"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Lobby utama Addison Group yang biasanya tenang dengan hiruk-pikuk profesionalisme kelas atas, mendadak membeku. Suasana yang semula hanya diisi oleh suara ketukan pantofel dan gemerisik kertas, seketika berubah menjadi keheningan yang mencekam saat sebuah Rolls-Royce Phantom hitam pekat berhenti tepat di depan pintu putar kristal gedung pencakar langit itu. Mobil itu bukan sekadar kendaraan; itu adalah simbol kekuasaan mutlak.
Dua barisan petugas keamanan berseragam lengkap langsung bergerak sigap, berdiri tegak dengan posisi sempurna, membentuk pagar betis yang kokoh untuk menyambut sang pemilik kekaisaran. Semua mata staf yang berada di lobby, mulai dari resepsionis hingga manajer menengah yang kebetulan lewat, tertuju pada pintu mobil tersebut.
Pintu terbuka. Edgar Emiliano Addison turun dengan gerakan yang tenang namun penuh wibawa. Setelan jas bespoke berwarna abu-abu gelap yang memeluk tubuh tegapnya seolah memancarkan aura predator yang tak terbantahkan. Tatapannya tajam, dingin, dan lurus ke depan. Namun, yang membuat seluruh staf di lobby menahan napas serentak bukanlah kehadiran sang Iblis Korporat yang memang selalu memikat itu, melainkan sosok wanita yang tangannya bertautan erat di lengan Edgar.
Gaby Fritzyara.
Wanita yang baru seminggu lalu masih dikenal sebagai calon istri Gavin Cavanaugh putra mahkota Addison Group kini melangkah dengan kepala tegak, dagu yang sedikit terangkat, dan tatapan yang tidak lagi menyiratkan keraguan. Ia mengenakan blazer berwarna merah marun yang sangat kontras dengan kulit putih porselennya, memberikan kesan berani sekaligus elegan. Tidak ada lagi gurat kesedihan, tidak ada lagi sisa-sisa mata sembab akibat pengkhianatan yang memilukan. Gaby yang sekarang adalah Gaby yang telah dilahirkan kembali, dipersenjatai dengan kekuasaan mutlak di samping Edgar.
"Siapkan aula utama. Sekarang juga. Saya punya pengumuman penting yang tidak bisa ditunda," suara Edgar yang berat, dalam, dan dingin menggema di seantero lobby yang luas.
Instruksi itu bagaikan titah raja. Sekretaris utama yang bertugas di lobby langsung berlari kecil, wajahnya pucat karena panik sekaligus penasaran, segera menghubungi tim operasional untuk melaksanakan perintah tanpa berani bertanya sepatah kata pun.
Sementara itu, di lantai eksekutif yang merupakan jantung dari operasional perusahaan, suasana jauh lebih kacau balau. Gavin baru saja tiba dengan langkah gontai. Wajahnya masih pucat pasi, sisa-sisa trauma akibat kejadian sarapan maut tadi pagi di kediaman ayahnya masih membekas jelas. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan setiap kali membayangkan akta pernikahan yang ia lihat.
Di dalam ruang kerjanya yang luas, Luna sudah menunggu. Ia tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh ketegangan yang menyelimuti Gavin. Luna duduk dengan santainya di atas meja kerja kayu mahoni milik Gavin, mengenakan gaun mini ketat yang sangat tidak profesional, sambil sibuk memoles gincu merah menyala di bibirnya.
"Gavin, kenapa wajahmu seperti melihat hantu begitu? Dan omong-omong, kenapa semua fasilitas kartu kreditku ditolak saat aku mau beli tas di butik malam tadi? Aku sangat malu di depan pelayan butik itu, Gavin!" keluh Luna dengan nada manja yang biasanya berhasil meluluhkan Gavin.
