Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak Semalam Bareng CEO
Pagi itu, hujan masih mengguyur Jakarta sejak subuh.
Langit kelabu membuat suasana Mahendra Group terasa lebih tenang dari biasanya. Nayla baru saja memasuki lobi sambil mengibaskan payungnya.
“Pagi!”
Sapanya ceria kepada petugas keamanan.
“Pagi, Mbak Nayla.”
Namun sebelum sempat melangkah menuju lift, beberapa karyawan sudah mengerubunginya.
“Nayla!”
“Kemarin pulang sama Pak Arga, ya?”
“Hah?”
“Waktu hujan!”
Nayla langsung menggeleng cepat.
“Bukan pulang bareng.”
“Cuma satu payung.”
“Iya… iya… satu payung.”
Jawaban itu justru membuat semua orang semakin heboh.
“Aduh, makin romantis!”
Nayla menepuk dahinya.
“Ya Allah… kalian ini.”
Di lantai tiga puluh, Arga sedang membaca laporan proyek ketika Dimas masuk.
“Pak.”
“Apa?”
“Rumor baru.”
Arga menghela napas.
“Lagi?”
“Kali ini tentang payung.”
Arga menutup map yang sedang dibacanya.
“Mereka terlalu banyak waktu luang.”
“Saya juga berpikir begitu, Pak.”
“Tapi…”
“Apa?”
“Saya rasa Mbak Nayla mulai tidak nyaman.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Ia memang tidak ingin Nayla menjadi bahan pembicaraan hanya karena dirinya.
Siang harinya…
Seluruh divisi mendapat tugas menghadiri inspeksi mendadak di salah satu gedung baru milik Mahendra Group yang masih dalam tahap pembangunan.
“Semua dokumen sudah dibawa?” tanya Arga.
“Sudah, Pak,” jawab Dimas.
“Nayla?”
“Iya?”
“Ikut.”
Nayla mengangguk.
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam.
Gedung itu berada di pinggir kota dan masih belum sepenuhnya selesai dibangun.
Setelah memeriksa beberapa lantai, langit kembali menggelap.
Tak lama kemudian…
Brak!
Suara petir menggelegar.
Hujan turun sangat deras.
Seorang mandor berlari menghampiri Arga.
“Pak!”
“Jalan utama menuju kota banjir.”
“Mobil tidak bisa keluar untuk sementara.”
Arga mengangguk tenang.
“Berapa lama?”
“Mungkin sampai malam.”
Nayla langsung membelalakkan mata.
“Hah?”
“Jadi kita nggak bisa pulang?”
“Sepertinya begitu.”
Ia langsung menghela napas panjang.
“Nasib…”
Menjelang sore, hujan bukannya reda, justru semakin deras.
Listrik di sebagian gedung padam.
Untungnya, genset masih menyala di lantai bawah.
Karena pekerjaan telah selesai, para pekerja memilih berkumpul di ruang istirahat.
Nayla duduk di dekat jendela sambil memeluk lututnya.
Arga yang baru selesai menelepon ibunya menghampiri.
“Kamu kedinginan?”
“Nggak.”
Padahal bibir Nayla sedikit bergetar.
Arga melepas jasnya lalu menyodorkannya.
“Pakai.”
Nayla menggeleng.
“Nanti Bapak dingin.”
“Saya tidak apa-apa.”
“Tapi…”
“Itu perintah.”
Nayla mendengus pelan.
“Kalau sudah pakai kata ‘perintah’, saya nggak bisa nolak.”
Ia mengenakan jas itu.
Aroma parfum Arga langsung tercium.
Hangat.
Entah kenapa membuat hatinya ikut tenang.
Malam pun tiba.
Hujan belum juga berhenti.
Para pekerja mulai tidur beralaskan kardus dan selimut tipis.
Dimas menghampiri Arga.
“Pak.”
“Hotel di sekitar sini penuh.”
“Jalan juga masih ditutup.”
Arga mengangguk.
“Berarti kita menginap di sini.”
Nayla yang mendengar itu langsung berdiri.
“Semalam?”
“Iya.”
“Di gedung proyek?”
“Iya.”
Nayla langsung memegang kepalanya.
“Lengkap sudah…”
Beberapa saat kemudian…
Perut Nayla berbunyi.
Krruuk…
Ia langsung menutup wajahnya.
“Malu…”
Dimas tertawa kecil.
“Saya cari makan dulu.”
Tak lama kemudian, ia kembali membawa beberapa bungkus mi instan cup.
“Cuma ini yang tersisa di warung.”
Nayla langsung tersenyum lebar.
“Mi!”
“Kesukaan saya!”
Ia buru-buru membuka tutup mi dan menuangkan air panas.
Melihat semangatnya, Arga menggeleng pelan.
“Hanya karena mi?”
“Iya.”
“Bahagia itu sederhana, Pak.”
Arga memperhatikan Nayla yang makan dengan lahap.
Tanpa sadar, ia tersenyum.
“Kamu memang mudah bahagia.”
Nayla mengangguk.
“Soalnya hidup sudah cukup berat.”
“Kalau hal kecil saja nggak dinikmati, kapan bahagianya?”
Jawaban itu membuat Arga terdiam.
Sudah lama ia tidak mendengar kalimat sesederhana namun sehangat itu.
Sekitar pukul sebelas malam…
Hujan mulai mereda.
Sebagian besar pekerja sudah tertidur.
Nayla berdiri di balkon lantai dua melihat rintik hujan.
Arga datang menghampiri.
“Belum tidur?”
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Saya takut petir.”
Arga sedikit terkejut.
“Gadis sebar-bar kamu takut petir?”
Nayla langsung cemberut.
“Bar-bar bukan berarti nggak punya rasa takut.”
Untuk pertama kalinya, Arga tertawa pelan.
“Kamu benar.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Suara hujan menjadi satu-satunya pengiring.
Beberapa saat kemudian Nayla bertanya pelan.
“Pak…”
“Iya?”
“Kenapa Bapak selalu sendiri?”
Arga menatap langit.
“Karena lebih mudah.”
“Nggak kesepian?”
Arga tidak langsung menjawab.
Sebenarnya…
Ia sangat kesepian.
Namun selama bertahun-tahun, ia terbiasa menyembunyikannya.
“Aku sudah terbiasa.”
Nayla tersenyum tipis.
“Kalau begitu…”
“Mulai sekarang jangan biasakan.”
“Masih ada saya yang bisa Bapak ajak berdebat.”
Arga menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, senyum Arga terlihat jelas.
Bukan senyum tipis.
Melainkan senyum yang benar-benar tulus.
Melihat itu, Nayla sampai terpaku.
“Pak…”
“Apa?”
“Bapak ternyata ganteng kalau senyum.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Sementara Nayla baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
“Eh…”
“Maksud saya…”
Pipinya langsung memerah.
Arga hanya tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Jantung Nayla berdetak semakin cepat.
Di saat yang sama, tanpa mereka sadari…
Dari balik lorong, seseorang mengangkat ponselnya dan diam-diam memotret momen saat mereka berdiri berdua di balkon.
Foto itu akan menjadi awal dari masalah besar yang mengancam hubungan mereka.
jd senam jantung🤧