NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - Lempengan Besi Berkarat

Sun Chen dan Chou Tian melangkah menembus pintu kayu jati berukir milik Rumah Dagang Angin Merah. Token logam hitam hasil kemenangan turnamen di tangan Sun Chen membuat para penjaga berseragam mewah membungkuk hormat, membukakan jalan menuju balai pelelangan utama di lantai dua.

Interior aula pelelangan tampak sangat megah. Lampu-lampu kristal bertenaga batu energi tergantung anggun di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Ratusan kursi berbantal sutra telah terisi oleh para pedagang kaya, pengawal karavan berkantong tebal, serta perwakilan klan-klan lokal yang mengenakan jubah sutra. Puluhan pengawal internal Rumah Dagang yang membawa pedang panjang berdiri siaga di setiap sudut ruangan.

Mata Sun Chen yang tajam menyapu sekeliling. Di antara para tamu yang sibuk berbincang, indra spiritual dasarnya menangkap keberadaan beberapa pria bergaun hitam yang duduk tersebar di barisan belakang. Fluktuasi Qi mereka sangat teratur dan dingin.

Anak buah Pelindung Merah telah menyusup ke dalam pelelangan sebagai tamu biasa.

Chou Tian menghentikan langkahnya sejenak sebelum mereka duduk di barisan tengah. Pria tua itu memiringkan kepalanya sedikit, berbisik pelan ke arah Sun Chen.

"Banyak mata yang mengawasi kita di ruangan ini, Sun Chen," kata Chou Tian, suaranya sangat tertahan. "Tetap tenang dan jangan melakukan gerakan yang memicu kecurigaan."

Sun Chen mengangguk pelan. "Murid mengerti, Guru."

Di dalam hatinya, Sun Chen sama sekali tidak memedulikan tatapan para pengintai tersebut. Mengandalkan ingatan dari kehidupan masa lalunya, ia terus mengingat urutan barang yang akan dilelang hari ini, menunggu momen tepat munculnya lempengan besi misterius tersebut.

Pelelang yang merupakan seorang pria paruh baya berjas merah melangkah naik ke atas panggung utama. Suara ketukan palu kayunya bergema, menandakan pelelangan resmi dimulai.

Barang-barang awal mulai dipamerkan satu per satu di atas meja lelang: pil pemurni darah, sepasang belati berukir perak, rumput obat berusia lima puluh tahun, hingga pelindung dada dari kulit binatang buas. Suasana balai pelelangan menjadi riuh oleh sahut-menyahut tawaran harga dari para pedagang dan pendekar.

Sun Chen tetap duduk tenang di samping Chou Tian. Ia sama sekali tidak menunjukkan minat pada barang-barang tersebut, kendati beberapa pil yang ditawarkan cukup berguna untuk pengobatan.

Chou Tian memperhatikan ketenangan muridnya dengan rasa penasaran. Anak seusianya biasanya akan tergiur melihat senjata berkilat atau barang-barang aneh, namun Sun Chen justru menatap panggung dengan pandangan sedingin es.

Setelah hampir dua jam berjalan dan belasan lot barang terjual, pelelang menyuruh pelayan mengangkat sebuah kotak kayu kusam ke atas meja.

"Hadirin sekalian, kita sampai pada lot khusus yang diumumkan kemarin!" seru sang pelelang dengan suara nyaring, membuka penutup kotak kayu tersebut.

Di dalam kotak kusam itu tergeletak sebidang lempengan besi tua berkarat berukuran sebesar telapak tangan dewasa. Permukaannya dipenuhi retakan halus dan noda hitam, tampak bagaikan bongkahan sampah logam yang dipungut dari reruntuhan bangunan tua.

"Barang ini ditemukan oleh tim pencari di kawasan reruntuhan kuno batas selatan," jelas pelelang. "Tetapi setelah diteliti oleh para ahli kami, lempengan besi ini tidak memancarkan energi Qi sama sekali dan tidak memiliki fungsi praktis yang diketahui. Karena itu, Rumah Dagang membukanya sebagai barang koleksi unik dengan harga pembuka yang sangat murah: lima keping perak!"

