapatnya pasti sepi sekali."

"Iya ya," Keiko ikut terkekeh. "Soalnya tidak ada yang bicara."

Tawa mereka mengiringi langkah hingga akhirnya tiba di depan rumah. Kyo menghentikan troli tepat di depan pagar.

"Terima kasih banyak sudah mengantar ku pulang Kyo-san."

"Sampai jumpa, Keiko-san." Kyo melambaikan tangan sebelum kembali menyusuri jalan desa sambil menarik troli kosong. Keiko berdiri beberapa saat, memperhatikan punggung pemuda itu yang perlahan menghilang di balik tikungan.

...----------------...

Malam turun perlahan menyelimuti Tsukimori. Setelah mandi dan berganti pakaian, Keiko menghabiskan makan malam sederhana yang tersisa dari siang tadi. Rumah itu kembali dipenuhi kesunyian, Hanya ada suara jangkrik dari halaman.

setelah makan Keiko mematikan lampu sebelum berjalan menuju kamar. Baru saja ia hendak meletakkan ponsel di atas meja kecil di samping tempat tidur, benda itu bergetar pelan.

Bzz...

Layar menyala. Sebuah notifikasi pengingat muncul di sana.

Reminder

Cuti berakhir dalam 2 hari.

Keiko mematung. "...Cepat sekali."

Ia terduduk di tepi kasur menatap layar ponselnya. Rasanya baru kemarin ia tiba, tau tau saja hari-harinya berlalu begitu cepat.

"Dua hari lagi..." gumamnya lirih.

Artinya, ia harus segera kembali ke Aoyama. Kembali bangun sebelum matahari terbit, berdesakan di kereta pagi, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang siaran yang dingin dan kedap suara. Keiko menghela napas panjang. Entah mengapa, membayangkan rutinitas itu kini terasa asing.

Ia mematikan layar ponsel, merebahkan tubuh, lalu menarik selimut hingga menutupi dada.

"Besok mulai beres-beres..." bisiknya sebelum matanya terpejam.

***

Kabut putih kembali muncul, begitu pekat hingga menelan seluruh pandangan. Di sela-sela kabut itu, kelopak sakura berjatuhan perlahan, terbawa angin entah dari mana.

Sayup-sayup seseorang sedang menangis. Suaranya lirih, hampir tenggelam oleh embusan angin.

"Jangan..."

Keiko mencoba mencari arah datangnya suara itu. Kabut bergeser perlahan. Sebuah tangan perempuan terlihat menggenggam erat lengan seseorang yang mengenakan kain hitam.

"...pergi..."

Suara itu terdengar jauh lebih jelas dibanding mimpi-mimpi sebelumnya. Keiko berusaha mendekat, ingin melihat wajah mereka. Namun, sebelum wajah ke dua orang itu terlihat, kilatan cahaya yang sangat silau lalu semuanya menghilang.

Keiko tersentak. Kelopaknya terbuka lebar, napasnya masih sesak. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar, membiarkan kesadarannya kembali sepenuhnya dari sisa mimpi yang mencekik.

"...Mimpi itu lagi."

Ia mengusap wajah dengan telapak tangan yang terasa dingin. Bisikan dalam mimpinya tadi terasa lebih nyata, lebih tajam dari kemarin.

"Jangan... pergi..."

Keiko memejamkan mata berusaha mengingat wajah orang yang ia lihat. Nihil- yang terlihat hanya gumpalan kabut dan bayangan samar yang menyakitkan.

"Apa maksud nya" gumamnya pelan.

Tenggorokannya terasa kering, Keiko menyingkap selimut dan beranjak dari tempat tidur menuju dapur, meminum habis air putihnya.

Namun, saat ia hendak meletakkan gelas ke meja, sebuah suara gesekan halus dari arah pintu depan menghentikan gerakannya.

Srek... Srek...srek

Keiko menoleh, Ia melangkah mendekati pintu geser itu, lalu menggesernya perlahan. Hembusan angin malam yang sejuk langsung menyapa kulit wajahnya. " Shiro?!! "

Kucing berbulu abu-abu itu melenggang masuk, seolah-olah rumah itu adalah miliknya dan Keiko hanyalah tamu yang kebetulan tinggal di sana.

Keiko terkekeh kecil. "Baru pulang?"

Shiro tidak menoleh. Kucing itu terus berjalan santai melewati ruang tamu menuju kamar, tampak hafal di luar kepala setiap sudut gelap rumah tersebut.

"Dasar." Keiko menggeleng geli.

Sebelum menutup pintu, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke atap rumah tetangga. Di bawah cahaya bulan, beberapa siluet kucing tampak berderet rapi di atas genting.

Satu... dua... tiga... empat.

Mereka diam mematung, menatap lurus ke arah rumah Keiko.

"Banyak sekali," gumamnya, meski tak terlalu memikirkannya. Ia menutup pintunya lalu kembali ke kamar.

Di sana, Shiro sudah meringkuk di ujung kasur, matanya terpejam rapat seolah tidak pernah pergi ke mana pun. Keiko memandanginya sejenak dengan senyum tipis.

"Selamat malam, Shiro."

Lampu dimatikan. Dalam gelapnya malam, suara napas keduanya larut bersama keheningan malam yang menyelimuti Tsukimori.

...----------------...

Kukuruyuk......

Cahaya matahari pagi menerobos celah tirai, membangunkan Keiko dari tidurnya. Ia menggeliat pelan, namun tiba tiba

"...Jangan pergi."

