NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:627.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Rumah tua peninggalan keluarga Azalea masih berdiri kokoh di ujung jalan desa. Catnya memang sudah memudar, beberapa bagian dinding tampak retak dimakan usia, tetapi bangunan itu tetap memancarkan kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seolah setiap bata dan kayunya menyimpan doa orang-orang yang pernah tinggal dan bertumbuh di dalamnya.

Enzo memarkirkan mobil di halaman depan yang cukup luas. Mesin dimatikan, tapi tak satu pun dari mereka langsung turun. Keheningan sesaat menyelimuti kabin mobil, seakan masing-masing sedang menyiapkan hati.

Elora menempelkan wajahnya ke kaca jendela, matanya berbinar menatap rumah itu. “Ini rumah Mommy?” tanyanya pelan, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.

“Iya, Sayang,” jawab Azalea sambil tersenyum lembut. Senyum yang mengandung rindu dan luka sekaligus. “Yuk, turun.”

Elora membuka pintu dengan semangat, sementara Erza turun lebih pelan. Tatapannya menyapu halaman, berhenti pada sudut-sudut tertentu, seolah ada sesuatu yang berusaha ia ingat.

Bagi Enzo, tempat ini bukan sepenuhnya asing, tapi juga bukan rumah. Saat masih menjadi suami Jasmine, ia memang jarang datang ke sini. Hidupnya kala itu dihabiskan di Jerman mengurusi perusahaan keluarga yang hampir tumbang akibat krisis ekonomi global. Namun, seberapa sibuk pun ia, Enzo selalu mengantar Jasmine sampai ke bandara setiap kali istrinya pulang ke kampung, dan menjemputnya kembali saat waktu cutinya usai.

Halaman itu sunyi. Rumputnya dipangkas rapi, meski jelas bukan halaman yang setiap hari diinjak pemiliknya.

Erza melangkah maju beberapa langkah, lalu berhenti mendadak. Matanya terpaku pada sebuah ayunan tua yang tergantung di bawah pohon mangga besar ada ayunan dari ban bekas, talinya sudah tampak kusam dimakan waktu.

“Mommy, itu ....” Erza menunjuk, alisnya berkerut.

Azalea mengikuti arah tunjukannya. Dadanya langsung terasa sesak.

“Dulu, Mommy suka main ayunan sama kamu di sana,” ucapnya pelan. “Apa kamu ingat?”

Erza mengangguk pelan. “Samar-samar. Tapi rasanya tidak asing lihat ayunan itu.”

Azalea menelan ludah. Ia tahu, memori kecil yang tersisa itu adalah bukti cinta Jasmine yang tertinggal di hati anaknya.

Enzo memandang ayunan itu dari kejauhan. Ini adalah kali ketiga ia menginjakkan kaki di halaman rumah ini. Namun, setiap kedatangan terasa berbeda. Dua kunjungan sebelumnya ia lakukan dalam diam setiap tahun, tepat di hari kematian Jasmine. Ia datang sendiri ke makam istrinya, tanpa sepengetahuan siapa pun. Hanya ia, doa, dan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.

Langkah kaki tergesa terdengar dari arah samping rumah.

“Lea! Akhirnya kamu pulang!”

Seorang pria tua berusia sekitar enam puluh tahun datang dengan langkah terburu-buru. Wajahnya penuh keriput, tapi senyumnya hangat dan tulus.

“Abah!” Azalea segera menghampiri. “Sehat, Bah?”

Ia mencium tangan pria itu dengan takzim.

“Alhamdulillah,” jawab Abah Iip sambil mengusap kepala Azalea penuh sayang.

Erza dan Elora ikut maju, meniru apa yang dilakukan Azalea. Keduanya mencium tangan Abah Iip dengan sopan.

“Masyaallah, anak-anak siapa ini?” tanya Abah Iip, lalu matanya tertuju pada Enzo. Ia terbelalak.

“Loh, kamu kan suaminya Jasmine?!”

