NovelToon NovelToon
Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adiba Aza hra

Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Fakta yang Menyakitkan

"Ada apa, Zam?" tanya Ayah Fikri.

Kini Azam sedang berada di kantor ayah mertuanya.

"Beberapa hari yang lalu saat Mama Kinan dan Kinan datang ke rumah sakit, aku sudah merasa kalau mereka bertiga mirip. Bahkan kemiripan itu terlihat sangat nyata."

Ayah Fikri merapikan jas kantornya, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela besar. "Maksud kamu apa, Zam? Apa kamu merasakan apa yang saya pikirkan?" tanya Ayah Fikri.

Azam mengangguk tegas. "Bahkan aku langsung meminta sekretaris pribadiku untuk mencari tahu semuanya...?"

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu dari luar menghentikan ucapan Azam.

"Masuk," perintah Ayah Fikri.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki seumuran Ayah Fikri masuk ke dalam ruangan.

"Maaf jika saya mengganggu," kata laki-laki tersebut.

"Duduklah, Vito," perintah Ayah Fikri cepat.

Laki-laki yang dipanggil Vito itu hanya terdiam, lalu duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari tempat Azam.

"Ada...?"

"Bisa tidak kamu kirimkan data istri dan anak kamu? Sejauh ini, sejak pertama kamu menikah, aku belum pernah melihat istrimu," ujar Ayah Fikri.

Azam mengernyit bingung mendengar perkataan ayah mertuanya tersebut.

"Maksud kamu apa, Fik?" tanya Vito dengan nada tidak suka.

Ayah Fikri tersenyum misterius. "Bukankah kamu menganggapku sebagai sahabatmu? Lalu kenapa kamu tidak pernah memperkenalkan keluarga kecilmu?"

Sejak dulu, Fikri sempat merasa curiga kepada Vito karena sahabatnya itu tidak pernah mengizinkannya berkunjung ke rumah, bahkan tidak pernah memperkenalkan istri dan anaknya.

Vito terdiam, lalu bergegas berdiri dari duduknya. "Itu bukan urusan kamu, Fikri!" sentak Vito sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Fikri.

"Yah, dia siapa?" tanya Azam penasaran.

Fikri menghela napas dalam-dalam. "Dia sahabat Ayah sejak SMP. Sedangkan Fina, dia adalah istri Ayah. Kami dijodohkan sejak kecil, namun baru bertemu saat duduk di bangku SMA. Awalnya kami tidak tahu jika kami adalah pasangan yang sudah dijodohkan sejak kecil. Hubungan kami biasa saja, hingga akhirnya Fina menjalin hubungan dengan Vito selama dua tahun. Namun tiba-tiba, keluarga Fina menghubungi orang tua Ayah memberi tahu bahwa ibunya Fina meninggal. Di saat itulah kami akhirnya menikah tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Vito," jelas Ayah Fikri.

Azam terdiam mendengarkan.

"Hingga akhirnya kami kuliah di tempat yang sama namun berbeda jurusan. Di situlah Vito mulai menaruh curiga..." Ayah Fikri menghentikan ucapannya sejenak.

"Saat usia pernikahan kami menginjak tahun keempat, di saat itu pula Vito mengetahui semuanya. Dia tidak marah, dia tidak mengamuk. Dia hanya terdiam, lalu bersikap seolah-olah tidak pernah ada hubungan apa pun di antara dirinya dan Fina."

Azam mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana, Yah?" tanya Azam lagi.

"Tak lama setelah Vito tahu, akhirnya Fina hamil anak kami. Fina begitu bahagia, senang, dan sangat antusias saat dia tahu kalau dia akan menjadi seorang ibu," Ayah Fikri menghela napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

Azam kembali mengangguk mengerti.

"Namun takdir berkata lain. Calon anak pertama kami meninggal di dalam kandungan saat berusia 7 bulan karena kecelakaan. Hingga beberapa tahun kemudian, saat kehidupan kami sudah sukses, Fina hamil untuk yang kedua kalinya. Di situlah lahirlah Aira Humaira," lanjut Ayah Fikri.

Azam hanya diam menyimak dengan saksama.

"Setelah kelahiran Aira, beberapa bulan kemudian Vito memberi kami hadiah berupa tiket ke Turki. Dia bilang, tiket ini sebagai hadiah untuk merayakan kelahiran putri kami, Aira Humaira."

"Lalu bagaimana selanjutnya, Yah?" tanya Azam yang mulai tidak sabaran.

Ayah Fikri tersenyum getir. "Akhirnya kami pun menerima tiket itu. Namun baru beberapa hari di sana, Ayah harus pulang terlebih dahulu ke Indonesia karena ada urusan bisnis mendesak yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun." Ayah Fikri menghela napas kembali.

