Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan yang Menukar Nasib
Bab 1
Suara ketikan keyboard masih terdengar beradu satu-satunya di ruangan kantor yang makin lama makin sunyi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit malam. Lampu-lampu di bagian lain ruangan sudah dipadamkan, menyisakan hanya penerangan di mejanya yang masih menyala terang. Sisa kantin sudah tutup, petugas kebersihan pun sudah pulang, tinggal ia sendirian duduk di kursi kerja, membetulkan angka-angka yang belum pas di laporan bulanan divisi pemasaran.
"Kirana, kamu belum pulang juga?"
Seorang pria berkacamata berjalan mendekat sambil menyampirkan tas kerja di bahu. Itu Pak Budi, rekan kerjanya yang paling sering menasihatinya agar tidak terlalu memaksakan diri.
Kirana mengangkat kepala sebentar, mengusap pelipis yang terasa sedikit kaku, lalu tersenyum tipis. "Sebentar lagi selesai, Pak. Kalau tidak sekarang, besok pagi pasti terburu-buru."
"Kamu ini memang begitu. Rajin sekali sampai lupa waktu," ujarnya sambil menggeleng pelan. "Gajimu sebenarnya sudah cukup layak kok. Tidak perlu lembur tiap hari begini."
Kirana kembali menatap layar komputernya, jari-jarinya kembali menari di atas papan ketik. "Cukup untuk sekarang saja, Pak. Aku masih butuh lebih banyak untuk masa depan. Aku ingin bisa hidup lebih tenang suatu hari nanti, tidak perlu selalu khawatir kalau ada kebutuhan mendadak."
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Hujannya makin deras itu," pamitnya sebelum berjalan menjauh menuju pintu keluar.
"Iya, terima kasih Pak," jawab Kirana pelan.
Tak lama kemudian, seluruh ruangan benar-benar kosong. Kirana merapikan berkas-berkasnya, mematikan komputer, lalu menyampirkan tas kerjanya. Saat ia melangkah keluar gedung, angin dingin yang basah langsung menerpa wajahnya. Hujan turun begitu lebat sampai pandangan agak kabur. Ia mencoba memesan taksi lewat ponsel, tapi berkali-kali tidak ada yang menerima pesanan karena jam sudah terlalu larut dan jalanan mulai sepi.
Akhirnya ia memutuskan berjalan kaki sedikit menuju persimpangan jalan yang biasanya lebih sering dilewati kendaraan. Air hujan membasahi bahu dan ujung roknya, membuat kakinya terasa dingin. Namun baru beberapa langkah berjalan, matanya menangkap sesuatu yang bergerak kecil di tengah aspal basah yang memantulkan cahaya lampu jalan.
Sesuatu yang mengeong pelan, gemetar kedinginan di bawah guyuran air.
Seekor anak kucing berwarna abu-abu, masih sangat kecil, terjebak di tengah jalan yang sepi tapi licin. Kirana tidak berpikir dua kali. Tanpa mempedulikan hujan yang makin deras, ia berlari mendekat, merentangkan tubuhnya sedikit untuk melindungi si kecil dari percikan air dan angin.
"Jangan takut... sini..." bisiknya lembut sambil menundukkan badan perlahan.
Tapi tiba-tiba terdengar suara deru mesin yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Lampu besar menyilaukan matanya dari arah belakang. Sebelum ia sempat berbalik atau menjauh, benturan keras menghantam tubuhnya. Tubuhnya terlempar melayang sebelum jatuh kembali ke aspal dengan suara yang terasa menyakitkan sekali.
Sakit... rasanya seperti setiap tulang di badannya pecah seketika. Namun di tengah rasa perih yang luar biasa itu, ia mendengar suara mengeong pelan dari dekat kakinya. Si kucing selamat. Tapi bagaimana dengan dirinya?
Pandangannya mulai kabur, warna merah dari darah yang mengalir perlahan bercampur dengan air hujan. Napasnya makin berat, seolah ada beban berat yang menekan dadanya.
"Aku... belum mau mati..." isaknya lemah, air mata bercampur air hujan mengalir di pipi. "Aku belum sempat menikmati hasil kerjaku... belum sempat hidup layak... Tuhan... tolong... beri aku kesempatan sekali lagi... aku janji akan berbuat lebih baik..."
Kalimat itu terucap begitu tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebelum akhirnya kegelapan pekat menyelimuti seluruh kesadarannya.