Kalimat itu terlintas begitu saja. Keiko mengusap pelipisnya. "Mimpi yang aneh"

Ia menoleh ke samping dan sudut bibirnya terangkat. Shiro masih tertidur pulas di ujung kasur, meringkuk membentuk lingkaran kecil dengan ekor yang menutupi sebagian hidungnya. Sesekali telinganya bergerak pelan mengikuti kicau burung di luar, meski matanya tetap terpejam rapat.

"Kamu enak sekali, ya," bisik Keiko geli.

Ia bangkit dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur si kucing. Setelah merapikan futon, ia membuka pintu geser dan membiarkan udara pagi yang sejuk memenuhi rumah. Hari ini cukup cerah "Baiklah," gumamnya pada diri sendiri. "Sebelum pulang, rumah ini harus rapi."

Keiko mulai bekerja. Ia menyapu rumah, membersihkan halaman depan lalu menjemur pakaian yang sudah dicuci di atas tiang bambu.

Saat berbalik, ia mendapati Shiro kini berbaring santai di bawah jemuran, membiarkan sinar matahari menghangatkan bulunya yang keperakan.

Keiko tertawa kecil. "Kamu ikut berjemur juga?"

Shiro hanya membuka sebelah matanya sekilas, lalu kembali memejamkan mata. Dasar pemalas.

Keiko melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali melirik kucing itu. "Shiro..." Ia berhenti menyapu sejenak. "Lusa, aku pulang ke Aoyama."

Shiro tetap diam, hanya ujung telinganya yang bergerak pelan mendengar suara Keiko.

"Cutiku sudah habis. Aku harus kembali bekerja." Bibir keiko melengkung naik, meski ada sedikit rasa berat di hatinya.

Angin pagi berembus lembut, membuat selimut yang dijemur bergoyang perlahan. Keiko memandang rumah peninggalan neneknya itu beberapa saat sebelum kembali menatap Shiro.

"Jadi... selama aku pergi, rumah ini aku titip sama kamu, ya?"

Shiro membuka matanya. Ia menatap Keiko beberapa detik, lalu bangkit perlahan dan menghampirinya. Tanpa suara, kucing itu duduk tepat di samping sapu yang masih dipegang Keiko.

Keiko tersenyum hangat. Tangannya terulur, mengusap lembut bagian belakang telinga Shiro. Kali ini, si kucing tidak menghindar. Ia hanya memejamkan mata, menikmati usapan itu dalam diam.

"Hm..." Keiko terkekeh pelan. "Kalau diam begini... aku anggap kamu setuju. Terima kasih, Shiro."

Setelah pekerjaan rumah selesai, Keiko mencuci tangan lalu beranjak ke dapur. Ia membuka lemari kecil di dekat kompor, mengeluarkan semangkuk nasi hangat, sisa sup miso, serta sepotong ikan panggang yang sengaja disisihkan.

Sebagian daging ikan ia pisahkan ke piring kecil—sebuah kebiasaan yang kini terasa begitu alami, hingga ia bahkan tidak sadar sejak kapan mulai melakukannya. Piring itu ia letakkan di selasar samping, tepat di tempat Shiro biasa makan.

"Sudah siap."

Shiro, yang sedari tadi berjemur, bangkit meregangkan tubuh. Ia mendekat dengan tenang dan mulai menyantap ikannya tanpa sedikit pun terburu-buru.

Keiko membawa sarapannya sendiri ke selasar. Ia duduk bersila menghadap halaman, menikmati semilir angin yang sesekali menggoyangkan jemuran bambu di samping rumah. Selama beberapa saat, hanya terdengar suara sumpit yang beradu pelan dengan bibir mangkuk.

Keiko melirik ke samping. Shiro masih sibuk dengan makanannya. Sudut bibir Keiko terangkat membentuk senyum kecil.

"Shiro."

Kucing itu tidak menoleh, namun telinganya bergerak pelan—tanda bahwa ia mendengarkan.

"Habis sarapan..." Keiko berhenti sejenak, meniup uap sup misonya sebelum menyeruputnya pelan. "...mau ikut aku ke kuil dewa kucing?"

Shiro tetap melanjutkan makannya dengan ketenangan yang sama. Keiko terkekeh pelan.

"Ah, aku lupa. Kalau diam, berarti ikut, ya?" Ia menggeleng geli. "Sepertinya aturan itu mulai menguntungkanku."

Entah karena mengerti atau sekadar kebetulan, Shiro menghabiskan suapan terakhirnya tepat ketika Keiko selesai makan. Kucing itu menjilat kakinya beberapa kali, lalu duduk tenang menatap halaman sambil berjemur kembali.

Keiko mengumpulkan peralatan makan ke dalam baki sebelum berdiri. "Kalau begitu, kita berangkat."

Ia masuk sebentar untuk mencuci piring, mengambil tas kecil, dan topi anyamnya. Tak lama ia mengunci pintu, lalu mendapati Shiro sudah lebih dulu menunggu di dekat pagar. Keiko tak kuasa menahan senyum.

"Aneh, ya. Dulu kamu bahkan tidak mau didekati. Sekarang, malah selalu ikut ke mana-mana."

Shiro hanya berkedip pelan. Sesaat kemudian, ia berbalik dan melangkah lebih dulu ke jalan setapak, seolah paham ke mana tujuan mereka pagi itu.

"Hei... tunggu aku!"

Keiko tertawa kecil sembari mempercepat langkah, menyusul si kucing yang berjalan santai menuju bukit tempat kuil dewa kucing berdiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!