Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Terstruktur
Tiffany, di sisi lain, melirik Aulia dengan tatapan meremehkan yang sangat tipis. Di matanya, Aulia hanyalah seorang karyawan biasa dengan pakaian kerja standar yang tidak akan pernah bisa menandingi kasta sosialnya. Ia segera berbalik menatap Khatyr, meraih lengan kokoh sang CEO secara sepihak dan menggelayut manja di sana.
"Khatyr, Tante Rahayu bilang siang ini kamu tidak ada jadwal padat. Bagaimana kalau kita makan siang bersama di restoran Prancis baru di daerah Kebayoran Baru? Aku sudah memesan meja privat terbaik untuk kita bertiga," ujar Tiffany dengan nada merayu yang sangat kental.
Khatyr melirik lengannya yang digenggam erat oleh Tiffany dengan ekspresi tidak nyaman yang samar. Ia segera menarik lengannya secara halus dengan alasan ingin mengambil tablet kerjanya.
"Maaf sekali, Tiffany, Ibu," ujar Khatyr dengan nada menyesal yang dibuat-buat. "Siang ini aku memiliki agenda yang sangat penting dan rahasia mengenai audit operasional internal bersama Aulia. Proyek ini sangat krusial pasca-krisis Sumatra kemarin, dan dewan komisaris meminta laporannya harus selesai sebelum pukul dua siang nanti. Benar kan, Aulia?"
Khatyr menatap Aulia dengan pandangan mata yang sangat memohon, sebuah sinyal darurat tingkat tinggi yang meminta bantuan sang gembala untuk menyelamatkannya dari cengkeraman harimau sosialita.
Ibu Rahayu menyipitkan matanya, menatap putranya dengan pandangan skeptis. Ia kemudian beralih menatap Aulia, mengujinya secara langsung. "Benarkah begitu, Aulia? Apakah audit operasional itu tidak bisa ditunda demi makan siang keluarga yang sangat penting ini?"
Aulia merasakan ketegangan yang luar biasa di dalam ruangan. Ia tahu, jika ia berbohong dengan ceroboh, Ibu Rahayu yang sangat cerdas bisa dengan mudah mengendus kebohongannya dan merusak reputasi profesionalnya.
Namun di sisi lain, melihat pandangan memohon Khatyr yang tampak sangat tertekan, Aulia menyadari satu hal, ia adalah gembala pria ini. Dan seorang gembala yang baik tidak akan pernah membiarkan dombanya diseret oleh serigala sosialita tanpa perlawanan.
Selain itu, ada perasaan tidak nyaman yang aneh, sebuah cubitan kecil yang terasa panas di sudut dadanya saat melihat Tiffany menggelayut manja di lengan Khatyr tadi.
Aulia menegakkan punggungnya, menatap Ibu Rahayu dengan binar mata yang tenang namun penuh keyakinan.
"Apa yang dikatakan Pak Khatyr sepenuhnya benar, Ibu Rahayu," ujar Aulia dengan nada suara yang sangat meyakinkan. "Pasca-krisis Sumatra kemarin, bursa efek menuntut Kalumperri Corp untuk merilis laporan transparansi tata kelola operasional hari ini sebelum penutupan pasar saham sesi pertama pukul empat belas nol-nol. Keterlambatan satu menit saja bisa memicu sentimen negatif pasar yang dapat menurunkan nilai saham kita kembali. Oleh karena itu, kehadiran Pak Khatyr sebagai CEO sangat mutlak dibutuhkan di ruang kerja sepanjang siang ini untuk memverifikasi dokumen secara manual."
Ibu Rahayu terdiam selama beberapa detik, menganalisis penjelasan logis dan taktis dari Aulia. Penjelasan itu sangat profesional, menggunakan istilah bisnis yang tepat, sehingga tidak menyisakan celah sedikit pun untuk didebat oleh orang awam.
"Sayang sekali," gumam Ibu Rahayu dengan helaan napas kecewa. "Padahal ibumu ini sangat merindukan momen makan siang bersamamu, Khatyr."
Tiffany cemberut, menghentakkan kaki indahnya yang dibalut sepatu hak tinggi desainer dengan kesal. "Tapi, Tante... apakah tidak ada staf lain yang bisa mengerjakan laporan membosankan itu? Kenapa harus Khatyr sendiri yang melakukannya?"
"Ini adalah tanggung jawab mutlak seorang CEO, Mbak Tiffany," potong Aulia dengan senyum manis namun bermakna tegas. "Tanda tangan basah dan verifikasi langsung dari Pak Khatyr tidak bisa didelegasikan kepada siapa pun sesuai dengan anggaran dasar perusahaan."
Ibu Rahayu tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh misteri yang tertuju langsung pada Aulia. Sebagai seorang ibu, ia menyadari adanya dinamika yang sangat unik dan tidak biasa di antara putranya yang pemalas dengan sekretaris barunya yang galak ini.
Khatyr, yang biasanya selalu membantah perintahnya dengan cara malas-malasan, hari ini tampak sangat tunduk dan bergantung penuh pada keputusan Aulia.
