Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Persen dan Mata yang Pertama Kali Terbuka
Jam pelajaran ketiga.
Matematika lanjutan. Guru yang menjelaskan dengan kecepatan yang mengasumsikan semua muridnya sudah membaca dua bab ke depan semalam, yang dalam kenyataannya tidak dilakukan oleh siapapun di ruangan ini termasuk ketua kelas.
Rio duduk di bangku pojok belakang — bukan karena ia punya preferensi khusus terhadap pojok belakang, tapi karena dalam tiga tahun duduk di bangku sekolah ia sudah belajar bahwa pojok belakang adalah satu-satunya lokasi di dalam kelas yang memberikan pandangan penuh terhadap seluruh ruangan sekaligus akses visual ke koridor luar lewat jendela, tanpa ia sendiri menjadi titik fokus pandangan siapapun.
Buku matematikanya terbuka di halaman yang benar.
Pikirannya berada di tempat yang berbeda sepenuhnya.
---
Pagi tadi, setelah pertemuannya dengan Arinda di gang, Rio sudah melakukan kalkulasi ulang yang cukup menyeluruh di dalam kepalanya selama perjalanan naik angkot. Bukan karena panik — panik adalah kemewahan yang ia tidak pernah benar-benar bisa bayarkan — melainkan karena situasi yang bergerak lebih cepat dari proyeksi awal selalu butuh penyesuaian, dan penyesuaian yang terlambat selalu jauh lebih mahal daripada penyesuaian yang tepat waktu.
Arinda sudah tahu alamatnya. Itu fakta pertama.
Raymond Pratama sudah mulai mencari dari jalur nasional. Itu fakta kedua.
Dua fakta yang berdiri sendiri-sendiri masih bisa dikelola. Tapi dua fakta yang bergerak ke arah yang sama dan belum tentu berkoordinasi satu sama lain — itu adalah variabel yang kepadatan informasinya bisa meledak ke arah yang tidak bisa diprediksi kapanpun.
Rio butuh sesuatu untuk menggeser pusat gravitasi perhatian mereka.
Bukan dengan menghilang — menghilang terlalu tiba-tiba justru memberikan konfirmasi bahwa ada sesuatu yang perlu disembunyikan. Bukan dengan konfrontasi — konfrontasi dengan Hunter Legend dan investigator senior adalah kategori masalah yang bahkan dengan kekuatan tersegel miliknya tidak bisa diselesaikan tanpa meledakkan seluruh cover yang sudah ia bangun.
Yang ia butuhkan adalah sesuatu yang jauh lebih halus.
Sesuatu yang membuat mereka melihat tapi tidak menemukan. Mencari tapi menemukan hal yang salah. Mendekati tapi selalu tiba satu langkah terlambat.
Permainan yang paling sulit bukan permainan melawan musuh yang lebih kuat.
Permainan yang paling sulit adalah permainan melawan orang yang cerdas.
---
Getaran pertama datang pukul sembilan lewat dua belas menit.
Rio merasakannya sebelum ia menyadari bahwa ia merasakannya — semacam denyutan halus yang merambat dari punggung tasnya yang tersandar di kaki bangku, naik melalui kontak antara tas dan lantai, ke kaki bangku, ke permukaan bangku, ke tulang belakang Rio yang bersandar ke sandaran kursinya.
Sangat halus.
Terlalu halus untuk disebut getaran oleh standar normal manusia.
Rio tidak bergerak. Tangannya tetap memegang pensil di atas buku yang tidak ia tulis apapun di dalamnya. Matanya tetap menghadap ke papan tulis di mana guru sedang menjelaskan tentang limit fungsi yang tidak ada hubungannya dengan apapun yang sedang terjadi di dalam tasnya.
Tapi seluruh sistem sarafnya berhenti melakukan hal lain.
