NovelToon NovelToon
GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

GENDIS Pembantu Manis Tuan Agam

Status: tamat
Genre:Duda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Tamat
Popularitas:546.8k
Nilai: 5
Nama Author: LichaLika

"Maafkan ayah, Nak! Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, dan kamu harus menanggung semua ini." Ucap pak Sulaiman kepada putrinya yang masih berusia 18 tahun yang bernama Gendis.

"Gendis tidak apa-apa, Yah! Gendis akan melakukan apapun untuk menolong ayah, meskipun Gendis harus menjadi pembantu di rumah Tuan Agam yang sombong itu, demi ayah Gendis rela. Gendis tidak ingin melihat ayah di dalam penjara." Seru Gendis Anindya, putri satu-satunya pak Sulaiman.

Karena sebuah hutang, pak Sulaiman terpaksa menggadaikan anak perempuannya untuk tinggal di rumah Agam Brandon yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan sombong. Seorang duda kaya raya yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar.

Bagaimanakah perjuangan Gendis menyelamatkan sang ayah dari jerat hutang kepada Agam? Dan apa jadinya jika sang majikan ternyata memendam perasaan kepada Gendis dan merasa jika gadis itu adalah pengobat sakit hatinya?

Novel ini mengikuti event Kekasih ideal, mohon dukungannya 🙏🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Gendis

Di sebuah rumah mewah berdesain bak istana dengan pilar-pilar rumah yang sangat tinggi, lampu kristal yang berjajar rapi di setiap ruangan, membuat rumah itu terlihat seperti rumah seorang Sultan. Seorang pria berperawakan tinggi tegap, tubuh sempurna, pria itu tampak memakai perhiasan emas di pergelangan tangannya, dengan memakai cincin berlian pada jari tengahnya yang ditaksir mencapai satu miliar untuk satu cincin bermata berlian itu.

Agam Brandon, pria dewasa yang sudah lama menduda, sang istri meninggal dunia sekitar tiga tahun yang lalu, Agam Brandon memiliki bisnis besar di bidang properti, pria dengan segala harta melimpah itu nyatanya adalah seorang duda, pria yang itu tampak sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia sedang menunggu kedua orang suruhannya yang sedang menjemput seorang gadis yang menjadi penebus hutang-hutang ayahnya yang tak lain adalah Gendis.

Sementara di luar, mobil mewah yang membawa Gendis, tiba di depan halaman luas kediaman Tuan Agam Brandon. Mobil itu berhenti dan dengan segera seorang bodyguard membukakan pintu untuk Gendis yang saat itu masih bingung sedang berada dimana dirinya. Ia melihat ke sekeliling, Gendis disuguhkan dengan pemandangan rumah yang sangat besar dan megah, sejenak ia mengerutkan keningnya ketika melihat betapa besarnya rumah Tuan Agam.

"Silahkan masuk Mbak Gendis, Tuan Agam sudah menunggu." Seru salah seorang bodyguard itu. Gendis pun menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam rumah mewah itu.

"Astaga! Rumah sebesar ini, pasti seharian nggak kelar-kelar hanya untuk bersih-bersih di sini," Gendis membatin membayangkan pasti pekerjaannya yang pastinya sangat sibuk, mengingat rumah Tuan Agam sangat besar dan terdapat di dalamnya banyak ruangan-ruangan.

Gendis hanya bisa menghela nafas dan pasrah, semoga saja dirinya bisa segera melunasi hutang-hutang sang ayah dengan mengabdi di rumah Tuan Agam.

Gendis diantarkan oleh seorang pelayan kepada Tuan Agam, sejenak air muka Gendis berubah menjadi sinis saat dirinya akan dihadapkan oleh laki-laki yang sangat menyebalkan baginya.

"Ck! Semoga saja aku nggak mual lihat mukanya, tuan sombong ini benar-benar sudah membuatku kesal, gara-gara dia Arif terluka, udah nabrak nggak mau minta maaf lagi, sebel kalo ingat, kalau saja bukan karena terpaksa, aku nggak mau bekerja di rumah ini, malas banget harus bertemu mukanya yang songong itu setiap hari, diihh!" umpat Gendis dalam hati. Gendis berdiri dan melihat seseorang yang duduk di sebuah kursi dengan posisi membelakanginya, setelah beberapa saat kursi itu bergerak membalik kearahnya.

Gendis menatap sinis wajah pria yang saat ini sedang melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Agam Brandon.

"Hei kamu, sudah tahu apa tugasmu di rumah ini?" seru Agam dengan suara datarnya. Gendis pun malas menjawab pertanyaan sang Tuan karena dirinya masih merasa kesal atas kejadian tempo hari.