Namun kali ini, Gavin tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung, menatap Luna dengan pandangan kosong yang menyedihkan. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan pada Luna bahwa wanita yang selama ini mereka injak-injak, wanita yang mereka khianati dengan begitu keji, kini telah menjadi pemegang kunci brankas dan pemegang kendali atas seluruh napas finansial mereka?
Tiba-tiba, pintu ruangan Gavin terbuka dengan kasar tanpa ketukan. Sekretaris Gavin masuk dengan wajah yang sepenuhnya diliputi kepanikan. "Pak Gavin! Tuan Besar... Tuan Edgar sudah ada di gedung. Beliau sekarang sedang menuju aula utama dan memerintahkan Anda serta Nona Luna untuk segera ke sana sekarang juga!"
"Papa? Untuk apa Luna diajak ke aula?" tanya Gavin dengan suara parau yang hampir hilang.
"Saya tidak tahu pastinya, Pak. Tapi Tuan Besar terlihat sangat... berbeda. Beliau datang bersama Nona Gaby. Dan aura mereka... sangat mengintimidasi," lapor sekretaris itu dengan suara bergetar.
Luna tersentak mendengar nama kakaknya disebut. Tawa renyahnya yang manja hilang seketika, digantikan oleh kernyitan sinis. "Gaby? Kakakku yang kaku itu? Untuk apa dia kemari lagi? Mau mengemis atau menangis lagi?" Luna mendengus sombong, lalu turun dari meja dan menggandeng tangan Gavin dengan erat. "Ayo Gavin, kita hadapi saja dia. Paling dia hanya mau minta uang pesangon atau uang tutup mulut karena kamu sudah memutuskannya secara sepihak."
Gavin hanya bisa pasrah saat Luna menyeretnya menuju aula utama. Jauh di dalam lubuk hatinya, Gavin tahu bahwa Luna sedang menyeret mereka berdua menuju jurang kehancuran yang sama.
Aula utama Addison Group kini penuh sesak, nyaris tidak ada ruang untuk bernapas. Ratusan karyawan, mulai dari jajaran direksi, manajer senior, hingga staf front office, berkumpul dengan bisik-bisik riuh yang memenuhi ruangan. Spekulasi liar bermunculan. Apakah ada akuisisi besar? Ataukah ada skandal yang akan dibersihkan?
Di atas panggung kecil yang diterangi lampu sorot, Edgar berdiri dengan satu tangan di saku celana jasnya posisi yang sangat dominan. Tangan lainnya merangkul pinggang Gaby secara posesif, seolah-olah ingin mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa wanita ini adalah miliknya.
Saat Gavin dan Luna masuk melalui pintu samping dan berjalan menuju barisan paling depan atas isyarat Edgar, seluruh mata di ruangan itu tertuju pada mereka. Tatapan para karyawan kini dipenuhi rasa ingin tahu yang amat sangat.
"Terima kasih sudah berkumpul secara mendadak," Edgar memulai pembicaraannya. Suaranya yang rendah namun memiliki resonansi kuat itu sanggup membungkam keriuhan ratusan orang dalam sekejap tanpa perlu bantuan pengeras suara. "Selama ini, kalian mengenal Gaby Fritzyara sebagai tunangan putra saya, Gavin. Namun, mulai hari ini, saya ingin melakukan koreksi besar-besaran atas status tersebut agar tidak ada lagi kesimpangsiuran."
Luna menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat lebar di wajahnya. Ia menyikut lengan Gavin dan berbisik dengan nada puas, "Lihat, Gavin. Papa Edgar pasti mau mengusirnya secara resmi dari lingkungan perusahaan agar dia tidak mengganggumu lagi."
Namun, kalimat Edgar selanjutnya meledakkan aula itu bagaikan bom atom yang menghanguskan segalanya.
"Tiga hari yang lalu, Gaby Fritzyara telah resmi menjadi istri sah saya secara hukum. Dia adalah Nyonya Addison yang baru. Mulai detik ini, dia adalah pemilik saham pendamping dan menjabat sebagai pimpinan audit tertinggi di Addison Group. Setiap keputusannya adalah keputusan saya."