Enzo mengangguk pelan. “Iya, Bah.”

Pandangan Abah Iip berpindah cepat ke Erza dan Elora. “Jangan-jangan, ini anak-anaknya Jasmine?”

Azalea dan Enzo mengangguk bersamaan.

“Benar, Bah,” ujar Azalea. “Mereka anak almarhum Kak Jasmine. Ini Erza,” ia menunjuk putranya, “anak yang dulu sering diajak Abah ke empang buat nangkap ikan.”

Mata Abah Iip berkaca-kaca. Ia mendekat, lalu menepuk bahu Erza perlahan.

“Wah, sudah besar kamu, Nak.” Senyumnya mengembang penuh bangga. “Sudah Abah duga, kamu akan tumbuh jadi anak yang tampan dan cerdas.”

Erza tersipu, menunduk malu. Meski asing, kata-kata itu terasa hangat di hatinya.

Abah Iip lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci.

“Ini kunci rumahnya.”

Azalea menerimanya dengan kedua tangan.

“Rumah ini selalu kami rawat,” lanjut Abah Iip. “Biasanya dipakai warga kalau ada tamu menginap atau acara syukuran.”

“Kemarin, Pak Mamat ngadain akikah cucunya di sini,” tambahnya. “Rumah mereka kecil, nggak muat tamu. Tapi tenang, sudah dibersihkan lagi.”

Azalea tersenyum haru. “Syukurlah kalau rumah ini bisa bermanfaat untuk orang lain. Semoga jadi ladang ibadah buat kakek dan ayah saya di akhirat.”

“Aamiin,” sahut Abah Iip.

Ia lalu menatap Enzo lagi, alisnya berkerut. “Tapi, kok kamu bisa bareng sama dia, Lea? Bukannya kamu tinggal di Jerman?”

Azalea menarik napas dalam-dalam.

“Aku bertemu Mas Enzo di kota, Bah,” jawabnya jujur. “Dan sekarang … aku yang jadi istrinya. Kami sudah menikah.”

“Apa?!” Abah Iip terkejut bukan main. Matanya membesar, tubuhnya mundur setengah langkah.

“Ka-mu me-nikah dengan suami kakakmu sendiri?”

Suasana mendadak hening. Angin berdesir pelan, menggoyangkan daun mangga di atas mereka.

Azalea menunduk, sementara Enzo berdiri tegak, wajahnya tegang. Erza dan Elora saling berpandangan, tak sepenuhnya mengerti, tapi merasakan beratnya suasana.

Kebenaran itu akhirnya terucap. Dan rumah tua itu kembali menjadi saksi, bahwa hidup memang tidak selalu berjalan lurus, tetapi cinta dan tanggung jawab kadang memilih jalan yang paling sunyi.

***

Teman-teman hari ini aku mau melakukan donor darah karena Uwa ku mau menjalani operasi. Mohon doanya, ya, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar.

1
sunaryati jarum
Mungkin itu jalan yang diberikan padamu untuk memperistri Azalea ,selain hatimu sudah terpaut padanya juga sebagai penebus rasa bersalah kamu dengan memberikan kebahagian pada Erza ,Elora dan Azalea
ken darsihk
Apa Enzo akan menceritakan semua nya ke mami Elsa , menceritakan semua yng terjadi dengan Jasmine
Ya cerita kan saja Enzo agar mami tidak mempunyai fikiran buruk lagi tentang Jasmine
SasSya
jujur saja zooo
rasa sakit pasti menyapa
tpi Klo tidak Kamu ceritakan ke Lea apakah akan kamu kubur selamanya?
gak akan tenang hidup mu
ceritakan,mengaku salah, meminta maaf
harus berani ambil konsekuensi
ken darsihk
Tumpah kan dan habis kan kesedihan mu itu Enzo lupa kan semua nya , setelah itu bangkit lah karena kamu masih mempunyai keluarga dan Azalea yng perlu diperhatikan
Jangan lupa Enzo Azalea istri mu sedang mengandung anak mu
ken darsihk
Yang sudah berlalu biar lah berlalu Enzo , belajar lah dari pengalaman itu
Saat nya kamu meniti hari dan masa depan bersama keluarga yng baru , bersama istri yng sedang gundah karena telpon nya tidak kamu indah kan Enzo
vania larasati
lanjut
Ariany Sudjana
semoga Azalea bisa tetap dengan kepala dingin menyikapi semua masalah yang akan diceritakan Enzo
Susma Wati
penyesalan mami elsa terhadap jasmine, menyeret orang yang tidak bersalah akan masa lalu keluarga mami elsa yang tak pernah sadar akan kesalahan nya ternyata fitnah dan racun yang di tebar karmila membuat nyawa jasmine yang menjadi korban, tapi dengan karmila mencoba memfitnah azelea membuat kejahatan karmila terbongkar, dan itu tetap akan membuat karmila tidak sadar diri dengan dendam yang di sulut oleh ibunya yang memang tidak tau diri, apakah azelea memaafkan enzo dengan kepergian jasmine karena ketidakperdulian enzo hingga nyawa jasmine tidak tertolong, atau kah azelea memaafkan enzo karena ia juga korban dari fitnah karmila
Nar Sih
jujur lebih baik enzo ,walau mungkin akan menyakit kan ,biar beban mu berkurang minta maaf sama lea ,pasti hti lea yg baik dan lembut memaaf kan mu
Kar Genjreng
kira kira Enzo mau jujur tidak ya sama Azalea tetapi kalau tidak jujur justru akan menjadi beban sama Enzo,,,karena masalah seperti ini bukan hal sepele tetapi apa bila di simpan lama justru seolah menyimpan apel lama lama busuk ,,,,dan ahirnya hancur lebih baik sekarang jujur Enzo. memang menyakitkan tetapi semau sudah terjadi tidak akan kembali ke sisi kalian,,, katakanlah pelan tapi tidak buruk juga
Fitrina Musya
/Good//Good//Good/
Rahma Inayah
luapkan semua unek2 mu yg sesak didada biar Hati mu lega
Sugiharti Rusli
apa Enzo pada akhirnya akan mengungkap semua kepada sang mami dan betapa dulu dia sangat bersalah kepada mendiang istrinya, Jasmine karena ketriger sama pengalaman mami Elsa dulu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya pengorbanan seorang ibu sangat besar, meski pada akhirnya Jasmine harus kehilangan nyawanya saat melahirkan sang putri
Sugiharti Rusli
tapi terlepas dari itu, sang kakak tetap bisa melahirkan Elora dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun,,,
Sugiharti Rusli
karena yang terjadi dulu sejatinya memang ada salah paham, yang ternyata berdampak fatal terhadap nyawa Jasmine,,,
Sugiharti Rusli
kebenaran meskipun pahit seharusnya tetap Enzo sampaikan ke Lea yah,,,
Esther
menunggu kejujuran Enzo. Biar hidupmu tenang dan hatimu lega, bicara jujur soal Jasmine
Nifatul Masruro Hikari Masaru
emang ya fitnah merugikan banyak orang
Kar Genjreng
meamang ya penyesalan selalu datang nya belakangan,,,dan sekarang semua sudah terjadi dan sudah berlalu walaupun
akan menangis hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan,,, tidak akan mengembalikan jadi ya jaln satu satu nya legowo,,,dan mendoakan bagi orang yang sudah di zholim dan orang sudah menzolimi. sama sama mendapatkan perintah dari yang maha kuasa ,,,cuma beda versi. pasti tidak mudah memang berjalan nya waktu pasti bisa,,,,dan sekarang saatnya memperbaiki dan menjalankan sebagai mana mestinya,,, kalau Enzo menyesal karena percaya fitnah tanpa. ari tau, Ahir hancur,,,,dan untuk yang melakukan semua itu sekarang menerima tuai nya,,,lanjut,,💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!