Gelak tawa ringan terdengar dari beberapa kursi penonton di barisan depan.

"Barang sampah seperti itu dijual di pelelangan megah ini?"

"Hanya membuang waktu saja!"

Melihat respon dingin dari para penonton, pelelang hanya tersenyum canggung.

Sun Chen yang duduk di barisan tengah menyipitkan matanya tajam. Tatapannya terkunci lurus pada retakan halus di permukaan lempengan besi tersebut. Dalam ingatan masa lalunya, retakan itu sebenarnya adalah alur segel ghaib yang menutup keberadaan kunci pembuka ruang warisan Menara Penyimpanan Langit.

Sun Chen sengaja tidak langsung menawar. Ia membiarkan suasana hening sejenak hingga pelelang hampir mengetukkan palunya untuk membatalkan lot tersebut.

"Guru," bisik Sun Chen pelan sambil menyentuh lengan baju Chou Tian. "Tawar barang itu lima keping perak."

Chou Tian tertegun sejenak. Pria tua itu menatap muridnya dengan bingung. "Lempengan besi berkarat itu? Untuk apa, Sun Chen?"

"Saya mohon, Guru," kata Sun Chen dengan mata yang memancarkan keteguhan luar biasa. "Percayalah pada saya."

Melihat keteguhan di mata muridnya, Chou Tian tidak bertanya lagi. Pria tua itu mengangkat tangannya tenang. "Tujuh keping perak."

Suara Chou Tian membuat beberapa peserta menoleh heran. Pelelang yang gembira segera berseru, "Tuan di barisan tengah menawar tujuh keping perak! Apakah ada yang ingin menaikkan?"

Saat pelelang hendak mengangkat palunya, seorang pemuda bangsawan jangkung yang duduk di barisan depan melambaikan kipas lipatnya dengan gaya angkuh. Ia adalah Tuan Muda dari klan lokal Kota Gunung Hijau.

"Satu keping emas!" seru pemuda bangsawan itu dengan nada meremehkan. Ia sebenarnya tidak butuh besi tua itu, namun hanya ingin memamerkan kekayaannya di depan umum.

Suasana balai lelang sedikit berdesir.

Chou Tian memandang Sun Chen, meminta kepastian. Sun Chen tetap tenang, menghitung sisa lima keping emas hadiah turnamen di dalam kantongnya. Lawannya hanyalah seorang bangsawan muda yang mencari perhatian, bukan seseorang yang benar-benar tahu nilai asli barang ini.

"Dua keping emas," kata Chou Tian mengikuti petunjuk bisikan Sun Chen.

Pemuda bangsawan itu mengerutkan dahi, merasa tertantang. "Tiga keping emas!"

Sun Chen memberikan isyarat lagi. Chou Tian bersuara mantap, "Empat keping emas."

Pemuda bangsawan itu terhenyak. Empat keping emas adalah jumlah yang cukup besar untuk membeli obat-obatan berguna atau senjata berkualitas sedang. Ia menatap ke arah Chou Tian dan Sun Chen dengan pandangan kesal, lalu mengibaskan kipasnya dan bersandar kembali.

"Cuma barang sampah, ambil saja kalau kau sangat suka membuang emas!" cibir pemuda bangsawan itu pelan.

"Empat keping emas tiga kali... Tok! Ditentukan!" seru pelelang gembira.

Lempengan besi berkarat itu resmi menjadi milik Sun Chen dan Chou Tian.

Setelah pelelangan berakhir dan pembayaran diselesaikan, Sun Chen menerima lempengan besi tua tersebut yang telah dibungkus rapat dalam kain kusam. Ia menyimpannya dengan sangat hati-hati ke dalam lipatan jubahnya.

Saat mereka berjalan menyusuri lorong keluar Rumah Dagang Angin Merah, Chou Tian menatap murid kecilnya.

"Sun Chen," panggil Chou Tian pelan. "Sekarang katakan padaku, mengapa kau begitu menginginkan lempengan besi berkarat itu hingga rela menghabiskan empat keping emas?"

