Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Suara derap langkah kaki berat terdengar memukul aspal parkiran belakang kelab Gasoline. Dua pria bertubuh besar dengan jas hitam tampak memindai sudut-sudut tempat parkir yang sepi dengan pandangan tajam, memegang senjatanya yang tersembunyi di balik jas.
Suasana di luar begitu mencekam, seolah-olah satu kesalahan kecil saja bisa meletuskan bentrok berdarah.
Di dalam mobil, gadis itu—Rossi—semakin panik. Melihat para pengawal mendekat, entah mengapa insting bertahan hidupnya bekerja secara tidak rasional. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merosot turun dari kursi penumpang, lalu berjongkok di celah sempit bawah dasbor mobil sport mewah tersebut.
Rossi merapatkan tubuhnya, memeluk kedua lututnya yang gemetar, dan memejamkan mata erat-erat seolah-olah dunia akan melupakannya jika ia menutup mata.
Rowan—yang dibesarkan di antara lima saudara laki-laki dan tidak pernah memiliki saudara perempuan—menatap tingkah gadis itu dengan kening berkerut.
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi, memperhatikan bagaimana tubuh mungil di bawah dasbor itu meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan saat mati listrik.
Sebuah senyum tipis—hampir berupa dengusan miris—terukir di bibir Rowan. Ia merutuki kebodohan gadis ini dalam hati. Dia bersembunyi dari apa? batin Rowan.
Gadis itu tampaknya tidak menyadari jenis mobil yang baru saja ia masuki. Kaca mobil sport buatan Eropa milik Rowan dilapisi dengan film tint teknologi paling mutakhir—kaca itu terlihat gelap gulita dari luar dan sama sekali tidak bisa ditembus oleh pandangan mata manusia, sementara dari dalam, Rowan bisa melihat luar dengan sangat jelas.
Dua pria bertubuh besar yang berjalan bolak-balik di luar sana sama sekali tidak bisa melihat keberadaan mereka.
"Tenanglah, kau aman," kata Rowan dingin, suaranya yang berat memecah keheningan di dalam kabin. "Di luar, mereka tidak akan bisa melihat kita."
"Hah?"
Rossi mendongak pelan. Wajahnya yang pucat dipenuhi kebingungan. Tampak jelas ia baru saja tersadar dari kepanikan yang membutakan jalannya berpikir. Sadar bahwa ia baru saja menyembunyikan diri dengan cara yang sangat konyol di depan seorang pria asing, Rossi merayap kembali ke atas kursi. Dengan canggung dan terburu-buru, ia menjauhkan dirinya serapat mungkin ke arah pintu penumpang, memeluk gaunnya yang sedikit terkoyak.
"Te-terima kasih, Tuan... Anda menyelamatkan saya," bisik Rossi pelan, matanya masih melirik liar ke luar jendela, memastikan bahwa dua pria gempal di luar benar-benar melewati mobil mereka begitu saja.
Rowan menatap penampilan gadis di sampingnya dari atas ke bawah. Gaun malam berbahan tipis dengan potongan cukup terbuka di bagian bahu, riasan yang sedikit luntur, dan bau parfum terjangkau yang tercium samar bercampur dengan bau debu jalanan.
"Kau baru saja melayani tamu yang kasar?"
Spontan saja kata-kata itu keluar dari mulut Rowan.
Di dunia malam Los Angeles yang glamor namun busuk, Rowan sudah terlalu sering melihat fenomena seperti ini. Ia tahu ada banyak wanita muda yang menjual diri mereka di klab-klab malam, lalu nekat kabur di tengah malam karena tidak sanggup menahan perlakuan kasar dari pelanggan kaya yang berengsek.
Dalam pikiran Rowan saat ini, gadis di sampingnya pasti salah satu dari mereka.
Rossi menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh keras. Ia menoleh, menatap Rowan dengan mata jernih yang memancarkan kejujuran sekaligus rasa terluka yang dalam. Rossi menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tidak, Tuan. Saya tidak seperti itu," sahut Rossi dengan suara yang sedikit bergetar, namun penuh penekanan. "Saya kabur karena saya tidak ingin bekerja seperti ini."
Rowan mengernyit, menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Tatapannya menajam, menilai ketulusan ucapan gadis itu.
"Kau kabur?" tanya Rowan singkat.
Rossi mengangguk pelan. "Ya. Saya dipaksa."
Rowan diam sejenak. Ia tidak bermaksud menjadi pahlawan jalanan atau tempat penampungan bagi korban perdagangan manusia.
Masalah rumah tangganya sendiri sudah cukup menguras emosinya malam ini. Kemarahannya pada Cathez masih membakar dadanya. Ia tidak punya waktu atau energi untuk mengurusi drama wanita asing.