"Dengan berat hati, Ayah pulang meninggalkan Fina dan Aira karena itu juga atas paksaan dari Fina. Akhirnya Ayah pulang setelah mencarikan teman untuk menjaga Fina dan Aira di sana. Namanya Citra, dia kebetulan asli Indonesia yang sedang bekerja di Turki. Hingga saatnya tiba hari keberangkatan Fina kembali ke Indonesia, saat itu Aira sedang digendong oleh seorang pramugari karena selama di pesawat Aira sangat rewel, dan dia hanya bisa diam ketika diajak jalan-jalan di dalam koridor pesawat." Ayah Fikri dengan cepat mengusap air mata yang menetes di pipinya.

"Ayah mendapat kabar mengejutkan jika pesawat yang ditumpangi Fina dan Aira jatuh di kawasan pegunungan. Di situlah dunia Ayah rasanya hancur total. Ayah benar-benar syok hingga terkena stroke ringan dan harus dirawat intensif di rumah sakit. Ketika Ayah hampir saja menyerah pada takdir, di situlah Vito datang mengabari Ayah kalau Aira berhasil ditemukan dan sedang berada di ruang ICU."

'Tidak masuk akal,' batin Azam curiga.

Ayah Fikri menepuk lembut pundak Azam. "Jaga Aira semampu kamu. Jangan pernah sakiti fisik ataupun mental putri saya, Aira Humaira," kata Ayah Fikri dengan nada tegas.

"Saya berjanji, Yah. Saya tidak akan pernah menyakiti Aira," jawab Azam penuh penekanan.

Ayah Fikri mengangguk percaya. "Satu tahun setelah tragedi kecelakaan pesawat itu, Vito menikah secara diam-diam tanpa memberi tahu Ayah. Dia hanya bilang kalau perempuan itu sangat pemalu dan tidak mau bertemu dengan teman-temannya," lanjut Ayah Fikri.

"Apa Ayah tidak merasa curiga sama sekali...?"

Klik.

"Assalamualaikum."

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ayah Niko tiba-tiba datang lalu menjabat tangan besannya tersebut.

"Wanita yang kamu temui di rumah sakit itu benar-benar Fina, Fik!" kata Ayah Niko langsung to the point.

Azam dan Ayah Fikri sontak terbelalak syok mendengarnya.

"Dan Kinan? Kinan itu adalah saudara kembar Aira yang diambil oleh Vito saat masih berada di ruang operasi! Vito rela membayar mahal dokter kandungan saat itu agar merahasiakan semuanya dari kamu dan Fina!"

Bagai disambar petir di siang bolong, tiba-tiba Ayah Fikri memuntahkan banyak darah dari mulutnya.

"Ayah...?" Azam panik.

Ayah Fikri langsung mengisyaratkan Azam dengan tangannya untuk tetap diam. "Lanjutkan saja, Pak Niko... Saya... saya siap mendengarkan semuanya sampai selesai."

Ayah Niko mengangguk prihatin, lalu mengambil tempat duduk di sofa sebelah Azam.

"Lebih parahnya lagi, dalang di balik kecelakaan pesawat waktu itu adalah Vito. Vito meminta tim SAR untuk menemukan Fina terlebih dahulu sebelum korban lainnya, dan rencana itu berhasil. Fina mengalami amnesia akut, namanya juga diganti oleh Vito menjadi Tina, bukan Fina. Ditambah lagi, Vito memalsukan bukti tes DNA bahwa Kinan adalah putri kandung dirinya dan Fina. Maka dari itu, Fina memercayai Vito dan mau menikah dengannya. Walau begitu, Vito memang sangat baik kepada Kinan yang sebenarnya adalah saudara kembar Aira."

"Kenapa aku baru menyadarinya? Padahal sejak SMP, Kinan dan Aira selalu bersama, bahkan aku juga baru tahu siapa orang tua Kinan sekarang," sahut Azam pelan.

"Panggilkan Dokter Rangga, suruh kesini secepat mungkin!" perintah Ayah Fikri

Azam mencibir dalam hati karena ucapannya barusan sama sekali tidak dihiraukan oleh ayah maupun mertuanya.

"Iya, Yah."

Azam bergegas menghubungi dokter pribadi keluarga mereka untuk memeriksa kondisi kesehatan Ayah Fikri yang memburuk. Tanpa mereka semua ketahui, di balik celah pintu, Vito ternyata mendengar seluruh percakapan mereka dari awal...

1
Redmi
Lanjutkan 😎
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍🙏
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut👍
Saddam Husein
lanjut👍
Saddam Husein
Semangat terus kak 😎👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
hubungan sama orang tua atau saudara terasa asik biasanya kebanyakan kn nya fokus ke pemeran utama yg ini nih asikkkk gokil /Drool//Joyful//CoolGuy/
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄
Adiba Azahra
Wah, terima kasih banyak, Kak! 😍 Semoga makin baper ke depannya, ya. Ikuti terus kelanjutan ceritanya! 🔥🚀
Ridwan Hasan: Dari judul nya udah nyesek 🙏 Bagus kak semangat siap menyemak 👍
total 3 replies
Redmi
Lanjuttttttttttt 😍
Redmi
Aaaa ikut baper 😍🙏
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍
Redmi
Lanjut kak Bagus
Adiba Azahra: Terima kasih banyak, Kak! 🥰 Ditunggu kelanjutannya, ya, secepatnya! 🚀🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!