FLASH BACK ON

Pagi itu seperti biasa setiap berangkat sekolah, Gendis berangkat ke sekolah bersama sang pacar yang merupakan teman sekelasnya, Arif Tri Andika. Pemuda tetangga Gendis yang juga merupakan pacarnya.

Gendis menunggu kedatangan Arif untuk berangkat sekolah bersama, saat itu Arif hampir tiba di tempat Gendis berada, yaitu pinggir jalan di depan poskamling kampung mereka.

Gendis sumringah melihat kedatangan sang pacar yang memakai motor Yamaha Vixion kesayangannya dengan kecepatan tinggi seperti anak racing, Arif lupa jika dirinya sedang berkendara di jalanan kampung yang pastinya banyak orang yang lalu lalang di sekitarnya. Tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang meluncur dengan kecepatan sedang. Arif yang berkendaraan dengan kecepatan tinggi itupun dia tidak menyadari jika ada sebuah mobil dari arah tikungan sedang melaju ke arahnya dan akhirnya Arif tidak bisa mengendalikan laju motornya yang terlanjur kencang. Dan akhirnya ....

'Braaakkkk'

Suara itu terdengar sampai di telinga Gendis, ia berlari menghampiri arah sumber suara yang sudah sangat dekat dengan posisinya sekarang. Dilihatnya sang pacar dan seorang pria sedang berdiri sambil beradu mulut.

"Anda harus ganti rugi, Pak! Anda sudah menabrak saya!" seru Arif dengan ekspresi emosi kepada pria yang diketahui bernama Agam Brandon itu. Pria itu tampak tenang dan terlihat sedang melepas kacamata hitam miliknya.

"Hai anak muda! Kamu pikir kamu itu Rossi? Main kenceng-kencengan di jalan seperti ini, masih untung aku menabrak mu daripada kamu yang menabrak orang lain." Balas Agam dingin, motor Arif terlihat penyok setirnya sementara pemuda itu hanya mengalami luka lecet pada lengan nya.

Gendis langsung menghampiri sang pacar yang saat itu sedang berhadapan dengan laki-laki yang mempunyai banyak tanah di kampung mereka. Gendis melihat sang pacar yang terluka, tak terima melihat Arif sang pacar yang terluka, Gendis langsung meminta pertanggungjawaban dari Agam yang saat itu terlihat diam terpaku saat dirinya melihat wajah Gendis.

"Gimana sih, Tuan. Anda harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada pacar saya, gara-gara Anda, Arif terjatuh dan luka-luka." Gendis terlihat membela sang pacar.

Agam tidak menggubris perkataan Gendis, pria itu hanya terpaku pada wajah Gendis yang membuatnya terpesona.

"Siapa gadis ini? Cantik. Aku harus tahu siapa dia." Batin Agam dengan tatapan matanya yang tidak bisa dibohongi jika laki-laki itu tergoda oleh pesona Gendis.

Disaat Gendis berusaha menolong sang pacar, Agam tiba-tiba pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa kepada mereka berdua, tentu saja apa yang dilakukan oleh Agam membuat Gendis marah.

"Eh kok malah pergi! Tunggu Tuan! Woi tunggu!" teriak Gendis saat Agam langsung pergi dengan mobilnya.

Sejak saat itu, Gendis sangat membenci Agam, Gendis menganggap jika Agam Brandon adalah pria yang sombong dan arogan.

FLASHBACK ON

"Pelayan! Cepat antarkan gadis ini ke kamarnya, mulai hari ini dia akan tinggal di rumah kita." Titah Agam kepada seorang pelayan untuk membawa Gendis ke kamarnya.

Kemudian pelayan itu mengantarkan Gendis untuk menunjukkan dimana letak kamarnya. "Mari, Mbak Gendis! Saya antarkan ke kamar!" seru pelayan itu. Gendis pun menurut dan dengan tatapan yang penuh kebencian, Gendis melihat Agam dengan sangat sinis.

Sangat berbeda dengan Agam, pria itu terlihat begitu dalam menatap wajah Gendis, seolah dirinya memiliki kekaguman tersendiri kepada gadis itu.

"Gendis! Semoga saja kamu betah tinggal di rumah ini, dan aku berharap kamu bisa tinggal di sini untuk selamanya." Agam bermonolog sendiri. Pria itu rupanya menaruh hati kepada Gendis sejak pertama kali ia bertemu dengan gadis itu.

Sesampainya di kamar, Gendis dikejutkan dengan kamar tidur yang disediakan khusus untuknya, kamar itu terlihat mewah dan tidak seperti kamar pembantu, tentu saja itu membuat Gendis heran.

"Silahkan Mbak Gendis. Ini kamarnya." seru pelayan itu sembari menunjukkan setiap sudut ruangan yang ada di dalam kamar itu, sang pelayan menunjukkan kamar mandi dan lemari pakaian yang sudah berisi baju untuk Gendis. Desain kamar itu lebih mewah dari hotel, dan Gendis pun pun bertanya kepada sang pelayan.

