Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Pengunduran Diri
Sore harinya, hujan gerimis membungkus kawasan SMA tempat Maya mengajar. Suasana ruang guru sudah sepi, hanya tersisa Maya yang sedang merapikan tumpukan buku di mejanya. Jemarinya bergetar pelan setiap kali mengingat ancaman tak kasat mata dari perbedaan dunia antara dirinya dan Kian.
Di dalam hatinya, sebuah keputusan pahit telah diambil. Demi kebaikan Kian, dan demi menjaga potongan harga diri yang masih tersisa, ia harus mundur.
Langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan koridor sekolah. Kian berdiri di ambang pintu kelas privat mereka yang biasa. Jas mewahnya tampak sedikit basah oleh gerimis, rambutnya berantakan, dan napasnya memburu. Pria yang biasanya selalu tampil rapi dan dominan itu kini terlihat begitu rapuh.
"Maya..." panggil Kian, suaranya parau.
Maya menghentikan gerakannya, namun tidak berani menatap mata Kian secara langsung. Ia menarik napas panjang, mencoba memantapkan hatinya.
"Kamu tidak seharusnya datang ke sini, Kian," ucap Maya pelan namun dingin. "Sekolah bukan tempat untuk urusan pribadi."
"Aku datang untuk minta maaf soal semalam," Kian melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang sengaja diciptakan Maya. "Apa yang dikatakan Hani... semua itu tidak benar. Kamu bukan sekadar konsultan atau guru bagi saya, Maya. Kamu—"
"Saya memang hanya seorang guru, Kian," potong Maya tegas. Ia akhirnya memberanikan diri menatap Kian, meski matanya berkaca-kaca. "Apa yang dikatakan Miss Hani semalam adalah kebenaran yang pahit. Tempat saya di sini, di balik meja kayu sederhana ini. Bukan di restoran mewah atau di tengah pusaran bisnis miliaran milik Pratama Group."
Maya merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih bersih, lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini surat pengunduran diri saya dari program privat komunikasi Anda. Dewan direksi perusahaan Anda bisa mencari konsultan profesional lain yang jauh lebih layak dan selevel dengan dunia Anda."
Kian menatap amplop itu seolah-olah benda itu adalah sebuah sembilu yang siap merobek dadanya. "Tidak. Aku tidak menerima pengunduran diri ini. Kita baru saja mulai, Maya..."
"Ini bukan lagi soal kelas, Kian!" suara Maya memecah kesunyian, sarat akan emosi yang menumpuk. "Ini soal kenyataan! Ibu Anda, Hani, dan seluruh investasi perusahaan Anda bergantung pada keputusan yang Anda ambil hari ini. Saya tidak ingin menjadi alasan hancurnya kerja keras yang sudah Anda bangun!"
"Aku tidak peduli dengan investasi itu kalau harus kehilangan kamu!" teriak Kian lepas kendali.
Kata-kata itu terucap begitu saja, membuat keduanya terdiam seketika. Kian sendiri kaget dengan pengakuan jujur yang keluar dari mulutnya. Pria yang dulunya dianggap dingin dan tanpa perasaan oleh seluruh stafnya, kini berdiri di depan seorang guru SMA biasa, mempertaruhkan segalanya demi perasaan yang baru saja tumbuh.
Namun sebelum Maya sempat membalas, ponsel Kian di dalam saku jasnya berdering keras berulang kali. Layar ponsel menampilkan nama ibunya—Rosa.
Maya melirik layar tersebut, lalu tersenyum tipis yang teramat getir.
"Angkatlah, Kian. Duniamu sedang memanggil," bisik Maya pelan. Ia mengambil tasnya, lalu melangkah melewati Kian tanpa berpaling lagi. "Terima kasih atas perkembangannya selama ini. Nilai Anda... tetap sepuluh sempurna sebagai seorang murid."
Kian tertegun, tangannya kaku tak mampu menahan langkah Maya yang keluar menembus dinginnya gerimis sore itu, menyisakan amplop putih di atas meja dan dering telepon ibunya yang terus menagih kepastian.