Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diacuhkan
Aku membuka mata dan sedikit tersentak memandang jam dinding yang langsung kutatap sejak pertama mata ini terbuka.
09.00
Aku mengerjap beberapa kali sampai akhirnya tersadar bahwa aku harus segera di sekolah saat ini.
"Bi asih..." Kulihat kak Ivan tertidur di ranjangnya masih dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangan kanannya namun tak kutemukan keberadaan Bi asih di dalam kamar ini.
Kemana beliau?
Aku berjalan perlahan menuju toilet kamar rawat inap ini, ingin membasuh muka ku dan mungkin mencoba memuntahkan sebagian isi perutku yang sejak shubuh tadi hanya menyiksa ku dengan rasa mual namun sulit untuk memuntahkannya.
"Dit? Kamu udah bangun?!" Aku menghentikan langkah ku saat terdengar suara serak milik kak Ivan yang menegurku.
"Iya kak, mau ke toilet dulu."
10 menit kemudian aku keluar dari toilet ini dan segera menghampiri kak Ivan yang masih terbaring disana.
"Muntah lagi?" Aku hanya mampu mengangguk dengan senyum miris menanggapinya.
"Sorry ya Dit, kamu jadi menderita gini. Kakak udah memutuskan menghentikan semua ini. In syaa Allah segera kak Ivan cari tau sendiri obat antiretroviral yang minim efek samping." Ucapnya kemudian dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku juga udah memutuskan sesuatu kak. Aku mau lanjutin. Aku mau nerusin semua ini. Nggak apa-apa menderita bentar. Toh selanjutnya akan terpilih yang terbaik yang minim efeknya." Aku meyakinkan keputusan ku sendiri. Ya, cukup lama aku termenung dan memikirkan semuanya di toilet tadi. Kurasa tidak ada salahnya aku melanjutkan saja semua yang sudah terlanjur dilakukan.
"Nggak Dit, kakak nggak setuju. Udah kita cukupkan semuanya. Kakak akan coba ajukan kepulangan dari sini dulu, biar nggak tertunda lagi pengobatan buat kamu." Aku tahu kak Ivan merasa sangat bersalah sekarang, dia mungkin memikirkan keputusan ini dengan sangat hati-hati dan cermat.
Aku menghela nafas menanggapinya. Nanti lah aku akan bahas lagi dengannya setelah kondisi memungkinkan.
"Adit ke sekolah dulu kak, masih banyak yang harus di urus. Ditinggal dulu nggak apa-apa kan kak?" Aku berusaha mengalihkan pembahasan ini, mengingat waktu yang beranjak semakin siang. Jam masuk pasca semua ujian terlaksana memang agak bebas untuk kami para kelas XII, jadi aku masih bisa bebas datang kapan pun aku mau.
"Iya, aman in syaa Allah. Bi Asih sebentar lagi nyampe kayaknya. Tadi kakak minta tolong beli keperluan buat disini."
"Aku nunggu beliau brarti kak, hmmm... Mungkin pulang dari sekolah nanti Adit ke rumah dulu nggak langsung kesini kak. Mau liat kondisi mama. Semalem adit nemuin obat tidur berserakan di Deket mama." Aku merasa perlu menyampaikan ini ke kak Ivan, setidaknya mungkin saja ada informasi terkait kesehatan mama darinya.
"Obat tidur?" Kak Ivan mengernyitkan dahinya merasa aneh dengan informasi yang ku sampaikan.
"Kalo nggak salah ta-tazolam gitu namanya. Aku sempet liat box pembungkusnya." Ucapku lagi meyakinkannya.
"Tazolam... Jangan-jangan estazolam?" Kak Ivan terlihat membeliak mencecarku dengan pertanyaan nya. Aku mengangguk ragu masih berusaha mengingatnya. Aku lupa.
"Astaghfirullah,, anaknya pake analgesik jenis opioid nyokapnya malah pake obat tidur jenis estazolam. Kalian suka banget sama obat-obat keras begitu." Dengan gerakan cepat kak Ivan langsung meraih ponselnya dan terlihat menelepon seseorang.
"Hati-hati kak, inget lukanya masih basah." Aku memperhatikan nya yang terlihat gusar menunggu respon dari seberang sana.
"Dit, telepon mama kamu sekarang!" Aku sedikit kaget melihat nya yang seperti ini, tidak seperti kak Ivan biasanya. Yang selalu terlihat sangat kalem dan menanggapi sesuatu dengan kepala dingin.
"A-aku nggak bawa kak. iPhone aku masih di kamar kayaknya."
"Ya Allah... Mama kamu lagi depresi berat Dit, belum lagi ginjal nya juga bermasalah dari dulu. Estazolam itu jenis obat keras yang nggak boleh dikonsumsi orang dengan depresi dan ginjal yang nggak sehat."
Rasa khawatir sekarang benar-benar mengungkungku. Bagaimna kondisi mama sekarang? Di rumah hanya ada mama sendirian.
Papa! Ya, mungkin papa bisa membantu.
"Kak, coba telepon papa kak!"
Tring tring tring
Dering ponsel kak Ivan membuatnya tergesa menggulir tombol hijau di layarnya.