"Maaf, Mbak! Ini beneran kamar saya? Nggak keliru?" tanya Gendis sembari melihat-lihat sekeliling kamar. Sang pelayan pun mengiyakannya.

Setelah pelayan menunjukkan semua sudut ruangan, maka pelayan itupun segera keluar dari kamar Gendis. Ia hanya sedikit heran, apakah semua kamar pelayan seperti kamar miliknya, Gendis pun tidak perduli, yang jelas ia datang untuk bekerja di rumah duda itu demi untuk melunasi hutang-hutang sang ayah.

"Dah lah bodo amat, mau kamar bagus kek jelek kek, aku harus tetap bekerja di sini, agar secepatnya aku bisa melunasi hutang-hutang ayah." Gumam Gendis yang tetap berharap dirinya bisa melunasi semua hutang-hutang ayahnya.

Hari itu juga, Gendis pun mulai melakukan tugasnya sebagai pembantu di rumah Tuan Agam yang mewah, Gendis tampak sedang mengepel lantai, disaat yang bersamaan Agam berjalan menuju ke dalam rumah, tentu saja sepatu yang dipakai oleh Agam menjadi kotor, sejurus Agam melihat Gendis yang sibuk mengepel lantai, ada senyum terukir dari bibir pria itu. Ia pun berjalan mendekati Gendis dan sengaja menginjak lantai yang baru saja Gendis bersihkan.

Dengan tanpa dosa, Agam berjalan seperti biasa seolah dirinya tidak melihat Gendis yang sedang mengepel lantai itu. Sementara itu Gendis yang sudah capek-capek mengepel lantai, gadis itu terlihat geram dan Ia pun berkata kepada sang majikan.

"Maaf, Tuan! Bisa tidak Tuan tidak lewat sini dulu, Anda tidak lihat saya sedang mengepel nya?" seru Gendis dengan tatapan yang kesal. Agam mendekatinya dan berkata kepada gadis itu. "Memangnya kamu siapa? Melarang ku untuk lewat sini, terserah aku lewat di mana, itu sudah tugasmu membersihkan lantai bekas jejak Kakiku, ngga usah manja jadi pembantu." Seketika Gendis menoleh ke arah sang majikan.

"Sialan nih orang, kalau bukan karena hutang-hutang ayah, aku nggak mau berhubungan dengan manusia sombong seperti ini." kesal Gendis dengan tatapan matanya yang penuh kemarahan.

...BERSAMBUNG...

1
Fitri ahmad
sorry typo bukan berenang tp bertemu kak
Khairul Azam
lebih suka novel begini sih, dr pada novel yg di sakiti, dilecehkan tp masih mau baikan 🤭
sunshine wings
Luar biasa
Ma'rifatul Hasanah
lanjut dong
Dyah Oktina
Luar biasa
Dyah Oktina
rasain tuh... akibat suka fitnah
Dyah Oktina
😂😂😂😂😂😂😂gendis dah pinter merayu sang suami... iya buat ngak betah jauh dis.... 🤭😆😆
Dyah Oktina
haduh.... lambe turah... sampe dower... mau d jahit ta????
Dyah Oktina
duh... jd anak kok nyimpen iri dengki aja sih.. eh sm dgn emaknya deng 🤭
Dyah Oktina
masa sih ada guru seperti bu titin.. yg mudah d pengaruhi sm muridnya sendiri.. atau memeng sdh ada rasa iri dengki atau memang suka sm agam ... tp ngak d respon ...akhirnya jd dengki deh
Dyah Oktina
terima ....terima ....terima... aja gendis.. dari pd sedih2 kla jauh... mending sm duda yg jelas2 dah ngak punya pasangan.. dari pd ngaku bujang tp d dua kan
Dyah Oktina
gendis... sdh mulai ada rasa ya...😜
Dyah Oktina
loh bukannya lagi d dapur ya... kok tahu2 keluar dari kamar sih... 🤔🤔😅
Dyah Oktina
loh... kla ceritanya sdh 10thn kemudian berarti umur gendis udah 28 dong thor... om duda juga berarti sdh 38thn ya... wah ceritanya dah pd tua dong... gendis juga masih aja jd pembantu... ck..ck
R'vina
.
R'vina
eta ci titin meni riweuh pisa ih... 🤪
debby harahap
Luar biasa
Enung Samsiah
bknnya satuan mau kekantor, wkkk,, ko ada dkt swalayan,,,,, marah nih yeeee
Ida Firdaus
awal yg menarik
Yuliana Sasmiyati
waktu Agam sama gendis menikah diceritakan kalau Agam menikahi gendis secara agama dan negara kenapa sekarang ceritanya mereka menikah siri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!