NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 19: Password Pintu

Seseorang telah membeli ketakutan Kirana sebagai tontonan murahan, dan Arya belum akan berhenti sebelum menemukan siapa yang berdiri di belakang semua itu.

Tiga hari berlalu tanpa foto baru atau pesan asing. Petugas keamanan tetap berjaga, tetapi rasa takut Kirana perlahan surut dan hidup di lantai delapan kembali menemukan ritmenya.

Pukul setengah enam, pintu 803 dan 805 terbuka hampir bersamaan.

“Terlambat tiga menit,” kata Arya.

Kirana mengikat rambut. “Saya bukan karyawan Mas.”

“Kalau karyawan, potong gaji.”

“Kalau pacar?”

Keduanya berhenti.

Kirana baru sadar pada kata yang keluar. Arya mendekat satu langkah, mata gelapnya menahan wajah Kirana.

“Ulangi.”

“Nggak ada.”

Ia lari menuju lift. Arya menyusul dengan senyum yang tidak hilang sepanjang tiga putaran jogging track.

Setelah olahraga, mereka membuat sarapan di 805. Kirana memotong tomat, Arya menggoreng telur. Ia sudah hafal letak piring dan bumbu, sementara sandal kelincinya menetap di dekat pintu.

“Hari ini kelas sampai jam berapa?” tanya Arya.

“Tiga. Setelah itu belajar di perpustakaan.”

“Saya jemput pukul enam.”

“Saya bisa jalan pulang.”

“Pengawal masih satu minggu.”

“Baik, Bos.”

“Panggilan itu juga boleh.”

Kirana melempar serbet kecil kepadanya.

Mereka berangkat kampus terpisah agar tidak memancing gosip. Di kelas, Arya kembali menjadi Prof. Arya yang dingin dan adil. Ia mengkritik presentasi Kirana tanpa keringanan, bahkan memberi pertanyaan tersulit. Anehnya, pemisahan itu membuat Kirana tenang. Hubungan pribadi mereka tidak mengambil hasil kerja kerasnya.

Sore hari, ia kembali ke 805 untuk belajar. Arya harus menerima rapat daring di ruang kerja, jadi Kirana membaca di meja makan. Ketika hendak mengambil minum, pintu unit terkunci otomatis sementara ponselnya tertinggal di dalam.

Arya membukanya dari ruang kerja. “Password-nya 0719.”

“Mas kasih password begitu saja?”

“Supaya kamu bisa masuk kapan pun.”

“Kenapa 0719?”

“Tanggal saya menemukan catatanmu di hotel.”

Kirana menatap panel angka. “Mas mengingat tanggal itu?”

“Saya mengingat semuanya.”

Ia memasukkan empat angka. Lampu berubah hijau.

“Sekarang kamu tidak perlu kartu.”

Kirana mengangguk, lalu kembali ke 803 mengambil buku lain. Di depan pintunya sendiri, ia berhenti. Arya berdiri beberapa langkah di belakang, tidak meminta apa pun.

“Password saya 1103,” kata Kirana.

“Jangan berikan kalau belum yakin.”

“Saya yakin Mas nggak akan masuk tanpa izin.”

“Apa artinya?”

“Tanggal lahir Mama.”

Arya mengulang angka itu sekali, lalu menyimpannya di ponsel dengan nama Rumah Rana.

“Mas nggak perlu menamai begitu.”

“Sudah.”

Sejak hari itu, dua pintu tidak lagi menjadi batas mutlak. Kirana mengambil susu dari kulkas Arya saat stoknya habis. Arya meninggalkan sarapan di meja 803 ketika Kirana kesiangan. Mereka belajar, memasak, dan pulang bersama dalam potongan-potongan hari yang semakin menyerupai kehidupan berdua.

Winda mengetahui pertukaran password ketika pulang lebih cepat dan mendapati Arya sedang mengganti lampu dapur 803.

“Prof masuk lewat mana?” tanyanya.

“Pintu.”

“Saya tahu bukan lewat jendela. Maksud saya, siapa yang bukain?”

Kirana keluar dari kamar membawa buku. “Saya kasih password.”

Winda menaruh tas perlahan. “Jadi sekarang dia punya akses rumah kita?”

“Dia masuk karena saya minta tolong ganti lampu.”

Arya turun dari bangku kecil. “Kalau kamu keberatan, saya tidak akan masuk saat Kirana tidak ada.”

Winda menatapnya beberapa detik. “Saya butuh password unit Prof juga. Bukan buat masuk sembarangan. Kalau Kira sakit dan Prof nggak jawab, saya harus bisa cek.”

Arya menyebutkan angka tanpa ragu.

Kirana memandangnya. “Mas kasih ke Winda juga?”

“Dia menjaga kamu. Berarti dia bagian dari sistem keamanan.”

“Saya naik pangkat,” kata Winda puas.

Aturan kecil kemudian disepakati: selalu mengetuk, selalu mengirim pesan sebelum masuk, dan tidak membawa orang lain tanpa izin. Pertukaran password bukan izin tanpa batas, melainkan kepercayaan yang memiliki tata cara.

Malam berikutnya, mereka belajar bersama menghadapi kuis. Arya duduk di ujung meja, kali ini bukan sebagai dosen penilai, melainkan partner diskusi yang membiarkan Kirana menemukan jawaban sendiri.

“Kalau saya salah, jangan langsung kasih tahu,” kata Kirana.

“Saya akan bertanya sampai kamu sadar.”

“Cara Mas menyebalkan.”

“Tapi efektif.”

Kirana berhasil memecahkan soal terakhir. Arya mengulurkan telapak tangan. Ia menepuknya, tetapi pria itu menutup jemari dan menahan tangannya satu detik lebih lama.

“Bagus,” katanya.

Satu kata itu membuat hasil belajar terasa seperti kemenangan bersama.

Malam Jumat, Kirana menemukan Arya tertidur di sofa dengan laptop masih terbuka. Garis lelah terlihat di sudut matanya. Tanpa kacamata, wajahnya tampak lebih dewasa.

Delapan tahun.

Saat Kirana baru masuk sekolah menengah, Arya sudah menyelesaikan kuliah. Ketika ia masih mencari tahu apa yang ingin dilakukan setelah lulus, Arya telah memimpin rapat yang tidak pernah mau dijelaskannya.

Kirana menyampirkan selimut ke tubuhnya.

Arya terbangun dan menangkap pergelangan tangannya. “Mau ke mana?”

“Pulang ke sebelah.”

“Tidur di kamar tamu.”

“Nggak. Winda pulang malam ini.”

Arya melepaskan tangannya. “Baik. Kunci pintu.”

Tidak ada paksaan, hanya kepercayaan yang semakin membuat Kirana sulit mundur.

Di depan 803, Kirana memasukkan password. Sebelum pintu menutup, ia menoleh pada Arya yang berdiri di ambang 805.

Mereka kini memegang jalan masuk ke ruang paling pribadi satu sama lain.

Namun Kirana mulai bertanya apakah selisih delapan tahun akan menjadi pintu yang tidak semudah itu dibuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!