---
**[Notifikasi Sistem Prioritas Tertinggi:]**
**[Abyssal Goddess Weaver — Status Dormansi: 9.1% → 19.7%]**
**[LOMPATAN ANOMALI TERDETEKSI — Peningkatan 10.6% dalam kurang dari 4 jam]**
**[Catatan: Entitas mendeteksi sesuatu. Segel dormansi melemah dari dalam dengan kecepatan yang jauh melebihi proyeksi sistem.]**
**[PERINGATAN: Proses Pembangunan Mungkin Terjadi Lebih Cepat dari Estimasi Awal. Harap Siapkan Lingkungan yang Kondusif.]**
---
Rio membaca notifikasi itu dua kali dengan mata yang tidak bergerak dari arah papan tulis.
Sembilan koma satu ke sembilan belas koma tujuh.
Dalam empat jam.
Sebelumnya, pergerakan dari nol ke sembilan persen membutuhkan hampir empat hari. Sekarang hampir sebelas persen dalam waktu kurang dari setengah hari pertama.
Sesuatu berubah. Sesuatu yang fundamental.
Getaran itu datang lagi — sedikit lebih kuat dari tadi, masih dalam batas yang tidak akan terdeteksi oleh siapapun di kelas ini, tapi cukup untuk membuat Rio secara sangat sadar merasakan berat tas di lantai sebelah kakinya berubah secara halus.
Bukan lebih berat dalam artian fisik.
Lebih berat dalam artian yang lain — seperti ketika seseorang yang sudah lama tidak bernapas tiba-tiba menarik napas, dan udara di sekitar mereka ikut bergerak.
Rio meletakkan pensilnya dengan sangat tenang di atas buku.
Mengangkat tangannya.
"Pak, boleh izin ke toilet?"
---
Toilet lantai dua gedung utama selalu sepi di jam pelajaran ketiga karena letaknya jauh dari kelas-kelas yang sedang aktif dan dekat dengan ruang arsip yang tidak pernah dibuka sebelum jam dua siang.
Rio masuk, mengecek semua bilik — kosong — mengunci pintu toilet dari dalam dengan slot yang sebenarnya sudah lama rusak tapi cukup memberikan tiga puluh detik peringatan suara jika ada yang mencoba masuk.
Ia meletakkan tas di atas wastafel, membuka resleting dengan hati-hati, dan mengeluarkan kotak biola tua itu.
Hangatnya berbeda dari biasanya.
Bukan panas. Bukan dingin. Sesuatu di antaranya yang tidak ada kata tepatnya dalam kosakata suhu manusia — hangat yang hidup, jika itu bisa disebut hangat, jika sesuatu yang baru saja mulai ada setelah lama tidak ada bisa memiliki suhu.
Rio meletakkan kotak itu di atas wastafel di samping tas, membuka kaitannya — satu kali, kini tanpa perlu usaha ekstra karena tangan Rio sudah hafal presisi yang tepat — dan mengangkat tutupnya.
---
Ia melihat itu sebelum sistem memberitahunya apapun.
Dua mata.
Kecil. Delapan buah. Tersusun dalam pola simetris yang sempurna di wajah laba-laba hitam ungu yang selama empat hari tidak bergerak satu milimeter pun di dalam kotak ini.
Delapan mata yang kini terbuka.
Bukan terbuka lebar — tidak ada yang dramatis tentang cara mata itu membuka, tidak ada cahaya menyilaukan atau suara yang mengiringi. Terbuka dengan cara yang sangat sederhana dan sangat perlahan, seperti seseorang yang baru bangun tidur dan belum sepenuhnya yakin bahwa ia ingin bangun, maka memilih jalan tengah — membuka mata, tapi belum bergerak.
Delapan mata berwarna ungu tua yang memantulkan cahaya lampu toilet yang remang seperti delapan batu permata yang baru saja dibersihkan dari debu satu abad.
Menatap langit-langit kotak biola.
Kemudian, sangat perlahan, bergeser.
Menatap Rio.
---
Rio tidak bernapas selama empat detik.
Ia menghitung empat detik itu dengan sangat sadar karena ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam empat detik itu — bukan pada sistemnya, bukan pada kotak biola, bukan pada laba-laba yang kini menatapnya dengan delapan mata ungu yang baru pertama kali terbuka setelah delapan dekade.