"Kalau begitu, sekarang kau boleh keluar dari mobilku," kata Rowan datar, jarinya bersiap menekan tombol pembuka kunci pintu.
Mata Rossi membelalak kaget. Ia melihat ke luar jendela. Dua pria berjas hitam tadi memang sudah berjalan agak jauh, tetapi wanita paruh baya yang memburunya pasti masih bersiap di sekitar gang. Jika ia keluar dari mobil ini sekarang, ia akan langsung tertangkap kembali.
Dibuang, dijual, dan dihancurkan.
Kepanikan membuat pikiran Rossi berputar cepat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus menawarkan sesuatu agar pria kaya di sampingnya ini mau membawanya pergi dari area mematikan ini.
"Tuan! Tolong..." Rossi menahan lengan Rowan refleks, lalu dengan cepat menarik tangannya kembali karena takut merusak jas mahal pria itu. "Bisa... bisa saya ikut Tuan saja? Saya janji tidak akan merepotkan Anda! Saya akan melakukan apa saja. Saya bisa memasak, saya bisa membersihkan rumah, saya juga bisa—"
Langkah kata-kata Rossi terhenti saat Rowan memutar tubuhnya sepenuhnya.
Pria itu menatap lurus ke dalam mata Rossi dengan tatapan yang begitu pekat, dingin, dan penuh dengan keputusasaan yang terselubung.
Sebuah ide gila yang tadi sempat dilontarkan oleh istrinya di kamar mewah Bel Air mendadak bergetar kembali di kepalanya.
"Bisa berikan aku anak?" tanyakan Rowan tanpa nada berbelit-belit.
Deg.
Tubuh Rossi membeku seketika. Lidahnya mendadak terasa kelu. Ruang di dalam kabin mobil mewah itu terasa menyempit menghimpit dadanya.
"A-anak?" Rossi tergagap, suaranya mencicit pelan. "Saya... saya bukan wanita seperti itu, Tuan. S-saya—"
"Aku juga bukan pria seperti itu," potong Rowan cepat, suaranya sangat tenang namun memotong argumen Rossi tanpa sisa. "Bagaimana? Kau bisa berikan aku anak? Kalau kau mengiyakan, aku akan langsung membawamu pergi dari tempat ini sekarang juga."
Otak Rossi bekerja liar di tengah kebingungan yang melanda. Anak? Pria ini meminta seorang anak sebagai imbalan menolongnya? Apakah pria ini gila? Atau apakah ini semacam perangkap lain?
Namun, di tengah keterdesakannya, sebuah niat pragmatis muncul di dalam benak Rossi. Aku hanya perlu mengiyakannya sekarang, batin Rossi berusaha menenangkan dirinya sendiri yang ketakutan.
Di kota sebesar dan seliar Los Angeles ini, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ayahnya telah menjualnya, bibinya mengkhianatinya. Ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan jam demi jam. Ya, iyakan saja dulu. Nanti di tengah jalan, ketika mobil ini melambat di lampu merah atau area pemukiman, aku bisa mencari kesempatan untuk melompat keluar dan kabur dari pria ini.
Rossi menarik napas pendek, mencoba menyusun kalimat sehati-hati mungkin untuk menipu pria di sampingnya.
"Anak?" Rossi berpura-pura mengerti dengan raut wajah sejujur mungkin. "Tentu! Aku akan memberikannya, Tuan. Di desaku... ada banyak anak yatim piatu yang sudah sering diadopsi oleh orang-orang kota. Aku bisa membantumu memilih—"
Rowan memejamkan matanya sejenak. Sebuah senyum pahit yang teramat dingin terukir di bibirnya.
Bahkan wanita asing yang tidak punya tempat tinggal ini pun tidak ingin melahirkan anakku, batin Rowan miris.
Harapan konyol yang sempat terlintas di kepalanya hancur berkeping-keping.
Cathez menolaknya, dan kini seorang wanita terlantar yang meminta tolong padanya pun enggan memberikan apa yang sangat ia inginkan. Dunia seolah sedang menertawakan keinginannya untuk memiliki keturunan.
Tanpa merespons ucapan Rossi lagi, Rowan menarik tangannya. Jari-jarinya menekan tombol engine start. Mesin V8 mobil sport itu meraung keras, memecah keheningan area parkir subterranean.
Rowan memasukkan gigi, menginjak pedal gas, dan meluncurkan mobilnya keluar dari tempat parkiran dengan kecepatan tinggi—meninggalkan area Gasoline dan bayang-bayang para pengejar Rossi jauh di belakang.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