NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Napas Kedua

Hening. Di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara itu, waktu seolah berhenti berputar. Aroma tajam minyak kayu putih aromaterapi milik Ayana kini mendominasi udara, menyingkirkan wangi parfum mahal Prancis milik Arka.

Kedua telapak tangan Ayana masih menempel erat di rahang tegas Arka. Ibu jarinya perlahan mengusap tulang pipi pria itu, mencoba mengalirkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki. Jarak mereka begitu dekat, sampai-sampai Ayana bisa melihat dengan jelas bagaimana iris mata hitam pekat milik Arka yang tadinya melebar penuh ketakutan, kini perlahan mulai mengecil dan kembali fokus.

"Pak... Pak Arka? Bisa dengar saya?" bisik Ayana lirih. Suaranya sengaja dibuat selembut mungkin, kontras dengan sifat aslinya yang biasanya ceplas-ceplos mirip petasan banting.

Arka tidak langsung menjawab. Dada bidangnya masih naik turun, tapi ritmenya sudah jauh lebih manusiawi ketimbang dua menit yang lalu. Matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Ayana. Ada rasa hangat yang asing menjalar dari pipinya—tempat di mana tangan Ayana berada—langsung menuju ke dadanya yang semula terasa beku dan terhimpit.

"Hhh..." Arka mengembuskan napas panjang lewat mulut, seolah membuang sisa-sisa sesak yang tersisa. "Lepas."

"Hah?" Ayana mengerjap.

"Tangan kamu. Lepas," ulang Arka dengan suara berat yang masih agak serak. Sisa-sisa keangkuhannya yang sempat rontok akibat panic attack kini buru-buru ia pungut kembali.

Sadar posisinya yang agak tidak senonoh—hampir menubruk tubuh sang CEO di kursi belakang mobil—Ayana langsung menarik tangannya kembali seperti baru saja tersengat listrik. Wajahnya mendadak memerah. Ia buru-buru bergeser menjauh hingga bokongnya kembali mepet ke pintu mobil sebelah kiri.

"Ma-maaf, Pak. Itu tadi tindakan medis darurat! Jangan dituduh pelecehan seksual ya, saya cuma menyelamatkan nyawa Anda yang seharga seratus miliar itu!" cerocos Ayana panik, tangannya sibuk merapikan jas putihnya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali.

Arka tidak membalas cerocosan Ayana. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu melirik ke arah luar jendela mobil. Di depan sana, beberapa petugas polisi dan Jasa Marga sudah mulai mengevakuasi truk yang menabrak pembatas jalan. Suara sirine ambulans sayup-sayup terdengar dari kejauhan.

Begitu mendengar suara sirine itu, tubuh Arka kembali menegang kecil. Ayana yang dasarnya peka langsung menyadari perubahan gestur tersebut. Tanpa banyak bacot, Ayana meraih botol minyak kayu putihnya lagi, meneteskannya ke selembar tisu, lalu menyodorkannya ke depan hidung Arka.

"Nih, hirup lagi tisunya. Jangan sok kuat. Suara sirine itu trigger Anda juga, kan?" tanya Ayana dengan nada yang kini kembali ketus tapi penuh perhatian.

Arka menatap tisu di tangan Ayana dengan ragu. "Saya bilang, saya tidak suka bau kakek-kakek—"

"Pak Arkananta Pradipta yang terhormat, di dalam mobil ini status Anda adalah pasien saya. Dan di depan medis, ego Anda itu tidak ada harganya. Mau hirup sendiri, atau mau saya bekap pakai tisu ini?" ancam Ayana sambil memelototkan matanya yang bulat.

Arka mendecih kasar. Namun, alih-alih mengambil tisu itu, pria itu justru maju selangkah, mencondongkan kepalanya mendekati tangan Ayana, dan menghirup aroma minyak kayu putih langsung dari tisu yang dipegang sang dokter.

Posisi ini membuat Ayana membeku. Jarak mereka kembali memotong ruang privasi. Ayana bahkan bisa merasakan embusan napas hangat Arka yang mengenai punggung jarinya. Jantung Ayana mendadak memberikan reaksi aneh—sebuah detakan konstan yang agak terlalu cepat, padahal yang punya penyakit panik kan si CEO, kenapa sekarang malah dia yang deg-degan?

"Sudah," kata Arka setelah beberapa detik, menarik kepalanya kembali dan bersandar di kursi mobil. Wajahnya kini sudah jauh lebih segar, rona merah mulai kembali di kulitnya yang putih bersih.

"Bagus," Ayana buru-buru menarik tangannya, meremas tisu itu dan membuangnya ke kantong plastik kecil di tasnya. "Pak Joko, gimana kondisi di depan? Masih lama?"

