Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 (Retakan yg mulai terlihat)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Malam itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Arsen memilih masuk ke ruang kerja setelah pertengkaran kecil itu, meninggalkan Elvara sendirian di kamar mereka yang terasa terlalu luas dan dingin— Elvara duduk di tepi ranjang sambil memandangi pintu yang tertutup rapat.
Matanya terasa panas, Namun ia terlalu lelah untuk menangis. Jawaban Arsen tadi terus berputar di kepalanya.
"Aku menikah sama kamu, kan?"
Bukan aku mencintaimu, Bukan tidak— Dan itu jauh lebih menyakitkan.
...
Keesokan paginya, Elvara bangun lebih awal. Ia menatap sisi ranjang yang kosong cukup lama sebelum menyadari Arsen bahkan tidak tidur di kamar semalaman, Dadanya terasa sesak lagi.
Saat keluar kamar, ia melihat pria itu sedang duduk di ruang makan sambil membaca berita bisnis di tablet. Penampilannya tetap sempurna seperti biasa. Rapi. Dingin. Sulit ditebak.
“Pagi,” ucap Elvara pelan.
Arsen mengangguk singkat. “Pagi.”
Hanya itu, Tidak ada pembicaraan lain. Elvara berjalan ke dapur untuk mengambil minum, tetapi langkahnya berhenti ketika mendengar suara notifikasi dari ponsel Arsen yang tergeletak di meja, Layar ponsel itu menyala. Nama Vivian muncul jelas di sana: Welcome back dinner tonight? I miss talking to you. Jantung Elvara seperti diremas, Tangannya langsung dingin. Ia buru-buru mengalihkan pandangan tepat saat Arsen mengambil ponselnya, Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat sedikit panik.
“Aku mau keluar hari ini,” potong Elvara cepat sebelum Arsen sempat menjelaskan.
“Kamu marah?” Elvara tersenyum kecil. Senyum yang terlalu dipaksakan.
“Aku nggak punya hak buat marah, kan?” Kalimat itu membuat Arsen terdiam, Namun Elvara tidak menunggu jawaban. Ia langsung pergi mengambil tasnya dan keluar dari apartemen.
Begitu pintu lift tertutup, nafasnya langsung terasa berat. Air matanya akhirnya jatuh: Satu, Dua— Lalu semakin banyak, Ia tidak tahu sejak kapan pernikahan mereka berubah menjadi hubungan yang membuatnya merasa sendirian seperti ini.
Di sisi lain, Arsen masih berdiri diam di ruang makan sambil menatap layar ponselnya. Rahangnya mengeras, Ia langsung mengetik balasan singkat pada Vivian: Jangan hubungi aku sembarangan.
Namun beberapa detik kemudian, balasan baru masuk:
> Istri kamu belum tahu alasan sebenarnya kita berpisah dulu, ya? Tatapan Arsen berubah dingin, Tangannya mengepal kuat.
Sementara itu, jauh di luar apartemen mewah tersebut, Elvara berjalan sendirian di tengah ramainya kota dengan hati yang perlahan mulai retak, Dan tanpa ia sadari…
Seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan. yaitu Kael Sebastian Pranata.
Kael berdiri tidak jauh dari seberang jalan sambil memperhatikan sosok Elvara yang berjalan sendirian, Tatapan pria itu langsung berubah khawatir saat melihat wajah Elvara yang pucat dan mata yang tampak sembab.
“Elvara…” gumamnya pelan, Sudah lama Kael mengenal wanita itu. Terlalu lama, bahkan— Namun selama ini ia hanya bisa melihat Elvara dari jauh karena wanita yang ia sukai memilih menikah dengan sahabatnya sendiri: Arsen Rafael Mahardika.
Kael menghela napas panjang sebelum akhirnya berjalan mendekat. “Elvara.”
Wanita itu langsung berhenti dan menoleh cepat. Matanya sedikit membesar saat melihat Kael berdiri di depannya.
“Oh… Kael.”
“Kamu kenapa?”
Elvara buru-buru menghapus sisa air matanya dan memaksakan senyum kecil. “Nggak apa-apa.”
Kael menatapnya lama, Ia tahu Elvara berbohong— Namun pria itu juga tahu kalau Elvara bukan tipe wanita yang mudah menceritakan masalahnya pada orang lain.
“Ayo duduk dulu,” ucap Kael lembut. “Wajah kamu pucat.”
“Aku beneran nggak apa-apa.”
“Elvara.” Nada suara Kael melembut. “Kamu nangis.”
