Emillya Vozera seorang gadis bar-bar, cegil, heboh, dan berisik. dia adalah kekasih dari Arshka Ravindra_ pemuda dengan hobi tawuran serta balapan liar. Emillya tau apa saja yang di lakukan oleh pacarnya, tapi dia tak pernah komplain apapun yang dilakukan nya. menurutnya asalkan pria itu bahagia maka tidak apa, meskipun sesekali dia harus marah-marah jika pacarnya itu sudah melewati batas.
sedangkan Arshka, dia hanya bisa tersenyum melihat pacarnya yang cerewet ini berbicara tanpa putus, dia bahagia memiliki gadis ini dalam hidupnya.
namun semuanya berubah sejak Arshka di pindahkan ke desa oleh orang tuanya, bertemu dengan orang baru, dengan kejadian yang tidak terduga.
akankah cinta Arshka dan Emilliya akan berakhir indah, atau justru keduanya mengambil jalan yang berbeda. Dengan segala rintangan yang harus mereka hadapi.
berlanjut...🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
decisions made!
Happy reading...
...Kamu selalu punya aku, dan aku selalu punya kamu di setiap langkahku....
.......
.........
........
.......
BRAKKK!!
Arwin menggebrak meja. Baru kali ini, beliau meninggikan suaranya pada Arshka. Badannya berdiri sejajar dengan putranya. "ARSHKA, PELAN KAN NADA BICARA KAMU!"
"Apakah kamu hanya berfikir seperti itu tentang papa? Papa selama ini hanya memikirkan nyawa kamu Arshka! Kamu pikir tawuran itu keren? Gagah? Kamu pikir luka-luka yang kamu dapat itu mendali? Apakah kamu pernah membayangkan bagaimana perasaan papa kalau sampai terjadi sesuatu hal yang buruk dengan kamu??" Arwin berkata dengan tegas seolah mengeluarkan segala ketakutan dalam hatinya.
Arshka berdiri kaku di tempatnya, baru kali ini dia mendengar ayahnya sangat emosional seperti ini.
Arwin menarik nafasnya perlahan, lalu kembali ke mode berwibawa seperti semula. "Di sana kamu akan di didik, dan belajar menghargai diri kamu sendiri." Arwin kembali duduk di kursinya.
Setelah semuanya selesai Arshka langsung keluar dari ruangan ayahnya dan kembali ke kamarnya
...🌻~~~🌻...
Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam namun gadis cantik itu masih setia agar tetap terjaga. Tadi siang Arshka mengatakan akan menghubungi nya malam ini, jadi Emiliya menunggu dengan sabar.
Matanya hampir tertutup namun dering ponsel langsung membuat semangat Emiliya berkobar. Mata yang tadi nya hampir lowbat kini kembali pada mode full.
"ARSHKA!! KOK LAMA??"
Di seberang Arshka menjauhkan ponselnya dari telinganya, "Maaf tadi ada yang di bahas sama papa."
"Ohh, gimana? Kamu bakal sekolah di mana? Gak jauh kan pasti?"
Emiliya dapat mendengar helaan nafas dari Arshka. "Babe? Gimana?" tanyanya ragu.
Dengan keberanian Arshka ahirnya memutuskan untuk memberitahukan keputusannya pada Emiliya, "Emi... Aku minta maaf."
Emiliya duduk dengan tegak di kasurnya, merasa bingung kenapa Arshka berkata seperti itu? "Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Besok aku bakal pindah."
Dunia Emiliya terasa seperti berhenti sejenak, air matanya mengalir tanpa di minta, meskipun Arshka sudah beberapakali pindah sekolah tapi kenapa kali ini kenapa rasanya sedikit berbeda. "Pindah.... Sekolah? Di jakarta? Swasta mana? Aku bakal ikut kamu kayak biasanya ayo kasih tau ak---"
"Bukan Jakarta. Aku pindah ke rumah Nenek Emi." perkataan Arshka meruntuhkan semua harapan yang sudah Emiliya siapkan sedari tadi.
Emiliya tertawa garing. Kosong. "Bercandaan kamu gak lucu, Arshka Ravindra. Sumpah gak lucu."
"Aku gak bercanda Emi. Papa, udah siapin semuanya... besok aku berangkat." ujarnya dengan nada pelan di akhir.
Emiliya menarik nafas panjang sebelum berbicara, menyetabilkan suaranya yang bergetar, "Kenapa? Itu bukan halangan Arsh! Kita bisa kok LDR. Aku bisa samperin kamu ke rumah nenek kamu tiap Minggu. Aku bolos kalo perlu. Aku---"
"Emiliya."
Perkataan dari seberang langsung menghentikan semua ucapan Emiliya, gadis itu menangis dengan histeris. Arshka yang mendengarnya dari seberang telfon tak kalah menderita mendengarkan suara tangis sang gadis, jika dia ada di sampingnya pasti dia akan langsung memeluknya tanpa kata dan menenangkannya.
"Emi... Aku harap kamu bisa jalanin hidup kamu tanpa aku, sama aku kamu banyak lukanya. Aku gak mau nambah luka di hati kamu lagi." katanya menahan sesak di dadanya.