Hening.
Suasana aula mendadak hampa udara. Satu detik, dua detik, lalu aula itu pecah dalam kegaduhan yang luar biasa hebat. Suara bisik-bisik berubah menjadi gumaman kaget yang tak terbendung. Luna terhuyung mundur, tubuhnya lemas, matanya melotot seolah-olah bola matanya akan keluar dari kelopaknya.
"Istri? Menikah dengan Papa Edgar? Kak Gaby?!" teriak Luna tanpa sadar. Suaranya yang melengking tinggi memecah kebisingan, namun hanya terdengar seperti jeritan putus asa.
Gaby melangkah satu tindak ke depan, berdiri di tepi panggung. Ia menatap adik kandungnya itu dengan senyum tipis yang mematikan senyum seorang pemenang yang telah lama menahan rasa sakit. "Halo, Luna. Kenapa wajahmu kaget begitu? Bukankah selama ini kamu yang selalu bilang ingin melihatku menemukan 'kebahagiaanku sendiri'? Inilah kebahagiaanku, Luna. Dan ternyata, kebahagiaanku jauh lebih tinggi dari yang pernah kamu bayangkan."
"Ini gila! Ini tidak mungkin! Kakak pasti sudah mencuci otak Tuan Edgar! Kalian tidak bisa melakukan ini! Gavin, katakan sesuatu!" Luna berteriak histeris, jarinya yang bergetar menunjuk-nunjuk ke arah Gaby dengan tidak sopan.
Beberapa manajer yang dikenal sebagai lingkaran pertemanan Gavin mulai berbisik sinis dengan suara yang cukup keras. "Menikahi mantan calon mertua sendiri? Murahan sekali caranya naik tahta," bisik salah satu staf wanita. "Pasti dia sengaja menjebak Tuan Edgar dengan skandal karena tidak terima diputuskan oleh Gavin."
BRAKK!
Gebrakan keras tangan Edgar di podium kayu membuat seluruh aula seketika seperti kuburan. Edgar menatap tajam ke arah kerumunan, matanya berkilat penuh amarah yang terkendali, membuat siapa pun yang menatapnya merasa nyawanya sedang terancam.
"Siapa tadi yang berani menggunakan kata murahan?" tanya Edgar dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Edgar melangkah maju, berdiri tepat di depan Gaby, menjadi perisai hidup bagi istrinya. Ia menatap Luna dan Gavin bergantian dengan tatapan jijik yang tak tertutupi.
"Jika ada yang layak disebut murahan di ruangan ini, itu adalah putra saya sendiri dan wanita yang berdiri di sampingnya itu," Edgar menunjuk Luna dengan tatapan menghina. "Kalian bicara soal takdir dan cinta? Baiklah, biar saya luruskan soal kebenaran. Pernikahan saya dengan Gaby adalah takdir yang lahir dari kehinaan dan pengkhianatan kalian sendiri."
Gemerlap lampu aula terasa makin menyengat saat Edgar melanjutkan dengan suara yang menggelegar, "Putra saya, Gavin Cavanaugh, telah mengkhianati tunangannya yang sudah dengan setia menemaninya selama lima tahun. Dia berselingkuh dengan adik kandung tunangannya sendiri di sebuah hotel, tepat saat Gaby sedang bekerja keras membereskan laporan perusahaan yang dikacaukan oleh Gavin. Mereka berdua membuang berlian demi sebuah sampah, dan saya... saya bukan pria bodoh yang akan membiarkan berlian berharga itu jatuh ke lumpur."
Edgar memegang tangan Gaby, mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang di aula bisa melihat kilauan cincin berlian yang harganya tak ternilai tersebut.
