Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
"Apa dibuka semuanya?" tanya Violet dengan wajah polos.
Dia yang masih berumur 18 tahun terlihat imut dan juga masih muda, mengingatkan Romeo tentang masa mudanya dulu.
Tapi, jika Romeo mengingat cinta pertamanya yang pergi meninggalkannya.
Rasa benci itu tiba- tiba muncul.
Namun, wajahnya berubah menjadi datar lagi. Kala melihat Violet ketakutan.
"Tuan Meo, maaf saya gak berpengalaman," ujar Violet dengan nada terbata.
Mengingat selama ini hanya berhubungan dengan Felix sekali, tapi malah menjadikan dirinya hamil.
Walaupun cerdas tapi masih polos.
Violet pikir kalau dia baik dan tulus pada orang, orang akan memperlakukan dirinya juga seperti itu.
Nyatanya dia di tipu habis-habisan oleh Felix dan keluarganya, dan juga Marina.
Padahal sebelumnya Violet selalu memperlakukan mereka dengan sangat baik.
Mengingat dulu waktu tinggal didesa, orang-orang desa benar-benar tulus.
Gak ada yang mencari keuntungan, seperti orang kota yang bagi Violet itu licik.
"Gak berpengalaman, ya?" tanya Romeo seraya menaikkan satu alisnya.
"Tapi kok bisa hamil," imbuh Romeo menatapnya dengan tatapan tidak percaya, hal itu langsung membuat Violet seperti kehabisan nafas.
Selama ini Violet adalah tipe orang yang selalu jujur.
"Tuan Meo, bisa tanyakan sama Felix? Katanya dia keponakan Om," kata Violet dengan nada terbata.
Hal itu sungguh ingin membuat Romeo tertawa.
Lagi-lagi dia merasa gemas dengan tingkah polos gadis yang sekarang ini ada dihadapannya.
Tapi dia masih mempertahankan wajah wibawanya.
"Kenapa kamu mengatakan tidak berpengalaman, apakah kamu ingin aku sentuh?" Tatapan Romeo berubah mesum.
Hal itu membuat bulu kuduk Violet meremang.
Sementara Romeo yang menatap Violet yang 7 tahun lebih muda darinya.
Merasakan sebuah perasaan aneh yang sulit untuk dijelaskan.
Selama ini nenek Amarta membesarkan dirinya sebagai pewaris utama.
Dia tidak pernah merasakan kesenangan saat dekat dengan lawan jenis seperti ini.
Sebelumnya hari-hari hanya berisi tentang belajar urusan keuangan dan bagaimana cara bersikap tanpa perasaan.
Sementara Violet sendiri malah teringat, saat Felix mengambil kesuciannya yang mana membuatnya kesakitan dan tidak bisa berjalan selama berhari- hari.
Saat teringat akan hal itu, Violet langsung menggelengkan kepalanya.
Dia mengira, jika Romeo yang sekarang sangat dekat dengannya akan melakukan hal yang sama seperti hal yang dilakukan oleh Felix sebelumnya.
"Tuan tolong jangan menatap saya dengan tatapan mesum seperti ini. Saya takut," celetuk Violet dengan tubuh yang bergetar.
Bulir-bulir air mata juga mulai keluar dari kedua kelopak matanya, bahkan bulu matanya Violet terlihat basah karena air matanya sendiri.
Romeo merasa aneh, saat menatap wajah Violet dalam keadaan seperti ini.
"Kenapa dia mirip sekali dengan ....?" Romeo buru-buru menjauhkan tubuhnya.
Ia sudah tidak berminat untuk mengerjai Violet.
Violet yang merasakan tubuh Romeo yang menjauh, membuka matanya perlahan.
Tapi yang dia dapati tatapan tajam Romeo.
"Penakut begini mau kerja?" Tanya Romeo seraya menaikkan satu alisnya.
Sementara Violet reflek menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu Romeo memajukan wajahnya.
"Lebih baik kamu pulang ke kampung halamanmu saja!"
"Gak ... Gak ... Saya mampu bekerja kok Tuan."
Violet kembali menggeleng- gelengkan kepalanya.
Menolak dengan tegas perintah dari Romeo.
"Kalau begitu buruan! Jangan buang-buang waktuku. Aku harus segera rapat daring," kata Romeo tidak sabar.
