NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Variabel anomali

Suara tetesan air dari talang yang bocor menghantam kaleng cat bekas di sudut markas.

 Ting. Ting. Plok. 

Irama itu tidak beraturan, merusak ketenangan Sabtu pagi yang mendung. 

Naren Aksara Gavindra duduk di sofa kain yang busanya sudah menyembul keluar di beberapa sisi. Kaus hitam polosnya agak lembap di bagian bahu karena ia baru saja menembus rintik hujan dengan motornya.

​Ia memegang sebuah obeng, memutar sekrup kecil pada karburator motornya yang diletakkan di tengah ruangan beralaskan kardus-kardus bekas. 

Di sekelilingnya, suasana markas ZENTRIX—sebuah ruko tua yang disewa kolektif—masih berantakan. Bungkus rokok kosong, botol air mineral setengah penuh, dan jaket-jaket yang tersampir sembarangan di sandaran kursi kayu.

​"Woy, Ren! Kopi nggak?"

​Abyan muncul dari balik sekat triplek yang membatasi dapur kecil. Rambutnya mencuat ke mana-mana, wajahnya masih bengkak karena baru bangun tidur. Ia memegang dua gelas plastik berisi cairan hitam pekat yang uapnya masih mengepul.

​"Taruh meja," sahut Naren tanpa menoleh. Tangannya belepotan oli hitam.

​Abyan meletakkan gelas itu di atas meja jengki yang kakinya pincang. Ia kemudian menjatuhkan diri ke kursi plastik di dekat Naren. 

Krieeet. 

Suara plastik yang meregang protes menahan beban tubuhnya.

​"Gila, hujan Sabtu pagi bikin malas ngapa-ngapain. Gue tadi mimpi dapet lotre, pas bangun malah disuruh Venzo nyuci piring. Hidup nggak adil banget," gumam Abyan sambil menyeruput kopinya. 

Sruuuup. 

"Lo dari jam berapa di sini? Nggak sarapan dulu?"

​Naren menarik napas pendek, bau oli dan kopi bercampur di indra penciumannya.

 "Jam delapan. Udah tadi."

​"Bohong. Lo pasti cuma minum air putih doang kan? Muka lo pucat gitu kayak kurang zat besi atau kurang kasih sayang," Abyan terkekeh sendiri.

​Naren diam. Ia fokus pada gerigi kecil di hadapannya.

​"Eh, omong-omong soal kemarin..." Abyan memiringkan kepala, menatap Naren yang masih sibuk. 

"Si Ibu Negara... Agnesa. Lo beneran berani ya narik dasinya? Gue aja kalau ditatap dia langsung ngerasa kayak mau disuruh ngerjain soal trigonometri di depan kelas."

Naren berhenti memutar sekrup. Ia mengambil kain lap kumal di samping kakinya, mulai mengelap sela-sela jarinya yang hitam dengan gerakan sangat perlahan, satu per satu jari ia bersihkan seolah itu adalah ritual penting. 

Ia menatap noda oli yang berpindah ke kain, tidak merespons ucapan Abyan.

​"Dia nggak segalak itu kalau lo nggak cari masalah," suara Venzo terdengar dari arah tangga.

 Ia turun dengan tenang, kemeja flanelnya kancingnya terbuka satu di bagian tengah, memperlihatkan kaus putih di dalamnya. 

Venzo berjalan menuju jendela, melihat ke arah jalanan yang masih basah.

​"Halah, dia mah emang musuh alami kita, Zo," bantah Abyan. 

"Apalagi Naren. Gue rasa Agnesa punya radar khusus buat ngedeteksi keberadaan Naren dalam radius lima kilometer. Begitu Naren napas aja, pasti dia langsung ngerasa ada polusi di wilayah kekuasaannya."

​Naren meletakkan obengnya. 

Tuk. 

Bunyinya tajam di atas lantai semen.

​"Dia cuma jalanin tugas," kata Naren datar.

​"Tugas atau emang demen nyari lo?" Abyan menaikkan alisnya, menggoda.

​Naren berdiri, tubuhnya yang jangkung membuat bayangannya jatuh menutupi sebagian meja kerja.

 Ia berjalan menuju wastafel di sudut ruangan untuk mencuci tangan. Suara air keran yang mengalir deras mengisi kekosongan. 

Werrrr. 