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Elvara hampir runtuh lagi, Ia langsung memalingkan wajah. Kael menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka pintu mobilnya.
“Masuk dulu. Minimal aku anterin kamu jalan-jalan biar pikiran kamu tenang.”
Elvara sebenarnya ingin menolak.
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang benar-benar memperhatikan keadaannya, Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak.
Beberapa menit kemudian, mobil Kael melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai ramai. Suasana di dalam mobil cukup hening sampai Kael akhirnya membuka suara.
“Arsen bikin kamu nangis?” Pertanyaan itu membuat Elvara tersenyum pahit.
“Semua rumah tangga pasti ada masalah.”
“Itu bukan jawaban.”
Elvara terdiam, Kael menggenggam stir lebih erat sebelum kembali berbicara dengan suara rendah.
“Kalau dia nggak bisa jaga kamu dengan baik… harusnya dia nggak menikahi kamu dari awal.”
Elvara langsung menoleh.
Kael terlihat fokus menatap jalan, tetapi rahangnya tampak menegang. Untuk sesaat, suasana di dalam mobil terasa aneh, Karena di balik semua perhatian dan sikap tenang Kael selama ini… ada perasaan yang sudah lama ia sembunyikan sendiri.
Elvara langsung memalingkan pandangan keluar jendela mobil, berusaha menghindari topik tentang Arsen yang semakin membuat hatinya terasa sesak. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya memaksakan senyum kecil.
“Kamu sendiri gimana kabarnya?” tanyanya pelan. “Aku malah jarang lihat kamu sekarang.” Kael melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali fokus menyetir.
“Aku baik.”
“Cuma itu?” Elvara mencoba bercanda kecil. “Dulu kamu paling banyak ngomong.”
Kael tertawa pelan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu tadi. “Kerjaan lagi sibuk akhir-akhir ini.”
“Kamu masih tinggal di Jakarta?”
“Hm.”
“Terus… selama ini kamu ke mana aja? Setelah nikahan aku, kamu kayak menghilang.”
Pertanyaan itu membuat Kael diam beberapa detik, Pria itu tersenyum tipis, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang terlihat sulit dijelaskan.
“Aku ke luar negeri beberapa waktu.”
“Lama?”
“Hampir satu tahun.”
Elvara sedikit terkejut. “Serius? Aku nggak tahu.”
“Aku nggak bilang siapa-siapa.”
Suasana kembali hening sejenak, Namun kali ini tidak secanggung sebelumnya. Elvara perlahan mulai merasa lebih tenang berbicara dengan Kael, Pria itu selalu punya cara membuat suasana terasa nyaman tanpa memaksa. Sampai akhirnya satu pertanyaan tiba-tiba keluar begitu saja dari bibir Elvara.
“Kamu… udah menikah?”
Kael langsung menoleh singkat ke arahnya.
“Belum.”
“Pacar?”
“Nggak ada.”
Elvara terlihat sedikit heran. “Kok bisa? Padahal dulu banyak banget yang suka sama kamu.”
Kael tersenyum kecil sambil menggeleng pelan. “Belum nemu orang yang tepat aja.”
Jawaban itu terdengar sederhana, Namun entah kenapa. cara Kael menatapnya beberapa detik setelah mengatakan itu membuat Elvara merasa jantungnya berdetak aneh, Beruntung Kael segera mengalihkan pandangannya kembali ke jalan.
“Kalau kamu?” tanyanya pelan. “Kamu bahagia sama Arsen?” Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Elvara perlahan memudar.
Elvara tersenyum kecil sambil menunduk pelan. “Bahagia,” jawabnya lirih.
Kael terdiam, Ia tahu— Terlalu tahu kalau wanita di sampingnya sedang berbohong.
Senyum Elvara tidak pernah terlihat sesedih itu dulu, Namun Kael memilih tidak membongkarnya. Ia hanya menggenggam stir lebih erat sebelum akhirnya menghela nafas pelan.
“Taman hiburan itu masih buka nggak, ya?” gumamnya tiba-tiba.
Elvara menoleh bingung. “Hah?”
Kael meliriknya sekilas dengan senyum tipis. “Tempat langganan kita dulu.”
Butuh beberapa detik sampai Elvara akhirnya sadar, Dan tanpa sengaja, bibirnya benar-benar tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.
“Kamu masih inget?”
