Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU
Brakk
"Istigfar lo, Run!" ucap Tia.
Tia merupakan teman dekat Arun saat di kampus. Mereka baru mengenal saat pertama kali ospek.
"Bener-bener ya tu dosen! Cuma salah satu huruf, langsung dicoret-coret!! Heh!" gerutu Arun.
"Dari pada lo marah-marah mending kita pesen makan. Gimana?" tanya Tia.
"Gue bakso sama jus jeruk" balas Arun.
"Oke, tunggu bentar" ucap Tia kemudian pergi meninggalkan meja mereka.
Kantin yang ada di Universitas ini lumayan cukup luas, saat ini Arun dan Tia memilih tempat duduk yang sedikit jauh dengan stan makanan yang ada.
Sepeninggalan Tia, Arun mengambil sebuah proposal dan membukanya kembali. Ini meruapakan proposal tugas yang tidak di terima oleh dosennya dan terpaksa Arun harus mengerjakan ulang proposal tersebut.
"Gue doain! Anak tu dosen kalo kuliah dapet dosen modelan bapaknya!"
"Ihhh!! Masa gue ngerjain lagi sih!! Ini kenapa sih dia coret-coretnya sampe sini!! Argh!!"
Arun terus saja memaki-maki dan mengeluarkan semua kata-kata untuk mengungkapkan rasa kesalnya saat ini.
"STOP!!"
Tia membawa makanan yang mereka pesan tadi, "Udah ngapa sih, lo gak capek apa ngoceh terus?" tanya Tia.
"Tia! Lo enak langsung diterima tugasnya. Liat punya gue, dia coret-coret!! Kayaknya dosen itu punya dendam deh sama gue!"
"Lo nolak dia kali"
"Sembarangan lo!"
"Udah lo gak usah marah-marah lagi, Sekarang lo makan ini!!. Soal tugas, lo bisa copy punya gue" ujar Tia sambil menyodorkan mangkok berisi bakso.
"Gak bisa lah! Lo kira bisa bodoh in dosen? Salah satu huruf aja tau apalagi salin punya lo"
Tia membuka bungkus jajanan yang bergambar singkong tersebut lalu memakannya, "Ya berarti lo kerjain lagi sendiri, emang apa susahnya sih ngerjain lagi? Filenya masih adakan di laptop lo?".
"Ada. Yang gak ada itu waktu gue! Lo tau kan cafe sekarang lagi rame-ramenya"
"Ya lo tinggal minta waktu atau libur gitu buat ngerjain tugas?" saran Tia.
"Gak bisa Tia"
"Kenapa gak bisa?"
Arun memasang wajah lesu sambil mengaduk-aduk bakso miliknya, "Kayaknya Akbar bakal berhenti dari cafe dan otomatis kerjaan gue nambah sebelum ada penggantinya".
"Hah! Apa lo bilang?! Si Akbar bakal resign?"
Arun memasukkan bakso ke dalam mulutnya sambil menganggukkan kepala. "Alasannya?" tanya Tia lagi.
"Katanya sih Bella minta buat Akbar punya banyak waktu buat dia. Tapi gak tau lah!" ucap Arun.
Tia memasukkan makanannya sambil mendengus kesal, "Definisi bucin buat goblok!" ujar Tia.
"Gak salah sih, cuman --" ucap Arun yang kemudian terpotong oleh perkataan Tia.
"Nggak!! Itu tuh salah tau gak! Dasar si cewek sok kecantikan itu aja yang egois. Nih ya mppppp --"
Arun membekap mulut Tia dengan cepat saat dia melihat Akbar dan Bella yang berjalan mendekati mereka.
"Haii, Run" sapa Akbar.
Arun hanya tersenyum sambil terus membekap mulut Tia, "Lepasin gila!! Sakit mulut gue!" ucap Tia sambil menarik tangan Arun dengan kuat untuk terlepas.
"Kalian ngapain main bekap-bekapan?" tanya Bella.
"Terserah kita lah! Emangnya setiap kelakuan gue sama Arun harus ikut apa kata lo?!!" ucap Tia sinis.
Awwwwh
Tia mengaduh saat lengannya mendapat cubitan dari Arun, "Kalo gitu kita berdua cabut duluan ya. Ayokk Tia" ucap Arun sambil menarik tangan Tia yang sedang sibuk meraih makanannya satu persatu.
"Sabar elah! Kita mau kemana sih?!! Lagian bakso sama jus lo juga belum abis!" ucap Tia.
"Lo berisik tau gak" bisik Arun pada Tia sambil terus menarik Tia menjauh dari Akbar dan Bella.
"Mereka kenapa sih? Kayak gak suka gitu sama aku" tanya Bella pada Akbar.
"Cuma perasaan kamu aja" balas Akbar sambil memperhatikan punggung Arun yang mulai menjauh.
.........
"Hellowww Bandung!!" teriak Ilham dari dalam mobil.
"Apaan sih lo bang! Berisik!" tegur Bio yang sedang fokus menyetir.
Hari ini Broto melaksanakan keinginannya untuk mengirim Bio, anak terakhirnya ke Bandung.
Sempat ada perdebatan antara Broto dengan sang istri. Nita tidak ingin jauh dengan Bio, namun keputusan Broto tidak bisa dibantah. Jika Bio tidak mengikuti keinginannya maka Bio tidak akan masuk daftar anak yang berhak menerima warisan dri harta kekayaannya.
"Lo itu harusnya seneng bisa kesini" ujar Ilham.
"Seneng?" tanya Bio sambil tersenyum kecut sambil memandang jalanan.