Ekspresi Romeo yang berubah-ubah sungguh membuat Violet ketakutan.
Romeo mencengkeram lengan Violet dengan lembut, tapi tegas, menariknya agar duduk lebih dekat.
Kursi roda yang menopang tubuhnya berdecit pelan saat bergerak.
"Tuan Meo, apa yang akan kamu lakukan?" suara Violet terdengar gugup, bibirnya gemetar saat melihat ekspresi serius di wajah Romeo.
"Aku akan menghisap ASImu. Ini memang terdengar menjijikkan, tapi aku tidak punya pilihan lain," kata Romeo dengan nada penuh penyesalan.
Dia memandang Violet, matanya mencoba mencari pengertian di wajahnya.
"Ini adalah satu-satunya cara untuk aku bertahan hidup, penyakit langka ini membuatku harus melakukannya."
Romeo mengingat tubuhnya semakin mengurus dan terasa sakit, dia sudah melakukan banyak hal untuk menyembuhkan penyakitnya.
Dia sudah mengeluarkan uang ratusan miliar, untuk membeli obat mujarab dan memanggil dokter terbaik di seluruh dunia.
Tapi semuanya tidak ada hasil, hanya ini pilihan terakhirnya.
Bahkan ada satu hal yang membuat Romeo bertanya-tanya sampai sekarang, saat dokter terbaik didunia itu mengatakan jika tidak ada penyakit ditubuhnya.
Semua hasil pemeriksaan medis yang dilakukan olehnya, juga tidak membuahkan hasil apapun.
Violet menatap Romeo dengan mata yang berkaca-kaca, merasa kasihan dan jijik dalam waktu yang sama.
Kedua pipi Violet memerah, bukan hanya karena rasa malu, tapi juga karena campur aduk perasaan yang dia alami.
Karena setelah melahirkan anaknya, Violet langsung dibuang.
Ini adalah pengalaman pertamanya menyusui bayi besar yang galak.
Romeo dengan hati-hati mendekatkan wajahnya ke dada Violet, dan mulai meminum ASI yang keluar perlahan.
Tubuh Violet terasa kaku, setiap hisapan Romeo terasa seperti menguras kekuatan dari dalam dirinya.
Namun, di balik itu semua, ada rasa haru yang mendalam karena bisa membantu Romeo bertahan hidup meskipun dengan cara yang tidak biasa ini.
Air mata Violet jatuh membasahi pipinya, sementara Romeo terus menghisap dengan rasa syukur dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu.
"Kenapa menangis?" tanya Romeo.
"Kamu pasti kasihan melihatku bukan? Ck, aku sama sekali gak butuh untuk dikasihani," imbuh Romeo berusaha menebak apa yang ada dijalan pikiran Violet sekarang ini.
Violet buru-buru menggeleng. "Ini karena sakit. Tuan menghisap ASI saya seperti orang yang kesetanan."
"Apa?" Romeo terkejut.
"Oh ... Ya, aku akan menghisap perlahan," sahut Romeo, dia mulai menghisap dengan gerakan yang lebih lembut.
Tapi air mata Violet masih saja menetes dan mengenai wajahnya.
"Kenapa masih menangis? Apakah masih sakit?" tanya Romeo peduli.
"Bukan itu, saya malah teringat dengan Felix, janji-janji Felix. Padahal sebelum dia mengusir saya dari rumahnya, dia berjanji akan melakukan lamaran besar dan membantuku mengikuti progam paket C biar bisa masuk ke universitas, tapi ... Kenapa? Dia malah mengusirku dan membuang ku, padahal. Dulu dia berkata begitu mencintaiku," jelas Violet dengan nada terisak-isak.
Romeo sendiri malah melongo.
"Astaga aku kira apa?" sahut Romeo santai.
"Apakah kamu dan juga nenek Amarta akan membohongi ku? Setelah kamu sembuh, apakah kamu juga akan membuang ku juga?" Beberapa pertanyaan keluar dari bibir Violet.
Sebagai orang yang pernah mengalami penipuan yang fatal, tentu Violet merasa ragu.
Dari bawah, Romeo bisa melihat ketulusan dan juga rasa sakit yang Violet alami.
Wajah Violet terlihat sangat cantik dari bawah.
Ada rasa iba yang menjalar dalam dirinya, tapi sekali lagi.
Ia juga tidak bisa berbuat banyak.