Saat ia kembali merasa ada kesadaran, yang pertama ia rasakan adalah hal yang sangat kontras. Bukan dinginnya aspal jalanan, bukan juga kasarnya selimut tipis di apartemen kecilnya. Seprai yang menyelimuti tubuhnya terasa begitu halus, lembut, dan hangat, seolah memeluknya dengan penuh kenyamanan. Udara di ruangan itu pun harum, wangi bunga mawar dan vanila yang lembut—bau yang pasti harganya sangat mahal, yang tak pernah ia sangka bisa dekat dengannya.
Kelopak matanya terasa berat sekali, seolah ada beban tak kasat mata yang menahannya tetap terpejam lama. Namun perlahan ia memaksanya terbuka. Cahaya lembut menyentuh penglihatannya, membuatnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya ia bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.
Ia tertegun.
Kamar ini luasnya bahkan melebihi gabungan seluruh ruangan di apartemen tempat ia tinggal dulu. Dindingnya dicat warna krem lembut dengan ukiran halus berwarna emas di pinggirannya, dihiasi lukisan pemandangan yang dibingkai emas tebal. Di tengah langit-langit yang tinggi tergantung lampu kristal besar yang berkilau cantik, memancarkan cahaya keemasan yang lembut namun mewah. Perabotan yang ada di sekelilingnya terlihat kokoh dan sangat mahal, terbuat dari kayu gelap yang permukaannya mengkilap sempurna sampai bisa memantulkan bayangan samar. Di lantai terhampar karpet tebal berbulu halus yang pasti harganya setara gajinya bekerja berbulan-bulan tanpa henti.
"Apa... di mana ini?" suaranya keluar pelan, tapi langsung membuatnya terkejut sendiri.
Suara itu bukan suaranya. Lebih lembut, lebih halus, nada bicaranya pun terdengar berbeda—sama sekali bukan suara Kirana yang biasa berbicara lantang dan tegas sehari-hari.
Dengan tangan yang masih gemetar karena kaget, ia mencoba menurunkan kakinya ke tepi tempat tidur. Saat ia melihat tangannya yang terulur ke depan, napasnya tercekat.
Ini bukan tangannya.
Kulitnya jauh lebih putih, halus, bersih tanpa ada bekas luka kecil akibat terpeleset di tangga kantor, tanpa kapalan di ujung jari karena mengetik terus-menerus, tanpa noda tinta sisa mencatat laporan seperti yang biasa ia miliki selama bertahun-tahun bekerja. Ia memandangi lengannya, bahunya yang lebih ramping, lalu perlahan menyentuh wajahnya sendiri, meraba rambutnya yang terasa panjang, lebat, dan berkilau indah. Semuanya terasa asing, tapi sekaligus terasa seperti miliknya sendiri.
"Apakah aku diculik? Atau... apakah ini surga?" gumamnya bingung, matanya menyapu sekeliling ruangan yang mewah itu dengan perasaan cemas yang tak bisa dijelaskan. "Tapi kalau surga, kenapa rasanya masih ada sisa rasa sakit berdenyut pelan di belakang kepala? Dan kenapa jantungku masih berdegup kencang karena takut?"
Belum sempat pikirannya tenang, rasa nyeri yang tajam tiba-tiba menyambar kepalanya seketika. Ia memegangi pelipisnya erat-erat, meringis menahan sakit seolah ada ribuan jarum kecil yang menusuk dari dalam tengkoraknya. Berbagai bayangan, suara, dan perasaan asing melesak masuk ke dalam benaknya dengan begitu kencang, memaksa menyatu perlahan dengan ingatannya sendiri.
Ia melihat sosok wanita cantik dengan rambut cokelat keemasan yang terurai indah, tatapannya tajam dan dingin, penuh kekecewaan serta kebencian pada orang di sekelilingnya. Namanya Elena.
Ia melihat Elena mendorong seorang anak laki-laki kecil ke sudut ruangan sambil berteriak kasar, memarahi anak itu hanya karena tidak segera menuruti perintahnya saat sedang demam tinggi. Ia melihat Elena mengunci anak itu di gudang gelap berjam-jam tanpa makanan dan air, membiarkannya kedinginan di lantai beton yang keras. Ia juga melihat Elena diam-diam bertemu dengan pria lain, berbisik manis dan merencanakan sesuatu untuk melarikan diri membawa harta suaminya di belakang punggung orang yang paling berkuasa melindunginya.
