Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balik dipermalukan
"Maksudmu?" tanya Reygan heran.
Melihat ekspresi kaku dan kelewat serius dari sang CEO Antartika, Shella tak sanggup lagi menahan tawanya.
"Aduh, Pak Reygan... Muka Bapak tegang sekali!" kekeh Shella sambil mengibas-ngibaskan tangannya di udara.
"Ya... kalau memang ada pria kaya raya yang sanggup menjamin masa depan hidup saya tanpa perlu kerja banting tulang lagi, saya sih siap-siap saja menampung pria tidak berpengalaman seperti Pak Reygan," tambahnya berseloroh kembali memasang candaan renyah.
Reygan mendesis tipis, hendak membalas omelan asistennya itu. Sepasang sejoli melangkah masuk ke dalam restoran romantis tersebut. Sang wanita bergelayut manja di lengan pria di sampingnya, mengenakan pakaian longgar dengan senyum sumringah yang dibuat-buat.
"Aduh Mas... aku sudah tidak sabar menunggu hasil USG-nya. Katanya baru bulan depan ya kita bisa lihat dia perempuan atau laki-laki?" ucap suara wanita itu dengan nada manja yang begitu familier di telinga Shella.
Pria di sampingnya tersenyum manis, lalu membelai lembut perut datar wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Usia kandunganmu kan baru masuk dua bulan, Sayang, wajar kalau belum kelihatan," sahut pria itu lembut. "Ayo, kita makan yang banyak ya. Aku senang sekali, janin kecil di dalam sana pintar banget, tidak rewel minta ini-itu."
Saat akan memilih meja, pandangan Bramantyo tak sengaja berbenturan langsung dengan sepasang mata Shella. Langkah pria itu terhenti seketika. Begitu melihat keberadaan Shella, bukannya merasa bersalah, senyum culas justru langsung terukir tajam di bibir bergincu merah itu. Dengan bangga, Saskia semakin erat memeluk lengan Bramantyo dan sengaja membawa pria itu mendekati meja Shella.
"Oh... Kak Shella!" sapa Saskia dengan nada cemoohan yang terang-terangan. "Wah... hebat ya Kak Shella. Belum resmi ketuk palu cerai, tapi sudah dapat gandengan baru yang kelihatan ber-uang begini," ejek Saskia tanpa tahu malu.
"Tapi ya wajar sih Mas Bram berpaling ke aku. Pria mana yang tahan lima tahun dituntut setia tapi istrinya mandul? Makanya Kak, jadi wanita itu yang subur, supaya suaminya tidak perlu cari 'pabrik anak' yang baru di luar!"
"Siapa mereka?" tanya Reygan dingin, menatap kedua orang di depan mejanya dengan tatapan menilai yang sangat tajam.
"Mas Bram... dan Saskia," jawab Shella.
"Oh..." Reygan mengangguk-angguk pelan, menyandarkan punggungnya.
"Jadi ini wanita tidak tahu malu yang rela menjual harga dirinya demi merebut suami saudara sendiri... dan ini pria lemah yang melimpahkan ketidakmampuannya pada sang istri?" ucapnya tenang.
Saskia seketika meradang, wajah bergincunya memerah padam. "Apa kamu bilang?! Jaga mulutmu ya! Kamu tidak tahu apa-apa soal hubungan kami!"
"Bicara yang sopan ya, Pak! Siapa Anda berani ikut campur dalam urusan rumah tangga kami?!"Ujar Bramantyo tak ingin harga dirinya diinjak begitu saja.
"Saya?" Reygan menatap Bramantyo dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Saya adalah bos atasan tempat Shella bekerja. Dan soal 'mandul' yang kamu agung-agungkan itu..." Reygan menyeringai tipis, sangat dingin. "Dalam dunia medis modern, butuh pemeriksaan laboratorium mendalam dari kedua belah pihak untuk menentukan masalah fertilitas. Menuduh wanita secara sepihak hanya demi melegalkan perselingkuhan murahanmu... adalah tindakan paling pengecut dari seorang pria yang pernah saya dengar."
"K-kamu..." Bramantyo mendadak gagap, kehilangan kata-kata karena kata-kata Reygan menghantam tepat di titik terlemahnya.
Saskia yang tidak terima langsung menarik lengan Bramantyo. "Mas! Kok diam saja sih?! Lawan dia! Paling dia cuma pria sewaan yang dibayar Shella buat gaya-gayaan!"
Reygan menyipitkan mata, lalu jentikan jarinya berbunyi nyaring.
TAK!
"Sejak kapan restoran kelas atas seperti ini mengizinkan pengunjung bernada miring dan beraroma busuk mengganggu kenyamanan makan malam saya?" tanya Reygan. "Tolong bersihkan area ini. Mereka merusak selera makan saya."
"Baik, Pak Reygan! Mohon maaf atas ketidaknyamanannya!" Manajer Restoran langsung berbalik arah, menatap Bram dan Saskia dengan tegas. "Pak, Bu, silakan Anda berdua meninggalkan area restoran ini sekarang juga."
Dengan wajah menanggung malu yang luar biasa di hadapan para pengunjung restoran lainnya, Bramantyo akhirnya menarik kasar tangan Saskia untuk berbalik pergi.
"Kenapa melihat saya seperti itu? Lanjutkan makanmu," ujar Reygan santai, melirik Shella yang sejak tadi menatapnya dengan mata berbinar-binar.
Bukan karena terpesona atau jatuh cinta, melainkan Shella sangat puas melihat mantan suami dan sepupu beracunnya diusir seperti sampah!
Rasa sesak akibat ulah Bramantyo tadi seketika menguap, berganti dengan rasa geli melihat betapa efektifnya aura "bos kapitalis" Reygan dalam menindas orang-orang bermuka tebal.
Shella menyandarkan tubuhnya, lalu menopang dagu sambil tersenyum jahil, siap mengisengi bosnya lagi untuk mencairkan suasana.
"Wah... luar biasa ya, Pak," goda Shella dengan mata berkedip-kedip jahil. "Ternyata aura sombong dan sok berkuasanya Pak Reygan ada gunanya juga kalau lagi kumat! Saya sampai hampir lupa kalau pria gagah di depan saya ini sebenarnya nol besar pengalaman pacarannya!"
Reygan yang tadinya merasa sangat keren dan heroik, seketika tersedak air liurnya sendiri. Wajahnya kembali memerah menahan gengsi.
"Shella! Kamu ini bukannya berterima kasih, malah mengejek saya lagi!" omel Reygan sambil memakan makanan nya dengan emosi.