Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bugh!
Kenzo menghempaskan tubuh ringkih Liana kembali ke atas ranjang king size miliknya.
Liana dengan cepat merangkak mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang yang kokoh, memeluk kedua lututnya erat-erat sebagai tameng pertahanan.
"Minggir!! Aku tidak mau di sini!!" teriak Liana histeris dengan sisa suaranya yang parau.
Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.
Bukannya marah, Kenzo justru merangkak naik ke atas ranjang dengan gerakan yang teramat santai.
Alih-alih mengurung tubuh Liana, pria itu justru melenturkan tubuhnya, lalu dengan sengaja menyandarkan kepalanya di atas pangkuan kaki Liana yang sedang tertekuk.
Ia memejamkan matanya, menikmati kehangatan tubuh wanitanya seolah ranjang itu adalah tempat paling damai di dunia.
"Ssshhh..." bisik Kenzo lembut, mengabaikan tubuh Liana yang menegang hebat di bawahnya.
"Kamu sedang hamil anakku, Liana. Dan, aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu."
Liana menatap pria di pangkuannya dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
Rasa frustrasi dan putus asa membuatnya nekat melontarkan kalimat yang paling tabu.
"Kalau begitu gugurkan saja!! Gugurkan anak ini dan kamu bisa cari wanita lain yang kamu mau! Lepaskan aku!"
Mendengar kata 'gugurkan', mata Kenzo yang semula terpejam langsung terbuka lebar.
Kilatan hangat di matanya lenyap seketika, digantikan oleh kegelapan yang pekat dan aura membunuh yang dingin.
Sret!
Kenzo bangkit secepat kilat. Tangan kekarnya bergerak mencengkeram kedua pipi Liana dengan sangat kuat, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang dipenuhi kegilaan.
"S-sakit..." rintih Liana, matanya terpejam menahan cengkeraman tangan Kenzo yang seperti jepitan besi pada rahangnya.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Liana," desis Kenzo dengan suara bariton yang rendah, dingin, dan penuh ancaman yang tidak main-main.
Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Liana.
"Atau, aku bersumpah, aku akan melakukannya lagi, lagi, dan lagi kepadamu... sampai kamu hamil lagi anakku. Paham?!"
Liana membeku, lidahnya mendadak kelu karena ketakutan yang teramat sangat. Pria ini benar-benar sakit jiwa.
Setelah melihat ketakutan yang mutlak di mata Liana, Kenzo melepaskan cengkeramannya dengan perlahan.
Ia bangkit berdiri di sisi ranjang. Tanpa rasa canggung atau malu sedikit pun, jemarinya bergerak membuka kaos hitamnya, lalu menanggalkan hingga polos di depan Liana.
"K-kamu mau apa?!" tanya Liana dengan suara bergetar, refleks menutup matanya dengan kedua tangan.
Kenzo terkekeh sinis melihat reaksi wanitanya. "Aku mau mandi. Apa kamu mau ikut, hm?"
Desain kamar mandi utama di markas pribadi Kenzo ini benar-benar gila.
Kamar mandi mewah itu dirancang dengan konsep modern terbuka—sama sekali tidak memiliki pintu atau pun sekat kaca buram. Dari atas ranjang, Liana bisa melihat dengan sangat jelas siluet tubuh kekar Kenzo yang berdiri di bawah guyuran shower tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Liana dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan melihat pemandangan vulgar tersebut.
Dadanya naik turun mengatur napasnya yang sesak.
Saat mendengar suara gemercik air yang intens dan melihat Kenzo yang mulai keramas sambil memejamkan mata di bawah pancuran, mata Liana tidak sengaja menangkap ponselnya yang tergeletak di atas nakas sebelah ranjang—tampaknya dikeluarkan dari tasnya oleh Bunga tadi.
Jantung Liana berdegup kencang. Ini kesempatannya!
Dengan gerakan seringan kapas, ia mengulurkan tangannya, meraih ponsel itu, dan dengan cepat mencari kontak Rista, sahabat kantornya.
Jarinya baru saja akan menekan tombol panggil untuk meminta bantuan, namun...
"Jangan macam-macam ya, calon ibu dari anakku..."
Suara bariton Kenzo tiba-tiba menggema di antara suara gemercik air shower.
Pria itu bahkan tidak membuka matanya yang penuh busa sampo, namun insting dan pendengarannya yang tajam melacak segalanya.
"Aku tahu setiap gerak-gerikmu, Liana."
Tangan Liana gemetar hebat. Harapan yang baru saja tumbuh langsung layu seketika.
Dengan perasaan campur aduk antara dongkol dan takut, ia perlahan meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, menyadari bahwa di dalam ruangan ini, ia benar-benar tidak memiliki celah untuk bersembunyi dari sang iblis.
Kenzo mematikan pancuran shower. Air menetes makmur dari lekuk-lekuk tubuh atletisnya yang tegap.
Dengan santai, ia hanya meraih selembar handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah, membiarkan tubuh bagian bawahnya tetap polos tanpa sehelai benang pun, seolah-olah ketelanjangan itu adalah hal paling alami di dunia.
Tanpa rasa canggung, pria itu melangkah lebar mendekati ranjang.
Liana yang melihat bayangan tubuh kekar itu mendekat langsung panik.
Namun, sebelum ia sempat merangkak kabur, Kenzo sudah merangsek naik ke atas tempat tidur.