"Sudah mulai jalan perlahan, Dok. Ini kita lewat jalur alternatif saja ya biar cepat sampai kantor Pak Arka," sahut Pak Joko dari kursi kemudi. Sopir setia itu diam-diam bernapas lega lewat spion tengah. Selama bertahun-tahun bekerja dengan Arka, baru kali ini ia melihat ada orang yang bisa menjinakkan serangan panik sang bos tanpa perlu menyuntikkan obat penenang ke tubuhnya.

Selama sisa perjalanan, mobil kembali diliputi keheningan. Tapi kali ini, keheningannya tidak terasa menegangkan seperti tadi. Arka sibuk menatap keluar jendela, sementara Ayana diam-diam memperhatikannya dari samping.

Dari profil sampingnya, Arka memang kelihatan seperti pahatan dewa Yunani. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan bulu matanya lumayan lentik untuk ukuran cowok tulen. Tapi di balik kesempurnaan fisik dan tumpukan hartanya, Ayana tahu ada lubang hitam besar yang menganga di dalam jiwa pria ini.

Panic attack yang dipicu oleh suara benturan keras dan sirine ambulans... Ayana menganalisis dalam hati. Ini fix PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Dia pasti pernah mengalami atau melihat kecelakaan fatal di masa lalu.

"Jangan melihat saya seolah-olah saya ini spesimen laboratorium yang sedang kamu teliti, Dokter Ayana," suara dingin Arka tiba-tiba memecah lamunan Ayana. Pria itu bahkan tidak menoleh, tapi tahu saja kalau sedang diperhatikan.

Ayana berdeham, mencoba mengalihkan rasa tengsinnya. "Saya tidak meneliti Anda. Saya cuma sedang memikirkan menu sarapan apa yang cocok buat Anda. Karena Anda punya mag kronis, Anda dilarang keras minum kopi hitam perut kosong seperti yang Anda lakukan tadi pagi. Wangi kopi instan di mobil ini berasal dari napas Anda, kan?"

Arka akhirnya menoleh, menatap Ayana dengan tatapan tidak percaya. "Kamu melarang saya minum kopi? Kopi itu bahan bakar saya untuk rapat dengan puluhan direksi, Dokter."

"Mulai hari ini, bahan bakar Anda diganti jadi bubur ayam atau oatmeal hangat," sahut Ayana kejam. "Kalau Anda nekat minum kopi, lambung Anda terkikis, lalu Anda pingsan di ruang rapat, yang repot siapa? Saya juga yang harus gendong Anda? Maaf ya, badan Anda itu kekar, berat. Saya tidak mau encok di hari pertama kerja."

Arka mendengus, tapi anehnya, ada secercah binar jenaka yang melintas di matanya yang dingin. "Kamu dokter pertama yang berani mengatur hidup saya sampai urusan perut."

"Karena saya dokter pribadi Anda yang dibayar empat kali lipat," balas Ayana penuh kemenangan, menekankan kata 'empat kali lipat' dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Gaji mahal harus berbanding lurus dengan servis yang ketat."

Mobil akhirnya memasuki kawasan SCBD dan berhenti tepat di depan lobi menara pencakar langit bertuliskan PRADIPTA TOWER. Begitu pintu mobil dibukakan oleh petugas keamanan gedung, Arka langsung kembali ke mode 'CEO Agung'. Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap, mengancingkan jasnya, dan berjalan dengan aura intimidasi yang membuat semua karyawan yang berpapasan langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat.

Ayana mengekor di belakangnya sambil menenteng tas medisnya yang berat. Ia merasa seperti anak ayam yang tersesat di sarang elang. Semua mata di lobi megah itu kini tertuju padanya, berbisik-bisik penasaran tentang siapa wanita yang berjalan di samping bos besar mereka yang terkenal anti-perempuan itu.

"Pak Arka, tunggu! Langkah kaki Anda itu lebar-lebar banget kayak raksasa, bisa pelan-pelan sedikit tidak?" protes Ayana setengah berlari kecil di belakang Arka saat mereka menuju lift khusus eksekutif.

Arka menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift yang terbuka otomatis. Ia berbalik, menatap Ayana yang napasnya sudah sedikit terengah-engah dengan wajah memerah menahan kesal.

"Ini baru awal, Dokter Ayana," ujar Arka, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terlihat sangat menawan sekaligus menyebalkan di mata Ayana. "Kehidupan bersama saya tidak akan berjalan lambat seperti antrean cilok langgananmu."

Ayana memutar bola matanya malas, lalu melangkah masuk ke dalam lift mendahului Arka. "Terserah Anda, Pak Bos. Yang penting, lift ini tidak macet seperti jalanan tadi, karena kalau lift ini macet dan Anda panik lagi, saya tidak segan-segan membekap Anda pakai minyak kayu putih sebotol penuh!"

Arka terkekeh pelan—sebuah suara renyah yang jarang sekali didengar oleh siapa pun di gedung ini—sebelum akhirnya ikut melangkah masuk ke dalam lift, mengawali hari-hari gila penuh komedi dan rahasia di antara sang dokter pribadi dan sang CEO arogan.

.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!