Air dingin menyentuh kulit tangan Naren. Ia membiarkan air itu mengalir lama, matanya menatap lurus ke arah tembok semen yang mengelupas. Tenggorokannya bergerak, ia menelan ludah sekali, lalu mematikan keran dengan sentakan yang sedikit terlalu kuat.

​"Markas butuh disapu," ucap Naren saat ia kembali, mengabaikan topik Agnesa sepenuhnya.

​"Tuh kan, kalau udah bahas Agnesa pasti dia langsung jadi mandor," gerutu Abyan. 

"Gue mau beli nasi uduk depan dulu ah. Laper gue dengerin suara air doang. Zo, mau titip nggak?"

​"Samain aja," jawab Venzo.

​Abyan bangkit, mengambil kunci motornya di meja.

 Cring. 

"Ren? Nasi uduk? Pake karet dua biar nggak pedas?"

​Naren menggeleng. "Nggak usah."

​Begitu suara motor Abyan menjauh

Brumm, brummm!

Hening kembali menguasai markas, hanya menyisakan Naren dan Venzo. 

Venzo masih berdiri di dekat jendela, ia menyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul pelan, menari-nari ditiup angin yang masuk dari celah ventilasi.

​"Nyokap lo telepon gue semalam," kata Venzo tiba-tiba.

​Langkah Naren yang hendak mengambil ponsel di atas meja terhenti. Jarinya menggantung di udara beberapa sentimeter sebelum akhirnya ia meraih benda itu.

​"Kenapa dia telepon lo?"

​"Nanya lo pulang nggak minggu ini. Katanya ada acara makan malam sama... keluarga baru dia," Venzo melirik Naren dari sudut mata.

​Naren membuka kunci layar ponselnya. Tidak ada notifikasi pesan masuk dari ibunya. Hanya ada beberapa pesan di grup gang yang ia biarkan tak terbaca.

​"Gue sibuk," sahut Naren.

​"Gue bilang lo lagi ada urusan motor di sini. Tapi lo tahu kan dia nggak bakal berhenti nanya."

Ponsel di tangan Naren bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Agnesa (Ketua OSIS).

Naren menatap layar itu selama beberapa detik. Ia tidak mengangkatnya, tidak juga menolaknya. Ia membalik ponsel itu di atas meja, posisi layarnya menghadap ke bawah, lalu ia kembali duduk dan memegang karburator motornya.

​"Kenapa nggak diangkat?" tanya Venzo.

​"Salah sambung mungkin."

​"Sabtu pagi gini?" Venzo berjalan mendekat, ia mematikan rokoknya di asbak kaca yang sudah penuh.

 "Lo jarang nyimpen nomor cewek kalau nggak penting banget. Dan lo namain dia lengkap pakai jabatan."

​Naren tidak menjawab. Ia kembali mengambil obeng.

 Krek. Krek.

Suara putaran baut yang dipaksakan.

​"Ren, karburatornya udah kencang. Jangan diputar terus, nanti dol," tegur Venzo lembut.

​Naren melepaskan obeng itu. Tangannya yang sedikit gemetar ia masukkan ke dalam saku celana. Ia bersandar pada kursi, kepalanya mendongak menatap langit-langit ruko yang banyak noda bekas bocoran air.

​"Gue rasa dia mau bahas soal laporan yang dia ancam kemarin," Naren bicara pada langit-langit.

 "Dia tipe yang nggak bakal lupa soal aturan."

​"Atau mungkin dia cuma mau nanya kenapa lo narik dasinya," Venzo duduk di kursi seberang. 

"Itu gestur yang cukup... personal buat orang kayak lo."

​"Gue cuma benerin."

​"Benerin dasi yang udah rapi?"

"Nggak usah dibahas," kata Naren.

Namun, jempol kanannya perlahan mengusap jari telunjuk kirinya, seolah masih ada sisa tekstur kain satin di sana yang enggan hilang. 

Ia melakukannya berulang-ulang dengan mata yang tetap menatap kosong ke depan.

​Ponsel di meja kembali bergetar. Bzzzt. Bzzzt.

Getarannya membuat ponsel itu bergeser beberapa milimeter di atas permukaan kayu yang licin.

​Naren meraihnya, kali ini ia menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​"Naren?" Suara di seberang sana terdengar jernih, meskipun ada latar belakang suara musik klasik yang samar-samar. Suara Agnesa.