Dengan satu sentakan posesif, lengan kekarnya langsung menyergap tubuh mungil Liana, menariknya paksa ke dalam dekapan hangat yang mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.
Kulit telanjang Kenzo yang bersentuhan langsung dengan pakaian Liana mengirimkan sensasi ngeri yang luar biasa.
"Kenzo!! Kamu gila!! Lepaskan aku!!" teriak Liana histeris, suaranya melengking tinggi menembus keheningan kamar.
Di lantai bawah, William dan Bunga yang sedang berjaga langsung tersentak mendengar teriakan melengking yang begitu frustrasi dari sang Ratu.
Mengingat aturan ketat nomor dua dan lima tentang ketenangan, serta paham betul bagaimana watak bos mereka jika singa laparnya sudah bangun, keduanya bertukar pandang cemas.
Tanpa perlu dikomando, William dan Bunga segera melangkah keluar dari dalam mansion, memilih untuk berjaga di halaman luar demi memberikan privasi penuh sekaligus menyelamatkan telinga mereka dari amukan emosi di lantai atas.
Sementara itu di dalam kamar, Liana terus meronta.
Ia mendorong dada bidang Kenzo dengan kedua tangannya, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar terlepas dari kungkungan itu.
Namun, tenaga Kenzo bagaikan jepitan baja. Alih-alih merenggang, pelukan pria itu justru semakin erat dan posesif, menenggelamkan wajah Liana di ceruk lehernya yang wangi sabun maskulin.
"Kenzo, lepas! Menjauh dariku!" jerit Liana dengan napas terengah-engah.
Kenzo terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar tepat di telinga Liana, mengirimkan hembusan napas yang membuat bulu kuduk wanita itu merinding.
"Ssshhh... diamlah, sayang. Aku hanya ingin memelukmu," bisik Kenzo dengan nada suara yang teramat tenang namun sarat akan intrik tirani. Ia mengecup bahu Liana sekilas dari balik pakaiannya.
"Tapi, jika kamu memang menginginkan lebih dari sekadar pelukan malam ini, aku selalu siap melayanimu."
Kata-kata vulgar dan tatapan mata Kenzo yang menggelap penuh gairah membuat jantung Liana berdegup ekstrem karena ketakutan.
Air matanya nyaris tumpah lagi akibat kombinasi rasa dongkol dan ngeri yang luar biasa.
"Dasar Kenzo gila!! Iblis!!" umpat Liana ketakutan, akhirnya memilih membeku dan memalingkan mukanya rapat-rapat, menyadari bahwa semakin ia meronta, semakin monster di depannya ini menikmati setiap jengkal keputusasaannya.
Melihat wajah Liana yang memalingkan muka dengan bibir mengerucut penuh kebencian dan kedongkolan, sesuatu di dalam dada Kenzo justru tergelitik.
Rasa gemas yang luar biasa bercampur dengan hasrat posesif yang membakar seketika melenyapkan sisa-sisa kesabarannya.
Tanpa peringatan, Kenzo mencengkeram dagu Liana, memutar wajah wanita itu, dan langsung menyambar bibir Liana dengan ciuman yang teramat menuntut dan intens.
"Mmph?!"
Liana membelalakkan matanya horor. Sentuhan tiba-tiba itu memicu kembali memori malam terkutuk yang membuatnya trauma.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Liana mulai memukul-mukul dada bidang Kenzo dengan kepalan tangannya yang gemetar, berusaha menciptakan jarak di antara mereka.
Namun, perbedaan kekuatan fisik mereka terlalu jauh.
Kenzo sama sekali tidak bergeming oleh pukulan-pukulan lemah itu.
Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan taktis, Kenzo menangkap kedua pergelangan tangan Liana, membawanya ke atas kepala, dan menguncinya kuat-kuat di atas bantal dengan satu tangan kekarnya.
Kekangan itu membuat Liana sepenuhnya terkunci dan tak berdaya.
Kenzo memperdalam ciumannya tanpa ampun, menyesap dan mengklaim setiap jengkal bibir Liana hingga wanita itu benar-benar kehabisan napas dan pasokan oksigen di dadanya menipis.
Kepala Liana mulai berputar pening, dan tubuhnya perlahan-lahan lemas di bawah kungkungan Kenzo.
Setelah merasa wanitanya benar-benar kehabisan napas dan tidak bisa melawan lagi, barulah Kenzo perlahan melepaskan tautan bibir mereka.
Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap bibir Liana yang kini memerah dan basah, serta deru napas wanita itu yang terengah-engah hebat.
Kenzo tersenyum manis, senyuman tanpa dosa yang sangat kontras dengan tindakan tiraninya barusan.
Ia melepaskan kuncian pada tangan Liana, lalu kembali menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan posesifnya, menenggelamkan wajah Liana di dada bidangnya yang hangat.
"Ayo kita tidur lagi, aku masih mengantuk," ucap Kenzo dengan suara bariton yang teramat santai dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, seolah-olah ia baru saja mengecup wanitanya sebelum tidur.
Liana hanya bisa terbaring kaku dengan air mata yang menetes perlahan di sudut matanya.
Dadanya naik-turun meredam rasa sesak dan amarah yang bergejolak, sementara sang monster di sampingnya mulai mengatur napas, bersiap menjemput mimpi dalam ketenangan yang egois.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak