1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 wajah yang sama dan nama yang terkubur
"Ra... Raka..."
Suara Dimas terdengar lirih.
Semua mata tertuju pada sosok berseragam gosong yang berdiri di barisan paling depan.
Wajahnya.
Rambutnya.
Bahkan tinggi badannya.
Semuanya sama persis dengan Raka.
Raka melangkah mundur satu langkah.
"Ini... nggak mungkin."
Sosok itu tidak bergerak. Ia hanya menatap Raka dengan mata yang kosong.
Kemudian perlahan mengangkat tangan kanannya.
Di telapak tangannya terdapat bekas luka bakar yang membentuk angka 13.
"Apa dia..." bisik Naya.
"Bukan manusia," sambung Keanu.
Tiba-tiba sosok itu membuka mulut.
Namun bukan suara yang keluar.
Melainkan asap hitam pekat yang memenuhi koridor.
Lampu langsung berkedip.
Krek... Krek...
Saat cahaya kembali normal...
Keenam sosok itu sudah menghilang.
Yang tersisa hanyalah bau hangus yang menyengat.
"Semua masuk kamar. Sekarang!" ujar Keanu.
Mereka berenam segera berlari ke kamar Alea.
Begitu pintu dikunci, semua terdiam.
Tak ada yang tahu harus berkata apa.
Raka duduk di lantai sambil menundukkan kepala.
"Aku kenal wajah itu..."
Semua langsung menoleh.
"Maksud kamu?"
Raka memijat pelipisnya.
"Sejak keluar dari lift malam pertama... aku terus mimpi."
"Mimpi apa?" tanya Alea.
"Aku berdiri di lorong yang terbakar."
"Ada enam orang di sana."
"Mereka memanggilku..."
Raka menarik napas panjang.
"...dengan nama yang bukan milikku."
"Nama siapa?" tanya Liora.
Raka menutup matanya.
"Rio."
Suasana kamar mendadak hening.
"Rio?" ulang Dimas.
"Iya."
"Mereka terus bilang..."
"Rio... kamu harus menyelamatkan kami..."
Alea merinding.
Nama itu belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Lalu Alea teringat buku harian Maya.
Ia segera membukanya dan membalik halaman demi halaman.
Tiba-tiba ia berhenti.
Ada satu halaman yang sebelumnya kosong.
Kini muncul tulisan baru.
«"Rio tidak pernah berhasil keluar dari lantai 13."»
Semua menahan napas.
Di bawah kalimat itu perlahan muncul nama-nama lain.
Maya, Doni,Sinta,Arga,Niko,Dan...Rio.Enam nama.
Persis sebanyak enam sosok yang tadi mereka lihat.
"Tunggu..." bisik Keanu.
"Kalau Rio salah satu korban..."
"...kenapa wajahnya sama persis dengan Raka?"
Belum sempat ada yang menjawab, terdengar suara benda jatuh dari arah lemari.
Bruk!
Pintu lemari terbuka sendiri.
Di dalamnya tergantung enam seragam sekolah.
Semuanya hangus.
Dan pada salah satu seragam...Terpasang sebuah papan nama.
RIO MAHENDRA...Raka mematung.
Mahendra...Itu adalah nama belakangnya.
Seketika lampu kamar padam.
Dalam kegelapan, terdengar suara seorang anak laki-laki berbisik tepat di belakang telinga Raka.
"Aku sudah menunggumu... selama dua puluh tahun."
Ruangan masih gelap.
Napas Raka memburu setelah mendengar bisikan itu.
"Aku sudah menunggumu... selama dua puluh tahun."
"Siapa?!" teriaknya sambil berbalik.
Tak ada siapa pun.
Hanya lemari yang masih terbuka dan enam seragam hangus yang bergoyang pelan seolah tertiup angin.
Lalu...Cetak!
Lampu kamar kembali menyala.
Seragam-seragam itu...Menghilang Lemari kosong.
Seolah apa yang baru saja mereka lihat tidak pernah terjadi.
"Aku yakin kita nggak halusinasi," kata Dimas dengan suara bergetar.
"Lemarinya tadi penuh seragam."
Keanu mengangguk.
"Iya. Aku juga lihat."
Raka masih mematung. Keringat dingin membasahi dahinya.
Nama Rio Mahendra terus terngiang di kepalanya.
"Aku harus telepon ibuku."
Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan ponselnya.
Untungnya masih ada sedikit sinyal.
Setelah beberapa kali dering, panggilannya tersambung.
"Halo, Bu?"
"Raka? Kok malam-malam telepon? Kamu baik-baik saja?"
Raka menarik napas dalam.
"Bu... Ibu kenal seseorang bernama Rio Mahendra?"
Di seberang telepon mendadak sunyi.
Tak ada jawaban.
"Bu?"
Suara napas ibunya terdengar semakin berat.
"Ada apa kamu tanya nama itu?"
Raka saling berpandangan dengan teman-temannya.
"Bu... siapa Rio?"
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya sang ibu menjawab dengan suara pelan.
"Itu..."
"...nama kakak kembarmu."
Semua membeku.
"Kembar?" bisik Alea hampir tak percaya.
Raka menggenggam ponselnya erat.
"Aku... punya saudara kembar?"
"Iya."
"Tapi dia meninggal sebelum kalian ulang tahun pertama."
Jantung Raka berdegup kencang.
"Kenapa Ibu nggak pernah cerita?"
Tangis pelan terdengar dari balik telepon.
"Karena Ibu ingin kamu menjalani hidup tanpa terus dibayangi masa lalu."
"Tapi... bagaimana dia meninggal?"
Belum sempat sang ibu menjawab...
Suara telepon mendadak dipenuhi gangguan.
"Bu?"
"Raka... jangan pernah sebut nama itu lagi..."
"Bu!"
Sambungan telepon terputus.
Di layar ponsel hanya muncul tulisan:
NO SIGNAL
Padahal beberapa detik sebelumnya sinyal penuh.
Keheningan memenuhi kamar.
Naya menatap Raka dengan wajah pucat.
"Kalau Rio benar kakak kembarmu..."
"...kenapa namanya ada di hotel ini?"
Belum ada yang bisa menjawab.
Tiba-tiba buku harian Maya yang berada di atas meja terbuka sendiri.
Halamannya membalik cepat tertiup angin yang entah datang dari mana.
Lalu berhenti di satu halaman.
Tulisan baru muncul perlahan.
Seolah tinta hitam itu ditulis oleh tangan yang tak terlihat.
«"Rio tidak meninggal saat bayi."»
Semua langsung mendekat.
Kalimat berikutnya muncul sedikit demi sedikit.
«"Dia meninggal... di Hotel Karunia."»
Saat kalimat terakhir selesai muncul...
Terdengar suara anak kecil tertawa dari dalam kamar mandi.
Hihihihi...
Pintu kamar mandi yang semula tertutup...
Perlahan terbuka sendiri.
Dari balik kegelapan...Terlihat sepasang kaki kecil yang hangus berdiri diam di dalamnya.