“Ya jelas inget.” Kael terkekeh pelan. “Dulu tiap kamu marah, nangis, atau habis berantem sama orang rumah… ujung-ujungnya ngajak aku ke sana.”
Elvara tertawa kecil. “Itu karena kamu selalu nurut.”
“Karena aku nggak tega lihat kamu nangis.” Kalimat itu keluar begitu saja, Membuat suasana di dalam mobil mendadak sedikit canggung.
Kael buru-buru berdeham pelan lalu kembali fokus menyetir. “Mau ke sana?”
Elvara sebenarnya ragu, Namun entah kenapa. kenangan masa SMA mereka tiba-tiba membuat dadanya terasa hangat.
“Sebentar aja,” jawabnya pelan.
Kael tersenyum kecil. “Oke.
Malam mulai turun saat mereka tiba di taman hiburan yang dulu sering mereka kunjungi bersama.
Lampu warna-warni menyala terang. Suara tawa anak-anak dan musik dari wahana memenuhi udara malam yang dingin, Elvara berdiri diam cukup lama sambil memandangi tempat itu.
“Masih sama…” gumamnya pelan.
Kael berjalan di sampingnya sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket. “Kecuali kita.”
Elvara menoleh sekilas, namun Kael sudah berjalan lebih dulu ke arah penjual es krim.
“Masih suka rasa vanilla?” tanyanya.
Elvara sedikit terkejut. “Kamu masih inget juga?”
Kael menyerahkan es krim itu padanya sambil tersenyum tipis.
“Aku inget semua tentang kamu, El.” Jantung Elvara langsung berdegup aneh.
Untungnya Kael segera berjalan lebih dulu menuju area wahana, seolah tidak sadar seberapa besar pengaruh kalimatnya tadi, Mereka akhirnya mencoba beberapa permainan sederhana seperti dulu.
Melempar bola. Bermain tembak target. Bahkan Kael masih sengaja membiarkan Elvara menang seperti saat SMA, Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Elvara benar-benar tertawa lepas, Kael yang melihat itu hanya bisa diam sambil menatapnya cukup lama.
Karena sejak dulu, satu-satunya hal yang selalu ingin ia lindungi… adalah senyum Elvara Naomi Wijaya.
Setelah hampir dua jam berkeliling taman hiburan, langkah Elvara mulai melambat. “Aku capek…” keluhnya kecil sambil tertawa pelan.
Kael yang berjalan di sampingnya ikut tersenyum tipis. “Tuh kan. Dari dulu kalau udah main wahana banyak pasti langsung ngeluh.”
“Elu juga sama aja.”
“Minimal aku nggak teriak waktu naik roller coaster.”
Elvara langsung memukul pelan lengan Kael. “Jangan diungkit!” Tawa kecil mereka bercampur dengan suasana malam yang ramai dan hangat.
Namun tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Kael melirik jam tangannya lalu menatap Elvara.
“Aku anter pulang.”
“Jangan nolak.” Kael membuka pintu mobil untuknya. “Udah malam.”
Elvara akhirnya menurut pelan, Sepanjang perjalanan pulang, suasana terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Elvara bahkan beberapa kali tertawa kecil mendengar cerita konyol Kael tentang masa kuliahnya di luar negeri.
Dan untuk sesaat…
Ia hampir lupa tentang semua masalah rumah tangganya, Mobil Kael akhirnya berhenti tepat di depan apartemen mewah milik keluarga Mahardika.
“Makasih ya,” ucap Elvara sambil tersenyum kecil.
Kael menatapnya beberapa detik. “Kalau lagi sedih… jangan dipendem sendiri.”
Elvara terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Oke.”
Kael sebenarnya ingin mengatakan lebih banyak, Namun pada akhirnya ia hanya tersenyum tipis. “Masuk sana.”
Elvara turun dari mobil lalu berjalan memasuki lobby apartemen.
Namun begitu pintu unit terbuka— Langkahnya langsung terhenti, Arsen Rafael Mahardika duduk di sofa ruang tamu dengan lampu yang masih menyala terang. Jas hitamnya masih melekat rapi di tubuhnya, tetapi wajah pria itu terlihat dingin dan penuh emosi yang ditahan. Tatapannya langsung tertuju pada Elvara.
“malam banget pulangnya.” Nada suaranya datar.
Terlalu datar, dan itu justru terasa mengerikan.
Elvara menelan ludah pelan. “Aku tadi cuma—”
“Sama Kael?”
Jantung Elvara langsung berdegup cepat, Arsen berdiri perlahan dari sofa sambil menatap tajam ke arah istrinya. “Aku lihat sendiri kalian turun bareng!!”