​Naren tetap diam. Ia hanya mendengarkan deru napas halus dari seberang telepon.

​"Naren, saya tahu kamu sudah bangun. Jangan pura-pura mati." Suara Agnesa terdengar lebih tajam sekarang, gaya khasnya sebagai ketua murid yang berkuasa.

​"Apa?" sahut Naren pendek.

​"Senin depan, jam tujuh kurang lima belas menit. Kamu dan gerombolanmu harus sudah ada di ruang OSIS. Saya sudah siapkan surat pernyataan."

​"Gue nggak bisa."

​"Ini bukan tawaran, Naren. Ini konsekuensi."

​Naren menghela napas, suara hembusan napasnya terdengar kasar di speaker ponsel. 

"Lo nggak capek? Ini Sabtu. Hari libur. Kenapa lo masih mikirin surat pernyataan di jam segini?"

​"Kedisiplinan tidak mengenal hari libur."

​"Bosan gue dengernya."

​Ada jeda di seberang sana. Musik klasik itu berhenti, digantikan suara gesekan kertas.

​"Kamu... di mana?" tanya Agnesa. Nadanya sedikit berubah, ada nada ragu yang terselip tipis sekali, hampir tidak terdeteksi.

Naren tidak langsung menjawab. Ia melirik Venzo yang pura-pura sibuk membaca majalah otomotif lama. 

Naren bangkit dari duduknya, berjalan menuju balkon kecil di lantai dua yang menghadap ke jalanan. Ia menutup pintu balkon di belakangnya.

 Ada jeda lima detik sebelum ia berbicara.

​"Di markas," jawab Naren. "Kenapa? Mau ke sini?"

​"Jangan ngaco. Saya cuma memastikan kamu nggak lagi bikin onar di tempat umum."

​"Gue lagi bongkar motor. Bukan lagi ngerampok bank."

​"Sama saja. Suaranya mengganggu ketertiban."

​Naren bersandar pada pagar besi balkon yang dingin dan berkarat. Rintik hujan mulai turun lagi, membasahi wajahnya.

 "Lo sendiri lagi ngapain? Belajar? Ngerjain soal olimpiade buat tahun depan?"

​"Saya sedang sarapan dengan orang tua saya," jawab Agnesa formal. 

"Dan saya harus segera kembali ke meja makan. Intinya, jangan telat hari Senin."

"Agnesa," panggil Naren pelan.

Di seberang sana, Agnesa tidak membalas, tapi ia tidak mematikan sambungan teleponnya. 

Naren bisa mendengar suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen di latar belakang, diikuti suara wanita yang memanggil nama Agnesa dengan nada yang menuntut.

"Iya, Ma. Sebentar," suara Agnesa menjauh dari gagang telepon, lalu kembali lagi. 

"Saya tutup ya."

​Pip. Sambungan terputus. 

Naren menurunkan ponselnya, menatap layar yang kembali gelap. Ia tetap berdiri di balkon, membiarkan gerimis membasahi kausnya hingga benar-benar lepek.

​Sarapan dengan orang tua, pikirnya.

 Bayangan sebuah meja makan yang panjang, taplak putih bersih, dan piring-piring mahal melintas di kepalanya. 

Sangat kontras dengan ruko berdebu dan aroma oli di belakangnya.

​Ia memasukkan ponsel ke saku, lalu kembali ke dalam.

​"Gimana?" tanya Venzo.

​"Dia bakal laporin kita kalau Senin nggak datang ke ruang OSIS," Naren kembali ke sofa.

​"Ya sudah, datang saja. Toh cuma dengerin dia ceramah kan?"

​Naren tidak menyahut. Ia mengambil gelas kopinya yang sudah dingin, meminumnya hingga tandas.

Rasa pahit yang pekat tertinggal di lidahnya.

​Tak lama kemudian, Abyan kembali dengan membawa beberapa bungkus kertas cokelat. 

Bau gurih santan dan bawang goreng langsung memenuhi ruangan, mengalahkan bau oli sejenak.

​"Nasi uduk dataaaang! Ren, gue beli lebih satu buat jaga-jaga kalau lo berubah pikiran," Abyan meletakkan bungkusan itu dengan semangat. 

Prak.