Ilham mengangguk lalu menegakkan badannya, "Lo tau kenapa lo setelah lulus kuliah gak dapet kerjaan di Jakarta? Sekalipun itu di kantor papah, Padahal lo lulus udah hampir dua bulan lebih".
"Karena kantor papah belum buka lowongan, kalo di tempat lain gue gak masukin lamaran"
"Salah. Walaupun lo masukin lamaran gue yakin lo gak akan keterima, papah aja nolak apalagi yang lain" ucap Ilham dengan nada mengejek.
"Terus, menurut lo gue goblok gitu?"
"Gue gak bilang. Lo tau kenapa papah ngirim lo kesini?" tanya Ilham lagi.
Bio terdiam enggan menjawab pertanyaan kakak laki-lakinya tersebut, "Biar lo belajar dari pengalaman Bi, pengalaman itu mahal" ujar Ilham.
"Kan gue bisa belajar pengalaman di kantor papah, kenapa harus jauh-jauh ke Bandung? Emang dasar papah aja mau buang gue!" ujar Bio dengan perasaan kesal.
"Kantor papah bukan buat cari pengalaman. Asal lo tau setiap bulan kantor papah buka lowongan, tapi papah bilang jangan sampe lo tau kalo kantor lagi nyari pegawai".
Ckittttt
Bio menginjak rem mobilnya secara tiba-tiba, "Astaga! Lo bisa bawa mobil gak sih?!!" ujar Ilham sambil melotot ke arah Bio.
Hampir saja kepala Ilham membentur dashboard mobil, jika saja tangannya tidak langsung menahan.
"Bukan gue! Tapi dia tuh yang gak bisa bawa motor!!" tunjuk Bio pada pengendara motor yang berada didepannya.
"Eh, mau kemana lo?" tanya Ilham saat Bio membuka sabuk pengamannya.
"Ngasih pengalaman sama tu orang!" ucap Bio kemudian membuka pintu mobil dan menghampiri pengendara motor tersebut.
Belum sempat Ilham membuka mulutnya, Bio sudah berada disamping pengendara motor scoopy berwarna hitam tersebut.
"Heh! Baru belajar bawa motor lo!" ucap Bio saat berada disamping orang tersebut.
Arun menaikkan kaca helmnya dan langsung melihat ke arah sumber suara sambil menatap sinis Bio. "Bisu lo?" tanya Bio tak kalah sinis menatap Arun.
"Gak!" balas Arun jutek.
"Lo tau apa salah lo?" tanya Bio lagi.
"Tau"
"Lo tau gak kalo lo juga bisa buat kecelakaan? Gimana kalo gue tadi nabrak lo?"
"Heh! Lo buta? Tangan gue kan udah minta buat mobil lo pelan, terus kenapa sekarang lo marah-marah?" tanya Arun yang sudah mulai emosi.
"Gue gak liat tangan lo ngasih isyarat"
"Makanya kalo bawa mobil jangan sambil main hp, buta kan mata lo!"
"Sembarangan lo! Lagian ngapain sih lo pake rem mendadak segala. Udah cepetan minggir mobil gue mau lewat, gue buru-buru!" ujar Bio.
"Gue rasa lo buta beneran deh! Lo gak liat bebek depan sana?"
Arun menunjuk rombongan bebek dengan jumlah banyak menyebrangi jalan. Bio mengikuti arah telunjuk Arun dan sedikit membuka mulutnya terkejut saat melihat bebek-bebek tersebut.
"Neng, hatur nuhunnya" ucap seorang laki-laki dengan menggunakan topi sawah (tudung) saat bebek-bebek tersebut selesai menyebrang.
Bio melihat ke arah Arun, sedangkan Arun tersenyum manis kepada bapak tersebut, "Sami-sami pak" ucap Arun.
Setelah itu, Arun lansung menurunkan kaca helm miliknya dan pergi dari sana tanpa memperdulikan Bio.
"Cewek gila!" umpat Bio kemudian pergi kembali masuk kedalam mobilnya.
Bio menutup pintu mobil dengan sedikit kencang membuat Ilham heran melihatnya, "Gue rasa lo yang dapet pengalaman bukan dia" ucap Ilham.
"Diem lo bang! Ini tempatnya masih jauh gak sih bang?!! Perasaan gue dari tadi gak nyampe-nyampe!"
"Gak, bentar lagi juga nyampe"
Bio kembali melaju dengan mobilnya, "Menurut lo gimana cewek Bandung?" ujar Ilham pada Bio. "Aluskan? Cantik, lemah lembut lagi ngomongnya" lanjut Ilham.
"Setau gue juga gitu. Tapi gue rasa yang tadi cewek Bandung jadi-jadian!" ucap Bio.
"Cewek tadi? Oh, yang bawa motor tadi cewek?" tanya Ilham.
Bio hanya menganggukkan kepala, "Lo harusnya gak ngomong kasar tau gak sama tu cewek. Kalo dia sakit hati gimana?" ujar Ilham menasehati.
"Dia lebih kasar bang!" sahut Bio tidak terima dirinya disalahkan.
Ilham menatap Bio dengan datar, kemudian tersenyum puas. "Baguslah, setidaknya lo udah dapet pengalaman disini"
"Pengalaman apaan!"
"Pengalaman kalo ada cewek yang gak terpesoan dengan wajah tampannya seorang Bio, sang primadona Jakarta hahah" ujar Ilham dengan tawa puasnya.
"Bangsat!" umpat Bio sambil melempar tempat tisu pada Ilham.
Tbc.