“Kamu seneng jalan malam sama suami orang lain?” Kalimat itu membuat Elvara langsung mengernyit.
“Kael belum menikah.”
“Masalahnya bukan itu!” bentak Arsen tiba-tiba. Suasana apartemen langsung berubah tegang, Elvara bahkan sedikit terkejut karena Arsen jarang sekali meninggikan suara padanya. Arsen berjalan mendekat dengan rahang mengeras.
“Udah malam. Kamu pergi tanpa kabar. Terus pulang dianter laki-laki yang jelas-jelas pernah dekat sama kamu dulu.” Elvara langsung menatap Arsen tak percaya.
“Dekat gimana maksud kamu?”
Arsen tertawa kecil sinis. “Jangan pura-pura nggak tahu kalau Kael suka sama kamu dari dulu.” Ucapan itu membuat Elvara membeku beberapa detik.
Kael, Menyukainya?
Namun sebelum ia sempat mencerna semuanya, Arsen kembali bicara dengan nada dingin yang penuh emosi tertahan. “Atau jangan-jangan sekarang kamu mulai nyaman sama dia?”
Elvara langsung menatap Arsen dengan emosi yang akhirnya benar-benar pecah. “Apa’an sih! Kamu ngaco deh!” bentaknya sambil menahan air mata. “Seharusnya aku yang tanya begitu ke kamu!”
Arsen terdiam sesaat, Namun Elvara sudah terlalu lelah untuk menahan semuanya lagi.
“Kemarin aku masih bisa diam. Aku masih bisa pura-pura nggak sakit hati,” lanjutnya dengan suara bergetar. “Tapi kali ini aku nggak bisa, Arsen!”
“Asal kamu tahu…” Elvara tertawa kecil pahit sambil menghapus air matanya kasar. “Yang bikin aku muak sama hubungan kita itu adalah kehadiran cinta pertama kamu!”
Tatapan Arsen langsung berubah. “Elvara.”
“Nggak usah menyangkal!” suara Elvara makin pecah. “Sejak Vivian balik, kamu berubah makin dingin! Kamu makin sering pulang malam, sibuk sendiri, dan aku selalu jadi orang terakhir yang tahu semuanya!”
“Itu cuma urusan kerja.”
“Kalau cuma kerja, kenapa aku harus merasa kehilangan suami aku sendiri?!”
Ruangan mendadak sunyi, Napas Elvara memburu. Dadanya naik turun menahan sesak yang selama ini ia pendam sendirian.
“Aku capek, Arsen…” bisiknya lirih. “Capek terus-terusan merasa kalah sama masa lalu kamu.” Arsen mengepalkan tangannya kuat, Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.
“Elvara, aku sama Vivian udah selesai dari lama.”
“Tapi perasaan kamu juga selesai?” Pertanyaan itu langsung menusuk tepat ke titik paling sensitif.
Arsen menatap istrinya tajam. “Aku nikahin kamu.”
“Dan sampai sekarang aku masih nggak tahu alasan sebenarnya kenapa kamu milih aku!” Air mata Elvara akhirnya jatuh lagi.
“Aku selalu takut…” suaranya mulai melemah. “Takut kalau suatu hari kamu sadar kalau yang benar-benar kamu inginkan itu bukan aku.”
Arsen langsung berjalan mendekat, Namun Elvara mundur satu langkah. Gerakan kecil itu membuat dada Arsen terasa sesak untuk pertama kalinya.
“Jangan mundur pas aku deketin kamu,” ucapnya pelan namun dingin.
Elvara menatapnya dengan mata merah. “Kenapa? Biar aku tetap jadi istri yang nurut dan diam aja?”
“Elvara, cukup.”
“Nggak!” bentaknya lagi. “Aku juga manusia! Aku juga bisa cemburu! Aku juga bisa sakit hati lihat suami aku lebih terbuka sama perempuan lain dibanding sama istrinya sendiri!”
Arsen langsung memegang pergelangan tangan Elvara sebelum wanita itu kembali menjauh. “Aku nggak pernah lebih milih Vivian dibanding kamu.”
“Tapi kamu selalu bikin aku merasa seperti itu!”
Suasana apartemen terasa semakin menyesakkan, Tak ada yang mengalah.
Tak ada yang mau jujur tentang luka masing-masing, dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah… Retakan dalam rumah tangga mereka terlihat begitu jelas.
Bersambung.....