​Naren menatap bungkusan itu. Perutnya memang perih, tapi ia merasa malas untuk mengunyah.

"Gue mau tidur bentar," kata Naren.

Ia tidak menyentuh makanan itu. Ia merebahkan dirinya di sofa yang sempit, menekuk kakinya agar muat, lalu menutupi matanya dengan lengan kiri.

"Jangan berisik," tambahnya.

​Abyan dan Venzo bertukar pandang. Venzo memberi kode dengan kepalanya agar Abyan tidak banyak tanya. 

Mereka mulai makan dengan tenang, hanya terdengar suara kunyahan dan sesekali denting gelas.

​Naren tidak benar-benar tidur. Di balik lengannya, ia melihat kegelapan.

 Pikirannya melayang pada suara musik klasik di telepon tadi. Ia merasa seperti ada jurang yang sangat lebar antara motor tuanya yang penuh oli dan piring porselen di meja makan Agnesa.

​Kenapa gue harus narik dasinya kemarin? Pertanyaan itu berputar-putar seperti lalat yang mengganggu. 

Ia mengingat wajah Agnesa yang memerah, napasnya yang tertahan, dan bagaimana mata gadis itu—untuk pertama kalinya—tidak memancarkan amarah, melainkan sesuatu yang lebih mirip dengan keterkejutan yang rapuh.

​Srekk. Terdengar suara Abyan membuka bungkus kerupuk.

​"Yan," panggil Naren tanpa membuka matanya.

​"Ya, Bos?"

​"Senin... lo semua harus rapi. Pakai dasi. Bajunya masukin."

​"Hah? Lo kerasukan setan apa, Ren?" Abyan tersedak kerupuknya.

 Uhuk! Uhuk! 

"Sejak kapan ZENTRIX peduli soal baju masuk?"

​"Lakuin aja. Gue nggak mau denger dia ngomel lebih dari sepuluh menit."

​Venzo tersenyum tipis di balik bungkusan nasi uduknya. "Oke. Rapi ya. Gue cari setrikaan dulu kalau gitu."

​Naren terdiam lagi. Ia membayangkan Agnesa berdiri di tengah ruang OSIS, memegang kertas-kertasnya, dan menemukan mereka semua sudah duduk manis dengan seragam lengkap. 

Ia ingin melihat ekspresi wajah gadis itu. Apakah dia akan puas? Atau justru kecewa karena tidak punya alasan untuk marah?

​Sabtu siang itu berjalan lambat. Hujan di luar semakin deras, menciptakan tirai air yang memisahkan markas ZENTRIX dari dunia luar.

 Naren akhirnya tertidur lelap, bermimpi tentang sebuah ruang gelap di mana hanya ada suara langkah sepatu pantofel yang beradu dengan lantai porselen, mendekat dan menjauh secara ritmis.

Di tempat lain, di sebuah rumah mewah dengan pilar-pilar tinggi, Agnesa Valeria Anabella duduk di meja belajarnya.

Di depannya bukan buku fisika atau kimia, melainkan daftar nama anggota ZENTRIX yang ia cetak dari data sekolah. Namanya berada di paling atas: Naren Aksara Gavindra.

​Jendela kamarnya tertutup rapat, menghalau suara hujan.

 Di atas meja, ada segelas susu hangat yang sudah mulai mendingin, menyisakan lapisan tipis di permukaannya.

​Agnesa memegang sebuah pulpen, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya.

Agnesa mendorong kursi belajarnya menjauh dari meja, menciptakan jarak yang lebar antara dirinya dan daftar nama itu. 

Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal kecil. Tangannya perlahan menyentuh kerah bajunya sendiri, meraba tempat di mana biasanya dasi sekolahnya berada.

​"Kenapa dia tanya gue lagi ngapain?" gumamnya pelan.

​Suara jam dinding terdengar sangat dominan di kamar yang sunyi itu. 

Tik. Tak. Tik. Tak.

​Agnesa merasa ada yang tidak beres dengan ritme jantungnya hari ini. Ia biasanya sangat menyukai ketenangan Sabtu pagi untuk belajar, tapi hari ini, barisan angka di buku cetaknya tampak seperti semut yang berlarian tanpa arah.

​Ia teringat suara mesin motor Naren yang parau dan bising. 

Mengapa suara itu lebih mudah diingat daripada melodi piano Mozart yang diputar ibunya tadi pagi?

