Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Uluran tangan asing.
Suara pintu mobil yang tertutup rapat seketika meredam deru angin malam yang bising. Prisha ambruk di atas jok kulit yang empuk, meringkuk dengan tubuh bergetar hebat. Isak tangisnya belum reda, justru semakin menjadi-jadi karena rasa sesak yang berkejaran di dadanya. Kehangatan mesin penghangat di dalam kabin mobil mewah itu sama sekali tidak mampu mencairkan hatinya yang sudah membeku oleh keputusasaan.
Wanita paruh baya itu duduk di samping Prisha, menatapnya dengan pandangan penuh iba. Ia memberi isyarat kepada sopirnya melalui kaca spion tengah.
"Jalan, Pak. Kita pulang," perintahnya lembut, namun sarat akan ketegasan.
"Baik, Nyonya Ratih."
Mobil sedan premium itu pun melaju membelah jalanan kota yang sepi. Di dalam kabin, hanya terdengar suara tangis Prisha yang tertahan. Nyonya Ratih mengambil beberapa lembar tisu, lalu mengulurkannya ke depan wajah Prisha yang basah dan berantakan.
"Usap air matamu, Nak. Minum ini dulu supaya kamu lebih tenang," ucap Nyonya Ratih seraya menyodorkan sebotol air mineral yang baru dibuka.
Prisha tidak bergeming. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. "Kenapa ... Kenapa Bibi menghentikanku? Seharusnya Bibi biarkan aku pergi. Hidupku sudah hancur. Aku tidak punya siapa-siapa lagi ..." bisiknya dengan suara serak yang nyaris habis.
Nyonya Ratih menghela napas panjang. Tatapannya melembut, mencerminkan kebijaksanaan seorang ibu. "Mengakhiri hidup tidak akan menyelesaikan masalahmu, Nak. Itu hanya akan memindahkan bebanmu ke tempat lain. Siapa namamu?"
"Pri-Prisha Kaelen," jawabnya terbata.
Ratih diam sejenak, ia kenal nama belakang itu, yaitu salah satu nama konglomerat yang lumayan besar namun telah berakhir bersama berita kematian pemimpinnya.
"Prisha, dengarkan Bibi. Tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar. Memang, malam ini dunia rasanya runtuh, tapi besok matahari tetap akan terbit. Ceritakan pada Bibi, apa yang membuat gadis semuda kamu nekat melakukan hal sejauh ini?"
Mendengar pertanyaan yang tulus tanpa nada menghakimi itu, pertahanan Prisha runtuh seutuhnya. Di bawah temaram lampu kabin mobil, ia menceritakan semuanya dengan suara patah-patah. Tentang ibunya yang pergi, ayahnya yang tiba-tiba ditemukan meninggal, rumahnya yang akan disita besok pagi, hingga teror para rentenir yang menagih utang fantastis sebesar 1,2 triliun rupiah dalam waktu tiga hari.
Mendengar angka utang tersebut, sepasang mata Nyonya Ratih sempat melebar sesaat karena terkejut. Namun, alih-alih panik atau meminta sopirnya untuk menurunkan Prisha—seperti kepanikan oleh kerabat-kerabat Prisha sebelumnya, wanita itu justru terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
'Satu koma dua triliun ...' Angka itu bukan jumlah yang kecil, bahkan bagi kalangan konglomerat sekalipun. Namun, entah mengapa, takdir malam ini seolah memberikan sebersit ide di kepala Nyonya Ratih. Sebuah solusi yang kebetulan bisa menyelesaikan masalah mendesak di dalam keluarganya sendiri.
Nyonya Ratih menatap Prisha lekat-lekat, memperhatikan wajah gadis itu yang meski pucat dan sembap, tetap memancarkan garis kecantikan yang alami dan elegan. Ia suka sekali gadis cantik, siapa tahu gadis cantik ini tidak bisa ditolak oleh pria manapun.
"Prisha," panggil Nyonya Ratih, membuat Prisha perlahan mendongak. "Bibi bisa membantumu."
Prisha mengerjapkan matanya yang bengkak, mengira ia salah dengar. "Maksud ... Bibi?"
"Bibi bisa melunasi utang-utang ayahmu. Semuanya." ujar Nyonya Ratih dengan nada tenang, seolah uang triliunan rupiah itu bukanlah masalah besar baginya.