"Gaby tidak merebut apa pun dari siapa pun. Dia adalah korban yang saya selamatkan dari keluarga yang beracun, dan ternyata, dia adalah anugerah terbesar dalam hidup saya. Mulai detik ini, siapa pun yang berani mengeluarkan suara sumbang, penghinaan, atau bahkan tatapan tidak sopan kepada istri saya, silakan kemasi barang-barang kalian sekarang juga dan keluar dari perusahaan ini. Saya tidak butuh karyawan yang tidak memiliki moral dan tidak tahu cara menghargai kebenaran."
Aula kembali heboh, namun kali ini bukan karena skandal Gaby, melainkan rasa malu yang luar biasa yang kini tertuju pada Gavin dan Luna. Karyawan yang tadi mencibir kini menunduk dalam-dalam, tidak berani mengangkat wajah. Mereka menatap Gavin dengan pandangan menghina; seorang calon pemimpin yang berselingkuh dengan adik tunangannya sendiri adalah aib yang tak termaafkan di dunia profesional maupun sosial.
Luna menangis tersedu-sedu di tempatnya berdiri. Bahunya terguncang hebat, bukan karena ia menyesali perbuatannya, tapi karena rasa malu dan posisi sosialnya yang kini hancur lebur di depan publik. "Kak Gaby... kamu tega sekali mempermalukanku seperti ini..."
Gaby turun dari panggung perlahan. Setiap langkah sepatunya terdengar seperti lonceng kematian bagi Luna. Ia berhenti tepat di depan adiknya, menatap wajah Luna yang berantakan karena air mata. Gaby mengulurkan tangan, merapikan beberapa helai rambut Luna yang berantakan dengan gerakan yang tampak lembut dari kejauhan, namun Luna bisa merasakan kuku Gaby sedikit menekan kulit kepalanya sebuah ancaman nyata.
"Tega? Luna, kata tega itu sudah lama kuhapus dari kamusku, tepat saat aku melihat foto-foto menjijikkan kalian di hotel malam itu," bisik Gaby tepat di telinga Luna. "Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Sebagai pimpinan audit baru, aku sudah meninjau seluruh data perusahaan semalam. Dan coba tebak apa yang kutemukan? Kontrakmu sebagai model representatif perusahaan ini telah kubatalkan per detik ini karena pelanggaran berat etika moral. Kamu bukan lagi wajah Addison Group. Kamu adalah masa lalu yang kotor."
"Apa?! Tidak mungkin! Gavin, bantu aku! Katakan sesuatu pada Papamu!" Luna merengek, menarik-narik lengan baju Gavin.
Gavin hanya bisa diam mematung. Wajahnya pucat pasi, lidahnya kelu. Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menatap mata ayahnya. Ia tahu betul bahwa Edgar Emiliano Addison tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
Hubungan Edgar dan Gavin yang memang sudah dingin sejak lama, kini benar-benar telah mencapai titik beku yang abadi. Tidak ada lagi jalan pulang bagi Gavin.
"Ayo, Sayang. Jangan buang waktumu lebih lama lagi untuk sampah," Edgar merangkul pundak Gaby, membawa istrinya itu berjalan membelah kerumunan karyawan. Para karyawan kini memberikan jalan dengan membungkuk hormat, memberikan jalur bagi sang ratu baru perusahaan.
Gaby melirik ke belakang untuk terakhir kalinya melalui bahunya. Ia melihat Gavin yang berdiri mematung seperti mayat hidup dan Luna yang terduduk lemas di lantai aula, menangis di tengah kerumunan orang yang kini menatap mereka dengan tatapan jijik. Gaby menarik napas dalam-dalam, merasakan udara yang jauh lebih segar dari sebelumnya.
Menikah dengan Edgar Addison ternyata bukan hanya soal pembalasan dendam yang manis, tapi soal menemukan satu-satunya pria yang bersedia memasang badan dan menjadi benteng kokoh untuknya. Dan bagi Gaby, sensasi kekuasaan dan perlindungan ini adalah kenikmatan yang tak tertandingi oleh apa pun di dunia ini. Ia siap untuk langkah selanjutnya menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya.