NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Ilusi Kemenangan di Balik Pintu Terkunci

Bab 11: Ilusi Kemenangan di Balik Pintu Terkunci

​Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar utama di lantai dua. Suara langkah kaki Adrian yang menghentak kasar menuruni anak tangga perlahan-lahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang tebal dan menyesakkan. Hana masih berdiri bergeming di dekat jendela. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara matanya menatap lurus ke arah dedaunan pohon mangga di halaman samping yang bergerak lambat ditiup angin sore.

​Di dalam genggaman ingatan Hana, suara dentingan kunci pintu dari luar tadi terdengar begitu mutlak. Adrian benar-benar telah mengunci dirinya. Suaminya—pria yang dahulu berlutut di tanah becek demi melindunginya dari cipratan air parit saat mereka merintis warung tenda pertama—kini telah menjelma menjadi sipir penjara bagi hidupnya sendiri. Dan semua itu terjadi hanya karena aduan air hangat dan air mata buaya dari seorang gadis pelayan yang baru beberapa minggu menginjakkan kaki di rumah mereka.

​Hana mengembuskan napas perlahan melalui hidung. Alih-alih runtuh dalam tangisan histeris seperti yang mungkin diharapkan oleh Ibu Broto dan Santi di lantai bawah, Hana justru berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang sangat anggun. Ia mendudukkan dirinya di tepi kasur yang empuk, lalu perlahan merebahkan punggungnya. Tangannya meraba permukaan perutnya yang masih tampak rata namun menyimpan denyut kehidupan baru di dalamnya.

​"Mereka pikir, menahan ponselku dan mengunci pintu ini akan membuatku mati kutu," bisik Hana pada kesunyian kamar. Sepasang matanya berkilat tajam, memantulkan cahaya temaram dari lampu tidur yang belum dinyalakan. "Mereka lupa, bangunan ini, restoran itu, bahkan isi dompet yang mereka gunakan untuk menyombongkan diri... semuanya lahir dari isi kepala ini."

​Hana tahu betul, mengurung dirinya di dalam kamar justru akan menjadi bumerang terbesar bagi Adrian. Selama ini, Hanalah yang menjadi poros penyeimbang di rumah itu. Hanalah yang mengatur logistik tersembunyi, memantau laporan keuangan secara mandiri, dan memastikan tidak ada kebocoran dana pada operasional tiga cabang Rumah Makan "Rasa Hana". Dengan menarik diri sepenuhnya dari radar domestik, Hana sedang membiarkan sistem pertahanan finansial mereka kehilangan nahkodanya.

​Sementara itu, di lantai bawah, atmosfer ruang tengah dipenuhi oleh euforia kemenangan yang terselubung. Di atas sofa beludru merah yang menjadi saksi bisu pengkhianatan fisik beberapa menit lalu, Santi duduk sembari menyeka sisa air matanya yang sebenarnya sudah mengering sejak tadi. Di sampingnya, Ibu Broto masih setia mengelus pundak gadis itu dengan raut wajah penuh kepuasan.

​Adrian berdiri tidak jauh dari mereka, menyandarkan punggungnya pada pilar pembatas ruang tengah dan ruang makan. Tangannya meremas ponsel milik Hana yang baru saja disitanya. Ada kilat kegelisahan yang mendalam di dalam bola mata Adrian. Kabut nafsu yang sempat menguasai pikirannya saat bibirnya bertautan dengan bibir Santi beberapa saat lalu kini mulai menyusut, menyisakan getaran rasa bersalah yang asing di sudut hatinya.

​Adrian menatap Santi. Gadis itu kini menunduk, merapatkan handuk kecil untuk menutupi bagian dada tank top-nya yang basah akibat siraman air dari Hana. Sisi maskulin Adrian merasa bangga karena telah bertindak sebagai pelindung bagi gadis yang tampak lemah ini. Namun, di sisi lain, bayangan wajah dingin Hana saat ia mengunci pintu kamar atas terus membayangi pikirannya. Ketenangan Hana di tengah badai amarah tadi terasa tidak wajar. Hana tidak menangis, tidak menjerit, dan tidak memohon. Ketenangan itu justru terasa lebih mengintimidasi daripada cemburu buta yang biasa ditunjukkan oleh para istri pada umumnya.

​"Sudah, Santi... kamu jangan menangis lagi," ucap Ibu Broto dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar hingga ke lorong tangga. "Adrian sudah memberi pelajaran pada wanita di atas. Dia tidak akan bisa menyakitimu lagi. Mulai sekarang, kamu fokus saja mengurus keperluan rumah dan melayani Mas Adrian-mu ini kalau pulang kerja."

​Santi mendongak, matanya yang bulat menatap Adrian dengan binar kepatuhan yang amat dalam. "Terima kasih, Mas Adrian... Santi tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Mas yang membela Santi tadi. Santi cuma takut... Mbak Hana benci sama Santi."

​Adrian berdeham kecil, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak menyerang tenggorokannya. Ia menjauhkan punggungnya dari pilar. "Ya. Yang penting sekarang kamu ganti pakaianmu dulu, Santi. Jangan sampai masuk angin. Urusan Hana... biar menjadi urusanku dan Ibu."

​"Baik, Mas..." cicit Santi lembut. Ia berdiri dari sofa dengan gerakan yang sengaja diperlambat, memastikan kedekatan fisiknya dengan Adrian sempat menyisakan aroma parfum buahnya sebelum ia berjalan masuk ke dalam kamarnya di dekat area dapur.

​Begitu sosok Santi menghilang di balik pintu, Ibu Broto langsung berdiri dan mendekati anak lakilakinya. Ia menepuk lengan Adrian dengan senyuman lebar. "Kamu hebat, Adrian. Begitu baru namanya laki-laki, kepala keluarga. Jangan mau disetir oleh istri yang merasa paling berjasa. Lihat itu si Santi, baru ditinggal sebentar saja rumah sudah rapi, masakan di bawah juga sudah disiapkan. Jauh lebih penurut daripada Hana yang kerjanya cuma memerintah."

​Adrian hanya mengangguk lemah. "Adrian mau mandi dulu, Bu. Kepala Adrian pusing memikirkan urusan suplai barang di Cabang Dua yang belum beres."

​"Ya, ya, mandi sana. Nanti Ibu suruh Santi hantarkan teh hangat ke kamarmu," ujar Ibu Broto tanpa beban.

​"Tidak usah, Bu!" sergah Adrian dengan nada yang sedikit meninggi, membuat ibunya sempat terkejut. Adrian segera melembutkan suaranya demi menutupi kepanikan hamba nafsunya. "Maksud Adrian... biar Adrian istirahat sendiri saja di kamar kerja bawah. Jangan biarkan siapa pun mengganggu."

​Adrian melangkah pergi menuju kamar kerjanya yang terletak di lantai satu, meninggalkan Ibu Broto yang menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum maklum, mengira anak laki-lakinya hanya sedang kelelahan karena beban kerja yang menumpuk.

​Malam semakin larut, dan jam dinding di ruang tengah telah menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah mewah itu telah sepenuhnya senyap. Ibu Broto telah lama terlelap di kamarnya, sementara Santi duduk di tepi ranjang kecilnya dengan senyuman kemenangan yang mengembang sempurna di kegelapan.

​Santi menyentuh bibirnya sendiri menggunakan ujung jari telunjuknya. Sisa rasa dari ciuman panas bersama Adrian sore tadi masih terasa begitu nyata di benaknya. Baginya, ciuman itu bukan sekadar pelampiasan nafsu, melainkan sebuah stempel pengakuan bahwa dirinya telah berhasil menggeser posisi Hana di hati sang pemilik rumah.

​"Ratu dapur, katanya?" Santi terkekeh sinis, menatap langit-langit kamarnya yang polos. "Sekarang ratu itu sudah dikunci di atas seperti barang rongsokan. Tidak punya ponsel, tidak punya suara. Tinggal selangkah lagi, dan rumah ini akan benar-benar menjadi milikku."

​Namun, Santi yang ambisius tidak menyadari satu hal. Di atas sana, di dalam kamar yang terkunci, Hana sama sekali tidak sedang meratapi nasib. Di bawah temaram cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah gorden, Hana sedang menyusun setiap kepingan teka-teki pembalasannya dengan sangat rapi di dalam kepala.