Jantung Prisha berdesir hebat. Antara tidak percaya dan takut jika ini hanyalah mimpi atau bentuk penipuan baru. "Tapi ... bagaimana bisa? Bibi bahkan tidak mengenalku. Kenapa Bibi mau mengeluarkan uang sebanyak itu untukku?"
Nyonya Ratih tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sulit diartikan.
"Tentu saja ada syaratnya, Prisha. Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar gratis," Nyonya Ratih menjeda kalimatnya, membiarkan atmosfer di dalam mobil mendadak terasa intens. "Bibi memiliki seorang putra tunggal. Namanya Saka Tanubrata. Saat ini, dia memegang kendali penuh atas perusahaan keluarga kami."
Nyonya Ratih memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam netra Prisha yang kebingungan.
"Saka adalah pria yang keras kepala, dan sampai sekarang menolak untuk menikah. Padahal, Bibi sangat membutuhkan seorang pewaris sah untuk mengamankan posisi keluarga kami di dewan direksi. Jika kamu setuju, Bibi ingin kamu menikah dengan putraku. Jadilah istri Saka Tanubrata, dan seluruh masalah finansialmu akan lenyap dalam semalam. Bagaimana?"
Mendengar tawaran itu, napas Prisha seketika tercekat di tenggorokan. Menikah dengan pria asing bernama Saka Tanubrata demi uang 1,2 triliun rupiah? Pikiran itu berputar liar di kepala Prisha, menyisakan rasa sesak yang aneh.
Namun, logika Prisha yang sempat lumpuh perlahan mulai berputar. Meskipun Nyonya Ratih menawarkan pernikahan ini dengan begitu meyakinkan, sebuah keraguan besar mendadak menyusup ke benaknya.
Anaknya, si Saka itu, adalah seorang pria yang mengendalikan sebuah imperium bisnis besar. Pria berkuasa seperti itu tentu punya prinsip sendiri. Kalau dia keras kepala dan terus-menerus menolak menikah hingga membuat ibunya frustrasi, belum tentu dia akan sudi menerima Prisha begitu saja. Bagaimana kalau pria itu justru mengusirnya?
Seolah bisa membaca keraguan yang membayang di mata Prisha, Nyonya Ratih kembali bersuara.
"Bibi tahu apa yang kamu pikirkan, Prisha. Saka memang belum tentu mau langsung setuju," ujar Nyonya Ratih, menjeda kalimatnya seraya menatap lekat-lekat pahatan wajah gadis di sampingnya. "Karena itu, tugasmu adalah membuatnya mau. Kamu harus bisa menggoda Saka."
Prisha tertegun, matanya membelalak kecil. "Menggoda?!"
"Benar. Dengan modal wajah cantik dan keanggunan alami yang kamu miliki, Bibi sangat yakin Saka tidak akan mungkin mengabaikanmu begitu saja. Pria sedingin apa pun pasti punya titik lemah," Nyonya Ratih tersenyum penuh arti, memberikan ketenangan yang aneh melalui binar matanya.
"Dengar, Nak. Bibi tidak akan memberimu beban yang mustahil. Jika pada akhirnya kamu gagal menaklukkan hatinya, tidak apa-apa. Bibi orang yang memegang janji. Utang-utang ayahmu akan tetap Bibi lunasi sampai sepeser terakhir. Namun ..." Nyonya Ratih sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan Prisha mengantisipasi kelanjutannya. "... jika kamu berhasil menjadi istrinya, seluruh kemewahan yang hilang darimu akan kembali dalam sekejap. Bahkan, Bibi sendiri yang akan memastikan kamu bisa merebut kembali rumah keluargamu yang disita bank besok pagi."
'Merebut kembali rumah Ayah.' Kata-kata itu bergaung kuat di dada Prisha, menjadi hantaman telak yang meruntuhkan sisa-sisa keraguannya.
Prisha terdiam selama beberapa detik yang terasa begitu panjang. Menatap ke luar jendela mobil yang gelap, ia menimbang takdirnya sendiri. Menumpang di rumah kerabat diusir, kelaparan, dan menjadi buronan rentenir adalah kepastian menderita yang sudah ada di depan mata. Sementara tawaran ini? Ini adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra badai.