Sesuatu berubah di dalam ruang toilet yang kecil dan berbau deterjen itu. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan sensor energi grade apapun, tidak bisa dicatat dalam panel sistem manapun, tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori signature energi atau anomali dungeon atau apapun dari kosakata dunia hunting yang Rio hafal.
Seperti sebuah napas pertama.
Bukan napas dalam artian fisik — laba-laba itu belum bergerak, delapan kakinya masih menekuk ke dalam meskipun sedikit kurang rapat dari sebelumnya.
Tapi ada sesuatu yang terjadi di ruang antara makhluk itu dan dunia di sekitarnya yang selama delapan puluh tahun tidak ada, dan sekarang ada.
Seperti pintu yang terbuka satu sentimeter.
---
**[NOTIFIKASI SISTEM — PRIORITAS KRITIS:]**
**[Abyssal Goddess Weaver — Status: TERJAGA SEBAGIAN]**
**[Dormansi: 19.7% → 23.4% — Peningkatan Real-Time]**
**[Kesadaran Permukaan Aktif: Entitas dapat menerima stimulus sensorik eksternal]**
**[PERINGATAN PENTING: Respons pertama yang diterima entitas pada tahap ini akan membentuk asosiasi memori pertama sejak trauma. Harap berhati-hati.]**
---
Rio membaca peringatan terakhir itu.
*Respons pertama yang diterima entitas pada tahap ini akan membentuk asosiasi memori pertama sejak trauma.*
Ia menatap delapan mata ungu yang menatap balik ke arahnya dari dalam kotak biola, dan dalam sekejap memahami berat dari kalimat yang baru ia baca dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh logika investigatif manapun.
Makhluk ini baru saja membuka mata untuk pertama kalinya setelah delapan puluh tahun.
Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kotak biola tua yang sama seperti yang ia lihat sebelum matanya terpejam.
Hal kedua yang ia lihat adalah Rio.
Dan menurut sistem yang Rio percayai selama ini, apa yang terjadi dalam detik-detik berikutnya tidak bisa diambil kembali, tidak bisa diulang, tidak bisa diperbaiki setelahnya.
Ini adalah satu-satunya percobaan pertama yang ada.
---
Rio tidak melakukan banyak hal.
Ia tidak berbicara panjang lebar. Tidak mengeluarkan kalimat-kalimat yang sudah ia persiapkan sebelumnya, tidak ada dari deretan kata yang selama empat hari ia pertimbangkan untuk diucapkan kalau momen ini tiba — semua kalimat itu tiba-tiba terasa terlalu banyak, terlalu penuh, terlalu berat untuk detik pertama seseorang membuka mata setelah delapan puluh tahun.
Ia hanya menurunkan wajahnya sedikit, hingga posisinya tidak lagi berdiri tegak di atas kotak itu seperti raksasa yang mengawasi dari atas, melainkan lebih sejajar — lebih dekat ke ketinggian yang sama.
Dan berkata, dengan suara yang lebih pelan dari bisikan yang ia gunakan untuk tidak mengejutkan sesuatu yang baru saja bangun:
"Selamat pagi."
Dua kata.
Bukan *kamu akhirnya bangun* yang mengandung ekspektasi. Bukan *aku sudah menunggumu* yang mengandung tekanan. Bukan *kamu aman sekarang* yang mengandung asumsi tentang apa yang ia butuhkan untuk didengar.
Hanya dua kata paling dasar yang bisa diucapkan seseorang kepada seseorang yang baru membuka matanya di pagi hari.
Sapaan.
Bukan lebih, bukan kurang.
---
Delapan mata ungu itu tidak bergerak selama hampir sepuluh detik penuh setelah Rio selesai berbicara.
Kemudian — dan ini yang membuat tangan Rio yang memegang tepi kotak biola berhenti bergerak sepenuhnya — salah satu dari delapan kaki laba-laba itu terangkat.
