NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Hujan turun semakin menggila, menjelma menjadi tirai air yang masif dan hampir menutup seluruh jarak pandang.

Di dalam kabin SUV hitamnya, Daniel Narendra berulang kali mengerjapkan mata.

Hawa dingin Puncak yang menusuk tulang berpadu dengan kelelahan setelah rapat maraton perlahan-lahan mengirimkan rasa kantuk yang berat ke kepalanya.

Kesadarannya mulai mengendur, terbuai oleh ketukan ritmis wiper yang menyapu kaca depan.

Sementara itu, hanya beberapa ratus meter di depan mobil Daniel, Amira Zoe sedang berjuang melawan sunyi.

Untuk mengusir rasa bosan sekaligus melupakan kesedihan yang terus menggerogoti hatinya, ia menyalakan pemutar musik di mobil sedannya.

Alunan melodi sendu mengalun, mengisi kabin mobil yang bergerak perlahan menuruni kelokan tajam jalanan Puncak yang licin.

Daniel tersentak saat ban mobilnya sedikit selip. Ia terperanjat dari kantuknya, namun semuanya sudah terlambat.

Di sebuah tikungan menurun yang tajam, siluet bagian belakang sedan putih Amira mendadak muncul dari balik kabut tebal.

Daniel membelalakkan mata, jantungnya mencelos.

Ia menghantam pedal rem sedalam mungkin, namun bobot SUV yang besar berpadu dengan jalanan aspal yang basah dan licin membuat kendaraannya justru meluncur tak terkendali.

BRAAKKK!!!

Benturan mengerikan tak terhindarkan. Moncong SUV hitam Daniel menghantam bagian belakang sedan putih Amira dengan kekuatan yang teramat dahsyat.

Suara dentuman logam yang ringsek dan pecahan kaca berbaur menjadi satu, memecah keheningan malam yang badai.

Mobil Amira berputar hebat, terpelanting seperti mainan plastik sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan dengan keras.

Akibat hantaman bertubi-tubi itu, pintu kemudi yang ringsek terlempar terbuka.

Tubuh Amira yang tidak mampu menahan momentum dorongan yang begitu besar terlempar keluar dari kabin mobil, terhempas keras ke atas aspal yang dingin dan basah.

Mobil Amira yang tidak bisa menahan pembatas langsung masuk ke dalam jurang yang sangat gelap

Rasa sakit yang teramat sangat seketika menjalar ke seluruh tubuh Amira.

Ia terkapar di tengah jalanan yang sepi, dihujani oleh air langit yang terasa sedingin es.

Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, tersapu oleh air hujan yang menggenang.

Di sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis, Amira tidak merasakan takut. Ia justru merasakan sebuah kelegaaan yang aneh.

Pandangannya mulai mengabur, menyisakan bayangan hitam dan putih.

Di dalam benaknya yang mulai menjauh dari dunia, wajah dua pria yang pernah sangat ia cintai hadir tersenyum menyambutnya.

"Rizal... Yudha... t-tunggu aku..." gumam Amira sangat lirih, nyaris berupa bisikan yang tertelan suara badai.

Amira mengembuskan napas beratnya yang terakhir sebelum kegelapan total merebut kesadarannya.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam, berharap bahwa saat ia membuka mata nanti, ia sudah berada di tempat yang sama dengan kedua calon suaminya.

Daniel membuka matanya dengan paksa. Kepalanya berdenyut hebat dan ia bisa merasakan dadanya yang luar biasa sakit akibat hantaman setir dan airbag yang mengembang.

Napasnya memburu, memompa rasa panik yang menjalar cepat ke seluruh tubuh seiring kesadarannya yang pulih total.

"Astaga, apa yang sudah kulakukan?" bisiknya ngeri.

Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, Daniel membuka pintu mobil yang ringsek dengan paksa.

Begitu ia keluar, hawa dingin dan guyuran hujan yang semakin deras langsung menyengat kulitnya.

Di depan sana, di atas jalanan aspal yang sepi dan digenangi air, sesosok tubuh wanita tergeletak diam tak bergerak.

Rasa takut yang luar biasa mencengkeram dada Daniel.

Ia berlari tertatih-tatih menembus badai, berteriak sekuat tenaga memecah kesunyian malam.

"Tolong! Siapa saja, tolong!!"

Suaranya tertelan angin malam. Tidak ada siapa-siapa di jalanan sepi itu.

Daniel berlutut di samping tubuh Amira yang bersimbah darah.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia perlahan membalikkan tubuh wanita itu untuk memeriksa denyut nadinya. Namun, begitu wajah Amira tersorot oleh lampu mobil yang masih menyala, napas Daniel seketika tercekat di tenggorokan.

Seluruh dunianya seolah berhenti berputar saat ia melihat wajah wanita itu.

"S-selena...?"

Suara Daniel bergetar, nyaris tidak keluar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.

Wajah di hadapannya mempunyai bentuk matanya, garis bibirnya, setiap lekuknya sangat serupa dengan mendiang istrinya.

Di tengah kepungan hujan yang menderu, tiba-tiba suara cicit polos Felia kembali bergema di kepala Daniel:

'Apakah Mama akan kembali dari surga, Papa?'

Daniel menggelengkan kepalanya dengan histeris, mencoba mengusir ilusi yang mengacaukan pikirannya.

Wanita ini bukan Selena. Selena sudah tiada. Tapi bagaimana mungkin ada orang yang semirip ini di dunia?