Pun kalau ia gagal, utangnya tetap lunas. Sama sekali tidak ada ruginya. Prisha mengepalkan jemarinya kuat-kuat. 'Ini adalah saatnya menjual harga diri, dan aku akan menjualnya dengan harga yang paling mahal,' batinnya berbisik tajam.
"Baik, Bibi. Aku setuju," ucap Prisha dengan suara yang kini terdengar mantap.
Gadis itu segera mengambil lembaran tisu yang sempat diulurkan tadi. Dengan gerakan tegas, ia mengelap sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya, menghapus jejak kerapuhan yang sejak sore menggelayutinya. Dengan seulas senyum penuh keyakinan baru, ia menatap Nyonya Ratih. "Aku akan berusaha sekeras mungkin, Bibi!"
Nyonya Ratih terkekeh pelan, tampak sangat puas dengan respons cepat dan keberanian Prisha. "Bagus. Bibi suka gadis yang tahu kapan harus mengambil kesempatan."
Perjalanan berlanjut hingga kendaraan mewah itu berbelok memasuki sebuah kawasan privat yang dijaga ketat. Begitu gerbang besi raksasa terbuka, mata Prisha seketika terpaku pada pemandangan di depannya.
Rumah keluarga Tanubrata ternyata jauh lebih besar dan berkali-kali lipat lebih megah daripada rumah pribadinya dulu. Bangunan bergaya Eropa klasik modern itu berdiri angkuh di atas lahan yang luar biasa luas. Namun, yang paling membuat napas Prisha benar-benar tertahan adalah sebuah helikopter pribadi yang terparkir gagah di salah satu area landasan pacu (helipad) di halaman depan.
Bibi di sampingnya ini ternyata bukan sekadar orang kaya biasa. Beliau adalah bagian dari puncak rantai makanan kalangan elit negeri ini.
Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi utama yang berpilar tinggi, pintu mobil langsung dibukakan oleh seorang penjaga. Prisha melangkah turun dengan perasaan takjub yang berusaha ia sembunyikan. Di dalam aula utama yang diterangi lampu gantung kristal raksasa, belasan pelayan berseragam rapi sudah berdiri berbaris, membungkuk hormat menyambut kedatangan sang nyonya besar.
Nyonya Ratih melirik ke arah luar, lalu beralih menatap kepala pelayan yang menghampiri mereka. Mengingat ada helikopter yang terparkir di depan, ia berasumsi putra tunggalnya sudah berada di dalam rumah. "Saka sudah pulang, Pak?"
Kepala pelayan itu membungkuk sedikit sebelum menjawab, "Betul, Nyonya Besar. Tuan Muda Saka sempat pulang sekitar satu jam yang lalu dengan helikopter. Namun, beliau baru saja pergi lagi menggunakan mobil."
Nyonya Ratih mendengus pelan, tampak sudah terbiasa. "Anak itu benar-benar tidak bisa diam sebentar saja," keluhnya, sebelum akhirnya berbalik dan menepuk bahu Prisha dengan ramah.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Malah bagus, kamu jadi punya waktu untuk istirahat dan bersiap," Nyonya Ratih kemudian menatap kembali ke arah pelayan wanita di dekatnya. "Antarkan Prisha ke kamar di lantai atas. Kamar yang berada tepat di sebelah kamar Saka."
Prisha sedikit tersentak mendengar instruksi itu.
Nyonya Ratih menoleh ke arah Prisha, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka. "Sengaja Bibi taruh di sana, biar kamu memiliki banyak kesempatan untuk menggodanya nanti. Tetangga kamar itu sangat strategis, bukan?"
Mendengar godaan blak-blakan dari wanita paruh baya itu, Prisha hanya bisa tersenyum canggung dengan pipi yang mendadak terasa hangat. Di dalam hati, kepanikan kecil mulai merayapinya. Menyetujui rencana ini memang mudah karena rasa terdesak, tetapi kenyataannya ... Prisha sama sekali tidak memiliki keahlian atau pengalaman dalam menggoda seorang pria.
'Gimana caranya menggoda pria seperti Saka Tanubrata? Aku bahkan tidak tahu dia orang yang seperti apa.' Pertanyaan besar itu terus berputar di benak Prisha saat langkah kakinya mulai menaiki anak tangga, mengikuti pelayan yang menuntunnya menuju kamar baru yang akan menjadi awal dari permainan takdir hidupnya.
Bersambung....