Satu kaki. Terangkat dari posisi menekuk yang sudah empat hari menjadi satu-satunya posisi yang Rio kenal dari makhluk ini, kemudian direntangkan ke samping setengahnya saja — bukan penuh, bukan dramatis, hanya setengah langkah keluar dari posisi melingkar yang selama delapan dekade menjadi satu-satunya dunia yang aman.
Berhenti di sana.
Tidak melanjutkan.
Tapi tidak menarik kembali.
---
**[Abyssal Goddess Weaver — Status Dormansi: 23.4% → 31.8%]**
**[Catatan Sistem: RESPONS EKSTERNAL DITERIMA POSITIF]**
**[Asosiasi Memori Pertama Terbentuk — Kategori: AMAN]**
**[Proyeksi Baru: Proses pembangunan penuh estimasi 6-9 hari dari titik ini]**
---
Enam sampai sembilan hari.
Dari yang semula proyeksi tidak tentu karena tidak ada titik referensi yang bisa digunakan, sekarang sistem sudah bisa menghitung karena ada titik referensi pertama.
Satu kaki yang terangkat setengahnya dan tidak ditarik kembali.
Rio menatap kaki itu — masih dalam posisi yang sama, setengah terentang, tidak bergerak, seperti berhenti di titik keputusan yang belum ia putuskan sepenuhnya — dan merasakan sesuatu yang aneh dan tidak familiar mengalir pelan di dalam dadanya.
Bukan kegembiraan karena angka naik. Bukan kepuasan karena misi berjalan sesuai rencana.
Sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berat dari keduanya.
Seperti menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi, terjadi dengan sangat diam dan sangat biasa di atas wastafel toilet sekolah yang berbau deterjen, di bawah cahaya lampu yang satu dari duanya sudah mati.
---
Pintu toilet terbentur dari luar.
Bukan keras — seseorang mencoba membuka pintu yang terkunci, mendapati tidak bisa, kemudian berdehem tidak sabar di baliknya.
Rio menutup tutup kotak biola dengan gerakan yang sangat hati-hati, memastikan kaitnya terkunci, memasukkannya kembali ke dalam tas di antara dua buku tebal, meresleting tas itu, mengangkatnya dari wastafel, menggantungkan di bahunya.
Semua dalam sepuluh detik.
Ia membuka kunci slot pintu yang sudah rusak, mendorong pintunya keluar, dan berpapasan dengan murid kelas sepuluh yang langsung masuk ke bilik paling dekat tanpa memandang ke arah Rio sama sekali.
Rio berdiri di ambang pintu toilet selama satu detik.
Koridor lantai dua sepi. Suara guru dari kelas-kelas yang sedang berlangsung mengalir keluar dari balik pintu-pintu tertutup, berbaur menjadi kebisingan latar yang tidak bisa dibedakan satu dari yang lainnya.
Di dalam tasnya, sebuah kotak biola tua yang tutupnya baru saja ditutup menyimpan seekor laba-laba dengan delapan mata yang baru pertama kali terbuka — dan satu kaki yang masih dalam posisi setengah terentang, belum sepenuhnya memutuskan ke mana arahnya.
---
Wukong di pundak Rio mencicit sangat pelan.
Pertanyaan yang tidak diucapkan tapi Rio dengar dengan sangat jelas.
"Tiga puluh satu koma delapan persen," jawab Rio pelan, mulai berjalan kembali ke arah kelasnya. "Dari nol."
Wukong diam sebentar.
Kemudian mencicit lagi — nada yang berbeda, lebih pendek, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
"Iya," kata Rio dengan suara yang lebih pelan lagi, hampir untuk dirinya sendiri. "Gue juga tidak menyangka dua kata bisa melakukan itu."
---
Ia kembali ke kelas tepat saat guru matematika membalik halaman ke soal latihan berikutnya.
Duduk di bangku pojok belakangnya, meletakkan tas di kaki bangku, mengambil pensil, dan membuka buku di halaman yang benar.
