NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011: Ruang Interogasi

"Emasnya di mana?"

Lampu putih di ruang interogasi menyinari wajah Hendra sejak subuh.

Di seberang meja, dua penyidik POLRI menatapnya tanpa berkedip. Satu memegang map foto TKP Hotel Mahkota. Satu lagi memutar pulpen di antara jari, pelan, seperti sedang menunggu retakan pertama muncul dari mulut Hendra.

Hendra duduk tegak.

Pergelangan tangannya tidak diborgol lagi, tetapi pintu tetap tertutup.

Di luar kaca buram, langkah orang hilir mudik. Ada bau kopi lama, rokok yang menempel di baju petugas, dan cairan pembersih lantai. Suara AC kecil bergetar di sudut ruangan.

Tubuh Hendra masih panas di bagian tulang.

Unsur Logam sekitar setengah jalan membuat bahunya terasa ringan. Jika ia mau, meja besi di depannya bisa ia balik dengan satu tangan. Jika ia mau, pintu itu bisa ia hancurkan sebelum orang di luar sempat menarik senjata.

Tapi itu cara orang bodoh.

Dunia lama masih punya kamera, berkas, jaksa, polisi, bandara, bank, dan nama keluarga.

Hendra menatap foto di atas meja.

Lorong hotel.

Serbuk APAR.

Empat tubuh.

Dua tas kosong.

Ia berkata tenang, "Saya tidak tahu."

Pulpen penyidik berhenti.

"Seratus kilogram emas hilang dari lantai itu," kata penyidik pertama. "Empat pelaku mati. Tamu lain lari. Staf hotel pingsan. Anda satu-satunya orang yang ditemukan masih berdiri di lorong."

"Saya korban yang tidak sempat turun," jawab Hendra.

"Korban biasanya tidak berdiri di tengah empat mayat."

"Korban juga biasanya tidak ditodong pistol."

Ruang itu diam sesaat.

Penyidik kedua membuka map lain. Foto pistol. Foto linggis. Foto pecahan kaca. Foto gagang pintu yang penyok.

"Sidik jari Anda ada di pistol Bos Jali."

"Saya mengambilnya setelah dia jatuh. Untuk mencegah orang lain menembak."

"Anda tahu namanya Bos Jali?"

"Saya mendengar anak buahnya memanggil begitu."

"Karman? Karno? Si Kurus?"

"Saya dengar beberapa nama saat mereka panik."

Penyidik pertama mencondongkan badan. "Dan Bang Golok?"

Nama itu baru.

Di kehidupan sebelumnya, Hendra pernah mendengar julukan itu setelah kiamat, dari sisa preman pelabuhan yang saling berebut makanan. Orang dengan julukan Bang Golok bukan petarung lapangan. Ia otak kecil yang suka memakai tangan orang lain.

Berarti komplotan hotel bukan pencuri dadakan.

Bagus.

Jika Bang Golok masih hidup, ada jalur baru menuju uang, emas, atau koneksi gelap.

Hendra tidak membiarkan pikirannya muncul di wajah.

"Saya tidak kenal," katanya.

Penyidik itu menatapnya lama.

"Aneh, Pak Hendra. Anda orang bisnis. Baru beli tanah. Baru kontrak proyek besar. Baru punya urusan jual beli aset. Lalu secara kebetulan masuk ke lantai yang sedang dirampok. Secara kebetulan semua pelaku mati. Secara kebetulan emas hilang."

"Kebetulan buruk," kata Hendra.

Penyidik kedua tertawa pendek. Tidak hangat.

"Atau keberuntungan terlalu bagus."

Hendra menunduk sedikit, melihat tangannya sendiri.

Kulit di buku jarinya sudah bersih. Luka kecil dari pecahan kaca nyaris menutup. Ia sudah sengaja menggaruknya di toilet kantor polisi agar tampak masih merah. Kalau mereka memeriksa terlalu teliti, penyembuhan tubuhnya akan menjadi masalah baru.

Jadi ia tetap lelah.

Napas sedikit berat.

Bahu tidak terlalu tegak.

Mata tidak terlalu tajam.

Orang hidup lama tahu kapan harus menyembunyikan taring.

Pintu ruang interogasi terbuka.

Seorang pria berkemeja rapi masuk membawa map biru. Pengacara Hendra. Wajahnya kurang tidur, tapi suaranya stabil.

"Pemeriksaan lanjutan tanpa pendamping saya hentikan dulu," katanya. "Klien saya sudah memberi keterangan sejak dini hari. Kalau statusnya saksi korban, perlakukan sebagai saksi korban. Kalau ada perubahan status, tunjukkan alat buktinya."

Penyidik pertama menatap pengacara itu. "Ada empat orang mati."