Dan yang paling menyakitkan, paling mengerikan—bayangan detik-detik terakhir hidup Elena di ruangan yang sama persis dengan tempatnya berada sekarang.
Di hadapannya berdiri dua orang. Seorang pria bertubuh tegap dengan wajah dingin seolah tak punya hati, tatapannya tajam seperti mata pisau yang siap mengiris leher siapa saja yang berani melawannya. Itu Leonid Dragunov, suami Elena, pemimpin kelompok yang ditakuti seluruh kota. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki kecil berusia empat tahun, wajahnya masih polos namun matanya penuh luka mendalam, kecewa, dan rasa sakit yang sudah lama ia simpan sendirian. Itu Alvaro, anak kandung Elena sendiri.
"Leonid... tolong aku, dengar penjelasanku dulu! Aku tidak bermaksud begitu!" suara Elena terdengar gemetar ketakutan di ingatan itu.
Leonid tertawa sinis, tanpa sedikit pun rasa iba. "Dengar kebohongan apa lagi? Bukankah sudah kubilang sejak awal, aku benci pengkhianat? Aku sudah berikanmu segalanya—nama, kekuasaan, harta sebanyak apa pun yang kau minta. Tapi kau malah berani bermain di belakangku."
Elena jatuh berlutut di lantai dingin, air matanya jatuh deras saat menoleh ke arah anaknya. "Alvaro... anakku sayang, maafkan Mama! Mama janji tidak akan menyakitimu lagi, beri Mama satu kesempatan terakhir!"
Alvaro hanya diam menatapnya, tak ada lagi sebutir kasih sayang di matanya. "Sudah terlambat, Mama."
Lalu Leonid melangkah maju perlahan, dan semuanya menjadi gelap.
Kirana terjatuh kembali ke tepi tempat tidur, napasnya terengah-engah kencang, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia baru sadar sepenuhnya. Ia tidak mati saat ditabrak truk tadi malam. Ia hidup kembali, tapi di dalam tubuh wanita bernama Elena—istri pengkhianat yang baru saja dibunuh oleh suami dan anak kandungnya sendiri.
"Ya Tuhan... kenapa harus aku?" bisiknya lemah dengan suara bergetar. "Aku cuma ingin menolong seekor kucing kecil... kenapa harus aku yang mengambil alih semua kesalahan mengerikan ini?"
Ia berjalan perlahan menuju cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Saat melihat pantulan di sana, Kirana tertegun. Wajah itu bukan wajahnya, tapi wajah Elena. Orang-orang di sini akan memanggil nama itu setiap hari, dan perlahan ia sadar sepenuhnya: mulai hari ini, aku bukan lagi Kirana. Aku harus hidup sebagai Elena. Ia menarik napas panjang, mencoba membiasakan diri menyebut nama itu dalam hati, sebelum akhirnya berani mengucapkannya sendiri.
"Aku janji..." bisiknya pelan pada pantulan dirinya sendiri. "Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menyayangi Alvaro dengan tulus. Aku tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan kejam yang pernah kau lakukan."
Belum sempat ia menenangkan diri dan menyusun pikiran yang masih kacau, terdengar ketukan pelan tapi tegas di pintu kamar yang besar itu.
"Nyonya? Apakah Nyonya sudah bangun?" suara pelayan terdengar lembut namun berhati-hati dari balik pintu.
Jantungnya seakan mau copot. Ia menelan ludah susah payah, berusaha mengatur napasnya supaya tidak terdengar panik.
"I... iya, masuklah," jawabnya, suaranya masih sedikit gemetar namun berusaha terdengar tenang.
Pintu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya berpakaian rapi masuk membawa nampan berisi air minum dan obat. Wajahnya terlihat kaget sekilas melihat ekspresi yang berbeda dari biasanya—tak ada lagi tatapan sombong atau dingin—tapi ia segera menunduk hormat.
"Nyonya, Tuan Leonid berpesan agar Nyonya segera minum obat ini dulu untuk meredakan pusing. Beliau juga berpesan... beliau akan segera datang menemui Nyonya sebentar lagi setelah selesai urusan penting."
Tangan Kirana gemetar hebat saat menerima gelas itu. Leonid. Pria yang baru saja menghukum mati pemilik tubuh ini. Dan sekarang ia harus menghadapinya, berpura-pura menjadi wanita yang paling ia benci di dunia ini.
Ia menatap pintu yang perlahan tertutup kembali, tahu betul bahwa hidup barunya yang penuh bahaya dan ketakutan baru saja dimulai.
Bersambung...