​Hana tahu betul watak Adrian. Suaminya adalah tipe pria yang mudah goyah jika dihadapkan pada stres finansial. Dan stres itu... tidak akan lama lagi akan datang menghampirinya. Resep bumbu inti palsu yang sudah diserahkan kepada Pak Joko di restoran sore tadi adalah umpan pertama yang sangat beracun. Hana sengaja mendesain takaran gula merah dan garam yang sangat tinggi, yang dikombinasikan dengan pengurangan drastis pada komponen pengasam alami.

​Dalam ilmu kuliner yang Hana kuasai luar kepala, kombinasi itu akan menghasilkan rasa yang sangat gurih pada suapan pertama, membius lidah pelanggan seketika. Namun, setelah makanan itu melewati tenggorokan, efek kimia dari bumbu yang tidak seimbang itu akan meninggalkan rasa getir yang pekat dan memicu rasa enek yang mendalam. Pelanggan mungkin akan menghabiskan makanan mereka pada hari pertama karena lapar, namun memori lidah mereka akan merekam rasa tidak nyaman itu sebagai pengalaman buruk.

​“Nikmatilah ciumanmu malam ini, Adrian,” batin Hana sembari memejamkan matanya perlahan, membiarkan tubuhnya beristirahat demi menjaga kesehatan janinnya. “Karena besok, lidah para pelangganmu yang akan mulai menuntut balas atas kesombonganmu.”

​Keesokan paginya, matahari baru saja terbit, namun ketegangan di dalam rumah belum juga mencair. Pintu kamar Hana diketuk tiga kali dengan kasar.

​Klek.

​Pintu terbuka dari luar, memperlihatkan sosok Ibu Broto yang berdiri dengan wajah masam, membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi goreng pucat tanpa telur dan segelas air putih dingin. Tidak ada lagi buah-buahan segar, tidak ada lagi susu khusus ibu hamil yang biasanya selalu Hana konsumsi setiap pagi.

​"Ini sarapanmu," ucap Ibu Broto sembari meletakkan nampan itu di atas meja rias Hana dengan kasar. "Adrian sudah berangkat ke restoran sejak subuh tadi. Jangan berharap kamu bisa keluar dari kamar ini sebelum kamu mau meminta maaf pada Santi dan mengubah tabiatmu yang sok berkuasa itu."

​Hana berdiri dari ranjangnya, berjalan mendekati meja rias tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menatap nasi goreng yang tampak berminyak dan tidak berselera itu dengan pandangan datar.

​"Kenapa diam saja? Punya mulut dipake buat bicara, bukan cuma buat menyindir orang!" ketus Ibu Broto, merasa terhina dengan keheningan Hana.

​Hana mendongak, menatap mata mertuanya dengan sorot yang begitu tenang namun sarat akan tekanan psikologis. "Terima kasih atas sarapannya, Bu. Sampaikan pada Adrian... semoga harinya di restoran berjalan dengan sangat lancar hari ini."

​Ibu Broto mendengus kencang, merasa tidak mendapatkan kepuasan melihat menantunya menderita. "Sok tegar! Kita lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan di dalam kamar ini tanpa ponsel dan uang belanja!"

​Brak!

​Pintu kembali ditutup dengan keras dan dikunci dari luar. Hana menatap pintu itu sejenak, lalu beralih ke arah nasi goreng di depannya. Dengan tenang, ia membawa piring itu ke arah kamar mandi kamar utamanya, lalu membuang seluruh isinya ke dalam tempat sampah. Ia tidak akan membiarkan makanan berkualitas rendah yang dipenuhi rasa kebencian itu masuk ke dalam tubuhnya dan membahayakan anaknya.

​Hana berjalan kembali ke arah jendela, menatap ke arah gerbang depan rumah mewah yang baru saja ditinggalkan oleh mobil Adrian. Detak jam dinding di kamarnya seolah berubah menjadi detak bom waktu yang terus berjalan mundur, menanti saat yang tepat untuk meledakkan seluruh ilusi kemenangan yang sedang dinikmati oleh suami dan mertuanya di luar sana.

1
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!