"Dan tidak satu pun senjata terdaftar atas nama klien saya," jawab pengacara. "CCTV lantai itu rusak sebagian karena serbuk APAR dan kepanikan. Saksi hotel melihat para pelaku membawa senjata lebih dulu. Rekaman klien saya membawa tas emas tidak ada. Kamar, mobil, koper, dan rekeningnya juga bersih."

"Emasnya menguap?"

"Itu tugas penyidik, bukan tugas saksi korban."

Kalimat itu dingin.

Tapi tepat.

Hendra hampir tersenyum.

Hampir.

Penyidik kedua menutup map dengan keras.

BUK!

"Pak Hendra," katanya pelan, "Anda boleh punya pengacara bagus. Tapi nama Anda sudah masuk catatan kami. Untuk sementara, jangan tinggalkan Bandung."

Pengacara Hendra langsung menjawab, "Dasarnya?"

"Koordinasi pemeriksaan lanjutan. Wajib lapor. Pembatasan perjalanan sementara sampai hasil olah TKP awal selesai."

Hendra akhirnya mengangkat mata.

Bandung tidak boleh menahannya terlalu lama.

Bunker baru mulai berjalan. Stok belum cukup. Tiga vila premium di Surabaya belum dicairkan. Bos Firman belum masuk jebakan. Waktu menuju bencana tidak akan menunggu surat polisi selesai.

Ia berkata, "Saya ada transaksi properti di Surabaya. Dokumen sudah masuk jadwal notaris. Kalau batal, kerugian bisnisnya besar."

"Kerugian bisnis tidak lebih penting dari empat nyawa."

"Saya setuju," kata Hendra. "Karena itu saya tetap bisa dihubungi, tetap punya pengacara, dan tetap bisa kembali saat dipanggil. Tapi menahan saksi tanpa bukti juga bukan prosedur yang sehat."

Penyidik pertama menyipitkan mata.

Ada amarah di sana.

Ada juga keraguan.

Keraguan itu datang dari hal paling sederhana: mereka tidak punya emas.

Mereka punya mayat, senjata, jejak darah, tas kosong, saksi kacau, dan foto lorong putih. Tapi benda paling penting sudah menjadi panas di tulang Hendra.

Tidak ada gudang.

Tidak ada kurir.

Tidak ada mobil pengangkut.

Tidak ada lubang di dunia yang bisa mereka geledah.

Siang menjelang sore, Hendra akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan.

Statusnya belum bersih.

Hanya lepas.

Ada surat wajib lapor. Ada nomor penyidik. Ada kalimat halus bahwa ia jangan membuat masalah lagi.

Begitu sampai halaman kantor polisi, ponselnya bergetar.

Manajer Bonar.

Hendra mengangkat.

"Pak Hendra," suara Bonar terdengar hati-hati, "saya dengar ada kejadian di hotel. Proyek kita..."

"Jalan terus."

"Tapi kalau Bapak sedang ada urusan hukum, pekerja saya mungkin perlu menunggu arahan."

"Tidak perlu menunggu. Tambah shift malam. Material yang kemarin saya minta tetap masuk. Kalau ada yang bertanya, itu gudang pendingin bawah tanah untuk stok dagang."

Bonar terdiam sebentar.

"Biayanya naik, Pak."

"Kirim angka."

"Kalau lembur penuh dan pengamanan lokasi..."

"Kirim angka," ulang Hendra.

Suara Bonar langsung lebih hangat. "Baik, Pak. Saya urus."

Hendra menutup telepon.

Pengacara di sampingnya menghela napas. "Untuk Surabaya, saya bisa ajukan izin perjalanan bisnis. Anda berangkat lewat Jakarta malam ini. Tapi jangan membuat insiden baru."

"Saya hanya menjual aset."

Pengacara menatapnya.

Sepertinya ia ingin bertanya banyak hal.

Kenapa seorang ahli waris muda mendadak menjual saham, membeli toko grosir, membeli tanah bukit, membangun gudang bawah tanah, lalu terseret kasus emas hilang?

Tapi orang pintar tahu kapan harus tidak tahu.

Malamnya, mobil membawa Hendra keluar dari Bandung menuju Jakarta.

Lampu tol memanjang di kaca.

Di bawah kulitnya, sisa panas Unsur Logam masih berdetak pelan. Setiap getaran mesin, setiap bunyi rem truk, setiap sorot lampu dari belakang terasa lebih jelas daripada sebelumnya.

Kekuatan baru.

Masalah baru.

Dan waktu yang makin pendek.

Saat pesawat menuju Surabaya lepas dari landasan, Hendra menatap gelap di luar jendela.

Di kota itu, tiga vila premium masih menunggu pembeli.

Bos Firman mengira ia akan membeli rumah orang kaya yang sedang panik menjual murah.

Ia belum tahu orang yang menuju Surabaya baru saja keluar dari ruang interogasi tanpa meninggalkan bukti.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!