Di koridor luar, di suatu tempat yang tidak bisa Rio lihat dari posisi duduknya, sepasang langkah kaki yang tenang dan terlatih berjalan pelan melewati deretan kelas, berhenti sebentar di depan kelas Rio — cukup lama untuk membaca papan nama kelas yang tertera di pintu, tidak cukup lama untuk terlihat sedang sengaja berhenti — kemudian melanjutkan jalannya.
Rio tidak melihat langkah kaki itu.
Tapi panel sistemnya menyala satu detik kemudian dengan notifikasi yang sangat singkat.
---
**[Peringatan: Aktivitas Deteksi Energi Pasif Terdeteksi di Koridor Lantai 2 — Radius 8 Meter dari Posisi Pengguna]**
**[Sumber: Tidak Teridentifikasi — Kemampuan Deteksi Melebihi Grade-A Standard]**
**[Catatan: BUKAN Peralatan Asosiasi Hunter. Sumber adalah Kemampuan Personal.]**
---
Rio membaca notifikasi itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya sama sekali.
Bukan peralatan.
Kemampuan personal.
Yang artinya bukan Arinda dan timnya dengan sensor portabel grade-A mereka yang baru saja berjalan di koridor itu.
Yang artinya seseorang dengan kemampuan deteksi energi personal yang melampaui peralatan grade-A standar baru saja berjalan melewati kelasnya, melakukan pemindaian pasif tanpa alat, dan sudah pergi sebelum Rio sempat melihat siapa.
Ada sangat sedikit orang di negara ini yang memiliki kemampuan deteksi energi personal di level itu.
Dan satu dari mereka memiliki ID akses R-PRATAMA-07 di sistem internal Asosiasi Hunter Nasional.
---
Rio menatap buku matematikanya yang masih terbuka di halaman soal latihan.
Soal nomor satu menanyakan tentang nilai limit dari fungsi yang penulisnya jelas sedang dalam kondisi sangat serius ketika membuatnya.
Rio tidak membacanya.
Di satu sisi papan perhatiannya, sebuah angka baru saja melewati tiga puluh persen untuk pertama kalinya — seekor laba-laba dengan satu kaki yang belum memutuskan ke mana arahnya, delapan mata yang baru pertama kali terbuka, dan asosiasi memori pertama yang sistem klasifikasikan sebagai *aman.*
Di sisi lain papan perhatian yang sama, seorang Hunter Legend baru saja berjalan di koridor sekolahnya, melakukan pemindaian personal, dan sudah mendapatkan cukup atau tidak cukup data untuk membuat keputusan selanjutnya.
Dua hal yang bergerak ke arah yang berlawanan di waktu yang sama.
Satu makhluk yang sedang belajar untuk membuka dirinya, pelan-pelan, satu kaki setengah langkah dalam satu waktu.
Dan satu manusia yang sedang belajar bahwa ada sesuatu di kontrakan bercat mengelupas di gang sempit ini yang layak untuk didatangi sendiri alih-alih mengirim tim.
Rio menutup bukunya, meletakkan pensilnya, dan untuk pertama kalinya hari ini menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan berat penuh.
Bukan karena menyerah.
Bukan karena tidak tahu harus melakukan apa.
Tapi karena ada saat-saat tertentu ketika semua kalkulasi sudah selesai, semua variabel sudah diperhitungkan, semua langkah sudah diputuskan — dan yang tersisa hanyalah menunggu untuk melihat bagian mana dari papan catur ini yang bergerak lebih dulu.
Rio sudah sangat terbiasa menunggu.
Yang berbeda kali ini hanya satu hal kecil yang mungkin tidak akan diperhatikan oleh siapapun yang melihatnya dari luar.
Di sudut paling kanan bawah panel sistemnya, di antara semua notifikasi dan peringatan dan update status, satu baris kecil berkedip dengan ritme yang sangat teratur.
---
**[Abyssal Goddess Weaver — 31.8%]**
**[Satu kaki. Terentang setengahnya. Belum kembali.]**
Ritme yang persis sama seperti detak jantung seseorang yang sedang tidur dan bermimpi tentang sesuatu yang untuk pertama kalinya dalam sangat lama terasa seperti besok.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