Sun Chen menatap gurunya dengan jujur. Ia tidak bisa menceritakan ingatan masa depannya tentang Menara Penyimpanan Langit, namun ia memberikan jawaban yang matang.

"Guru, bentuk retakan dan pola guratan pada besi tua itu bukan terbuat secara alami," jelas Sun Chen. "Saya merasakan alur tersembunyi yang mirip dengan prinsip pemicu Dantian. Intuisi saya mengatakan benda ini adalah kunci dari sesuatu yang jauh lebih besar."

Chou Tian menatap muridnya dengan rasa kagum yang mendalam. Kebijaksanaan dan kepekaan Sun Chen selalu berada di luar nalar anak seusianya. Pria tua itu mengusap kepala Sun Chen seraya tersenyum tipis. "Bagus. Jika intuisimu berkata demikian, simpanlah barang itu dengan baik."

Sementara itu, di balkon lantai tiga yang menghadap langsung ke arah pintu keluar Rumah Dagang.

Pelindung Merah berdiri menyandarkan tangannya di atas pagar ukir kayu. Pria berjubah merah gelap itu mengawasi kepergian Chou Tian dan Sun Chen dari ketinggian.

Lu Gu mendekat dari belakang, berlutut rendah. "Pelindung, mereka telah mendapatkan barang itu dan baru saja melangkah keluar."

Pelindung Merah tidak memedulikan lempengan besi tersebut. Di matanya, benda tua itu hanyalah barang mainan anak-anak. Fokus utamanya adalah menangkap Sun Chen hidup-hidup dan memusnahkan Chou Tian.

"Instruksikan seluruh pasukan," kata Pelindung Merah, suaranya dingin dan datar dari balik topeng perak. "Kunci seluruh akses keluar kota. Begitu mereka tiba di area perbatasan, langsung eksekusi rencana penyergapan!"

Matahari sore telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat, menyisakan langit malam kelam yang mulai diselimuti kegelapan.

Sun Chen dan Chou Tian melangkah menyusuri jalanan utama Kota Gunung Hijau yang mulai lengang. Toko-toko di sepanjang jalan mulai menutup pintu kayu mereka, dan lentera-lentera kertas mulai dinyalakan.

Semakin dekat mereka berjalan menuju gerbang utama kota, indra spiritual Sun Chen semakin bergetar hebat. Fluktuasi energi di sekeliling mereka berkembang pesat. Jumlah aura asing yang mengikuti mereka kini berkali-kali lipat lebih banyak dibanding tadi siang. Musuh tidak lagi menyembunyikan niat membunuh mereka.

Saat mereka tiba di area gerbang selatan kota, beberapa prajurit penjaga kota tampak sedang memindahkan balok-balok kayu tebal untuk menutup pintu gerbang besi yang megah.

"Gerbang kota ditutup lebih awal malam ini atas perintah keamanan!" teriak salah satu penjaga kota kepada para warga yang melintas.

Sun Chen menghentikan langkah kakinya. Matanya yang tajam menyapu sekeliling gerbang. Melalui indra batinnya, ia menyadari bahwa para penjaga kota itu sebenarnya telah diancam atau disuap oleh organisasi pemburu untuk menutup jalur keluar lebih cepat.

Di celah-celah gang gelap dan atas dinding benteng Kota Gunung Hijau, belasan sosok bergaun hitam muncul merayap dalam keheningan yang mencekam, menutup rapat seluruh jalan melarikan diri.

Jauh di atas puncak tembok kota yang megah, Pelindung Merah berdiri tegak. Jubah merah gelapnya berkibar ditiup angin malam yang dingin. Matanya terkunci lurus ke arah Sun Chen dan Chou Tian yang berdiri di bawah terangnya cahaya lentera gerbang.

Bibir Pelindung Merah terangkat perlahan di balik topeng peraknya, membisikkan kalimat dingin yang tersapu oleh angin malam.

"Malam ini... tidak ada seorang pun yang akan meninggalkan Kota Gunung Hijau."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!