"Nona! Nona, apakah kamu bisa mendengar suaraku?!"

Daniel menepuk pipi Amira dengan panik. Tidak ada respons. Denyut nadinya terasa sangat lemah.

"Tolong!! Tolong!!" teriak Daniel lagi ke arah jalanan dengan air matanya kini bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

Tepat di saat keputusasaan mulai menguasai Daniel, sepasang lampu sorot dari sebuah mobil lain muncul dari balik tikungan.

Mobil itu mengerem mendadak, berhenti tepat beberapa meter dari lokasi kecelakaan. Seorang pria paruh baya keluar dengan wajah panik, menggunakan payung seadanya.

"Astaga, apa yang terjadi pada kalian?!" seru pria itu kaget melihat kekacauan di depannya.

"Tolong! Tolong antarkan kami ke rumah sakit!" pintanya dengan suara parau dan penuh permohonan.

"Saya mohon, Pak!"

"Baik, baik! Ayo cepat bawa ke mobil saya!" jawab pria itu tanpa membuang waktu.

Tanpa memedulikan rasa sakit di dadanya sendiri, Daniel segera menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Amira.

Ia membopong tubuh wanita yang terluka parah itu dengan hati-hati namun cepat.

Tubuh Amira terasa begitu dingin dan ringan di pelukannya.

Sambil terus merapalkan doa di dalam hati, Daniel membawa "kembaran" mendiang istrinya itu masuk ke dalam mobil penyelamat, memulai perlombaan sengit melawan kematian menuju rumah sakit terdekat.

Sesampainya di rumah sakit terdekat, suasana lobi unit gawat darurat yang tadinya tenang seketika berubah tegang.

Beberapa perawat dengan sigap berlari keluar membawa brankar begitu melihat mobil penyelamat datang.

Dengan sisa-sisa tenaga dan napas yang memburu, Daniel menurunkan tubuh Amira yang bersimbah darah dari dalam kabin mobil.

Ia menaruh tubuh ringkih itu di atas brankar

dengan sangat hati-hati.

Para perawat langsung mendorong brankar tersebut dengan cepat, menembus pintu kaca otomatis menuju ruang UGD.

Daniel melangkah terseok-seok di samping mereka, tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah Amira.

Sebelum melangkah lebih jauh ke area penanganan kritis, seorang perawat administrasi menahan langkah Daniel.

"Maaf, Pak, apakah Anda keluarganya?" tanya perawat itu dengan raut wajah serius, siap mencatat dokumen medis pasien.

Pertanyaan itu seketika membuat lidah Daniel kelu.

Pikirannya berputar dengan cepat dan kacau. Ia teringat sekilas pada kondisi di tempat kejadian tadi; benturan yang begitu dahsyat telah melempar mobil sedan putih milik wanita ini meluncur jatuh ke dalam jurang yang dalam di pinggir jalur Puncak.

Jika ia mengaku sebagai orang asing yang menabraknya, polisi akan langsung datang, penyelidikan akan dimulai, dan ia terancam ditahan malam ini juga—sementara Felia sedang menunggunya di rumah sendirian.

Melihat kemiripan wajah wanita ini yang begitu mutlak dengan mendiang istrinya, Daniel terpaksa mengambil keputusan nekat. Ia menganggukkan kepalanya

"Iya, saya suaminya," dusta Daniel, suaranya terdengar serak.

Perawat itu mengangguk, lalu meletakkan penanya di atas papan dada.

"Baik. Siapa nama lengkap istri Anda, Pak?"

Jantung Daniel berdegup kencang, berkejaran dengan rasa bersalah yang kian menumpuk.

Namun, kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum ia sempat berpikir panjang.

"S-selena..." bohong Daniel lagi.

Nama mendiang istrinya kini ia sematkan pada wanita asing yang tengah sekarat tersebut.

"Baik, Pak. Silakan ikut masuk ke dalam untuk menemani proses pemeriksaan awal," ujar perawat itu sembari membimbing Daniel ke sebuah bilik tirai yang sama dengan tempat Amira dibaringkan.

Di dalam ruangan bernuansa putih yang dingin itu, bau obat-obatan menyengat hidung.

Daniel berdiri terpaku di sudut ruangan, menyaksikan tim medis bergerak dengan kepanikan yang teratur.

Monitor pemantau tanda-tanda vital dipasang ke tubuh Amira, menimbulkan bunyi bip yang nyaring dan konstan.

Namun, beberapa saat kemudian, bunyi monitor itu berubah menjadi nada yang cepat dan tidak beraturan. Grafik di layar menurun drastis.

"Dokter! Tekanan darah pasien drop secara drastis! Detak jantungnya melemah!" seru salah seorang perawat dengan nada panik.

"Siapkan epinefrin! Lakukan resusitasi sekarang!" perintah sang dokter dengan suara tegas, langsung mengambil tindakan darurat untuk memompa dada Amira.

Melihat tubuh Amira yang tersentak-sentak di atas ranjang medis, dada Daniel terasa sangat sesak seolah dihantam godam tak kasat mata.

Ketakutan akan kematian yang pernah merenggut Selena kini kembali membayangnya dengan begitu nyata.

Air mata Daniel menetes tanpa bisa ia bendung lagi.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana.

'Tolong bertahanlah...' ucap Daniel dalam hati sambil meratapi wanita asing yang kini memakai nama istrinya itu.

"Jangan mati. Aku mohon, bertahanlah...'

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!