"Tante! Tante baik-baik aja?" Aku yakin mama yang menelepon. Melihat begitu khawatirnya wajah kak Ivan sekarang, aku semakin takut. Aku takut mama tidak baik-baik saja di rumah.
"Iya, Adit sama aku Tan"
...
"Bi asih juga."
...
"Baik."
...
"Iya."
...
Aku masih belum tau apa saja yang dikatakan mama di seberang sana. Tapi melihat dari lancarnya komunikasi kak Ivan di telepon tadi, sepertinya mama baik-baik saja.
"Gimanak kak?" Tak sabar, aku langsung bertanya begitu kak Ivan mengakhiri panggilan nya.
"Alhamdulillah Tante mey baik-baik aja Dit. Nanti kakak coba akan ajak diskusi terkait konsumsi obat tadi. Semoga saja mama kamu mau menurut."
Aku bisa bernafas lega sekarang, rasanya tadi sulit sekali bernafas lega sebelum aku mendengar kabar mama yang baik-baik saja di rumah.
"Dit,,, kenapa?" Kak Ivan menyadari tiba-tiba aku terkulai lemas duduk di lantai.
"Nggak apa-apa kak, tiba-tiba lemes aja terlalu bahagia denger kabar mama."
Aku langsung memutuskan pulang saat hampir lima belas menit ku tunggu, bi asih tak juga muncul. Kuminta bantuan kak Ivan untuk memesankan ojek online lewat aplikasi yang ada di ponsel nya. Aku meminta menaiki ojek saja dibandingkan mobil, aku takut akan terjebak macet nantinya. Rasanya ingin segera sampai rumah dan memastikan keadaan mama.
Sepanjang perjalanan tak hentinya aku mengingatkan supir untuk agak dipercepat laju motornya.
Segera kulangkahkan kaki ke kamar mama setelah sampai di rumah.
"Mah... Mama dimana?" Dengan suara sedikit keras aku memanggil mama dari awal memasuki pintu rumah ini.
"Mama di dapur bawah." Sahutan sedikit keras akhirnya ku dengar juga dari suara mama.
Langsung kubelokkan langkah kaki ini menuju dapur yang ada di belakang kamar Bi asih.
"Mama baik-baik aja? Adit khawatir banget." Langsung kupeluk wanita cantik yang telah melahirkanku ke dunia ini. Wajahnya terlihat baik-baik saja.
"Kalian pada kenapa ini ya. Tadi Ivan tiba-tiba nanya keadaan mama, sekarang kamu. Terus juga kenapa ke apartemen Ivan bawa-bawa Bi asih segala. Kalian mau minta Bi Asih masak apa memangnya?" Masih dengan pelukan lembutnya, mama memberondong ku dengan sederet pertanyaan nya.
"Apartemen?! Emang kak Ivan nggak ngasih tau kondisi nya sekarang mah?" Aku semakin bingung menanggapinya. Apa mama belum tau kalau kak Ivan ada di rumah sakit.
"Iya, memang kemana lagi? Masa iya mau ikut ke rumah sakit bertugas sama Ivan bawa Bi Asih juga?"
Aku menyadarinya sekarang, mama benar-benar belum tau keadaan kak Ivan.
"Mah,,, sekarang kak Ivan lagi di rawat di rumah sakit. Subuh tadi dia baru aja operasi pengangkatan usus buntu nya. Aku udah coba bangunin mama, tapi nggak bisa. Karena kak Ivan sepertinya ga bisa menahan lebih lama lagi,, Jadi, aku minta tolong Bi Asih." Aku melepaskan pelukan mama dan menatapnya lekat. Ada gurat ketidak percayaan disana. Kaget dan khawatir.
"Mama mau kesana sekarang Dit. Di rumah sakit mana?" Dari suara mama aku bisa mendeteksi adanya rasa khawatir yang dalam disana. Seperti kekhawatiran yang kak Ivan tunjukkan saat tau mama mengkonsumsi obat tidur itu.
Aku merasa menjadi orang lain sekarang, orang yang tidak tahu apa-apa tentang kondisi orangtuaku sendiri. Sementara Kak Ivan seakan lebih pantas menjadi anak mama yang selalu tau kondisinya bahkan selalu bisa memberikan perhatian nya.
"Rumah sakit Airlangga mah." Mama langsung bergegas meninggalkan ku yang masih mematung di dapur.
Hhhh...
Aku hanya perlu berfikir positif saja, mungkin aku menjadi sedikit baper dan emosiku tak terkontrol karena pengaruh obat yang kuminum semalam.
"Mmmm... Mah.. Adit boleh bareng mama ke sekolah nggak?" Aku menghampiri mama yang terlihat sibuk memasukkan iPhone nya kedalam tas kecil yang akan dibawanya.
"Mama buru-buru sayang, kamu nanti bisa pesen taxi online aja ya." Tanpa menghiraukan ku lagi mama bergegas kedepan dan suara mobilnya cukup membuatku tahu bahwa mama sudah pergi meninggalkan rumah ini.
Entah kenapa aku merasa sedih.
Ada sebagian kecil hatiku yang berharap agar mama lebih mementingkan ku dibanding kak Ivan.
Air mataku kembali turun tanpa kuminta. Biarlah aku menjadi laki-laki cengeng saat ini, hanya untuk saat ini.
semangatt juga kak 💪