"Baiklah kalau begitu," ujar Ibu Rahayu, merapikan selendang sutranya. "Bisnis keluarga memang harus selalu menjadi prioritas utama. Tiffany, sepertinya kita berdua harus makan siang tanpa Khatyr hari ini."
"Tapi, Tante..." rengek Tiffany manja.
"Sudahlah, Tiffany. Kita tidak ingin mengganggu calon pemimpin masa depan Kalumperri yang sedang bekerja keras, bukan?" potong Ibu Rahayu dengan nada tegas yang membuat Tiffany terpaksa menutup mulutnya dengan wajah cemberut.
Sebelum melangkah keluar dari ruangan, Ibu Rahayu berjalan mendekati Aulia. Ia menatap sekretaris muda itu dari jarak dekat, lalu menepuk bahu Aulia dengan lembut.
"Jaga putraku dengan baik, Aulia. Pastikan dia tidak hanya menyelesaikan laporannya, tapi juga... tidak melewatkan makan siangnya karena terlalu sibuk bekerja," bisik Ibu Rahayu dengan nada suara yang sarat akan makna tersirat yang sangat mendalam.
"Baik, Ibu Rahayu. Saya akan memastikan semuanya berjalan dengan sempurna," jawab Aulia dengan membungkuk hormat.
Setelah pintu ganda kayu jati itu tertutup rapat kembali, dan suara langkah kaki Ibu Rahayu serta Tiffany yang kesal menjauh menuju lift, keheningan di ruang kerja CEO kembali terasa menenangkan.
Khatyr langsung merosot turun ke sofa panjang di ruang kerjanya dengan helaan napas lega yang luar biasa panjang, seolah-olah baru saja berhasil meloloskan diri dari hukuman gantung.
"Aulia..." panggil Khatyr dengan suara manjanya yang khas, menutupi wajah tampannya dengan bantal leher ayam jagonya yang berharga. "Kamu benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa. Penjelasanmu tentang bursa efek dan transparansi operasional tadi benar-benar sebuah karya seni kebohongan profesional yang paling indah yang pernah kudengar!"
Aulia melangkah menghampiri sofa dengan tangan berkacak pinggang, menatap bosnya dengan pandangan gemas yang khas. "Itu bukan kebohongan sepenuhnya, Pak. Laporan operasional Sumatra memang harus kita serahkan hari ini ke tim hukum. Hanya saja, bagian verifikasi manual dari Anda... itu memang sedikit bumbu tambahan dari saya agar ibumu tidak curiga."
Khatyr menurunkan bantal ayam jagonya sedikit, menatap Aulia dengan binar mata yang berkilau penuh rasa terima kasih, kekaguman, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih hangat yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
"Tapi, Aulia... kamu tahu apa yang paling membuatku terkejut tadi?" tanya Khatyr dengan senyum jenaka yang menggoda.
"Apa, Pak?"
"Saat kamu menjelaskan pada Tiffany mengapa tanda tangan basahku tidak bisa didelegasikan. Wajahmu saat itu... tampak sangat protektif. Seolah-olah kamu sedang menjaga wilayah kekuasaanmu dari gangguan orang luar," goda Khatyr dengan mata yang menyipit jenaka.
"Apakah sekretarisku yang galak ini diam-diam merasa cemburu melihat Tiffany menggelayut di lenganku tadi?"
Aulia Putri merasakan seluruh wajahnya seketika memanas seperti disiram air hangat. Jantungnya berdegup sangat kencang, membuat dadanya terasa sesak. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba mempertahankan sisa-sisa profesionalismenya yang hancur berantakan akibat godaan telak bosnya.
"Jangan bercanda, Pak Khatyr!" ujar Aulia dengan nada suara yang sengaja dibuat galak untuk menutupi kegugupannya.
"Saya melakukan itu murni demi menyelamatkan jadwal kerja dan investasi masa depan saya di perusahaan ini. Saya tidak ingin promosi jabatan saya tertunda hanya karena Anda sibuk makan siang romantis dengan gadis sosialita!"
Khatyr terkekeh geli melihat reaksi salah tingkah sekretarisnya yang sangat menggemaskan itu. Ia bangkit dari sofa, berjalan mendekati Aulia, lalu menatapnya dengan pandangan mata yang lembut dan tulus.
"Baiklah, baiklah, Partner. Maafkan aku," ujar Khatyr lembut.
"Tapi bagaimanapun juga, terima kasih. Mulai hari ini, aku tahu bahwa selama kamu berada di sisiku... tidak ada satu pun perjodohan gila atau politik keluarga yang bisa menyentuhku."
Aulia menatap balik mata hangat Khatyr, merasakan kehangatan malam sebelumnya kembali mengalir di dalam dadanya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia korporat KALUMPERRI CORP yang penuh dengan kepalsuan, aliansi rahasia di antara sang sekretaris galak dan sang CEO pemalas kini telah menjadi benteng pertahanan paling aman bagi mereka berdua.
Sebuah ikatan unik yang perlahan namun pasti, mulai mengubah arti profesionalisme menjadi sesuatu yang jauh lebih manis.