​Ia bangkit, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Ia menatap bayangannya sendiri. Wajah yang selalu dibilang sempurna oleh guru-gurunya. Wajah yang selalu dibilang membanggakan oleh orang tuanya.

​Ia merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan.

​"Dia pasti telat hari Senin," ucapnya pada cermin, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya masih di bawah kendalinya. 

"Dia pasti akan membangkang seperti biasa."

​Agnesa mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan tambahan untuk menegaskan ancamannya, tapi jempolnya berhenti di atas tombol kirim.

Ia menatap pesan yang sudah diketiknya: "Pastikan kemejamu tidak kusut." Tiga detik kemudian, ia menghapus seluruh kalimat itu. 

Ia meletakkan ponselnya dengan kasar di atas kasur, lalu berjalan menuju rak buku, mengambil kamus bahasa Jerman yang paling tebal untuk dibaca.

​Ia harus kembali ke jalurnya. Ia adalah Agnesa, sang Ketua OSIS. Dan Naren hanyalah sebuah variabel anomali yang harus ia luruskan dalam persamaan hidupnya yang teratur.

​Namun, di luar sana, hujan terus turun, membasahi debu jalanan dan menyamarkan batas antara benar dan salah, antara aturan dan keinginan, serta antara benci dan sesuatu yang belum berani ia beri nama.

Di markas, Naren terbangun karena suara guntur yang menggelegar. 

DUARRR!

Ia duduk tegak, napasnya sedikit memburu. Ia melihat ke arah meja kerja. Gelas kopinya sudah kosong.

 Abyan dan Venzo sedang asyik bermain catur di pojok ruangan.

Naren merogoh saku, mengambil ponselnya. Tidak ada pesan baru.

Ia kembali berbaring, tapi kali ini ia tidak menutupi matanya. Ia menatap pintu ruko yang tertutup rapat, membayangkan apa yang ada di baliknya.

​"Masih hujan, Ren. Tidur lagi aja," sahut Venzo tanpa menoleh dari papan catur.

​Naren tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan suara hujan yang kini terdengar seperti ribuan orang yang bertepuk tangan di atas atap seng. 

Sebuah riuh rendah yang entah mengapa, membuatnya merasa sedikit kurang kesepian.

​Dunia mungkin sedang beristirahat di hari Sabtu ini, tapi bagi Naren dan Agnesa, sebuah mesin besar baru saja mulai berputar, menggerakkan roda-roda takdir yang akan membawa mereka pada hari Senin yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

​Domestik. Sederhana. Namun penuh dengan ledakan-ledakan kecil yang tertahan di balik seragam sekolah yang kaku.

​"Yan," panggil Naren lagi.

​"Apa lagi, Bos? Mau nasi uduknya sekarang?"

​"Nggak. Pinjem setrikaan lo besok sore."

​Abyan terdiam, pion caturnya terjatuh dari tangan. Tuk. 

"Zo... Naren beneran sakit ya?" bisik Abyan horor.

​Venzo hanya tertawa pelan, memindahkan kudanya di atas papan. "Mungkin dia cuma pengen kelihatan ganteng di depan hukuman."

​Naren memejamkan mata kembali, kali ini dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat, bahkan oleh dirinya sendiri.

Di atas meja kerja Naren, di antara alat-alat teknik yang kotor, terselip sebuah foto kecil yang sudah agak kusam. 

Foto seorang wanita yang sedang tersenyum sambil memegang tangan anak laki-laki kecil. 

Naren tidak pernah membuangnya, tapi ia juga tidak pernah menaruhnya di tempat yang terlihat. Ia membiarkan foto itu tertindih kunci inggris dan baut-baut karatan.

​Sama seperti perasaannya yang ia simpan rapat-rapat di bawah tumpukan sikap dingin dan ketidakpedulian. Ia hanya menunggu seseorang yang cukup berani untuk membongkar tumpukan itu, meski tangannya harus kotor terkena oli dan debu.

BERSAMBUNG…

Bab Selanjutnya ➜

"Non Agnes mau susu cokelat? Biar saya tuangkan ke gelas,"

"Tidak perlu, Bi. Saya tidak suka yang manis-manis,"

Agnesa Benaran Gak Suka? Yuk Simak Kelanjutannya di Bab 3: Goresan Pertama

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!