"KAMU CUMA MIKIRIN TENTANG DIRI KAMU SENDIRI, KAMU GAK MIKIRIN GIMANA AKU TANPA KAMU? KALAU AKU SAKIT SAMA KAMU ITU RESIKO AKU. AKU YANG NERIMA KONSEKUENSI ITU KARENA BERANI JATUH CINTA SAMA KAMU!!" serunya dengan tangisan.
Arshka memejamkan matanya, kamarnya yang gelap. Lalu bayangan bagaimana Emiliya menangis membuat Arshka semakin merasa bersalah karena telah menyakiti gadis itu. "Maafin aku."
Hening. Hanya suara isak yang tertahan dari Emiliya. Namun di telinga Arshka itu justeru semakin menyakitkan.
".... Berapa lama?" ahirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Emiliya, meskipun dengan suara lirih.
"Nggak tau, mungkin sampai aku jadi versi yang papa inginkan."
"Terus aku gimana? Nunggu kayak di film-film romace gitu? Jadi cewek yang setia nungguin cowoknya tobat?"
Arshka menggigit bibirnya yang terluka hingga kembali mengeluarkan darah. "Jangan nunggu." kayanya pelan. "Hidup kamu harus terus berjalan. Sekolah, ketawa sama Netta, Deva. Ngomel-ngomel ke Bara sama Kaifan. Kalau nanti aku balik kamu udah bahagia... sama orang lain... gapapa."
Emiliya yang mendengar semua perkataan Arshka jantungnya terasa seperti di tusuk anak panah... menyakitkan. "ARSHKA! Kamu jahat. Kamu mau lepasin aku gitu aja? Mana Arshka nya Emiliya yang pemberontak itu? Dia yang gak kenal takut, yang pertahananin Emiliya nyaa??"
Arshka tersenyum, bibirnya yang sobek terasa perih. Namun perkataan Emiliya barusan mengingatkannya pada Arshka yang dulu, yang selalu mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya. "Hansaplast my melody-nya masih ada nih. Di sini." Dia menyentuh pelipisnya. "Aku simpen..."
"Aku benci kamu. Aku benci kamuuuu ARSHKA RAVINDRA!!"
"Iya. Benci aja gak papa. Asal jangan lupain. Karena sekali aja kamu lupain aku, aku beneran hilang."
Tut.
Panggilan di matikan sepihak oleh Emiliya.
Emiliya menatap layar hitam ponsel nya. Melemparnya ke sembarang arah, tantrum di atas kasur yang sudah tak berbentuk.
Sedangkan di kamar, Arshka duduk di lantai kamarnya yang dingin. Ponselnya sudah dia letakan di kasur. Di tangannya sebuah gantungan kunci hansaplast my melody yang dia resin.
Arshka tak menangis, ia hanya merasa sesak, dadanya terasa kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari tempatnya.
...🌻~~~~🌻...
Pukul tujuh pagi, rumah keluarga Ravindra sudah ribut dengan berbeda asisten rumah tangga serta pak Asep selaku supir keluarga Ravindra keluar masuk rumah membawa kopernya.
Arshka berdiri di depan pintu utama. Hoodie hitam, celana jeans hitam lalu ransel bermerek LV di punggungnya. Papanya berdiri di jarak yang cukup jauh darinya berbicara dengan pak Asep.
Bi Ijah menghampiri tuan mudanya dengan mata yang sembab. Dia sudah menganggap Arshka sebagai putranya sendiri, karena sejak Arshka kecil dialah yang ikut membantu menjaga Arshka. "Den... Jangan lupa makan tepat waktu, bibi udah masukin beberapa jaket tebel. Obat merah juga, sama---"
"Makasih, Bi." Arshka memotong pelan. Tak tega melihat Bi Ijah menangis.
Arwin jalan mendekat ke arah Arshka, tak ada pelukan, tak ada kata pengantar. Hanya sebuah amplop coklat yang beliau sodorkan. "Berikan pada Nenekmu."
Arshka menerima amplop itu, "Udah?"
Arwin menatap anaknya sedikit lama, ada yang ingin dia katakan. Tapi dia.... ragu. "Jaga nama baik kamu, jangan menyusahkan Nenekmu. "
Arshka tertawa hambar lalu masuk kedalam mobil tanpa menengok kebelakang.
...🌻~~~🌻...
Di sekolah, Emiliya dan kawan-kawannya menjalankan rutinitas seperti biasanya. Meskipun kekurangan satu personil.
Emiliya duduk di kantin dengan wajah lesu, matanya masih sedikit sembab akibat semalaman menangis. Teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa, karena tak menyangka akan separah ini.
"Emi, makan dulu. Lo kayaknya belum makan dari pagi." kata Netta dengan sepiring nasi goreng favorit Emiliya.
Emiliya tak menggubris, dia sibuk menatap ponselnya yang menunjukkan foto Arshka yang dia ambil kemarin saat di kelas. Arshka tertidur dengan hansaplast my melody yang masih tertempel di pelipisnya.
Sebenernya pagi tadi Emiliya datang ke rumah Arshka dia bahkan melihat mobil hitam itu pergi membawa Ashkanya. Namun Emiliya terlalu takut untuk muncul di hadapan Arshka, takut dia tidak akan kuat menghadapinya dan akan membuat Arshka semakin sulit.
'Im still love you babe...'
...🌻~To be continued ~🌻...